MISTERI KANTUNG MACAN (6)

 

A novel by Nurlaeli Umar

Publisher; AE Publishing (ISBN 978-602-5468-81-0)

BLOG NURLAELI UMAR- Suasana menjadi gelap dan sepi kembali, lelaki tua itu memandangi tirai kamar tempat istrinya tidur. Cahaya redup lampu lima watt dari dalam kamar membuat tirai tipis itu terlihat lebih indah. Tirai kamar itu sebenarnya tidak begitu menarik, hanya selembar kain berwarna abu-abu yang dijahit kanan-kirinya, dimasukan seutas tali jemuran di bagian atasnya yang dijahit dengan sedikit lipatan kosong kemudian diikat pada paku yang ditancapakan di atas kanan-kiri.sebagai penutup pintu.

The atmosphere became dark and quiet again, the old man staring at the curtains of the room where his wife slept. The light of the five-watt lamp from inside the room makes the thin curtains look more beautiful. The room curtain was not really that attractive, just a gray fabric stitched to right and left, inserted a piece of clothesline on the top of it sewn with a few blank folds then tied to a nail stuck on the right and left.

Kenangan, ya … kisah hidupnya bersama istrinya lebih menarik untuk diingat kembali saat ini dari pada kain kusam yang dijadikan tirai. Bagaimana dia tidak bisa untuk tidak berada di sampingnya, bahkan meski bertahun-tahun mencoba untuk menjauh dengan merantau ke Sumatera, meninggalkan perempuan yang sekarang tidur di balik tirai itu dan telah  memberinya lima anak, tanpa sepeser pun uang dan tanpa janji akan pulang.

The memories, yes ... a story of his life with his wife is more interesting to be recalled today than the dull fabric that was made curtain. How could he not be not beside her, even though for years trying to get away with wandering to Sumatra, leaving the woman who is now sleeping behind the curtain and had given her five children, no money and no promise of going home.

Dia dulu, di seberang dengan istri pertamanya yang tidak memberinya anak tapi berkecukupan, tidak bisa menandaskan rasa ingin kembali ke rumah bilik ini. Tidak ada yang salah dengan kedua perempuan yang dicintainya, tidak pula dengan kelebihan yang mencolok satu dibanding yang lainnya, hanya saja dia terlalu mencintai tanah ini, tanah yang membuatnya terikat, tanah tempat dia ingin dikuburkan kelak jika dia sudah mati.

His life in Sumatera with his first wife who did not give him a child but sufficient, could not emphasize the desire to return to this cubicle's house. There is nothing wrong with the two women he loves, nor with the obvious advantages over the others, except that he loves the land too much, the land that ties him up, the land where he wants to be buried someday when he is dead.

Komentar