Bab 18. Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku

 

18. Hari Membahas Kakaknya Yazi

Aku baru saja sampai ke kelasku. Eka sudah mengajakku bicara. ‘’Kamu semalam lihat bola, gak, Laura?’’ Aku menggeleng. Aku yang baru saja duduk dan berbalik badan ke arah Eka, karena dia pasti akan protes kalau aku gak melihat ke arahnya ketika diajak bicara. Aku sedang malas sekali, maksudku malas ke kantin atau duduk di luar kelas, apalagi ke kelas lain. Mendung di luar cukup tebal. Aku gak takut hujan, cuma kalau hari mendung aku sering ikut terbawa suasana. Hatiku ikut mendung juga.

‘’Kakaknya Yazi barusan lewat, aku ketemu dan dia senyum!’’ Riana masuk ke kelas sambil mengatakan itu. Lebih tepatnya setengah berteriak. Ada nada senang dari suaranya. Tentu dia bicara begitu buat penggemar Yazi dan kakaknya yang biasa duduk di sekitaran mejanya. Terdengar teriakan menyambut setengah histeris senang. ‘’Seriusan?’’ tanya mereka hampir bersamaan. Aku diam saja di bangkuku, gak berminat sama sekali.



Riana melewati mejaku tanpa menyapa, dan aku membiarkannya. Aku hanya melihat ke arah mereka dari dudukku. Tampak Riana bicara dengan mereka, salah satunya Nara. Mereka antusias sekali. Aku jadi sedikit penasaran seberapa keren kakaknya Yazi. Apa dia lebih manis dari Yazi? Kurasa mereka bicara semangat begitu karena kakaknya Yazi sudah SMA, dan punya crush anak SMA itu mirip sebuah pencapaian. Seolah mengatakan aku bukan anak kecil lagi, lihat pacarku anak SMA. Seperti itulah. Mungkin aku juga akan sama, cuma aku gak punya pacar. Lebih tepatnya aku belum punya pacar. Jangankan yang SMA, yang SMP saja aku gak ada. Aku jomlo.

Sebenarnya gak masalah soal jomlo, tapi terkadang jujur aku iri kalau mereka sedang memamerkan pacar mereka setinggi langit, meski kenyataannya pacarnya di mataku biasa saja. Setidaknya sedikit ada celah untuk pamer dan membual merasa lebih cantik, karena ada yang suka. Aku kan juga ingin terlihat cantik dan disukai lawan jenis. Setidaknya ada yang menemaniku menghabiskan hari MInggu di rumah, atau menemaniku ekstrakurikuler di hari Sabtu.

‘’Laura, kenapa diem, ayo balik badan. Kita ngobrolin game terbaru!’’’ajak Eka. Aku menggeleng dari dudukku. ‘’Enggak mau, aku lagi malas ngomongin bola sama game. Aku capek menang mulu kalau ngegame,’’ kataku tanpa berbalik badan. Eka tertawa dari duduknya di belakangku. Eri yang baru datang langsung nimbrung. ‘’Eits! Sombong banget yang menang mulu.’’ Aku tertawa dari dudukku. Aku menoleh ke belakang. ‘’Aku?’’ tanyaku sambil tertawa. Mereka berdua serempak mengatakan aku sombong sambil tertawa.

Ada yang berdeham di depan mejaku. Aku segera melihat ke depan. Yazi? ‘’Ini, aku dari kantin, Aku sengaja beli buat kamu. Makan, jangan dibuang!’’ Aku bertanya dengan mataku kepada Yazi, apa maksudnya semua ini? ‘’Iya, makan. Aku tahu kamu suka donat, sengaja aku beli yang toppingnya meses cokelat dan kacang.’’ Aku emngangguk, ‘’Makasih banyak. Ini dua-duanya buatku? Buat Nara mana?’’ Aku mengatakan itu tanpa maksud apa-apa, karena aku tahu Nara itu sahabatnya Yazi dan Ifu, bagaimana mungkin aku diberi, sedangkan Nara dan Ifu terlewatkan.


Yazi langsung memasang muka datar. Dia membiarkan donat itu tetap di mejaku, sementara dia berlalu dari mejaku. Apa salahku? Apa aku salah bicara? Aku menarik napas panjang, sepagi ini mana mendung, Yazi juga mendung, masak aku harus menghadapi dua mendung sekaligus. Semoga saja hujan turun, jadi suasan hatiku gak mendung lagi. Soal Yazi, nanti saja kupikirkan. Yazi ingin aku memakan donatnya. Aku mengambil satu dan menggigitnya, aku memutar dudukku dan kulihat Yazi sedang menatapku dari duduknya. Aku mengacungkan donat itu dan mengangguk, sekarang Yazi tersenyum.

