Bab 19. Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku

 

19. Maaf Aku Baik Baik Saja


Aku mencoba bersikap biasa saja. Aku seolah tidak melihat penampakan Yazi yang sedang asyik bicara dan makan dengan anak kelas tujuh itu. Itu hak Yazi, aku adalah orang di luar lingkaran. Riana melirik ke arahku, aku tertawa. ‘’Jangan melirik gitu, mecurigakan!’’ kataku sambil tertawa. Riana mencoba mengimbangiku dengan tersenyum.

‘’Kita duduk di mana?’’ tanya Riana. Gak ada bangku kosong kecuali satu meja dengan Yazi, Ifu, dan anak kelas tujuh itu. 

‘’Di situ kosong, yang lain penuh. Apalagi di bagian gorengan, itu abangnya gak pake baju sama gak pake celana.’’ Riana mencubit lenganku  keras. 

Aku mengaduh. ‘’Aduh, sakit tahu. Lihat! Heh, kenapa kamu nyubit aku sampai lecet?’’ Aku sedikit trekejut, Riana pun gak kalah terkejut. Aku gak marah, Riana juga gak sengaja. Dia refleks mencubitku demi mendenga perkataanku tadi soal pedagang gorengan.

‘’Ayo, kita ke UKS minta betadine dulu!’’ ajak Riana merasa bersalah. 

‘’Gak, kita makan dulu. Habis makan ntar kita ke UKS minta betadine. Sedikit perih doank, kok.’’ Riana mengangguk, sebenarnya dia terlihat bingung merasa gak enak lihat lukaku akibat cubitannya. 

‘’Aku minta maaf, Laura. Aku gak ngira lenganmu bakal luka begitu. Oke, aku yang bayarin jajannya, ya, buat penebusan doa. Please, jangan nolak, Laura!’’ Aku mengangguk, ‘’Habis ini kita ke UKS. Setuju?’’ Aku mengangguk lagi.

Aku memesan es teh saja, sedangkan Riana memesan baso. Aku meminta maaf dalam hati kepada bekalku. Padahal aku sendiri yang menyiapkannya. Aku dan Riana duduk berhadapan dengan mereka bertiga; Yazi, Ifu, dan anak kelas tujuh itu. Yazi terlihat sedikit kaget, tapi dia berusaha menyembunyikannya. Aku tersenyum kepada Yazi, dan dia balas mengangguk saja. Pesanan datang segera setelah aku duduk. Aku sibuk dengan es tehku, Riana sibuk dengan baso dan minumannya, sementara Yazi sibuk dengan salah tingkahnya.



Ifu bangun dari duduknya dan pergi. Dia kemudian kembali lagi dan duduk di sampingku. ‘’Kasih  tanganmu sini!’’ Ifu menarik tanganku dan memasang plester. ‘’Udah gede, luka gak tahu. Bisa-bisanya kamu luka dan santai saja.’’ Ifu memprotesku. 

Riana langsung menyahut, ‘’Itu ulahku.’’ Ifu menatap ke arah Riana, ‘’Kok, bisa? Kamu apain dia?’’ tanya Ifu ingin tahu banyak.

‘’Udah, Ifu, Gak ada apa-apa. Aku juga salah. ngomong ngaco,’’ kataku menyela. 

‘’Ngomong apapan?’’ tanya Ifu tetap ingin tahu. 

Riana lalu menceritakan kejadiannya. Ifu tertawa. ‘’Kamu, sih,Laura, bisa-bisanya nge-jokes gitu. Xixixi banget tahu.’’ Aku tersenyum, menoleh ke arah Ifu. Riana tertawa. 

‘’Benerkan, segila itu dia? Bikin aku gemes. Tapi, aku terlalu semangat. Maafina aku Laura,’’ kata Riana memelas. Aku tahu dia serius. Aku mengangguk mengiyakan.


Seseorang memanggil cewek yang duduk di sebelah Yazi sepertinya, karena dia menoleh dan melihat ke arah Yazi seolah izin ingin pergi dengan temannya kembali ke kelasnya. 

‘’Kamu ke kelas aja dulu, aku masih mau di sini.’’ Yazi mengatakan itu kepada cewek kelas tujuh itu.

 Cewek itu yang masih berdiri di samping duduknya Yazi. Dia menatapku. Dia tersenyum dan aku membalasnya dengan tersenyum dan mengangguk. Setelahnya cewek anak kelas tujuh itu pergi meninggalkan meja di mana aku, Riana, Yazi, dan Ifu berada.

‘’Masih sakit?’’ tanya Yazi mencoba memulai pembicaraan denganku. 

Aku tertawa, ‘’Gak usah berlebihan. Lecet dikit doank. Kalau kamu udahan bangun aja, masih banyak anak yang mau duduk.’’ Aku mengatakan itu karena di belakang Yazi ada anak yang bingung mencari tempat duduk sementara makanan Yazi sudah habis. Aku memberitahu Yazi dengan mataku.

‘’Fu, beli baso satu. Es tehnya satu. Sisanya buat kamu.’’ Ifu yang disodori uang oleh Yazi bangun. Yazi menatapku , tapi aku pura-pura gak melihatnya. Aku sibuk melihat Riana yang terlihat bersemangat makan baso. 

