21.
Pertemuan Setelah Sekian Lama
Setelah hari itu aku gak bertemu Yazi. Aku dan Yazi diterima di sekolah yang berbeda. Di kota yang berbeda pula. Aku ada di masa-masa adaptasi. Aku benar-benar bisa melupakan Yazi. Aku yang terbiasa bersama ibu dan ayahku, mendadak menjadi gagap karen berjauhan dengan mereka. Aku tinggal dengan teman-teman cewek lain yang melanjutkan sekolah di kota ini, kota terdekat dari rumahku. Kota tempat Yazi melanjutkan sekolah dua kali jarak dari rumahku ke sekolahku. Otomatis Yazi mesti menyewa kamar. Dia tidak sendiri, ada banyak anak lain dari sekolahku yang melanjutkan sekolah di kota Yazi bersekolah. Aku mendapat informasi itu dari Riana.
Aku
juga kost di kota ini sama seperti Yazi di kota lain itu. aku hanya ingin
belajar menyesuaikan diri saja untuk sementara waktu, kalau semua sudah
baik-baik saja, aku mungkin memilih pulang pergi dengan kendaraan umum dari
rumah ke sekolahku.
Hari
ini hari Jumat, aku akan pulang ke rumah nanti setelah pulang sekolah. Aku
sudah menyiapkan baju yang akan kubawa untuk ditukar dengan baju yang lain,
sudah sebulan aku belum menukar baju di lemari kecilku dengan baju yang
berbeda. Aku akan menaiki angkutan umum menuju ke stasiun. Jarak stasuiun
kereta tempat rumahku berada dengan stasiun kota ini adalah empat stasiun, dan
aku masih harus menempuh dengan kendaraan umum untuk sampai ke kost-kostanku.
Sudah
dua semester dan sekarang aku masuk di semester ke tiga yang berarti aku ada di
kelas sebelas. Dua semester kulewati tanpa mengingat Yazi. Bukan aku tidak
ingat sama sekali. Aku dan Yazi memang gak pernah bertemu sama sekali. Terakhir
kudengar kabar tentang Yazi itu tiga bulan pertama saja waktu aku masih awal
masuk SMA. Aku langsung memutuskan buat ngasih jarak ke Yazi, apalagi aku ganti
nomor handphone. Benar-benar lost kontak.
Kudengar Yazi sering menangis diam-diam karena berjauhan dengan ibunya. Dia kerap kali menelpon ibunya. Kurasa karena dia gak pernah jauh dari keluarganya selama ini. Aku mendapat berita itu dari teman sebangkunya Riana waktu kelas Sembilan. Dia dan Yazi satu sekolahan dan juga satu tempat kost. Aku merasa aku harus merelakan Yazi dan gak perlu memikirkan dia lagi, aku melihat binar mata yang berbeda dari mantan teman sebangku Riana itu. Apalagi dia mengatakan Yazi kerap dia hibur. Yazi memang lebih baik dengan dia saja. Aku benar-benar melepas Yazi.
‘’Emang
yang kemarin kentut itu siapa?’’ tanyaku kepada Def. Dia tertawa. Def itu
tinggi, putih, dan baik. Dia itu mirip Eka, hanya beda wajah. Eka sekarang
sekolah satu kota dengan Nara dan Yazi. Tapi, kurasa mereka sudah gak saling
sapa atau entahlah, aku hanya mendapat kabar bahwa mereka bersekolah satu kota
dari beberapa anak yang satu sekolah dengan mereka berdua. ‘’Def, aku nanya,
seriusan aku gak tahu makanya aku nanya.’’
‘’Nino. Dia yang kentut. Kamu denger ya?’’ tanya Def tertawa lagi. Aku mengangguk. Mau tidak mau mengingat kejadian kemarin aku ikut tertawa. ‘’Aku agak sedikit kaget. Suaranya itu unik dan keras,’’ jawabku merespon apa yang kudengar kemarin. Def gak bisa menahan tawanya lagi, dia tertawa lepas sekarang.
‘’Udah
Def, ini gimana penyelesaiannya?’’ tanyaku gak sabar. Def mengangguk. ‘’Karena
kejadiannya pas ibu guru itu memungut sampah di depan kelas, posisinya nungging
gitu, terus anak-anak ketawa sekelas bareng pakai ngakak, ya, udah kita semua
salah dan wajib membuat pernyataan tertulis gak akan merendahkan dia lagi untuk
jam pelajaran selanjutnya sampai kita naik ke kelas dua belas. Kurang lebih
isinya gitu.’’
