23.
Ide Briliant
Hati ini hari pertama aku resign dari anak kost. Aku bangun pagi dan sudah menunggu mobil yang akan membawaku ke kota tempat aku sekolah. Sedikit dag-dig-dug juga jantungku, karena aku biasanya pergi ke kota di hari Minggu sore dengan kereta. Sedangkan saat ini aku menggunakan mobil angkutan umum.
‘’Kamu ngomong udah kayak kereta, panjang dan dan gak ada komanya. Kenapa emang? Bukannya kamu juga biasanya berangkat Minggu sore, kenapa hari ini ikutan pagi? Apa kamu gak kesiangan sampai di sekolahmu? Kamu mesti ganti mobil baru nyambung ke kotamu, bukan?’’
Rayan tertawa, ‘’Gak
bakalan kesiangan, aku udah sering. Aku jarang berangkat Minggu sore, di kostan
sepi.’’
Mobil datang aku naik, dan kami duduk bersisisan. ‘’Kamu ketemu Yazi tadi sebelum aku datang?’’ tanya Rayan kepadaku. Aku menggeleng.
‘’Gak, emang Yazi sebelum berangkat mampir ke rumahmu?’’ tanyaku dan Rayan mengangguk.
‘’Sabtu pagi Yazi
ke rumah, dia pulang ke rumahnya Minggu malem. Dia menginap di rumahku. Aku
pikir kamu tadi ketemu Yazi. Dia seharian ngomingin kamu terus di rumahku.
Kebetulan kamu ya gak keluar, padahal aku bolak-balik motoran lewat rumahmu.
Aku mau ke rumahmu ngajak Yazi, Yazinya gak mau, dia pengen kamu ada terus dia
ketemu gitu.’’
Aku mengangguk-angguk. ‘’Kenapa kamu malah ngangguk-angguk, Laura?’’ tanya Rayan penasaran. Aku tertawa.
‘’Kalau aku geleng-geleng, nanti kamu curiga aku ketemu Yazi tadi pagi, terus aku ketahuan bohongnya.’’
Rayan memprotesnya dengan segera, ‘’Aku gak curiga, malah seneng. Yazi ada masalah sama kamu apa, kayaknya dia ngerasa bersalah dan pengen nge-clear-in masalah? Dia ngebahas kamu, tapi kusuruh nelpon gak mau, aku yang mau nelpon gak boleh. Terus dia sengaja berangkat lebih pagi siapa tahu ketemu kamu, karena dia kemarin nungguin kamu, kamunya gak keluar pergi ke stasiun.’’
‘’Jangan-jangan dia ngecek ke stasiun juga?’’ tanyaku bercanda. Ternyata jawaban Rayan adalah mengangguk. Rayan memang gak dekat denganku, tapi bukan berarti gak baik dan gak mau bicara denganku.
‘’Mungkin Yazi mau konsultasi masalah sama pacarnya
sama aku, karena kalau konsultasi sama kamu nanti kamu malah suka sama pacarnya
Yazi.’’
Mobil
sudah hampir sampai ke perhentian, aku dan Rayan sebentar lagi akan turun dan
kami akan berpisah. Aku menuju sekolahku, sedangkan Rayan menuju ke kota lebih
barat dari kotaku. ‘’Yazi itu pacar kamu, Laura. Karena dia gak pernah serandom
dan segalau itu ngomongin cewek kecuali kamu. Asal kamu tahu, aku mau
buka-bukaan. Yazi itu nganggep kamu pacarnya semenjak dia masuk kelas tujuh.
Dia begitu ngelihat kamu dia langsung suka, dan baru kesampaian bisa negor kamu
pas kita bertiga sekelas.’’
‘’Beneran?’’ tanyaku kaget. Rayan mengangguk. Aku tertawa.
‘’Terserah kamu sama Yazi aja. Kalau aku bilang aku gak pacaran sama dia, atau aku pacarn sama dia, toh bagimu sama aja, karen kamu lebih percaya Yazi dari pada sama aku.’’
Rayan tertawa. Dia mengangguk membenarkan. Aku menyesal mengatakan itu. Menyesal gak mengakui lebih awal kalau aku dan Yazi itu ada rasa. Menyesal mengapa aku gak menganggap hal yang sama. Menyesal membiarkan waktu berlalu begitu saja. Aku tiba-tiba merasa sedih. Sekarang aku dan Yazi gak satu kota, gak satu sekolah. Dan, kemungkinan akan bertemu juga susah. Yazi gak punya keberanian mendekat, dan aku sekarang gak mungkin meminta nomor kepada Rayan, kemudian menelpon Yazi dan mengatakan; I love U. Aku terlalu pemalu.
