MISTERI KANTUNG MACAN (7)

 

A novel by Nurlaeli Umar

Publisher; AE Publishing (ISBN 978-602-5468-81-0)

BLOG NURLAELI UMAR- Mereka, kedua istrinya itu adalah sahabat. Satu dengan yang lain tidak mau dipisahkan, dan menikahi dua-duanya adalah pilihan yang tidak dapat dielakkan. Terkadang lelaki tua itu merasa dia telah menyakiti istri yang satu dan memilih yang lain, tapi sekali lagi bukan itu yang membuatnya kembali ke tanah ini.

They, both of wives were close friends. One with the other does not want to be separated, and marrying both is an inevitable choice. Sometimes the old man feels he has hurt one wife and  by choosing the other, but once again that's that was not what brought him back to this land.”

Tiga jam berlalu, gelas kopi yang mendingin itu diraihnya, diteguknya sedikit, lalu diletakkan kembali ke tempat semula. Sepi itu terasa membunuh, ada bagian yang tidak bisa diisi bahkan oleh istrinya ketika malam mendekati pagi begini. Entah karena usia atau sebab yang lainnya. Lelaki itu terkadang tidak mengerti.

Three hours passed. He picked up the cup of coffee that had gone cold, took a small sip, then placed it back where it had been. The silence felt suffocating—there were parts of it that even his wife could not fill as night edged toward dawn like this. Whether because of age or some other reason, the man sometimes did not understand

Laki-laki itu menarik napas dalam-dalam, ada kegetiran yang mengganggu. Seperti sebuah luka dalam. Kepalany tanpa sadar terangguk-angguk. Andai saja dia mewariskan ilmu dan kepemimpinan kepada salah seorang yang dipercaya, mungkin malam ini tidak akan sesepi ini. Anak-anak muda itu pasti masih berkumpul untuk berlatih silat dengan iringan kendang pencak di bawah sinar purnama hingga menjelang pagi.

The man drew a deep breath, a bitterness troubling him—like an old wound deep within. His head nodded unconsciously. If only he had passed on his knowledge and leadership to someone he trusted, perhaps this night would not be so lonely. The young people would surely still be gathering to practice silat, accompanied by the rhythm of the pencak drums beneath the moonlight until the break of dawn.

Andai saja dia tidak terlalu berkeras hati untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang menggelisahkan dari dalam dadanya, yang membuatnya harus menetap tujuh tahun di Sumatera dan akhirnya kembali. Andai saja dia bisa melewati hari-harinya dengan lebih bijak, setahun di sini dan setahun di sana. Tapi dia tidak punya cukup uang, dan tidak punya cukup muka untuk selalu meminta bantuan istri pertamanya. Semua andai itu bahkan tidak bisa mengusir setengah dari sepi yang menghujam akhir-akhir ini. (p11)

If only he had not been so stubborn in answering the unsettling questions rising from his chest—questions that forced him to settle in Sumatra for seven years before finally returning. If only he had been wiser in living his days, spending a year here and a year there. But he did not have enough money, nor enough pride to keep asking help from his first wife. All those ifs could not even drive away half of the loneliness that had been striking him lately.ife's help. All of that could not even drive away half the loneliness that lurked these days.

Komentar