3.
Sebuah Kejutan
‘’Kamu kenapa?’’ tanya teman sebangkuku.
Aku yang baru duduk di bangkuku menatapnya bingung.
‘’Ya, gak kenapa-kenaoa. Emang aku kenapa?’’
Dia yang kutanya malah
tertawa. Aku semakin bingung, dia yang yang bertanya aku kenapa, sekarang malah
menambahinya dengan menertawakanku.
‘’Apa ada yang salah sama wajahku?’’tanyaku sambil memegang pipiku. Siapa tahu bedak yang kupakai ada yang tidak rata. Dia menggeleng.
‘’Enggak, kamu sekarang seperti orang lagi jatuh cinta.’’
Sekarang aku yang tertawa.
‘’Mana ada yang
mau sama aku. Secara aku itu pinter, yang deketin juga minder.’’
’Gila aja, aku tadi lagi bercanda! Aku lagi narsis tingkat dewa. Kamu iyain aja.’’
Aku merasa ini seperti efek bumerang, aku yang bicara, aku juga yang kena batunya.
‘’Udah lupain, tapi apa aku emang kelihatan kayak orang yang lagi
jatuh cinta?’’ tanyaku mentaap mata teman sebangkuku sedikit merasa malu. Tentu
saja aku malu, bagaimana mungkin sejelas itu padahal aku baru di tahap
penasaran. Aku bahkan belum tahu siapa namanya dan apa benar dia duduk di kelas
sebelah, bukan adik tingkatan, atau kakak kelas?
‘’Tapi, nasihatku, nih, Laura, sebaiknya kamu gak pacaran dulu, deh. Aku takut nilaimu turun. Kamu gak konsentrasi belajar karena mikirin pacarmu. Kamu kan gitu, gak bisa konsentrasi ke dua hal dalam waktu yang bersamaan. Pacarannya nanti aja.’’
Teman sebangkuku menasihatiku padahal dia juga kerap bercerita kalau
tetangganya ada yang membuatnya bahagia. Dia kerap bercerita tentang cowok itu,
anak SMA yang rumahnya hanya berjarak lima rumah dari rumahnya.
Aku mengangguk, mengiyakan saja. Aku juga belum ada niat mempunyai pacar.
‘’Tapi, bener, kan, kalau kamu lagi gak jatuh cinta?’’ tanya teman sebangkuku. Rupanya dia masih penasaran.
‘’Aku memang jatuh cinta, tapi kucancel, karena kamu bener, aku gak bisa konsentrasi ke dua hal dalam waktu yang bersamaan.’’
Dia tertawa, sampai yang ada suara menyahut dari sudut kelas,
‘’Ngapain kamu ketawa sampai segitunya, Riana? Bagi-bagi, ada informasi apa?’’
Aku membiarkan keduanya saling bersahutan. Kudengar Riana teman sebangkuku mengatakan kalau teman yang di sudut kelas sok tahu, dan temanku yang ada di sudut terus meledeknya.
Akhirnya
bel masuk berbunyi. Semua menjadi senyap, karena kali ini kami harus mencatat
banyak. Jam ke empat adalah istirahat pertama, aku sebenarnya ingin memuaskan
rasa penasaranku ingin mencari informasi tentang cowok itu. Aku memang begitu
kalau penasaran, harus mendapat jawabannya. Kalau belum, tentu akau akan terus
mengejarnya.
Tapi, tidak mungkin hari ini, pasti aku harus ke perpustakaan. Aku harus membantu petugas jaga. Kalau kebetulan kemarin aku bertemu dengan cowok itu, berarti besok baru akan kembali ke perpustakaan. Cowok itu baru pertama kali meminjam buku, dan itu bukan memakai kartunya. Aku bisa melihat itu dari kartunya di mana sudah banyak buku yang dipinjam, tetapi cowok itu penampakannya baru kulihat kemarin.
Aku akhirnya benar pergi ke perputakaan. Aku hari ini tidak ke kantin, sedang malas saja. ‘’Laura, tolong kasih ini ke sekteraris kelas sebelah!’’ Ketua kelasku meminta bantuanku. Dia memang begitu gaya bicaranya, tapi dia baik, aku tahu itu.
Ke
kelas sebelah? ‘’Tapi, aku harus ke perpustakaan. Kamu antar sendiri aja.’’ Aku
menolak, meski itu berarti melepaskan kesempatan untuk mendapat jawaban atas
penasaranku. ‘’Oke, kalau gitu temenin aku ke kelas sebelah. Soalnya ada anak
yang kusuka, aku sedikit grogi. Laura, kamu, kan, punya cadangan percaya diri
sepuluh, jadi gak kayak aku, aku langsung ngerasa gimana, padahal anak itu
belum tentu juga sama aku.’’
