2. Hatiku Kenapa
Aku merasa hari-hariku ke depan akan lebih
semangat. Aku biasanya punya penyakit begitu, kalau lagi jatuh cinta aku merasa
seolah semua bungan yang kulihat mekar semua meski masih kuncup, langit yang
mendung berubah menjadi cerah di mataku. Aku biasa ikutan sedih kalau hari
mendung soalnya.
Aku juga pasti akan mulai sering bercermin, meski terkadang mobil yang terparkir milik orang yang sedang menunggu penumpang pun menjadi korban. Aku merasa bahaga seolah dunia hanay berisi tentang bahagia, lupa yang namany menangis.
Meski, ibuku menyuruhku ini dan itu sebelum berangkat sekolah semua terasa ringan saja. Itu prediksiku. Aku berharap aku benar-benar jatuh cinta. Dan penyebabnya adalah cowok yang hamopir menabrakku tentu saja.
‘’Kamu lihat siapa, Laura?’’ tanya teman
sebangkuku.
‘’Kamu lihat siapa?’’ tanyaku sambil menahan
tertawa. Dasar kepo! batinku.
Dia teman sebangkuku menggelengkan kepalanya.
‘’Gak lihat siapa-siapa, maksudku áku lihat ke arah yang kamu lihat, lihat yang
kelihatan sama mataku. Anak-anak kelas lain. Tapi, kamu lihat siapa? Maksudku
fokus ke siapa?‘’
‘’Gak ke siapa-siapa. Memang harus lihat
siapa?’’ Aku balik bertanya.
‘’Jadi, kamu benar-benar baca mantra? Kamu gak
fokus liahat siapa-siapa? Tapi aneh, kamu gak biasanya gitu.’’
Aku mengangguk. Aku tidak melihat cowok yang
kemarin menabrakku masuk atau keluar kelas. Mungkin dia ada di dalam kelasnya,
atau jangan-jangan dia belum datang ke sekolah.
‘’Tapi, Laura, biasanya kamu gak baca mantra nilaimu seratus semua. Kenapa hari ini kamu mendadak jadi aneh gini? Kamu kesambet gara-gara gak ke perpustakaaan kemarin itu beneran?’’ tanya teman sebangkuku serius.
Melihatnya serius aku yang menjadi bingung. Serius aku menjadi bingung bagaimana bisa dia menganggap aku gak ke perpustakaan, terus menghubungkannya dengan mantra, dan nilai seratus.
‘’Gak ada apa-apa, aku lagi iseng aja,’’ kataku akhirnya.
Tidak mungkin aku mengatakan kepada teman sebangkuku kalau kau jatuh cinta pada pandangan pertama.
‘’Aku cuma ngerjain kamu.’’
Dia meninju lenganku
degan keolaan tangannya. Sakit rasanya. Aku nyengir menahan sakit. Dia malah
terlihat senang. Benar-benar aneh.
Mendengar penjelasanku yang harusnya masuk akal teman sebangkuku akhirnya malah mengekorku masuk ke kelas dan makin tidak percaya.
‘’Laura, please!’’ Aku membiarkan dia begitu. Aku meletakkan tasku dan
berjalan ke luar kelas menunggu bel masuk.
Aku melihat ke arah kelas sebelah. Tentu saja
tidak mencurigakan yang lainnya, karena posisiku yang bergabung dengan beberapa
teman yang lain yang sedang membahas masalah ulangan kemarin yang ternyata banyak
yang remedial. Aku tentu saj tidak remedial, aku hanya bergabung saja
mendengarkan keluhan mereka. Kalau mereka bertanya ini dan itu baru aku
menjawabnya.
Anak itu tetap tidak terlihat. Benar-benar apakah aku harus pergi ke kelas sebelah? Itu terasa aneh, karena untuk datang ke kelas lain aku perlu alasan. Aku tidak pernah melakukan hal seperti itu tanpa alasan.
Hampir semua anak satu angkatan tahu, kalau daerah jajahanku itu
kelasku, kantin, perpustakaan, dan ruang guru, bukan kelas lain. Kalau ada
perlu pun biasanya mereka yang mendatangi kelasku.
Pelajaran sekarang sudah dimulai, meski guru yang masuk tadi terlambat ke kelas sepuluh menit. Aku sudha melupakan tentang cowok kelas sebelah. Aku fokus ke pelajaran.
