Bab 13. Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku

 

13. Rumah Pengemar Yazi

Aku sudah benar-benar move on dari Ifu. Aku sudah gak ada rasa lagi sama Ifu. Aku sudah merelakan ketika aku ketemu dengan Ifu yang selama ini menghilang ketika jam istirahat. Jarang sekali Ifu ada di kelas ketika jam istirahat. Ifu kerap masuk ke kelas setelah jam istirahat habis bersama dengan Rayan. Rayan sendiri tinggal dekat dengan rumahku. Rumah Rayan dan aku hanya berjarak satu rumah ke arah kanan dari arah pulang sekolah. Meski begitu aku dan Rayan kurang dekat. Kurasa Rayan sengaja menjauh dan membatasi diri dengaku, karena setiap di kelas pun dia bersikap seolah aku dan Rayan gak kenal. Padahal aku dan Rayan dulu satu sekolah asal.


Terakhir kudengar kalau Ifu dan Rayan punya crush anak kelas tujuh. Terserah mereka saja. Aku sudah menghapus Ifu dari list orang yang menarik perhatianku. Bagaiman dengan Yazi? Aku gak tahu. Yazi saat ini dekat dengan Nara, mungkin Yazi dan Nara memang pacaran, atau sekadar sahabatan. Aku berusaah untuk tidak terlalu tertarik dengan Yazi,  takut patah hati lagi. Tapi, memang Yazi kerap bikin dadaku berdebar-debar. Itu gak bisa kupungkiri.

Jam istirahat ke dua.‘’Kamu besok ke rumahku buat ngerjain tugas kelompok, Laura!” Riana tiba-tiba mengatakan itu dari arah belakang, ketika aku sedang berjalan hendak ke perpustakaan. ‘’Kamu mau ke perpus juga?’’ tanyaku berhenti. ‘’Iya, aku mau nyari contoh lukisan abstrak dan tokoh-tokohnya. Aku kemarin dapat enam puluh dari Pak Maestro. Kamu dapat tugas apa?’’

‘’Aku dapat tugas supaya aku gak dendam aja. Aku gak dapat tugas apa-apa.’’ Aku dan Riana berjalan bersisian menuju perpustakaan. ‘’Enak banget. Emang beda anak kesayangan Pak Maestro. Jelas dibedainlah.’’ Aku tertawa, tapi aku kemudian berhenti. Aku takut Riana salah presepsi. ‘’Aku gak dikasih tugas lagi karena percuma gambarku pasti jelek lagi.’’ Riana sekarang ganti yang tertawa.

‘’Terus kamu ke perpus ngapain. Katanya kamu gak tugas lagi. Kemarin di awal kamu juga gak boleh ikut bantu dampingin anak kelas tujuh juga.’’ Aku mengangguk. ‘’Gak bantu jaga , tapi bantu ngurusin buku.’’’Riana mengangguk.

Dari pintu perpustakaan keluar dua anak cewek. Kurasa mereka berdua anak kelas tujuh. Mereka berdua cantik-cantik. Riana mencubit lengaku. Aku merasa sakit sekaligus kaget. ‘’Kenapa?’’ tanyaku. Riana bicara setengah berbisik, ‘’Mereka berdua crushnya Ifu sama Rayan.’’ Aku mengangguk, aku menoleh ke arah kedua cewek yang langkahnya semakin menjauh dari perpustakaan.

‘’Cantik-cantik. Kamu juga mau punya pacar anak kelas tujuh? Berondong, maksudku.’’ Aku mengatakan itu sambil tertawa. Tapi, reaksi Riana di luar dugaanku. ‘’Iya, kamu tahu ada anak kelas tujuh yang tinggi dan cakep banget, Dia sekarang favorit mengalahkan Yazi.’’

Aku heran sekaligus penasaran. ‘’Emang Yazi pernah jadi trending topic di sekolah kita?’’ tanyaku polos. Aku dan Riana berjalan masuk ke dalam perpustakaan. Aku belum mendapatkan jawaban dari pertanyaanku, karena di dalam perpustakaan dilarang bicara kecuali menanyakan perihal buku. Maksudku dilarang ngobrol yang kurang perlu.

‘’Aku ke dalam dulu!’’ kataku pada Riana. Aku pergi masuk ke kantor petugas perpustaakaan, sedangkan Riana pergi menuju rak-tak buku mencari apa yang diacari.

‘’Iya, Pak. Ada apa saya dipanggil ke mari?’’ tanyaku. Petugas perpustakaan tertawa kepadaku. ‘’Ini ada piagam penghargaan, dan hadiah dari perpustakaan untuk kerja keras kamu dan kawan-kawan selama menjadi petugas pembantu perpustakaan. Kamu mesti tanda tangan di sini, baru akan distempel.” Aku mengangguk. Aku dipersilakan duduk dan membubuhkan tanda tangan di selembar piagam dari sekolah. Plus, aku mendapat bingkisan. Ini luar biasa. ‘’Yang lain sudah dapat?’’ tanyaku. Petugas perpustakaan mengangguk. ‘’Kamu ingat foto yang kita ambil sebelum kenaikan kelas, bukan? Itu dia kita pajang di dinding!’’ Petugas perpustakaan itu menunjuk salah satu foto yang dibingkai. Cukup besar dan aku pasti ada di sana.