‘’Bukannya
kebalik, ya? Ya, udah, ayo!’’ Dia mengangguk. Aku memang kurang bisa menolak
permintaan. Untung saja selama ini tidak ada yang jelas-jelas memanfaatkanku
untuk kepentingan dirinya sendiri, mungkin itu juga efek aku dikenal pintar.
Jadi, kalau ada yang memanfaatkan pasti akan terlihat dan akan diserang anak
lain.
Zong! Anak yang kemarin bertumbuk mata denganku tidak ada di kelas sebelah. Mungkin dia kakak kelas, pikirku. Mungkin kemarin kebetulan saja dia datang ke kelas sebelah untuk bertemu dengan circlenya dan terlihat olehku.
Aku
diantar ketua kelasku Adam ke perpustakaan. Dia juga ada perlu ke ruang guru
entah untuk apa. Kami berjalan bersisian. Di ujung aku belok kanan dia belok
kiri. Aku sibuk sampai jam istirahat habis. Aku kembali ke kelas sesudahnya.
Jam
istirahat ke dua aku sudah meminta izin untuk tidak ke perpustakaan, alasanku
aku lapr berat. Perugas perpustakaan yang menerima pesanku hanya menjawab
dengan mengirimkan emot terbahak saja. Aku jarang melakukan ini, tidak datang
ke perpustakaan gara-gara lapar berat. Tapi, aku juga tidak berbohong tentang
lapar berat yang tiba-tiba menyerangku.
‘’Laura,
kita ke kantin bareng?’’ tawar teman
sebangkuku sambil menjajari langkahku. Aku mengangguk. ‘’Tumben banget kamu ke
kantin di istirahat ke dua. Biasanya kamu kalau lapar jam istirahat pertama,
kalau jam istirahat pertama gak ke kantin biasanya kamu pas pulang sekolah baru
ngacir ke kantin.’’
‘’Mana
kutahu aku mendadak lapar berat gini.’’ Aku mengatakan yang sebenarnya. ‘’Atau
kamu lagi pengen ketemu seseorang. Siapa tahu kalian saling bertukar pesan,
terus janjian makan di kantin,’’ tebaknya sembarangan.
‘’Aku malah gak kepikiran begitu, seriusan. Kalau aku punya gebetan, aku bakalan suruh dia beli makanan di kantin dan kasih aku ke perpustakaan,’’ jawabku sambil tersenyum. Dia mengangguk, ‘’Bener juga, ngapain kalau punya gebetan, tapi gak dimanfaatkan.’’ Dia tertawa, dan aku hanya tersenyum saja. Teman sebangkuku pasti menyesal, karena cowok yang dia sukai tidak satu sekolah.
Aku sampai di kantin, aku mencoba petuntungan siapa tahu cowok yang membuatku penasaran itu datang ke kantin juga. Aku mengedarkan pandanganku. Ternyata zong. Dia tidak terlihat sama sekali ada di antara mereka yang datang ke kantin. Aku menghela napas sedikit keras. ‘’Kenapa Laura. Kayaknya kamu nyesel datang ke kantin?’’
‘’Gak
papa. Ayo pesen makanan, samain aja. Sekalian kamu bayarin juga, ‘’kataku
mencoba bercanda lagi dengan teman sebangkuku. ‘’Gak masalah, tadi pagi pamanku
datang dan aku dapat tambahan uang saku. Kamu pilih menunya, nanti aku yang
pesan dan bayarin.’’
‘’Aku
bercanda. Aku bayar sendiri,’’ kataku sambil melihat daftar menu. Aku
menyebutkan satu menu makanan dan satu untuk minuman. ‘’Aku gak bercanda, aku
seriusan,’’ jawab Rianan teman sebangkuku. Da memesan dan setelahnya kami makan
bersama.
Riana benar-benat menolak uangku. Aku mengatakan terima kasih, dia hanya tertawa. ‘’Kamu sennag seklai hari ini, kurasa selain karena pamanmu kasih tambahan uang jajajn, pasti ada sesuatu.’’ Riana mengangguk dia mengatakan kalau pagi tadi dia dibonceng oleh tetanggangya, cowok yang dia suka. ‘’Tapi, kamu bukan nyuruh dia jadi ojek langganan, kan?’’ ledekku. Riana tertawa, ‘’Maunya sih gitu, ojek langganan, aku bayarnya pakai perasaan.’’
Aku
kembali ke kelas. Dari arah yang berlawanan terlihat Nara teman sekelasku yang
aktif di kepengurusan Osis berjalan dengan satu cowok. Aku meihat jelaa dengan
mata kepalaku sendiri, kalau cowok yang berjalan bersebelahan dengan Nara
adalah cowok yang bertumbuk mata denganku kemarin bebebrpa ahari yang lalu!







Komentar
Posting Komentar