Bab 14. Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku

 

14. Tanda Koma

‘’Kemarin hadiah dari siapa?’’ tanya Yazi yang ketika aku masuk dia sudah menungguku dengan duduk di mejaku. ‘’Yeey, udah duduk di meja, aku baru masuk udah main nanya-nanya. Ini masih pagi. Otakku belum kupasanga.’’ Yazi tergelak, padahal aku memasang muka jutek.

‘’Laura, please! Kalau mau hadiah bilang aja, jangan dapet hadiah dari penggemar terus diem-diem aja.’’ Aku duduk dan meletakkan tasku di kolong bangku,  Yazi sudah turun dari mejaku, tetapi dia masih bergeming berdiri menyandar di dinding depan mejaku. ‘’Itu kemarin bukan hadiah dari penggemar. Tapi, dari perpustakaan. Aku kemarin dapat piagam sama hadiah.’’


‘’Apa isinya?’’ tanya Yazi ingin tahu. Aku menatap ke arah Yazi. Untuk apa coba dia ingin tahu isi hadiah yang kudapatkan itu. Yazi mengangguk, dia bersikeras ingin tahu. ‘’Baiklah, udah mirip petugas Bea Cukai aja. Isinya novel, tiga, buku tulis tebal lima, pulpen tiga, pensil tiga, sama botol minuman. Udah cukup informasinya?’’ Yazi mengangguk. ‘’Pulpenmu mau diambil?’’ tanyaku. ‘’Buat kamu aja.’’ Aku mengangguk lagi. Setelah itu dengan ringannya Yazi pergi tanpa bicara lagi. Apa coba ini?

Begitu aku selesai dengan Yazi, aku menoleh ke arah Riana, aku merasa ada mata yang memoerhatikanku. Benar saja, ternyata Riana dan beberapa mata menatap ke arahku. Riana tersenyum penuh arti, tapi aku sedang tidak ingin mengartikannya. Terserah saja. 

Aku bangun dari dudukku, tapi Eka memenggilku dari belakang bangkuku. Eka datang lebih pagi dariku, tapi dia seperinya setelah itu keluar dan kembali lagi setelah Yazi hampir selesai bicara denganku. ‘’Kamu udah kelar tugas kelompoknya, Laura?’’ tanya Eka sambil senyum-senyum. Eka yang senyumnya mahal menjadi berbeda ketika di depanku. Aku bersikap biasa saja, seolah Ekan juga memberikan senyumnya yang mahal kepada semua anak.

‘’Udah. Kemarin udah kelar. Kelompokmu?’’ tanyaku balik. ‘’Belum, nanti siang masih sekali lagi ngumpul. Kamu sekelompok sama Yazi?’’ tanya Eka penasaran. Aku mendengar nada suaranya beda ketika menyebut nama Yazi. ‘’Gak. Kenapa?’’ Mungkin karena Yazi tadi bicara denganku. ‘’Gak papa. Soalnya Yazi udah nungguin di mejamu dari kamu belum datang. Waktu kutanya katanya dia nungguin kamu, kamu punya hutang, katanya.’’ Hutang? Jadi, Yazi beralasan aku punya hutang agar dia bisa menanyaiku seperti tadi. Aku tertawa dan mengangguk-angguk.

Yazi dan Nara masuk dari luar. Mereka bicara sambil tertawa-tawa. Yazi melirik ke arahku, dia tersenyun. Aku bersikap biasa saja. Yazi terus berjalan di belakang Nara, kemudian mereka duduk di bangku masing-masing. Bel masuk berbunyi setelahnya. Aku bangun dari dudukku membawa tas berisi kaus dan celana training, jam pertama dan ke dua itu olah raga. Pelajaran yang teorinya aku seratus, tapi tetap saja aku gak bisa-bisa bermain voli juga basket. Aku hanya mahir menendang bola, lari, lompat jauh, dan senam saja. Dan, sialnya hari ini adalah pertamdingan kelasku melawan kelas D. Sudah tentu aku jadi anak bawang alias supporter saja.

‘Setelah berganti memakia kaus olah raga, kami berkumpul melakukan warming up dan lari keliling lapangan tiga kali. Kelas D pun melakukan hal yang sama. Kami berlari dengan arah berlawanan. Tentu saja seru sekali. Kadang ada yang iseng tukeran barusan dengan anak kelas D.

Yang melakukan pertandingan pertama itu grup putri, baru setelahnya gruo putra. Sekarang giliran grup putri. Nara ikut ambil bagian. Dia memag bagus permainan volinya. Aku tentu saja menjadi supporter yang seru. Sebenarnya lebih banyak bertepuk tangan dan meneriakan yel-yel saja.

