Bab 5. Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku

 

5. Melupakan

Istirahat pertama aku ada di perpustakaan. Aku sibuk melayani peminjaman dan pengembalian buku. ‘’Kamu ke mana kemarin?’’ tanya seseorang yang berada di antrian. ‘’Aku kemarin ke kantin,’’ jawabku tanpa melihat ke arah penanya. Aku sibuk dengan mencatat nomor buku yang akan dipinjam.

‘’Aku mau ngembaliin buku yang kemain kubaca. Ini!’’ Aku mengangguk. Begitu kuangkat wajahku ternyata dia adalah kakak kelas yang super jenius. Dia kerap sekali menjahiliku dengan pertanyaan-pertanyaan seputar buku. Aku agak sedikit malas. Menjadi petugas perpustakaan bukan berarti harus membaca semua buku. Dia kerap menanyakan ini dan itu menekankan aku harus tahu buku yang dia pinjam isinya apa.


Aku mencari namanya di layar komputer dan aku mencatat tangggal pengembaliannya. Antrian selanjutnya adalah Ifu. Dia mengulurkan bukunya kepadaku. Aku menerimanya. Baru saja hendak kucari namanya peminjamnya, yang jelas dia mengembalikan dua buku dengan kartu temannya, aku dipanggil oleh anak yang baru datang. ‘’Laura, kamu di suruh ke kantor bantuin ngurusin buku yang baru datang.’’ Aku mengangguk dan bangun dari dudukku.

‘’Kamu nanti dilayani sama petugas yang lain, ya.’’ Aku mengatakan itu dan Ifu mengangguk. Aku merasa benar-benar patah hati. Dan, keberuntungan berada di pihakku, aku dipanggil, jadi aku tidak perlu bicara dengan Ifu. Kurasa aku tidak perlu mengenal Ifu lebih banyak. Kemarin itu aku hanya kesambet cinta, jadi aku mengartikan tumbukan mata kami itu sebagai cinta, padahal itu hanya perasaanku saja. Cinta beryepuk sebelah tangan.

Aku datang ke ruangan kantor dari petugas perpustakaan, ada banyak buku yang datang. ‘’Selamat siang, Pak!’’ Pegawai perpustakaan menjawab salamku dan mempersilakan masuk. Begitu masuk aku disodori lembaran stiker untuk nomor buku yang mesti di tempelkan di sampul bagian belakang. Aku menerimanya dan langsung sibuk bersama yang lain yang diperbantukan di ruangan ini.




Aku sibuk sampai bel masuk isirahat pertama berbunyi. Setelahnya aku masuk kelas. Teman sebangkuku Riana bercerita tentang pertandingan voli antar kelas. Aku yang tidak bisa main voli hanya mendengarkan saja. Dia mengatakan akan melawan anak kelas sebelah. Aku mengangguk-angguk sambil mengeluarkan buku karena pasti sebentar lagi akan ada guru masuk.

‘’Kamu gak semangat sekali, kenapa?’’ tanya Riana. Kurasa patah hatiku kentara sekali. ‘’Jangan bilang kamu patah hati padahal kamu gak punya doi.’’ Deg! Perkataan Riana ngena sekali di aku. Iya, benar, aku itu aneh sekali, tidak punya kekasih tetapi patah hati. Meski terasa sakit hati meski sedikit, karena perkataan Riana terasa seperti mengiris hatiku, tapi aku berterima kasih. Aku haru sadar, aku itu aneh. Pacar bukan, kenapa aku merasa sakit hati melihat Ifu dekat dengan Nara. Nara gak salah dekat dengan Ifu, Ifu juga gak salah dekat dengan Nara, yang salah itu aku pemilik bukan tapi sakit hati dan cemburu. Ibaratanya mobil bukan punyaku, tapi aku ikut memikirkan bagaiamana cara merawatnya dan aku sakit hati ketika mobilku tusak.

‘’Aku kecapekan. Tadi buku yang datang banyak banget. Baru seper tiganya yang kepegang. Mungkin besok baru selesai, dan itu juga belum didisplay di rak. Emang tandingnya kapan? Maaf aku slow respon.’’


Riana tertawa, ‘’Baguslah. Benar kataku kamu jangan jatuh cinta dulu, apalagi pacaran. Baru sukaan aja udah gak nyambung gitu.’’ Aku mengangguk. ‘’Kamu benar tentang aku yang jadi gak nyambung. Tapi, kamu salah tentang jatuh cintanya. Aku lagi gak jatuh cinta.’’

‘’Mana bisa kamu bohong. Kamu itu gak jago bohong. Tapi, baguslah kalau memang benar kamu gak jatuh cinta sama Ifu, itu gak baik buatmu, juga buat Ifu. Nara pasti akan marah kalau Ifu pacaran sama kamu, meski Nara bukan pacarnya Ifu. Nara kan gitu, cemburuan sama kamu.’’

