10.
Aku Cemburu
‘’Laura,
kamu dipanggil Pak Maestro! Cepetan, gak pakai nanti.’’ Aku yang baru kembali
dari kantin dan baru saja hendak duduk mengurungkan niatku. ‘’Oke. Aku bakalan
ke sana.’’ Aku berniat memakan bakpao yang kubeli dan meminum es capucino cincauyang
masih utuh, baru kemudian pergi ke ruang guru untuk menenui Pak Maestro.
Sebenaranya bukan Pak Maestro namanya, hanya saja karena guru seni itu kalau melukis bagus sekali, jadi kami anak-anak memanggilnya Pak Maestro. Aku tadi sebenarnya ingin membeli donat, tetapi kehabisan, maksudku donat yang topingnya meses cokelat. Yang tersisa tinggal dinat dengan meses pink dan topping lainnya, aku kurang suka. Jadi, aku memilih bakpao, toh isinya cokelat juga.
Baru
saja aku menarik bangkuku, anak yang tadi mendapat amanat langsung interupsi.
‘’Laura, gak pakai makan dulu! Emergency! You know emergency, emergency is
darurat!’’ Kukira dia sudah pergi, ternyata masih di pintu. Sialan!
‘’Tapi,
aku lapar. Aku gak makan di kantin sengaja buat makan di kelas,’’ kataku
mencoba menawar. Aku dengan cepat duduk di bangkuku. Ternyata anak itu masuk ke
kelasku. Dia mendekat ke dudukku. Dia meletakkan dua tangannya di mejaku, ‘’Aku
diminta kamu datamg ke sana cepetan, bukan kelamaan!’’ jelasnya dengan
penekanan.
Aku
meminum es capcinku. ‘’Ini tinggal setengah, aku habisin, atau kamu yang
habisin?’’ tantangku. ‘’Aku bakalan ke ruang guru habis es capcin ini habis
dan bakapaoku juga habis. Bodo amat sama ak Maestro! Aku lapar.’’ Tanpa
kusangka dia meraih gelas dari meja dan meminumnya habis. Dia juga mengambil
satu bakpaoku. Aku tentu saja kaget.
‘’Kamu?’’ tanyaku kaget. ‘’Berbagi minum sama anak jenius gak masalah. Siapa tahu jeniusnya nular. Aku juga udah bantuin makan bakpaonya. Jadi aku udah bantu kamu. Sekarang makan bakpo satunya lagi, habis itu mesti ke ruang guru.’’
Aku
tertawa, ‘’Dasar gila! Untung aku bawa air minum, kalau enggak aku bakalan
seret habis makan bakpo. Oke, aku akan makan ini dan habis ini aku bakalan ke
ruang guru.’’ Dalam hati aku ingin berteriak, baru kali ini ada anak di suruh
guru terus memaksaku. Biasanya mereka yang disuruh memanggilku akan datang ke
kelasku menyampaikan, habis itu pergi gak peduli lagi. Toh tugasnya sudah
selesai.
Aku
akhirnya bangun dari dudukku dan pergi keluar kelas, anak itu menghilang entah
ke mana, tadi dia hanya bilang ‘bye, Laura’ saja. Aku pergi ke ruang guru dan
pemandangan gak biasa terlihat di depan mata. Hari ini di ruang guru banyak
anak yang masuk dan berdesakan. Aku mencolek salah satu di antara mereka,
‘’Ada apa ini?’’ Dia menoleh ke arahku dengan sikap acuh tak acuh, ‘’Lihat
nilai, yang nilainya di atas tujuh berarti lolos, yang di bawah tujuh ada tugas
lain yang mesti dikerjain.’’
‘’Nilai apaan?’’ tanyaku penasaran. Pantas saja di kelas yang biasanya ramai di jam istirahat, tadi hanya ada dua anak yang duduk di meja Yazi. ‘’Nilai seni, tugas gambar kemarin.’’ Aku mengangguk. Aku memang kurang pandai menggambar. Tapi kurasa enam dapatlah. Berarti aku akan mendapat tugas baru. Gak masalah.
Tapi
ini aneh, baru kali ini kejadian anak-anak mencari tahu nilai tugas dan memburunya sampai membuat ruang guru penuh sesak. Ini pasti kerjaan Pak Maestro.
Aku gak mungkin menyibak kerumunan untuk mendekat ke meja Pak Maestro dan
menanyakan ada apa memanggilku. Jadi, aku berusaha bergeser saja ke bagian
belakang tetapi yang dekat dengan barisan meja guru.
