11. Senyuman Maut Yazi
Penggemar Yazi hari ini di jam istirahat pertama hari
ini tidak pergi ke kantin, mereka hanya berbalik badan dari duduk mereka. Ifu
ada di tempat duduknya di samping Yazi. Entah bagaimana dengan cepatnya aku
juga lebih tertarik dengan Yazi dibanding Ifu, kedekatan Ifu dengan Nara tidak
kuanggap istimewa lagi. Aku sekarang tertarik dengan Yazi, seperti cewek
penghuni kelasku saat ini.
Aku tidak tahu apa Yazi di kelas sebelumnya juga sepopuler ini di kelasnya. Karena, aku memang sama sekali gak pernah mendengar teman sesama pengurus Osis atau petugas perpustakaan dan kepramukaan membicarakan Yazi. Tapi, kurasa Yazi memang popular semenjak dia ditemukan dan diajak menjadi pendamping kelas tujuh di masa pengenalan kampus.
Begitu melihat aku mengubah dudukku ke arah Yazi, mata
Yazi selalu mencuri pandang ke arahku. Aku ikut tertawa karena yang bersahutan
bicara memang sedang membuat kelakar. Lucu pokoknya. Tapi,Yazi sering sekali
menatap ke arahku dan tersenyum, kurasa yang lain pun past tahu kelakuan Yazi
terhadapku. Mereka kurasa pura-pura tidak tahu saja.
Tentu saja hal itu terlihat jelas, secara Yazi duduk di pojok kiri belakang sedangkan aku di pojok kanan depan. Yazi bicara menimpali yang lain, tetapi sebentar kemudian ketika tertawa matanya melihat ke arahku. Dadaku menjadi bergemuruh, aku bingung mengapa jadi begini? Aku jatuh cinta kepada Yazi, atau Yazi yang jatuh cinta kepadaku? Kurasa ini semacam magnet yang tarik menarik. Aku tetap di dudukku, tetapi ketika makin lama dadaku bergemuruh dan senyum Yazi semakin sering, aku berusaha untuk mencari kesibukan dengan kembali memutar dudukku dan pura-pura mencari sesuatu di tasku, padahal tidak ada yang hilang.
Yazi tidak mengatakan apa-apa setelahnya. Dia pergi
meninggalakan kelas ke kantin. Kurasa begitu. Kalau saja dia pergi ke kelas
lain bisa saja. Toh aku gak harus tahu apa Yazi benar-benar ke kantin atau
jangan-jangan menemui ceweknya di kelas lain atau anak kelas tujuh misalnya.
‘’Laura, kamu setuju enggak?’’ tanya Riana kepadaku.
Aku mermang mendengar semua kelakar itu, karena mereka bicara sambil setengah
berteriak, tapi mendengar pertanyaan dari Riana, sementara aku sedang grogi
dengan pulpen milik Yazi, aku yang menengok ke arah mereka menjawab dengan
balik bertanya, ‘’Emang tadi pertanyaannya apa?’’
Kontan cewek-cewek nak kelasku yang sedang berkonferensi tertawa semua. Tentu saja gak Cuma
cewek yang tadi membicarakan Yazi, tetapi cowoknya juga. Apes! ‘’Kenapa kalian
tertawa?’’ tanyaku pura-pura polos. Sejujurnya aku malu karena mesti menjawab
apa ditambah mereka semua menertawakanku.
‘’Engak, Laura, Kita cuma bilang kenapa kamu selalu sibuk sama buku padahal udah pinter,’’ teriak salah satu temanku. Aku garuk-garuk kepala pura-pura malu. Mereka semua tertawa lepas sekali.
‘’Kalian itu, aku lagi nyari pulpenku barusan,’’
kataku. Mereka tertawa lagi, ‘’Itu pulpen ada di depanmu, kenapa kamu malah
nyari di tasmu,’’ salah seorang temanku melihat pulpen Yazi ada di mejaku. Aku
garuk-garuk kepala lagi. Mereka tertawa. Gak mungkin aku mengatakan kalau itu
pelupen Yazi. Aku mengangguk, mereka kembali berkelakar lagi, gak fokus
menggodaku.
Bel masuk setelah jam istirahat pertama sudah
berbunyi, Yazi sudah kembali dari luar bersama Ifu. Gerimis yang membuat
suasana dingin dan membuat anak-anak kelasku terutama cewek malas ke kantin dan
berkeliaran ke kelas lain sekarang sudah menjadi hujan lebat. Yazi yang masuk
bersama Ifu menyempatkan diri tersenyum ke arahku. Aku melihat datar ke arah
Yazi, bersikap seolah Yazi tersenyum kepada dua teman di belakangku. Mereka
berdua cowok.
Yazi sudah berlalu. Entah mengapa aku ingin sekali melihat ke arah pojok tempat Yazi duduk. Kebetulan cowok yang duduk di belakangku ingin meminjam rautan untuk meraut pensil. Sebenatar lagi guru yang masuk akan mengajar seni. Untuk praktik materi kali ini memang akan menggambar tiga dimensi.
Aku memutar badanku memberikan rautan itu. Yazi yang
sedang berbicara dengan teman yang duduk di depannya reflek melihatku dari
duduknya. Mata kami bertumbuk. Aku cepat=cepat menghindar dan fokus memberikan
rautanku. ‘’Kamu udah tajam pensilnya, mau kurautin, gak?’’ teman yang duduk di
belakangku malah mengajakku bicara. ‘’Udah, pakai aja rautannya, nanti kalau
udah cukup baru kembaliin. Atau nanti kalau aku mau pakai kuminta.’’
Aku balik badan, aku meliha sekilas ke arah Yazi. Yazi
menatapku dari duduknya. Dia tersenyum padaku. Dia bisa dengan seenak hati
senyum begitu tidak khawator ada yang melihatnya karena posisi duduknya di
belakang, kalau aku melakukan yang sama sudah pasti akan terlihat oleh satu
kelas. Yazi curang!
‘Gutu yang mengajar datang, pelajarn berlangsung seru.
Karena penghuni kelas ini merasa satu keluarga meski baru di minggu awal masuk
kelas, kurasa ini ada pastisipasi Yazi juga saalah satu partisan yang menjadi pemersatu cewek kelas sembilan C, gak heran kalau satu dengan yang lain saling meminjam alat tulis
seperti rautan ataupun penggaris. Guru yang mengajar juga asyik, dia membiarkan
kami melakukan itu.
‘’Laura, kamu udah sampai mana gambarnya?’’ tanya
teman yang duduk di bangku belakangku. Yang satu bernama Eka, yang satu lagi
bernama Eri. Eka yang tingggi, putih, dan tampan, sedang satunya lagi Eri, dia
kecil, pendek, dan lucu. Mereka kerap bertengkar, tetapi akur lagi. Mereka dari
kelas lain di kelas delapan, maksudku aku, Eri, dan Ekan memang beda kelas.






Komentar
Posting Komentar