22.
Dia Masih Ada di Tempat yang Sama
Ada rasa sakit di dadaku. Entah pantas disebut apa. Sakit karena Yazi ternyata lebih memlilih pergi ke gerbong lain mengikuti langkah teman yang dulu sebangku dengan Riana. Mereka satu SMA sekarang. Pasti mereka dekat. Apalagi Nara ternyata meski satu kota dengan Yazi, dia gak satu sekolah dengan Yazi. Yazi memilih pergi dengan mantan teman sebangku Riana, dan kurasa itu lebih baik dari pada denganku tapi seua serba gak jelas. Pacar bukan, teman juga gak dekat.
Peluit
sudah dibunyikan. Kereta sekarang sudah berjalan. ‘’Bukannya itu adiknya Yaza,
ya?’’ tanya teman yang duduk di depanku. Dia kakak kelas dan sekolahnya
bertetangga dengan sekolahku. Sebuah sekolah swasta dengan banyak cewek-cewek
cantik di dalamnya. Sekolah dengan bayaran yang lumayan merogoh kantung.
‘’Yaza
siapa?’’ tanyaku karena aku gak kenal. ‘’Oh, iya, Laura gak tahu. Yaza itu yang
rumahnya dari SMP kita itu jalannya ke kiri. Kita kan selepas gerbang ke kanan.
Nanti deh, kalau kamu lihat pasti kamu bakal ngiyain, soalnya wajahnya mirip.’’
Aku mengangguk saja. Mana aku tahu Yaza itu siapa.
‘’Emang cewek tadi yang ngajak pindah gerbong itu pacaranya?’’ tanya kakak kelas yang duduk di bangku depanku. Aku menggeleng.’’Gak tahu, Kak. Mungkin iya,’’ jawabku sekenanya.
‘’Sok-sokan,
kayak pakar aja; analisa,’’ sahut yang lain. Ini kereta ekonomi, jadi bebas. Di
pojokan anak-anak cowok dengan gengnya tertawa juga biasa saja. Sementara
penumpang yang lain yang hendak bepergian ke arah timur sepertinya juga tahu
konsekuensinya naik kereta ini, jadi santai saja. Di kereta ini ada pedagang
yang naik ketika kereta berhenti dan kemudian berkeliling di dalam, kereta.
Tidak banyak,. Tapi ada, dan itu-itu saja setiap harinya. Setiapa Jumat sore
aku pulang ke rumah akan bertemiu mereka lagi dan lagi. Jadi, meski seminggu hanya
dua kali naik kereta aku kenal muka mereka.
‘’Aku
curiga, dia mantannya Laura. Terus cewek tadi temannya Laura yang ngambil
kesempatan pas Laura putus. Jadi, istilahnya dia penadah sisa Laura.’’ Aku
tertawa saja. ‘’Penadah, kayak pengepul barang curian aja. Gak, aku, cewek
tadi, sama Yazi itu dulu sekelas. Kita dulu semuanya berteman. Mungkin mereka
sekarang pacaran, jadi sedikit cemburu,’’ kataku menjelaskan.
‘’Tapi,
tadi Laura sampai syok gitu. Emang dulu dia pacarmu?’’ tanya yang lain. Kakak
kelas yang sekolahnya di sebelah sekolahku kelihatan sekali menikmati kalau
perkepoannya didukung, dia menindasku dengan matanya. Telinganya siap mendengar
kata; iya dari mulutku.
‘’Itu
gunaanya adik angkatan, bukan? Untuk apa lagi kalau bukan buat ditindas. Tapi,
tenang, kalau memang kamu mau balikan sama adiknya Yaza, cewek tadi gantian kita
tindas. Gimana?’’ usul salah satu dari mereka. Tentu saja mereka bercanda, tapi
kadang mereka memang iseng dan akan melakukan itu. ‘’Jangan! Anak orang juga.
Kasihan. Lagian kalau cinta mah gak ke mana, kan?’’ kataku mencoba mengimbangi
jokes mereka yang sedikit kasar.
Kami
tertawa berbarengan. Memang kadang kakak kelasku itu begitu, mereka iseng,
tetapi kadang bukan bercanda saja, mereka akan benar-benar melakukannya, apalagi
kalau aku bilang; iya. Kurasa bukan masuk kategori nakal, tapi solidaritas
percewekan saja.
‘’Gak, gak ada yang boleh bully anak orang apalagi demi cowok. Aku gak mau dibilang kehabisan stok pengagum.’’ Mereka tertawa, ‘’Oke, terserah kamu aja, kalau butuh bantuan tinggal bilang. Kalau perlu aku bajak Yaza buat dukungan. Asal jangan kamu gebet dua-duanya, adiknya iya, Yazanya juga iya.’’ Aku nyengir saja.
Kereta
berhenti. Satu perjalaanan lagi sampai di stasiun tempat tinggalku. Akan banyak
yang turun. Entah itu yang sekolah satu kota denganku atau yang satu kota
dengan Yazi. Bahasan soal kakaknya Yazi, Yazi, dan cewek itu sudah berakhir
begitu saja. Karena ada bahasan lain yang lebih menarik.
‘’Laura,
bulan depan aku udah gak kost lagi. Apa kamu mau ikutan?’’ tanya salah satu
kakak kelas yang duduk masih di dekat denganku. Aku menggelengkan kepala.
“’Kamu masih tetep kost?’’ tanya dia ingin tahu kebenaran jawabanku. ‘’Bukan,
aku udah pengen pulang pergi aja tiap hari, Kak, tapi nanti kupikirin lebih
baik mana. Aku menggeleng karena aku belum tahu jawabannya.’’
‘’Aku
udah gak kost lagi, dia, dia, dia, sama. Kita mau pulang pergi tiap hari. Pagi
naik mobil, sore pulanganya naik kereta. Kalau mau kita barengan.’’ Aku
mengangguk. ‘’Iya, nanti kupikirin.’’
‘’Udah
sampai aja, ayo kita turun!’’ Kereta berhenti dan aku mesti turun bersama yang
lain. Aku baru sadar kalau Yazi ada di gerbong yang lain. Aku melihat ke arah
gerbong di mana Yazi kurasa duduk di sana tadi. Yazi turun, tetapi sendiri. Dia
gak turun bersama teman yang dulu sebangku dengan Riana. Dulu dia baik, karena
Riana dekat denganku, sekarang kenapa dia berubah apalagi setelah dia ternyata
satu sekolah dan satu kostan dengan Yazi? Apa Yazi melakukan sesuatu, bercerita
tentang aku, misalnya? Entahlah.
Aku
melihat Yazi yang terus berjalan. Aku gak ada keingian untuk mengejar, meski kalau
langkah kakiku dipercepat Yazi akan terkejar. Tapi, aku harus mengakui, kalau
aku ternyata memang menyukai Yazi. Aku menyukai Yazi yang selalu tersenyum
kepadaku dulu. Senyumnya tadi ketika dia duduk di depanku masih sama. Aku masih
menyimoan Yazi yang menunggui sepedaku dan menemaniku menambal ban, meski
banyak cewek yang mengejarnya. Menyimoannya di salah satu ruang di hatiku.




Komentar
Posting Komentar