Riana juga masuk tim. Aku memegang Riana sebagai pemain favoritku. Jadi, ketika Riana mendapat bola aku berteriak memberi semangat. Yazi adalah supporter Nara yang sejati, tentu saja dia bersama Ifu dan Rayan. Gak masalah, meski aku sedikit cemburu, tapi kurasa semua cewek juga cemburu melihat Yazi menyemangati Nara. Yang penting saat ini adalah aku ingin tim kelasku menang melawan tim kelas D.

Benar saja. Tim kelasku menang. Aku memeluk Riana sedangkan Yazi, Ifu, juga Rayan memeluk Nara. Aku pura-pura gak melihat uforia mereka. Aku menyalami semua anggota tim yang ikut bertandiang, tanpa terkecuali. Nara juga tentu saja.

Tim cowok kelas D merasa harus membalikkan nama baik mereka yang kalah dari kelasku, karena tim putrinya kalah. Mereka sudah turun ke lapangan. Yazi ada di sebelahku. ‘’Semangatin aku. Aku tadi lihat kamu semangat sekali kasih support Riana. Aku mau kamu lakuin itu buat aku.’’ Aku menoleh ke samping di mana Yazi berada. ‘’Ada Nara. Nara aja.’’ Yazi membetulkan kaus kakinya. Dia bangun. ‘’Aku mau kamu!’’ Yazi kemudian masik kelapangan.

Demi kelas apa sih yang enggak? Aku menepis cemburuku, karena anak lain juga bisa. Begitu Yazi bermain aku ikut memberikan semangat. Begitu smash Yazi masuk dan tim kelas D tidak bisa mengembalikannya, Yazi menoleh mencariku, aku tentu saja memberikan semangat untuknya. Yazi bermain bagus sekali. Yazi selalu mencariku ketika dia melakukan serangan dan berhasil. Dia maelakuakn itu sampai akhir pertandiangn. Tim putra kelasku juga menang.

Pertandingan berakhir. Kami semua membubarkan diri. Masih ada waktu sampai jam oelajaran olah raga habis, bisa berganti baju dan istirahat. Aku meninggalkan lapangan bersama yang lain. ‘’Laura!’’ Seseorang berteriak, ‘’Makasih!’’ Aku membalikkan badanku, Yazi melambai-lambaikan tangannya. Aku memberinya jempol.

‘’Laura! Makasih banyak supportnya,’’ kata Eka yang baru saja masuk kelas dan duduk. Dia sudah berganti baju. ‘’Aku yang makasih, Ek. Kalian bermain sangat bagus. Gak tim putri, gak tim putra, keren abiz.’’ Eka mengangguk dan tersenyum. Dia kelihatan sekali kalau dia senang.

‘’Tadi tim kelas D menurutmu bagaimana, Laura?’’ tanya Eka ingin aku memberikan penilaian. ‘’Mereka juga bermain sangat bagus. Perhanan mereka kuat. Kurasa yang tadi bikin kita menang adalah keberuntungan. Apa aku salah, Ek?’’ Aku menanyakan itu karena memang aku gak bisa bilang kalau tim kelas D buruk, dan tim kelasku lebih unggul. Kedua tim sama levelnya.

‘’Benar juga. Kukira aku aja yang ngerasa kalau tim kelas D itu lawan yang berat. Emang harus diakui keberuntungan kita itu karena Yazi main gila. Dia gak biasa main sesemangat itu. Itu karena kamu juga. Yazi emang kenal kamu udah lama? kayaknya kalian berteman baik. Gini Yazi itu kalau gak salah pacarnya Nara, tapi giliran minta disemangatin dia larinya ke kamu. Jadi, kupikir kalian udah temenan sejak lama.’’

Aku sedang gak ingin bergosip. Aku hanya menjawab dengan tertawa. Dan itu kurasa Eka mengartikannya dengan ‘iya’. ‘’Oh, pantas.’’ Eka menanggapi tawaku dengan mengatakan itu.

Jadi, Yazi itu lebih dari teman dengan Nara, baguslah, itu bisa jadi koma agar hatiku gak kebablasan menyukai Yazi. Aku gak peduli apa kedekatan Yazi dengan Nara itu sekadar sahabat atau memang mereka pacaran. Aku sudah patah dengan Ifu, sekarang kuharap aku bisa menjaga rem agar itu tidak terjadi kepada Yazi. Aku dan Yazi hanya teman biasa. Aku gak peduli Yazi mendekat atau menjauh dariku. Kami berteman itu saja.

Kurasa aku lebih baik fokus ke bagaimana aku selanjutnya. Aku mau meneruskan sekolah di mana nantinya. Pasti di level selanjutnya akan banyak anak yang lebih keren dari Yazi, yang senyumnya lebih manis dari Yazi, siapa tahu ada yang mau menjadi temanku atau bahkan menjadi sahabatku. Kalau untuk pacar, kelak aku kan SMA, bolehlah.

 

 

 

 

Komentar