Aku
mengangguk-angguk. ‘’Jadi intinya sih gini menurutku, itu dua hal yang gak ada
urusannya, tapi kejadiannya barengan. Guru kita sensi, anak-anak juga gak salah.
Guru kita ngira kita ngetawain dia, merasa kita melihat penampakan dia
nungging, sementara anak-anak ketawa karena di saat suasana hening dan semua
konsentrasi mikir, tiba-tiba ada bunyi angin yang aneh dan keras. Bayangin Nino
kentutnya memang suaranya estetik, dan kurasa dia gak sengaja. Mungkin udah
nahan-nahan. Iya, enggak, sih?’’ Def yang awalnya mengangguk setuju, sekarang
kembali tertawa lepas.
‘’Huss,
berisik, Def! Kedengeran satu kilometer. Nanti satu masalah belum kelar,
ketimpa masalah karena kamu ketawa lagi,’’ protesku dan Def yang masih tertawa
mencoba menahannya, tapi tetap gak bisa.
‘’Enggak,
aku inget aja suaranya. Kalau gak salah gini, tiiuuuuut, berhenti tuh, eh
endingnya dut, kenceng banget. Gitu bukan, sih?’’ tanya Def kemudian dia
mengakak lagi. Aku jadi ikut tertawa, tapi sebisa mungki kutahan.
‘’Tapi,
emang guru baru itu sensian banget,’’ kataku mencoba menganalisa. Sejujurnya
aku gak terima kalau kami seisi kelas disalahkan, tapi sekolah harus menjaga harga diri guru. Nino
yang kemarin membuat masalah yang bukan masalah itu datang ke meja Def dan
mengulurkan kertas yang harus ditandatangani oleh semua penghuni kelas.
‘’Kalian
gak nyalahin aku, kan Guys?’’ tanya Nino dengan wajah memelas. Aku dan Def
tertawa. ‘’Kamu gak salah, padahal tinggal panggil ketua kelas terus nanya apa
masalahnya, selesai. Maklum guru baru pengen main drama,’’ kataku.
‘’Tapi,
seriusan kentutmu estetik banget, Bro!’’ kata Def kepada Nino. Nino menonjok
lengan Def. ‘’Udah tanda tangan, kalian berdua tuh kerjanya pacaran mulu.’’
Nino mengatakan itu mencoba membuat Def konsentraasi dan mau menandatangani
surat perjanjian itu. Def memberikan tanda tangan, setelahnya giliranku.
Nino
berlalu dari aku dan Def. Bel masuk berbunyi dan kami kembali belajar lagi
seperti semestinya. Karena ini hari Jumat, aku dan semua yang gak melaksanakan
ibadah salah Jumat dipersilakan pulang setelah jam pelajaran terakhir selesai.
Beberapa anak perempuan yang aktif di kerohanian atau kegiatan lain tetap
melaksanakan kegiatan di sekolah. Aku? Aku memilih pulang.
Aku
pulang ke kostan untuk istirahat. Sekitar jam tiga aku berangkat menuju
stasiun. Seperti kebiasaan hari Jumat sore semua yang menggunakan kereta ke
arah timur, yang di mana stasiun dekat rumahku adalah tujuan terakhir anak-anak
yang bersekolah di arah barat, berkumpul di statsiun ini.
Begitu terdengar pemberitahuan kereta akan berangkat, aku yang menunggu di bangku tunggu stasiun dan berbicara dengan beberapa anak yang kukenal segera naik. Aku masih melanjutkan bicara dnegan teman-temanku. Aku lebih banyak tertawa dari pada mengeluarkan opini. Bukan aku gak bisa mendebat mereka atau aku gak tahu menahu dan bingung mesti bicara apa, tapi jokes-jokes mereka yang bersahutan mengocok perut lagi dan lagi.
Teman
lain yang duduk di depanku menatao mereka berdua, ‘’Seposesif itu. cakepan juga
Laura!’’ Aku melotot ke arahnya. ‘’Jangan gitu!’’





Komentar
Posting Komentar