Aku membiarkan Riana bicara semaunya. Aku tidak mendebatnya. ‘’Kamu ingat waktu kejadian yang paraf ujian? Iya, kamu mungkin udah lupa, karena otakmu banyak penghuninya. Kamu sibuk di perpustakaan, sibuk di Osis, sibuk di Pramuka, dan sibuk dapat nilai seratus. Tapi, aku masih ingat saat itu. Pengawas saat itu komplain karena paraf Nara sam dengan parafmu. Aku yang diberi tahu langsung bilang, kalau Nara yang mencontek parafmu. Dan, hari berikutnya Nara baru ganti paraf. Gila, sampai paraf punya kamu aja dia mau. Apalagi kalau kamu pacaran sama Ifu, sementara Nara deket sama Ifu, entah Ifu yang suka atau Nara yang kegatelan.’’

‘’Huss!’’ Aku mencoba menghentikan Riana berceramah sampai sedetail itu. Aku tahu selama ini Nara terobsesi padaku, tapi semua kelakukan Nara, toh, akhirnya selesai dan aku di pihak yang menang dan diuntungkan, meski aku hampir tidak melakukan apa-apa.


‘’Aku yang bakalan nyuruh kamu putus kalau kamu pacaran sama Ifu. Ingat itu!’’ Aku menatap Riana, kenapa jadi seserius itu. ‘’Iya, aku cancel. Aku gak suka dan gak jatuh cinta sama Ifu. Mungkin kemarin aku penasaran aja, karena aku baru lihat dia. Kukira dia anak baru.’’

‘’Kalau ifu pacaran sama anak lain, mungkin Nara gak masalah. Selain itu kasihan Ifu kalau pacaran sama kamu, pasti dia dicengin sama yang lain. Dia gak sepandai kamu. Apalagi kalau tiba-tiba dia jadi masuk sepuluh besar di kelasnya. Pasti anak-anak yang lain bakalan bilang Ifu ngambil keuntungan dari kamu. Padahal kalau benar begitu kamu gak keberatan, malah senang. Aku tahu kamu dan aku tahu Ifu. Aku tahu kamu karena dari kelas tujuh kita sekelas, meski baru di kelas delapan ini kita duduk sebangku. Aku juga tahu Ifu, karena aku sama Ifu satu SD.’’

Aku gak bisa bicara apa-apa lagi. Aku juga baru tahu kalau Riana dan Ifu ternyata satu sekolah asal. Pantas Riana percaya diri sekali bicara tentang Ifu. Aku mengangguk setuju. ‘’Kamu tanding volinya kapan?’’ tanyaku mengalihkan pembicaraan. Guru yang seharusnya masuk ternyata belum datang, yang muncul di depan pintu adalah ketua kelas yang sekarang menuliskan tugas yang mesti dikerjakan.




‘’Munggu depan. Jadwal olah raga kelas sebelah ditukar biar samaan sama jam pelajaran kita.’’ Aku mengangguk sambil membuka halaman buku cetak yang mesti dikerjakan soal latihannya. ‘’Oke, kita sekarang kerjain tugas. Lima puluh soal dua jam pelajaran.’’ Riana mengangguk. Seperti biasa Riana tidak mau mendapatkan jawaban soal dariku, entah kenapa. Mungkin dia juga ingin bisa tanpa menggangguku. Paling kalau dia sudah bolak-balik mencari dan tidak bisa, dia minta aku menjelaskan sedikit apa yang mesti ditulis di buku tulisnya sebagai jawaban.

Aku sudah menyelesaikan tugas lima menit lebih cepat dari Riana. Aku mengumpulkannya dan sibuk membaca chat dari sesama anak yang diperbantukan untuk membantu di perpustakaan; Gak ada yang penting selain kamu harus ke sana gak boleh gak datang meski alasannya sangat lapar. Aku tertawa saja, temanku memang senang menggodaku. Aku tidak membalasnya sama sekali.

Begitu bel istirahat ke dua berbunyi aku bergegas keluar. Pemandangn tidak biasa kali ini membuatku tawar rasa. Mungkin benar kemarin aku memang gak benar-benar jatuh cinta, hanya penasaran saja. Aku melihat penampakan Ifu di depan pintun kelasku. ‘’Laura, Nara masih di dalam?’’ tanya Ifu. Aku mengangguk. Aku juga gak lagi merasa surprise karena Ifu tahu namaku, seperti kata Riana Ifu bukan anak baru, jadi wajar kalau Ifu kenal namaku.

Aku meninggalkan Ifu yang menunggu Nara.



Aku sedikit merasa seperti sebelum bertemu Ifu dan bertumbuk mata, aku biasa saja. Aku juga gak ingin menoleh untuk memastikan apa masih ada sisa rasa di hatiku andai aku bertumbukan mata sekali lagi. Gak, aku benar sudah tidak memerlukan itu lagi. Aku biasa saja.

 

Komentar