15. Sebuah Pengakuan Jujur
‘’Banmu
bocor!’’ Yazi mengatakan itu begitu aku berbelok setelah melewati ruang guru
yang berseberangan dengan ruang kepala sekolah,
Aku mendapati Yazi sendirian di depan pintu kaca samping ruang kepala sekolah. Aku yang baru selesai karena ada perlu dengan anak-anak Pramuka tentu saja terkejut. Aku memang meminta izin pulang mendahului anak-anak Pramuka Inti yang sedang berkumpul membicarakan perlombaan dari kecamatan. Aku sudah memberikan apa yang mesti kuberikan. Sedikit pengarahan dan gagasan. Selebihnya bagian yang lain. Tapi, Yazi ada di sini sementara yang lain yang tidak ada hubungannya dengan anak Pramuka sudah pulang semua.
‘’Jadi, kamu belum pulang?’’ tanyaku bingung harus bicara bagaimana. Dia mengangguk. ‘’Sepedaku memang agak kempes, mungkin tadi pagi sudah bocor halus.’’ Yazi memperlihatkan sebuah paku payung. ‘’Ini menancap di ban sepedamu. Kurasa tertancap gak jauh sebelum kamu sampai ke sekolah.’’
Aku
mengangguk. Aku mengambil paku payung itu dari tangan Yazi. Aku membuangnya ke
tempat samapah di samoping pintu kaca. ‘’Makasih. Seharusnya ….’’ Yazi memotong
ucapanku, ‘’Ayo, kutemenin ke bengkel dekat sini. Gak usah sungkan, aku gak
papa kok nungguin kamu.’’ Aku mengangguk. Aku pergi mengambil sepedaku ditemani
Yazi yang berjalan di sampingku. Setelah itu aku dan Yazi sama-sama menuntun
sepeda masing-masing. ‘’Atau kamu mau pakai sepedaku, biar aku yang bawa
sepedamu aja.’’
“”Gak
mau, nanti kayak pulpen lagi gak mau dibalikin,’’ kataku menolak. Yazi
tertawa. ‘’Oke, kita ke bengkel bareng.’’ Aku mengangguk. Lepas dari area
sekolah aku dan Yazi berjalan ke arah yang berlawanan dengan arah rumahku. Itu
arak ke rumah Yazi. Sedikit agak jauh kira-kira dua ratus meteran.
Sementara sepeda diperbaiki aku menunggu dengan duduk di bangku di bawah pohon jambu yang sedang berbuah lebar, dan Yazi menghilang meninggalkan sepedanya yang distandarkan di depan bengkel.
‘’Ini pega
“Kenapa
kamu gak pulang tadi, malah nungguin aku?’’ tanyaku. Yazi duduk bersisian denganku.
‘’Aku tadi meriksa sepedamu. Sepedamu kempes. Aku udah nyoba pakai pompa di
sepedaku, tapi percuma, berarti memang bocor. Pas kuperiksa ternyata ada paku
payungnya.’’
Aku
mengangguk, ‘’Makasih sekali lagi, ‘’ kataku. Yazi pasti menunggu lama sekitar
dua jam . Meski bisa asyik sambil main handphone, tapi dua jam sendirian itu
membosankan. Aku merasa berhutang budi. ‘’Gak usah ngerasa hutang budi, Budi aja
yang punya utang ngerasa gak harus bayar.’’ Di saat seperti ini di mana aku
sebenarnya terharu ingin menangis, Yazi malah berkelakar.
‘’Aku
mesti bayar berapa?’’ tanyaku. ‘’Kamu bayar tambal bannya aja, gorengan, es,
sama aku yang nungguin gak usah dihitung.’’ Aku mengangguk. Yazi menataku dan
tersenyum. ‘’Kenapa kamu meriksa sepedaku?’’ tanyaku heran. Yazi tertawa saja,
dia tidak menjawab pertanyaanku.
‘’Kamu
ada urusan apa di Pramuka tadi?’’ tanya Yazi di sela mengunyah gorengan.
‘’Banyak lomba. Aku urun rembuk tentang apa ajaa yang mesti disiapin, semacam
itu.’’ Yazi emngangguk, ‘’Aku percaya kamu itu otaknya encer banyak ide.’’ Aku
tertawa mendengar pujian Yazi. Tapi, aku tidak mengatakn terima kasih.