‘’Sambelnya dikondisikan, Bu Riana. Mohon dengan sangat!’’ kataku memprotes Riana yang seperti kalap melihat penampakan sambal di depannya. Dia tadi memasukkan dua sendok sambal dan kali ini tangannya ingin bergerak lagi. Dia tertawa mendengar protesku, ‘’Okeee. Aku patuh,’’ jawab Riana. Aku tertawa mendengar dia mengatakan itu.

Ifu datang dengan semangkuk baso dan segelas es teh. Yazi menyodorkan mangkuk baso itu ke depanku. ‘’Makan ini!’’ Aku menggeleng dan mendorong mangkuk berisi baso itu menjauh dari depanku ke arah Yazi. Yazi menatapku. ‘’Kalau kamu gak makan aku gak akan bangun sampai bel masuk berbunyi sekalipun.’’ Dia menatapku dengan tatapan serius.



‘’Tapi, aku masih ada bekal di kelas. Jadi, aku memang sengaja, bukan karena gak punya uang.’’ Aku mencoba menjelaskan duduk persoalannya dan kenapa aku menolaknya.

 Yazi berpindah duduk, sekarang dia duduk di sampingku. ‘’Begini, bukan, sama kayak posisi aku sama anak kelas tujuh itu. Oke, kalau gitu biar beda, aku yang bakal nyuapin kamu.’’

‘’Yazi, apa-apaan ini?’’ tanyaku sedikit kaget. Aku menoleh ke arah Riana mencoba mencari pembelaan, tetapi Riana hanya menoleh sekilas, setelahnya dia sibuk dengan basonya dan bicara dengan Ifu. 

‘’Kamu kenapa, Yazi?’’ tanyaku mencoba mencarai tahu kenapa Yazi tiba-tiba bersikap seperti itu. ‘’Kalau begitu, makan dan habisin sendiri. Aku di sini gak ke mana-mana.’’

Akhirnya aku mengangguk dan mulai memakan baso yang sudah Yazi belikan itu. Aku ingin tahu apa alasan Yazi melakukan itu, tapi melihat Yzi sekarang tersenyum, aku tiba-tiba berpikir lain kali saja menanyakan itu. Yazi senang melihat aku menyuap, dan dia tetap menataoku sambil tersenyum sampai baso di mangkukku habis.

Aku mengeluarkan uang dari sakuku dan meletakkannya di depan Yazi. ‘’Segini, kan? Es tehnya Riana yang bayarin.’’ Yazi mendorong uangku, dia malah menanyakan apa lukaku akibat cubitan Riana masih sakit atau enggak. 

‘’Aku bukan anak kecil, sedikit sakit gak harus ngeluh sampai satu sekolah tahu, bukan? Aku juga gak mau gratisan terus, kemarin pulpen, sekarang baso. Aku gak papa kamu sama anak kelas tujuh itu. Itu hakmu. Kamu cowok dan dia cewek. Apalagi anak itu cantik dan ramah, aku setuju-setuju aja.’’



Yazi pura-pura gak mendengar apa yang kukatakan, padahal aku tepat berada di depannya. ‘’Ambil uangnya, dan sekarang kita ke kelas! Ayo, Fu, Riana!’’ Yazi bangun dari duduknya dan menunggku. Dia memberi tanda dengan matanya agar aku bangun. Aku gak ingin mempermalukan dia, aku bangun dan akhirnya aku dan Yazi berjalan bersisian menuju kelas. Sementara Riana dan Ifu masih di kantin. Kurasa dia menyusul setelahnya, karena begitu aku sampai di kelas, beberapa menit kemudian mereka berdua masuk.

Sepanjang aku dan Yazi berjalan menuju kelas, yazi tampak senang. Dia mengajakku bicara terus. Dia bercerita tentang pertandingan catur anatar dia dengan anak kelas D, dan ternyata dia kalah. Tapi, dari caranya bercerita dia merasa senang. Dia merasa bertemu lawan yang tangguh dan banyak belajar, begitu katanya. Aku hanya mengangguk dan menganngguk, lalu tersenyum. Yazi sma seklai gak menyinggung soal anak kelas tujuh itu dan kenapa dia bersikap seolah aku marah kalau aku tahu dia dan anak kelas tujuh itu kencan tipis-tipis di sekolah.


Empat tiga puluh sore. Yazi mengirim pesan; Aku lagi sibuk sama kakakku. Mau nonton balap motor. Kamu lagi ngapai, Laura? Aku hanya membaca pesan Yazi, aku enggan untuk menaggapinya. Kurasa aku dan Yazi harus ada garus pembatas yang jelas. Aku gak suka mengejar atau dikejar cowok yang ada hubungan dengan cewek lain. 

Aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri tentang Yazi dan cewek anak kelas tujuh itu. Aku gak mau penjelasan apa pun lagi. Aku juga cewek, anak kelas tujuh itu juga cewek, aku lihat anak kelas tujuh yang setiap sore ditemui Yazi itu memang suka beneran sama Yazi. Dan, aku memilih menjauh karena aku mengharagai dia dan aku menghargai diriku sendiri.

 

 

 

Komentar