17.
Kurasa Aku Mulai Harus Menjauh
‘’Rajin
sekali.’’ Aku menghentikan tangaku yang menggemburkan tanah sekeliling tanaman
bunga di tanah. Aku menoleh. Yazi? Aku bertanya dengan mukaku. ‘’Aku dari rumah
Rayan.’’ Aku mengangguk-angguk. Yazi masih berada di atas motornya. ‘’Mau masuk
pagar?’’ tanyaku, karena Yazi terap berada di motornya yang berhenti di samping
pagar di mana aku di dalam pagar sibuk dengan tanah baru saja.
‘’Gak. Makasih. Aku mau nyapa kamu aja. Boleh?’’ tanya Yazi. Ku mengangguk. ‘’Udah kelar urusannya sama Rayan?’’ Padahal intinya aku itu ingin tahu apa yang dikerjakan oleh mereka berdua. ‘’Gak ngerjain apa-apa. Aku nunggu kamu datang ke rumah Rayan, tapi kamu gak keluar sama sekali. Kamu tahu kan, aku tadi dari rumah Rayan? Kamu tadi lewat mau ke mana?’’
‘’Aku
ke warung. Aku tahu, aku lihat kamu tadi duduk di beranda rumah Rayan, tapi aku
mau negur takut kamu lagi malas ditegur. Jadi aku jalan aja, pyra-pura gak
lihat,’’ jawabku. ‘’Jahat banget, padahal kita satu kelas, kamu gak mau negur.
Padahal aku sengaja main ke rumah Rayan. Aku mau kamu tegur.’’ Yazi mengatakan
itu seperti adik kesel yang kecewa gak kubelikan permen, karena aku lupa. Di
terlihat sangat kecewa. Kukira tadi dia hanya bercanda.
‘’Ini
kan udah ngobrol. Pengen ditanya apa? Kamu suruh masuk gak mau, nanti aku
dikira sombong, kamu main tapi gak disuruh masuk. Aku takut ada yang cemburu
juga, Nanti aku sama kamu salah, sama yang lain juga salah.’’
‘’Aku gak mau masuk, karena aku harus pulang. Kamu lihat aku masih pakai seragam.’’ Yazi mengatakan itu dan memang benar dia masih memakai seragam. ‘’Terus aku harus gimana, kamu mau turun bantuin aku ngurusin bunga? Jangan, nanti seragammu kena getah. Kurasa kamu lebih baik pulang.’’ Aku mengatakan itu dan Yazi mengiyakan. Yazi selalu menghindar untuk membicarakan cewek anak kelas tujuh yang tergila-gila dengan Yazi.
Kemarin
Riana sempat mengtakan kalau anak kelas tujuh itu sering bicara dengan Yazi.
Sepertinya Yazi memang sering menemui cewek itu di rumahnya, meski hanya bicara
di depan rumah seperti posisiku saat ini. Cewek itu cantik, dan aku gak ingin
merebut Yazi dari siapa pun. Aku gak dalam perlombaan memenangkan hati
seseorang. Kalau benar Yazi yang sengaja menenui cewek kelas tujuh itu, berarti
Yazi memang suka.
Sekarang aku tahu kenapa Nara mengatakan kalau Yazi dan dia gak ada hubungan kecuali persahabatan saja. Kurasa Nara juga tahu perihal Yazi dengan anak cewek kelas tujuh itu. Mungkin Yazi sudah bercerita panjang kali lebar, secara mereka berdua sahabatan. Apa Yazi juga cerita tentang aku dan Yazi? Aku curiga Yazi mengatakan hal itu juga kepada Nara. Karena, sikap Nara menjadi lebih baik kepadaku. Entahlah. Bagaimana dengan Yazi yang tertawa-tawa mendengar tuduhan kalau dia dan Nara berpacaran seperti yang Ibu Bidadari katakan?
‘’Kalau
gitu aku pulang. Tapi, aku boleh nanya?’’ tanya Yazi. Aku mengangguk. ‘’Apa
kamu sering lihat, maksudku beberapa kali pernah melihat aku ada di rumah Rayan
sebelumnya?’’ tanya Yazi ingin memastikan. ‘’Kenapa?’’ tanyaku balik bertanya,
‘’Kamu ingin tahu apa aku pura-pura gak lihat lagi?’’ Yazi mengangguk. ‘’Iya,
kamu benar. Tapi itulah aku. Kalau kamu ingin tahu apa alasannya aku gak mau
nanya yang sebelum-sebelumnya? Karena aku malas aja. Malas itu bukan dosa, kan?