Aku
melewati hari ini biasa saja, gak ada yang istimewa, kecuali penyelesaian kasus
kentut di jam pelajaran. Ibu guru yang bersangkutan membuat drama dengan
menangis. Padahal semua sudah sampai titik dengan pernyataan di atas materai
dimana semua anak ikut tanda tangan. Aku yang ikut bersama Def dan ketua kelas,
dan dua anak lain ke ruang kepala sekolah agak sedikit gregetan.
Aku gak mau menanggapi apalagi membahas perihal sikap ibu guru yang berlebihan itu, tapi Def sepertinya penasaran dengan diamku. ‘’Menurutmu apa yang mesti kita lakukan lagi?’’ tanya Def menjajari dudukku di jam istirahat ke dua.
‘’Kamu
nanya isi kepalaku, Def?’’ tanyaku dan Def mengangguk. ‘’Yakin?’’ tanyaku lagi,
dan Def mengangguk lagi sebagai jawabannya.
Sekarang aku yang mengangguk-angguk, sementara Def menatapku yang bangun dari dudukku. ‘’Kita ke kantin, sekarang, gak pake lama apalagi nunggu bel masuk!’’ Def tertawa, dia bangun dari duduknya dan memanggil Nino yang ada di dalam kelas. Aku membiarkan DEf melakukan itu dan aku berjalan ke kantin sendirian.
‘’Bukannya
nunggu, dasar Laura!’’ Def dan Nino mengejarku dengan berlari. Mereka terengah-engah.
‘’Kalian drama juga, tinggal jalan ke kantin nyusul,’’ kataku pura-pura marah.
Mereka berdua tertawa.
Aku duduk berhadapan dengan Def dan Nino. Aku tetap membisu sampai pesanan datang. ‘’Mode bisunya udahan, kan?’’ tanya Def.
Aku tertawa. Mana ada orang diam diprotes begitu. ‘’Kenapa emang?’’ tanyaku masih dengan sisa tawaku.
‘’Kalau
kamu diem kamu kelihatan serius banget, seolah di keningmu ada tulisan DON’T
DISTURBING ME. Aku tidak memprotesnya, itu hak orang menilaiku.
Kami mulai makan. ‘’Itu gimana yang tadi kutanyain?’’ tanya Def. Nino yang tadi gak ikutan bicara merasa dia gak dilibatkan dan protes.
‘’Kalian berdua ngomongin apa? Terus ke kantin dalam rangka apa, nih? Apa nih?’’ tanya Nino sambil mentapku sementara tangannya mengaduk baso di mangkuknya.
‘’Aduk terus, tatap terus, yang ada basonya kebutu dingin iya,’’ kataku menjawab pertanyaan Nino.
‘’Gimana Laura?’’ desak Def. Aku menyuap baso dan def tahu itu artinya kita makan dulu. Def makan dan aku mulai bicara.
‘’Kita minta ganti guru di semester ke dua. Kita bilang ke teman-teman, nanti kamu lobi etua kelas. Bujuk aja sampai setuju, tapi kurasa sekali kamu ngomong dia langsung oke, jadi bagian ngebujuknya dihapus aja.’’ Nino tetap makan sambil menyimak.
‘’Sejujurnya, aku suka sama kentut Nino,’’ kataku. Dan, Def yang sedang mengunyah langsung menutup mulutnya takut menyembur. Nino mengangkat muianya dari mangkuk.
‘’Iya, karena denga kasus Nino, ada alasan kita minta ganti guru. Kemarin kalian berdua tahu gimana reaksi wali kelas kita yang santai saja. Jadi kalau usul ganti guru, bukan masalah besar. Atur-atur aja.’’ Nino yang akhirnya paham dengan pembicaranku dengan Def mengangguk.
‘’Jadi kamu berterima kasih sama kentutku, Laura?’’ tanya Nino.
Aku engangguk. Dan, Def kali ini yang sedang minum menutup mulutnya
lagi. Setelah airnya tertelan, ‘’Kalian sialan, ngerjain aku!’’





Komentar
Posting Komentar