Bab 16. Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku

 

16. Memang Setampan Apa

Hari ini praktek olah raga materi atletik. Seperti yang semua anak tahu atletik itu lari, lompat, dan lempar. Teori sudah dikuasai, tetapi praktek lempar lembing dan lempar martil, aku belum pernah sama sekali. Setelah warming up guru olah raga menjalaskan ini dan itu. Beberapa lembing dan martil usdah dibawa anak-anak cowok dari gudang peralatan sekolah.

Guru olah raga yang sehari-harinya memegang klub senam khusus untuk ibu-ibu yang ingin mengecilkan lingkar perut dan menurunkan bobot badan itu mempergakan, sementara anak-anak berbaris memperhatikan. ‘’Kalian paham?’’ Tentu saja sudah bisa ditebak jawabannya paham. Kebiasaan yang tanpa sadar berulang, karen apaham tau gak paham jawabannya teta; paham.



‘’Baiklah, kita akan mulai sesuai dengan absen. Satu kali lempar lembing dan satu kali lempar martil. Nomor absen selanjutnya akan mengambil lembing dan martil yang terlempar untuk mendapat bagian selanjutnya. Begitu sampai absen terakhir, absen yang pertama bertugas mengambil lembing dan martil dari lemparan terakhir. Jadi semua mendapat bagian yang sama.’’

Semua mendapat giliran sesuai nomor absen. Susanan sangat seru, karena ternyata tidak semudah itu melakukan lemparan. Terkadang startnya benar, lemparannya kurang tenanga, atau startnya benar, tetapi lemparannya salah arah tidak ke depan, tetapi terlalu menyamping. Tentu saja suasana menjadi sangat seru, karena ketika ada yang salah aku dan teman-tean menyoraki dan menertawakannya. Teetawa merasa lucu, bukan untuk merendahkan.

Setelah pengambilan nilai selesai, aku dan teman-teman yang lain beristirahat menunggu diperbolehkan untuk ganti baju. Sebagian ada yang bermain sepak bola, atau voli, hanya saja beberapa orang ada yang duduk-duduk di rumput seperti aku. Hitung saja yang bermain bola 22 orang, yang bermain voli 12 orang, jadi total keduanya adalah 34 orang. Berarti siswa yang tidak bermin itu ada 14 orang, karena semua anak di kelasku berjumlah 48.


Aku ada di antara yang 14 terakhir. Aku duduk di rumput bersama lima temanku, sedangkan yang 8 lagi ada di pinggir kedua lapangan entah sebagai wasit, entah sebagai supporter saja. Riana yang jago bermain voli, terkadang bergabung denganku, atau berganti main dengan pemain yang ingin istirahat dan duduk denganku.

Sekarang Nara ada di antara kami yang duduk, Riana pun sama. Berati dua yang sebelumnya duduk sedang bermain voli. ‘’Kemarin kamu dari mana?’’ tanya Riana kepada Nara. Nara tertawa. ‘’Dari kantor ngambil buku tugas Bahasa Inggrisku yang ilang. Aku nyari di antara tumpukan buku dari empat kelas. Kenapa emang?’’ Nara mengakhiri kalimatnya dengan balik bertanya kepada Riana.




‘’Enggak, soalanya kemarin Yazi juga ilang, dia datang ke kelas setengah jam habis bel. Eh, balik-balik dia nongol bareng kamu. Emang buku Yazi juga keselip. Maksudku keselip berjamaah?’’ tanya Riana. Aku tahu kemarin Yazi muncul di pintu terlambat sesudah bel masuk istirahat pertama. Memang sedang gak ada guru, kami semua mengerjakan tugas merangkum. Tapi, aku gak tahu alasan mereka berdua, kalau ternyata buku mereka menyelip di antara buku kelas lain.

‘’Enggak. Aku yang manggil Yazi, dia dari kntin, aku ketemu dan Yazi kuajak nemenin.’’ Nara mengatakan itu. aku menyimak pembicaraan, tanpa menyela. Jadi, kemarin Yazi diajak Nara? Eh, aku kenapa, bukankah boleh-boleh saja Yazi ke manapun dengan Nara. Toh, dia bukan siapa-siapaku juga?

‘’Kamu tahu, aku kemarin ditanya sama Ibu Bidadari.’’ Nara mengatakn itu dengan tertawa. Siapa yang tidk tahu Ibu Bidadari, julukan untuk ibu guru kelas tujuh yang memang sangat cantik. Aku tidak berbohong, dia sangat cantik; tinggi, langsing, hidungnya mancung, dan kurasa lebih pants menjadi seorang aktris di layar lebar atau pesinetron di layar kaca, karena memang sangat cantik.