Yadi
tertawa, ‘’Tapi, aku gak pernah famous di matamu. Kamu bahkan baru tahu aku ada
di kelas sembilan, benar kan?’’ Aku terdiam, Yazi tahu itu, dan aku tidak lucu
kalau mengangguk mengiyakan. ‘’Aku udah bosan aktif di kegiatan sekolah di
sekolah asal sebelumnya. Ketika lanjut ke sekolah sekarang ini, aku cuma pengen
kamu lihat aku ada. Itu cukup. Aku gak bakal minta yang lain. Aku gak pernah
minta aku famous. Buat apa? Aku tahu kamu, tapi kamu gak pernah tahu aku sama
sekali. Kamu sibuk dengan kepintaranmu dan semua kegiatan sekolah. Kamu pikir
aku gak pengen berteman sama kamu? Untung saja kita sekelas tahun ini. Aku udah
nunggu dua tahun. Untung aja aku tadi lihat ban sepedamu bocor. Aku selalu
lihat kamu, tapi aku gak pernah ada di matamu. Bahkan buat sekadar jadi
teman.’’
Aku
terdiam, sungguh aku merasa ingin menangis saat ini. Aku pura-pura baik-baik
saja. Aku harus memagari hatiku sendiri. Yazi pantas dekat dengan yang lebih
baik dariku. Entah mengapa saat ini aku merasa seperti pendosa.
‘’Diminum
esnya aku udah beliin, ini gorengannya juga.’’Aku mengangguk. Aku meminum es
yang Yazi beli dan makan gorengannya juga. “Kenapa harus nunggu dua tahun? Kamu
bisa bilang ke aku; Aku Yazi, mari kita berteman. Aku memang terlalu sibuk,
jadi gak mungkin aku yang datang ke kelasmu, bukan?’’
‘’Kamu
pikir deketin kamu itu gampang? Pertama teman kamu pastinya gak ngasih ruang,
ke dua aku akan kelihatan aneh dan gila, yang ke tiga gimana kalau jawabanmu
begini; kamu siapa, ya? Gila aja, harga ditiku terjun benas kali.’’
‘’Tapi,
sekarang kita bdah sekelas, kamu juga sering ngajak aku bicara, dan sekarang kamu nemenin aku nambal ban. Kita udah berteman, bukan?’’ Yazi mengangguk
sambil tersenyum.
‘’Kamu
agak sedikit menarik diri ketika aku datang ke mejamu. Apa aku nakutin kamu?’’
tanya Yazi sambil menatapku. Aku tahu itu karena aku sempat menoleh. ‘’Itu
hanya perasaanmu aja. Aku memang agak menarik diri gak ke kamu, bahkan ke semua
teman. Aku memang ngasih jarak, karena pertemanan tanpa jarak itu bukan
pertemanan.’’ Yazi menagngguk. ‘’Tapi, kamu gak ngerasa keganggu, kan, aku suka
ngajak kamu bicara?’’ tanya Yazi sambil menginjak sepatuku.
‘’Heh,
sepatuku jadi kotor nanti! Jujur aku keganggu. Apa aku salah?’’ Yazi malah
tertawa senang ketika aku menanyakan itu sambil melirik ke arahnya. ‘’Baguslah,
aku akan mrngganggumu terus sampai kamu matah.’’ Benar-benar niat menggangguku
rupanya. Ternyata!
‘’Kemarin aku dari umah Riana, dia ngasih tahu Sari. Iya, nama anak itu Sari, bukan?’’ tanyaku memastikan. Yazi terdiam. ‘’Anak itu lagi, dia mengganggu saja. Kerjaannya menganggu saja. Dia mengatakan ke teman-temannya kalau aku dan dia pacaran. Awalnya aku emang baik, karena dia juga baik, tapi lama-lama dia minta lebih dari teman, dan aku gak mau. Aku masih bertegur sapa, tapi aku gak mau punya pacar dia.’’

‘’Nara?’’
tanyaku. Yazi tertawa. ‘’Aku, Ifu, dan Nara cuma berteman saja. Mungkin lebih
tepatnya bersahabat.’’ Aku tertawa. ‘’Tapi, semua teman kita menganggapnya kalian berpacaran,
maksudku Nara dan kamu.’’
‘’Udah
ini sepedanya!’’ Pemilik bengkel mengatakan itu dan mnyetandarkan sepedanya di
samping sepeda Yazi. Aku bangun dan membayarkan sejumlah uang seperti yang pemilik
bengel katakan. Setelah mengucapkan terima
kasih aku dan Yazi pergi dari bengkel sepeda. ‘’Aku gak bisa ngantar
kamu pulang. Kamu bisa pulang sendiri dan aman, kan?’’ tanya Yazi emmastikan.
Aku mengangguk. ‘’Aman. Nanti kubikin status WA. Biar kamu lega,’’ Yazi
mengangguk setuju.



Komentar
Posting Komentar