20.
Ini Juga Luka Untukku
‘’Kamu piket, Riana?’’ tanyaku dari dudukku. Riana mengangguk.
‘’Lain kali kalau piket
datangnya sebelum subuh, atau kamu pulang dari sekolah terlambat dikit buat nyapu.
Kan, kalau nyapunya kesiangan kamu sendiri yang capek,’’ kataku sok menasihati,
tapi sebenarnya aku sedang menggoda Riana saja yang kelihatan kesal, karena
anak-anak cowok lewat-lewat terus dan dia mesti mengulang menyapunya, sedari
tadi belum selesai-selesai juga.
‘’Berisik kamu, Laura!’’ sahut Riana. ‘’Mestinya kamu bantuin!’’ Riana membalas protesku dengan protes lagi.
‘’Oke, siapa takut, aku bantuin dari sini pake doa. Gimaan?
Setuju?’’ Aku tertawa, dan teman yang sebangku dengan Riana dan ikut menyapu
bersama Riana ikut tertawa. Dia tertawa keras. Aku tahu Riana sekarang sudah
gak ngambek lagi. Mungkin kesalnya sudah cukup.
Aku membiarkan Riana meneruskaan menyapu dan aku sibuk menunduk memerikasa handphoneku. Aku membuka beberapa aplikasi. Sekolahku memperbolehkan membawa handphone, tapi tugas sekolah membuat membawa handphone pun aku gak leluasa bermain ini dan itu. Paling sesekali mengecek pesan masuk saja. Kurasa yang lain juga sama. Andai ada waktu luang biasanya dipakai untuk bicara dan bercanda dengan teman-teman. Agak berbeda sensasinya bicara langsung dengan mengobrol lewat handphone entah itu diketik atau teleponan.
‘’Kenapa pesanku gak dibalas?’’ Sebuah pertanyaan membuatku mengangkat mukaku dari layar handphone.
‘’Lowbat kemarin,’’ jawabku santai. Yazi mentapku.
Riana yang sedang
menyapu bagian depan mejaku langsung berkomentar, ‘’Tatap terus jangan sampai
lepas!’’ Aku tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalaku. Aku berusaha bereaksi
agar aku gak terlihat grogi.
‘’Kalau bisa kubawa pulang, kubawa pulang deh,’’ jawab Yazi kepada Riana, tanpa melepaskan tatapannya.
‘’Yazi yang baik dan ganteng, taruh tasmu dulu. Sebentar
lagi bel masuk.” Benar saja, ketika Riana selesai nyapu, bel masuk langsung
berbunyi. ’’Tuh, kan?’’ kataku mencoba memecah suasana agar Yazi gak terlalu
serius.
‘’Ehem!’’ Kudengar Eka berdeham dari duduknya, dan Yazi tetap bergeming.
‘’Aku udah bilang, kemarin hapeku lowbatt. Please, Yazi! Nanti kulaporin sama anak yang kemarin, biar kamu kena dia ngambek.’’ Aku mencoba bercanda.
‘’Laporin atas apa?’’ Yazi tetap serius. Aku tahu dia marah. ‘’Laporin karena maksa aku buat ngejawab, padahal aku udah ngejawab pertanyaanmu.’’
Yazi
masih menatapku. Riana mendekat karena tugas menyapunya sudah selesai. Yazi
berikap seolah Riana gak ada. ‘’Kenapa harus anak yang kemarin? Emang apa
urusannya?’’ tanya Yazi mendesak. ‘’Karena dia pacar kamu!’’ jawabku sambil
menatap Yazi.
‘’Sok
tahu! Emang siapa yang pacaran sama anak itu? Aku? Kamu kata siapa? Jadi, kamu
menjauh gara-gara banyak yang bilang kalau aku pacaran sama dia?’’ tanya Yazi
terlihat marah. Matanya memerah. Aku mengangguk.
Aku
benar-benar terpancing emosinya. Aku sebenarnya tahu banyak cewek-cewek lain
yang berbisik-bisik di belakang mengomentari cara Yazi memperlakukanku yang istimewa.
Aku gak buta. Mereka juga sengaja di depanku berbicara tentang anak kelas tujuh
yang kerap Yazi temui, dan kebetulan kemarin mereka ada di kantin bersama.
Tentu saja gak ada adegan suap-menyuap seperti yang kubilang ke Yazi, tapi aku
benar-benar mau semuanya finish dan ngasih tahu ke semuanya yang suka bicara
bisik-bisik, kalau aku gak masalah gak mendapatkan Yazi. Aku ingin menghapus
dugaan mereka kalau aku pengganggu hubungan orang.
‘’Terserah
kamu. Yang jelas aku sama anak kelas tujuh itu gak ada hubungan apa-apa. Kamu
bakalan lihat setelah hari ini aku bakalan ngejauh dari dia. Aku bakalan
buktiin kalau aku bisa dipercaya.’’ Pembicaraan aku sama Yazi gak keras, ini
lebih ke berantem tapi setengah bisik-bisik. Riana tetap ada di samping mejaku,
dan Yazi gak merasa terganggu.
Yazi
merunduk, tapi Riana dengan cepat mencegah, ‘’Yazi!’’ kata Riana sambil menarik
lengan Yazi. ‘’Jangan gila! Kasihani Laura. Posisinya susah. Kalau kamu nyium
dia, yang nuduh Laura macen-macem bakal dapat bukti. Sabar. Laura juga punya
perasaan, kalau dia gak mau sama kamu, kamu harus terima. Kalau Laura mau sama
kamu, kamu juga harus ngasih waktu buat semuanya. Meskipun Laura gak pernah
cerita, tapi aku tahu gimana perasaannya. Asal kamu tahu, dia pernah terluka
karena dia pernah suka sama seseorang, padahal baru suka dan penasaran aja.
Please!’’
Yazi
menatapku. Aku membuang muka. Dia pergi menuju ke mejanya. Riana menatapku.
‘’Aku tahu semuanya. Santai aja. Kalau kamu gak mau, aku ada di belakangmu,
kalau kamu mau, aku juga ada di belakangmu.’’ Aku tertawa. ‘’Makasih.’’ Riana
mengangguk dan kemudian pergi ke mejanya.
Aku
sangat menyesal, kalau akhirnya jadi begini. Aku gak ngira bakal jadi begini. Padahal
aku baik-baik saja kalau Yazi pun dengan cewek anak kelas tujuh. Tapi, dengan
perdebatan gak jelas barusan, jadi terbaca Yazi memang suka sama aku, dan aku
juga suka sama dia. Ini semacam pengakuan terselubung.
Guru
masuk ke kelas. Kita semua belajar. Aku sibuk dengan mencatat dan mendengarkan
penjelasan, kemudian mengerjakan soal. Yang lain pun sama. Yazi bukan anak yang
bodoh atau lambat, dia pandai, tapi entah kenapa di kelas ini dia menjadi
begitu pasif.
Nama Yazi dipanggi disuruh ke depan. Dia disuruh mengerjakan soal di papan tulis. Yang lain sibuk mengerjakan. Ada rasa senang pastinya ketika ternyata jawaban kita benar entah ketika mengerjakan di papan tulis atau di buku.
Aku
tidak memperotes apa yang Yazi lakukan, aku gak ingin mempermalukan dia. Eka
yang duduk di belakang bangkuku berdeham. “Jadi gitu cara mainnya. Oh?’’ kata
Eka. Dia bicara sendiri, tapi aku tahu maksudnya itu adalah tentang aku dan
Yazi.





Komentar
Posting Komentar