‘’Ditanya apaan?’’ tanya Riana penasaran. Yang lain termasuk aku juga kepo. ‘’Dia nanya apa aku sama Yazi pacaran. Ku bilang enggak, Yazi ditanya gitu malah ketawa-tawa. Ya, udah aku dikira beneran pacaran sama Yazi. Dia bilang gini; kalian begini terus sampai nanti dewasa. Kalian cocok, ya, mungkin sekarang sahabatan dulu aja.’’ Nara mengatakn itu sambil tertawa-tawa.

Aku diam saja. Harus kuakui Nara cantik dan cocok dengan Yazi. Bahkan, kalau aku kelak dewasa menjadi kekasih Yazi, aku tetap akan mengakui dia lebih pantas dengan Nara. Apalagi semenjak kejadian paraf yang menitru parafku, Nara semakin baik padaku. Sikapnya berubah menjadi lebih baik, meski aku dan dia tidak akrab, hanya sekadar berteman saja.

‘’Terus kamu gimana?’’ tanya Riana penasaran. ‘’Ya, gak gimana-gimana. Aku memang sama Yazi cuma sahabatan aja, kok. Aku gak ada niat meski Yazi gak keberatan kalau aku sama dia pacaran.’’ Jelas sudah dari perkataan Nara kalau Yazi memang ada hati sama Nara. Gak masalah dan itu wajar. Siapa yang gak suka Nara? Gak ada. Kalau sekarang Yazi dan Nara dekat sekali, gak ada yang mengira kalau mereka gak pacaran. Termasuk aku sebelumnya, sebelum Yazi menemaniku menambal ban.

‘’Itu Yazi ngomong sendiri ke kamu, kalau dia minta kamu jadi pacaranya?’’ kejar Riana. Seseorang dari lapangan memanggil Riana, tapi dia melambaikan tangan memberi tanda kalau dia gak ingin masuk ke lapangan lagi. ‘’Gimana, Nara?’’ Riana penasaran dan yang lain juga, termasuk aku. ‘’Gak, aku dengan dari Ifu. Ifu ngomong gitu. Dia bilang kalau aku mau, Yazi pengen nembak gitu.’’



‘’Ya, udah jadian aja,’’ kataku akhirnya ikut buka suara. Nara menatapku. Dia menggelengkan kepalanya. ‘’Aku gak pernah ada rasa sama Yazi. Aku cuma ingin bersahabat. Yang bilang aku pacaran dan jodoh-jodohin aku sama Yazi kan kalian. Aku sama Yazi cuma berteman di sekolah. Yazi gak pernah main ke rumahku, dan aku juga gak ingin main ke rumah Yazi.’’

‘’Jangan-jangan kamu ngincer kakaknya Yazi,’’ kata Riana tanpa edeng alingaling. Dia memang begitu kalau pensaran. Waktu aku suka sama Ifu, entah bagaimana dia mengambi kesimpulan lebih cepat dari yang kukira. Dan nntungnya cuma Riana yang tahu kalau aku suka sama Ifu. Riana sesensitif itu. ‘’Kakaknya? Boleh juga. Aku akan memilih kakaknya kalau memang disuruh pilih antara Yazi sama kakaknya.’’ Nara mengatakan itu membuatku penasaran setampan apa kakaknya Yazi dibanding Yazi.



‘’Udah sama Yazi aja, kalau bosen sama kakaknya,’’ celetuk salah satu teman yang duduk di rumput di samping Riana. Dia mengataan itu santai sekali sambil mengikat tali sepatunya. ‘’Eh, iya, kenapa gak gitu, satu dapat dua.’’ Nara mengatakan itu dan semua yang sedang berkumpul di sini tertawa, termasuk aku.

‘’Emang Yazi punya kakak? Dia sekolah di mana?’’ tanyaku ingin tahu. Riana tampil menjadi kompor seperti biasa. ‘’Jiiiah, ada yang minat juga. Laura minat, Nara minat, aku juga boleh masuk list.’’ Tentu suasana  semakin seru. Kami tertawa. Dan, tanpa sadar Yazi sudah ada di dekat kami. Dia melemparkan bola ke arahku. ‘’Tangkap! Yang lain olah raga, kenapa kamu malah ngerumpi di sini? Pasti kamu yang jadi pemimpinnya.’’ Aku menggeleng. Semua mata tertuju kepadaku. Entah mengapa kalau Yazi sedang menggodaku yang lain seolah gak mau ganggu. Aku menggeleng. Aku melihat semua menjadi diam, aku gak kehabisan akal. Aku menunjuk Riana. ‘’Dia!’’ Semuanya tertawa keras-keras. Yazi menatapku sambil tersenyum. Dia manis sekali. Yazi saja semanis itu, bagaimana kakaknya?

 

 

Komentar