Bab 4. Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku

 

4. Patah Hati

‘’Laura, Riana, kalian udahan makan?’’ tanya Nara, ketika dia dan cowok itu berpapasan dengan aku dan Riana. 

Aku mengangguk. Aku mencoba bersikap biasa saja. Cowok di samping Nara tersenyum kepadaku, aku membalasnya dengan anggukan. 

‘’Iya, kita udah kenyang,’’ jawab Riana seperti biasa. Dia selalu berbicara dan menawab pertanyaan dengan nada riang.


Aku dan Riana berjalan ke arah kelas, sementara Nara dan cowok itu menuju kantin. 

‘’Siapa dia?’’ tanyaku kepada Riana.

 ‘’Siapa apanya?’’ tanya Riana heran.

 ‘’Itu, cowok yang berjalan di sebelah Nara. Apa dia anak baru?’’ tanyaku. 

Aku ingin tahu perihal cowok itu, tetapi aku tidak ingin terlihat terlalu penasaran.

‘’Oh, dia Ifu. Dia anak kelas sebelah,’’ jawab Riana ringan. Kami terus  berjalan dan akhirnya masuk ke kelas meski belum bel masuk. 

‘’Apa dia anak baru?’’ tanyaku ketika kami akhirnya duduk di bangku kami masing-masing.

 ‘’Siapa yang anak baru? Tadi, Ifu?’’ tanya Riana ingin memeperjelas siapa yang kumaksud dari pertanyayanku. 

Aku mengangguk.

‘’Enggak, dia anak lama. Dia sama kayak kita, masuk ke sekolah ini lewat seleksi.’’ 

Aku mengangguk. 

‘’Kamu kenapa nanya kayak gitu?’’ tanya Riana, sekarang dia yang penasaran.

‘’Aku baru lihat dia. Apa dia pacarnya Nara?’’ tanyaku ingin semuanya jelas. 

Riana mengangguk-angguk. 

‘’Tentu aja, kamu gak pernah lihat dia. Dia jarang ke kelas kita. Dia juga gak ada di deretan anak berprestasi kayak kamu, dia juga bukan seseorang yang dekat dengan guru. Dia anak kelas sebelah yang biasa dan pemalu. Pantas kalau kamu gak kenal, tapi yang jelas gak ada yang gak kenal kamu.’’

Aku mengangguk- angguk.

 ‘’Aku kurang gaul, ya?’’ tanyaku sedikit menyesal.


‘’Gak juga, kamu kan sibuk. Gak kenal Ifu gak dosa, kok. Itu bukan kesalahan fatal juga. Kenapa kamu tertarik sama Ifu? Karena kamu pertama kali lihat Ifu, atau baru tahu kalau dia dekat sama Nara, dan Ifu gak pernah kelihatan masuk kelas kita?’’

Aku sempat sedikit bingung mencari jawaban kalau saja pertanyaan tadi berhenti di kenapa aku tertarik sama cowok itu. Untung saja Riana menambahinya. Aku mengangguk. 

‘’Kamu bener, Nara dekat sama Ifu, tapi Ifu itu gak pernah kelihatan nongol di kelas kita. Aku pernah lihat sekali atau dua kali cowok bernama Ifu itu.’’

“Aku agak kaget juga pas kamu nanya Ifu, dan kamu bilang apa dia anak baru. Tapi, aku maklum. Ifu sama Nara itu pacaran? Aku gak tahu aslinya, tapi yang aku tahu mereka ngakunya sahabatan. Ya, tapi kalau sahabatan cewek sama cowok kamu kan tahu sendiri.’’

 Riana mengatakan itu dan aku tahu maksudnya. Cewek sahabatnya tentu saja cewek lagi, cowok juga sahabatnya cowok lagi. Kalau cewek sama cowok sahabatan, pasti salah satunya ada yang suka, sedang yang satunya lagi maunya temenan.

‘’Kamu suka Ifu?’’ tanya Riana. 

Aku tertawa. 

‘’Ya, kalau kamu gak suka berarti kamu gak normal. Ifu itu manis, tinggi, dan baik. Tapi, kalau Ifu suka sama kamu pasti dia ngelunjak,’’ kata Riana. Tentu saja aku kaget.

 ‘’Bukan gitu juga, Ri. Kalau aku gak suka atau suka kan bukan berarti aku ada rasa sama dia. Kalau dia suka sama aku itu juga bukan sebuah sikap ngelunjak. Biasa aja. Aku suka bisa berarti bukan aku benci, kayak aku suka kamu, atau musuhmu yang duduk di bangku pojok itu. Suka sebagai teman saja. Aku nanya karena aku baru lihat dia aja, kukira dia anak baru.’’