Pemandangan
aneh ke dua setelah kerumunan terjadi, di depan pintu masuk sampai ke meja
penerima tamu penuh sesak dengan anak-anak, sementara guru-guru berbicara
sambil tertawa-tawa melihat kerumunan anak-anak, Tidak terganggu sama sekali.
Melihatku di barusan paling belakang, Pak Maestro memanggilku untuk mendekat.
Aku mendekat ke arah Pak Maestro. ‘’Iya Pak, ada apa memanggil saya?’’ Dia mengagguk-angguk. ‘’Kamu kenapa ikut kerumunan anak-anak yang lain?’’ tanya Pak Maestro. ‘’Nilai kamu itu gak ada di daftar nilai. Kalau kamu ingin tahu nilai kamu berapa, kamu seharusnya pergi ke TU saja. Kamu dipanggil dari tadi malah baru datang.’’
‘’Saya dari kantin lapar. Baiklah saya akan ke TU saja. Terima kasih,’’ kataku sambil mengangguk pamit diri. ‘’Laura, satu hal, kamu jangan dendam sama saya, ya!’’
Aku mengangguk. Dia tertawa. Guru seni yang satu ini memang agak beda. Sewaktu
di kelas delapan dia selalu mengatakan di depan kelas kalau dia heran ada anak
sejenius aku. Awalnya aku sedikit heran, tetapi dia lebih heran setiap harinya
kepadaku katanya, dan aku akhirnya menyerah untuk tidak heran. Aku lebih tidak
heran kalau anak-anak menyebutnya kalau Pak Maestro itu menginginkan otakku untuk
di pindah ke kepalanya. Teman-temanku selalu berseloroh begitu.
Aku keluar dari ruang guru, mereka yang berkerumun menyedikit. Aku sekarang pergi ke ruang TU yang dekat dengan pintu kelasku. Banyak anak yang berkerumun di depan kaca. Apa lagi ini? Astaga, apa yang Pak Maestro katakana benar adanya. Gambarku mendapat nilai 20 dari seratus disandingkan dengan gambar paling bagus seangkatan yang mendapat nilai delapan puluh sembilan. Satu lagi mendapat nilai Sembilan ouluh, nilai sempurna untuk menggambar.
‘’Kenapa?’’
tanya Riana yang sudah ada di kantin. ‘’Pasti karena gambar itu, ya?’’ Aku
mengangguk. ‘’Emang, Pak Maestro itu bener-bener. Kurasa dia dulu pengen
banget jadi kamu, kamu dengan otakmu, Laura.’’
‘’Tapi,
gila aja, becandanya luar biasa. Mana nilaiku paling jelek seangkatan, terus
dijejerin bareng yang dapat nilai paling tinggi. Bisa-bisanya tadi dia bilang
aku gak boleh dendam. Aku sekarang mau jajan, pengen yang sedikit panas sama
pedes. Terus minum yang manis dan dingin. Buat dinginin emosiku’’ Riana mengangguk. Meski dia gak lagi satu meja denganku dan sibuk dengan
teman barunya, tapi aku tahu dia tetap Riana yang baik seperti dulu.
Basoku
sudah ada di depanku. Yazi datang bersama Nara dan duduk berseberangan denganku
berhadapan. Dia memesan baso dan mereka makan berdua di depanku. Aku pura-pura
sibuk dengan isi mangkukku, sementara Riana sibuk dengan makan sambil terus
bicara dengan teman sebangkunya itu.
Entah kenapa aku merasa malas untuk melihat ke arah Yazi dan Nara, meski beberapa kali Riana dan Yazi, juga Nara saling berbicara dan bersahutan. Aku malas mengangkat wajahku. Setelah basoku habis dan meminum es teh manis pun aku mencoba untuk tidak melihat ke arah Nara dan Yazi.
‘’Aku duluan,’’ kataku kepada Riana. ‘’Gak mau bareng?’’ tawar Riana. Aku menggeleng. Riana mengiyakan. Teman yang sebelah Riana ikut mengangguk mengiyakan. Aku kembali ke kelas sendirian.
Aku
mengangguk. ‘’Aku gak sedih, cuma kesel aja. Pak Maestro emang kurang
kerjaan.’’ Aku mengatakan itu, mana mungkin aku mengatakan kalau aku kesal
gara-gara dia dan Nara duduk bersisisan dan emreka sangat akrab.
‘’Kalau
gitu senyum coba, Kalau gak senyum aku gak mau balik ke mejaku.’’ Aku
mengangguk. Tentu saj aku dengan mudah tersenyum di depan Yazi, Mana bisa aku
ngambek, sementara hatiku berbunga-bunga. #12


Komentar
Posting Komentar