‘’Yang dapaat donat lupa teman ternyata.’’ Aku mendengar Eka memprotesku dari duduknya. Aku menoleh dan tertawa. ‘’Kamu mau?’’ tanyaku kepada Eka. ‘’Kalau mau masih ada satu ini. Kamu bisa potekan sama Eri.’’ Dengan cepat Eka dan Eri langsung meng-cut tawaranku dengan kata; enggak. Nadanya terdengar ketus. Aku tahu Eka pasti cemburu, dan Eri merasa aku meledeknya, karena mereka berdua tahu donat itu pemberian Yazi.




Ternyata pembicaraan mengenai kakaknya Yazi berseri. Tiga jam pertama dengan matematika dan bahasa Inggris gak membuat mood mereka buruk, meski aku tahu ketika pelajaran berlangsung mereka sebenarnya kurang suka. Mereka melanjutkan pembicaraan tentang kakaknya Yazi di jam istirahat pertama. Sepertinya kakaknya Yazi lebih menarik dibicarakan dibanding matematika dan bahasa Inggris. Aku jadi semakin penasaran saja seberapa keren kakaknya Yazi itu.

Riana memanggilku, dan aku hanya menoleh dan tesenyum saja. Aku tetap di bangkuku. Masih ada donat dan bekalku masih utuh. Aku membawa bekal karena hari mendung, aku takut hujan turun sementara antrian di kantin mengantri. Hawa dingin itu membuat lapar. Kantin pasti ramai. Yazi melewati mejaku, aku pura-pura tidak melihatnya. Yazi berhenti di depan mejaku. ‘’Tungu, Fu! Sebentar.’’ Dia mengatakn itu agar Ifu menunggunya sebentar, dia sepertinya ingin ada urusan denganku. ‘’Mau kubelikan apa lagi? Aku mau ke kantin.’’

‘’Enggak, Aku bawa bekel, dan donat dari kamu masih ada satu. Lain kali gak usah beliin aku, kalau aku mau nanti aku minta. Gimana? Bukan apa-apa, takutnya gak kemakan. Bisa gitu?’’ Yazi mengangguk mengiyakan. ‘’Ya udah, aku mau ke kantin dulu.’’ Baru selangkah Yazi bergerak dari mejaku, ‘’Titip salam bisa, gak?’’ Yazi berbalik menoleh. ‘’Titip salam buat anak kelas satu yang disukai Riana.’’


Yazi melanjutkan langkahnya tanpa mengatakan apa-apa. Aku salah lagi? Yazi sudah memberiku donat dan menyapaku di rumahku dan rumah Rayan, artinya kita berteman, bukan? Aku gak melarang Yazi suka dengan anak kelas tujuh yang ditemuinya setiap sore, lalu apa aku salah kalau aku menitip salam lewat Yazi? Apalagi anak yang sedang popular itu sekelas dengan cewek yang mengejar Yazi.

Riana sekarang ada di depan mejaku. ‘’Dipanggil juga, cuma noleh sama senyum aja. Temenin aku ke kantin!’’ Aku menggelengkan kepalaku. ‘’Ini permintaan, please!’’ Aku tertawa. ‘’Bisa-bisanya habis ngomongin kakaknya Yazi, terus nemuin cowok yang kamu incer. Sampai satu angkatan tahu kalau kamu naksir sama dia.’’ Riana tertawa. Dia memaksaku, benar-benar memaksaku. Aku akhirnya bangun dari dudukku. Aku menemani Riana pergi ke kantin. Aku tahu Riana sengaja ke kantin agar bisa melihat anak kelas tujuh itu, karen kami akan melewati kelasnya.

‘’Boleh aku nanya tentang kakaknya Yazi?’’ tanyaku. Riana yang berjalan bersisian denganku mengatakn ‘iya’. ‘’Apa kamu naksir kakaknya Yazi setelah kamu dapetin hatinya Yazi?’’ tanya Riana tanpa basa-basi. ‘’Eh, aku gak ada apa-apa sama Yazi. Yazi itu pacarnya anak kelas tujuh, kalau bukan dia berarti sama Nara.’’




Riana tertawa. ‘’Yazi memang pacaran sama ank kelas tujuh, karena setiap sore dia ngapelin anak itu. Dia juga deketan sama Nara, dan guru-guru tahu kedekatan mereka. Tapi yang punya hatinya Yazi itu kamu.’’

“Aku? Ngawur aja. Eh, iya kalian ngomongin kakaknya Yazi, emang sekeren apa dia?’’ Riana tertawa. ‘’Kamu belum pernah lihat, ya? Waktu kita kelas tujuh, kakaknya Yazi itu kelas sembilan, sekarang berarti kakaknya Yazi kelas sebelas. Dia manis, menurutku lebih manis dari Yazi. Sebenarnya karena kita gak dapetin Yazi dan kakaknya Yazi juga manis dan keren, jadi kita milih jadi fansnya. Iya, fans mereka berdua. Kamu tahu, kan kalau fans itu apa aja diomongin, bahkn dia pakai kaus dan sepatu baru aja kita tahu.’’

Aku mengangguk. Aku sampai di kantin, dan Yazi ada di sana bersama Ifu. Di sebelah Yazi duduk anak kelas tujuh yang katanya pacarnya Yazi.



 

 

 

Komentar