Riana tidak tahu, kalau aku memang menyukainya Ifu seperti cewek suka kepada cowok. Mungkin aku jatuh cinta kepada Ifu. Tapi, setelah mendengar dari Riana kalau Ifu adalah sahabat Nara, dan kalau Ifu menyukaiku Riana menyebutnya ngelunjak, aku merasa aku harus mematahka rasa sukaku kepada Ifu. Aku gak ingin membebani orang yang kusuka dengan hal-hal yang seharusnya tidak ada menjadi ada.

‘’Masih penasaran tentang Ifu?’’ tanya Riana kepadaku.

 Aku menggeleng sambil tetawa. 

‘’Gak, kan udah tahu jawabannya. Aku cuma ingin tahu kalau dia itu anak baru atau bukan. Yam kan udah kejawab, dia bukan anak baru.’’

‘’Kalau dia anak baru, kamu bakalan jatuh cinta?’’ tanya Riana mendesakku. Aku mengangguk-angguk sambil tersenyum. 

‘’Bisa jadi gitu, kalau aku mau dibunuh Nara, tapi,’’ jawabku.

 Di luar dugaanku Riana tertawa tergelak. ‘’Dasar, Laura!’’


Ada sedikt lega dengan jawaban dari rasa penasaranku. Jawabannya jelas, informasinya akurat. Tapi, jujur ada sedikit rasa kecewa, karena kemarin aku semoat berharap dia anak baru dan aku jatuh cinta kepadanya.

Bel masuk dari istirahat kedua berbunyi. Aku mendapat pesan dari teman yang berjaga di perpustakaan kalau besok aku harus masuk ke perpustakaan, ada banyak buku baru dan aku sangat diperlukan untuk ada di sana. Aku menjawab pesan itu dengan mengatakan; iya.

Aku menjalani dua pelajaran terakhir dengan semangat yang tersisa, meski perut sudah kenyang, tetapi tetap saja namanya jam terakhir. Untung saja gurunya bisa membuat suasana kelas tidak mengantuk, walaupun semangatnya sisa, tetapi masih bisa tertawa, dan mengerjakan latihan soal dengan baik-baik saja.

Bel pulang sudah berbunyi. Lima menit sesudahnya aku sudah berkemas dan guru yang mengajar juga sudah keluar kelas. Riana seperti biasa keluar kelas mendahului.
 ‘’Aku pulng dulun, Lura!’’ Aku mengangguk mengitakan. ‘’Kamu gak nanya kenapa?’’ tanya Riana dan itu membuatku tertawa.

‘’Iya, kenapa hari ini kamu aneh, biasanya juga habis bilang aku duluan langsung ngacir. Dan, setiap hari selalu sama. Kalau sekarang kamu nanya itu baru aku hatusnya nanya kenapa.’’

 Riana sedikit kaget, dia seperti baru tersadar. 

‘’Eh, seriusan aku gitu?’’ ku mengangguk. 

‘’Aku udah kebal, santai aja. Terus kenapa sekarang kamu pengen ditanya?’’ tanyaku balik bertanya.

‘’Maafin aku, Laura.’’ 

Aku mengangguk. 

‘’Aku udah bilang santai aja. Itu alasanmu untuk hari ini?’’ tanyaku tidak ingin membahas kebiasaan Riana. 

Aku juga tidak bisa menyalahkan dia, biasanya aku sepulang sekolah selalu ke gerbang sedikit terlambat, karen aselalu saja ada urusan.


‘’Hari ini aku dijemput.’’ 

Aku mengangguk. 

‘’Sama tetanggamu?’’ tanyaku memastikan. 

Riana mengangguk. 

‘’Yam udah, sana pulang. Kasihan dia nunggu lama, nanti dia kesel terus jemput yang lain.’’ 

Riana panisk begitu aky mengatakan hal itu, dia buru-buru membalikkan badan dan setengah berlari kea rah pintu kelas. Aku tertawa, Riana memang selalu begitu, ceria dan bisa membuatku tertawa.

Aku sudah selesai dengan buku-buku dan tasku. Aku bangun dari dudukku dan pergi berjalan menuju pintu. Aku memeriksa handphoneku, tidak ada pesan yang masuk, yang berarti aku bisa langsung pulang.

Begitu aku keluar dari pintu kelas, aku sedikit tersentak, tidak jauh dari pintu ada Nara sedang berdiri berdua bersama Ifu. Hatiku langsung patah, cintaku terasa layu sebelum berkembang. Nasib, batinku sedikit sedih, tapi hanya sedikit dan terasa perih.

 

 

 

Komentar