Tiga jam pelajaran sudah berhasil kulalui, aku kembali dengan rasa penasaranku yang terjeda. Hari ini aku mesti ke perpustakaan, pasti petugas perpustakaan akan mengeluh kalau aku tidak datang ke sana lagi hari ini. Masalahnya arah perpustakaan berlawanan dengan arah kelas sebelah.
Aku menjadi sedikit kacau setelah kemarin
mataku bertumbuk dengan matanya. Biasanya kau tidak pernha mempersoalkan hal semacam
ini. Pergi ke perpustakaan atau ke kantin biasa saja.
Baru saj langkahku mendekati pintu, seorang anak dari kelas laij yang kutahu pengusrus Osis masuk
. “Laura, kebetulan
banget. Kamu disuruh ke kantin sama guru Bahasa Indonesia. Ini uangnya. Kamu
beli tempe sama pisang goreng. Terus kamu ke kelas sebelah, bilang ke ketua
kelasnya dia juga ditunggu di perpustakaan.’’
Aku diam saja.
‘’Kenapa diam, Laura?’’ tanyanya bingung. ‘’Kenapa gak kamu yang ke kantin terus ke kelas sebelah?’’ tanyaku.
Dia menjelaskan kalau dia sudah memanggil dua anak yang lain untuk ke ruang
guru. Kebetulan di sana ada guru Baasa Indonesia, jadi dia akhirnya mendapat
mandat yang ke dua, yaitu menemuiku untuk memberikan tugas ke kantin dank e kelas
sebelah.
Ke kantin itu berarti harus melewati kelas
sebelah. Oke. Aku mengangguk. Anak itu kemudian keluar dan menghilang entah ke mana.
Mungkin ke kelas sebelah yang pintunya bersebelahan dengan kelasku. Aku tidka
memperhatikan lagi.
Aku kenatin sendirian. Tentu saja aku tidak melewatkan
untuk melihat ke dalam kelas sebelah di mana anak cowok yang tipeku itu berada
kemarin. Tidak ada dia. Aku meneruskan langkahku ke kenatin, Di kantin pun dia
tidak nampak. Aku menyelesaikan tugas untuk membeli pisang goreng dan tempe goring.
Aku yang melewati kelas sebelah di mana cowok itu kemarin ada, tentu saja mengulang lagi pencarian dengan mataku untuk menuntaskan rasa penasaranku. Tetap tidak ada, Di tiang yang kemarin dia berdiri di samping juga tidak ada. Yang ada adalah aku merasa jatuh cinta dan ini konyol sekali. Aku merasa konyol, sekaligus penasaran.
Aku pergi ke perpustakaan dengan sekatung makanan. Aku memberikan itu kepada petugas perpustakaan yang sedang menganggur.
‘’Kamu lagi nganggur, kan?’’ Dia mengangguk.
‘’Ini kasih ke Pak Sobandi!’’
Tanpa protes dia bangun dan aku menggantikannya duduk menunggui meja.
Tidak berapa lama, petugas perpustakaan yangb erjaga itu anak kelas lain yang diperbantukan ketika jam istirahat, kalau aku? Aku adalah petugas istimewa, yang bisa kapan pun guru Bahasa Indonesia itu memanggilku aku harus siap stan by di perpustakaan.
‘’Ini buat kamu, Laura. Kalau yang disuruh beli-beli itu kamu kita semua dapat bagian,’’ katanya senang sekaligus protes.
‘’Makan aja, aku gak lapar!’’
Dia mengangguk dan berbagi
makana dengan petugas perpustakaa yang satunya lagi.
‘’Aku mau pinjam buku ini.’’
Cowok tinggi itu menggulurkan buku dan aku mencatatanya.
‘’Tambah ini!’’
Aku yang sedang menulis nomor buku di buku catatan peminjaman hanya mengangguk.
‘’Masih satu kartu, atau beda orang, nih?’’ tanyaku sambil menulis.
‘’Samain aja, satu kartu.’’
Begitu
selesai kucatata buku ke dua aku mengangkat mukaku dan deg! Cowok yang kemarin
bertumbukan mata denganku itu ada tepat di depanku. Aku pura-pura tidak kaget
dan berusaha bersikap cool. Padahal di dalam perutku seolah banyak kupu-kupu
beterbangan.




Komentar
Posting Komentar