‘’Terima kasih banyak, Pak. Terima kasih atas bimbingannya, pengalamannya, dan ini hadiah, juga piagamnya,’’ kataku merasa sangat senang. Aku merasa dihargai. Aku keluar dari kantor petugas perpustakaan sesudahnya, aku kurang suka bicara yang gak perlu atau sekadar basa-basi. Petugas perpustakaan mengiyakan dan mempersilakan ketika aku pamit keluar.

Bel masuk, aku memang agak terlambat pergi ke perpustakaannya, tadi setengah dari jam istirahat aku mengerjakan soal-soal IPA yang dijadikan PR. Aku mengerjakannya di sekolah, karena nanti pulang sekolah aku akan ada acara di rumah Riana sampai sore. Aku takut aku terlalu lelah dan akhirnya ketika malam aku mengantuk dan sama sekali enggan untuk mengerjakan PRnya. Dua jam pelajaran terakhir kulewati dengan semangat. Mungkin ini efek dari hadiah yang kudapat. Aku belum membukanya sama sekali. Mungkin isinya beberapa buku dan alat tulis, agak berat soalnya.


Setelah bel pulang, aku keluar kelas bersmaa Riana. Teman sebangkunya beda kelompok, dia justru pergi ke rumah Rayan. Aku pergi ke rumah Riana, teman sebangkunya Riana pergi ke dekat rumahku. Aku siang ini gak memperhatikan Ifu, Nara, atau pun Yazi. Aku pulang lebih dulu dari mereka. Kurasa mereka tadi sibuk bicara bersamaa kelompok mereka masing-masing.

‘’Eh, kamu tadi nanya bukan apa Yazi pernah jadi trending topic di sekolah kita?’’ tanya Riana mengingatkanku. Aku yang sudah melupakan pertanyaan itu karena sedang merasa senang akhirnya ingat dan mengangguk. ‘’Emang kamu bener-benar gak pernah denger?’’ tanya Riana yang kukira akan menjelaskan ternyata malah balik bertanya. ‘’Iya, aku gak pernah denger. Emang salah, ya?’’ tanyaku heran.

Riana mengangguk-anggukkan kepalanya. ‘’Terus kamu juga gak tahu kalau Yazi dikejar-kejar sama anak kelas tujuh dan udah mirip fans berat sama idolnya?’’ Aku menggelengkan kepalaku. ‘’Apa sekarang Yazi udah turun gak sepopuler dulu?’’ tanyaku kepada Riana. Riana tertawa sepertinya aku lucu sekali menurutnya.

Aku yang sudah mengambil sepedaku dan Riana yang sudah mengambil sepedanya akhirnya keluar dari lingkungan sekolah. Kami bersepeda bersisian. ‘’Tadi, kamu ngomong sejujurnya, kan, Laura? Maksudku kalau kamu gak tahu menahu tentang Yazi?’’ tanya Riana dan aku menjawab; iya.



‘’Iya, Yazi pernah jadi topic pembicaraan cewek satu sekolah kita menjelang kita naik kelas sembilan dan waktu dia ngedampingin anak kelas tujuh di acara masa pengenalan kampus. Semua cewek suka sama dia, termasuk aku. Kecuali kamu pastinya. Pantesan aku heran, ketika Yazi ngedeketin akmu, kamu biasa aja. Sementara cewek lain ngerubutin dan saling sahut bicara sama Yazi. Kami kira kamu itu udah kenal sama Yazi lama, jadi kalian akrab.’’

Akrab? Jadi, Yazi selama ini gak pernah sebaik dan sedekat itu sama cewek lain. Bagaimana dengan Nara? ‘’Apa Yazi pacaran sama Nara?’’ tanyaku akhirnya, aku menayakan itu mumpung ada kesempatan. Aku merasa aku gak boleh terlalu dekat dengan Yazi, kalau ternyata mereka punya hubungan, atau bahkan meski sahabatan.

‘’Gak. Mereka gak pacaran. Nara, Yazi, sama Ifu itu sahabatan. Waktu kamu suka sama Ifu, maksudku kamu nanyain apakah Ifu anak baru atau bukan, di saat yang hampir bersamaan, Ifu sama Yazi baru berteman baik. Mereka sahabatan pas udah naik ke kelas sembilan aja. Lebih tepatnya, begitu Yazi naik daun, di saat itulah Nara sahabatan sama Ifu dan Yazi.’’

‘’Kamu ingat cewek tadi yang dua waktu kita ke perpustaakaan, bukan? Terus ada satu cewek di belakang mereka berdua. Ini rumahnya. Ini dia yang suka banget sama Yazi. Dia ngejar-ngejar Yazi udah mirip idol. Padahal yang suka sama Yazi banyak, tapi cuma dia yang norak.’’ Aku mengangguk saja. Aku tahu semua cewek saat ini cemburu kepada penggemar Yazi yang satu ini, dan hampir semua cewek berpikir aku sama Yazi sudah kenal lama sebelumnya. Oke! 



 

 

 

 

 

 

Komentar