Tapi, sebenarnya yang tadi itu aku bukan malas, tapi lebih ke gak mau nanya
dengan alasan nanti aku lupa mau beli apa-apanya. Aku lagi malas nyatet yang
mau kubeli.’’ Yazi tertawa. Oke, aku pulang kalau gitu.’’ Aku mengngguk dan
Yazi pulang. Aku mengkuti jalan motornya sampai menghilang dari pandanganku.
Meski sesederhana itu tapi aku merasa senang. Mungkin Yazi memang ingin berteman denganku, tanpa menjadi asing dengan Nara dan cewek yang tergila-gila dengannya. Walau bagaimana pun aku harus menghargai kebaikan Yazi yang menungguiku sepedaku dan menemaniku menambal ban kemarin. Aku merasa berhutang budi.
Yazi
mengirimiku pesan. Dia pasti mendapat nomorku dari grup kelas C dan grup untuk
mengirim tugas. Dia hanya menanyakan aku sedang sibuk apa. Aku tidak
menjawabnya, Aku gak ingin kegiatanku diketahui oleh orang lain. Kurasa apa
yang kulakukan sama seperti anak-anak lain. Sore mengaji dan selepas isya
belajar, kalau mood bagus langsung tidur, kalau mood gak bagus aku main game.
Sampai jauh malam? Tentu saja. Anak teladan kan gak salah tahu game juga. Tapi,
aku biasanya lebih sering nonton video orang main game. Kecuali, aku moodku
dalam kondisi bagus.
Yazi ingin beretemn dengan siapa saja, kurasa begitu. Dia baik ke semua cewek dan cowok. Sekain itu orang tua Yazi orang terpandang, jadi wajar kalau banyak yang segan dan menjadi fansnya. Setelahnya aku tidur. Aku jarang bermimpi. Jadi, jangan berharap aku menjadi pengangum seseorang sampai kemudian di hadir di mimpiku, karena aku terlalu memujanya. Gak sama sekali, aku gak termasuk cewek yang seperti itu.
Aku
mendapati Yazi ada di rumah Rayan lagi di hari berikutnya. Aku tetap tidak
menyapa Yazi meski aku melewati rumah Rayan. Rayan yang keluar dari pintu
rumahnya dan memanggilku ketika aku pulang dari toko kelontong membuatku
berhenti di depan rumah Rayan. Rayan mendekat ke pagar rumahnya, Yazi ikut
berjalan di belakangnya. ‘’Kamu dari belanja?’’ tanya Rayan dan aku mengangguk.
Dia menoleh ke arah Yazi. ‘’Laura memang begini setelannya, dia akan berhenti
dan bisa kita tanyai kalau kita panggil. Tapi, kalau dia menyapa cowok dari
kejauhan dia gak bakalan.’’ Yazi mengangguk, sementara aku diam saja.
‘’Kamu gak mau mampir? Yazi sengaja main. Dia pengen kita ngobrol bertiga.’’ Aku mengangguk.Baru saja kuiyakan ibuku menelponku. Ibuku menanyakan aku di mana, dan kenapa belum pulang. ‘’Ada teman, Bu. Sebentar lagi aku pulang.’’ Ibu mengiyakan dari rumah. Setelah ibu menutup teleponnya, aku menunjuk handphoneku sambil tertawa. ‘’Ibuku. Tahu maksudnya, kan? Lain kali aja, ya.’’ Rayan mengangguk mengiyakan, sementara Yazi mengangguk lesu.
Aku masuk ke kamarku, aku ingin beristirahat. Sore ini aku memang gak sedang ingin merawat bunga di pekarangan, hujan tadi pagi sudah cukuo mengairi mereka yang tumbuh dan sebagian sedang berkuncup. Yazi mengirimp pesan; Kenapa gak bisa, apa karena aku mainnya ke rumah Rayan bukan ke rumahmu? Aku membalasnya; Gak, aku lagi capek hari ini. Aku memberi emot tertawa di akhir balasanku. Yazi mengirim pesan lagi; Kenapa ketawa? Aku membalasnya; Gak papa. Kalau aku ngasih emot sedih, nanti kamu ngerasa punya hutang sama aku. Aku mau istirahat dulu.






Komentar
Posting Komentar