Bab 6. Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku

 6. Sebuah Kejutan

Dua minggu yang lalu, aku berdiri di lapangan dan mendapatkan tropi juga piagam sebagai pelajar teladan. Nilaiku paling tinggi di antara siswa kelas tujuh dan delapan. Dua minggu setelah libur, aku resmi menghuni kelas sembilan.

Ini hari pertamaku di kelas sembilan, dan aku sibuk mencari namaku di pintu. Ada deretan nama penghuni setiap kelas yang pastinya diacak, jadi aku mungkin tidak akan bertemu Riana lagi, atau tetap bisa satu kelas lagi.




Tidak masalah sebenarnya. Aku bisa duduk dengan siapa saja, karena aku tidak pernah bisa sangat akrab dengan seseorang, aku juga tidak pernah mengganggu seseorang. Bagiku teman adalah teman bisa siapa saja. Aku juga tidak punya kriteria khusus, kalau menjadi teman sebangkuku harus begini dan harus begitu. Toh, hanya teman duduk, yang penting dia tidak menggangguku. Kurasa cuma itu syaratnya.

Aku memulainya dari kelas sembilan yang paling dekat dari arah aku masuk, ternyata aku tidaka ada di kelas A, kelas yang dipercaya oleh sebagian temanku kalau merreka yang kebagian kelas A itu anak unggul semua.

Aku lanjut ke kelas B, ternyata tidak ada. Aku yang kemarin mendapat gelas siswa teladan ternyata tidak masuk kategori di kelas A dan B, jadi kurasa gugur anggapan kalau masuk kelas A dan B itu lebih baik dari kalau masuk ke kelas abjad selanjutnya.

‘’Kita satu kelas lagi, Laura!’’ teriak Riana yang ternyata sudah meletakkan bukunya di kelas. Dia datang mendekat padaku tanpa tas. ‘’Di kelas mana?’’ tanyaku, padahal aku sudah mendapat giliran untuk mencari namaku, karena anak yang di depanku sudah pergi dari temoat berdirinya di depan pintu.


‘’Kelas dekat ruangan TU. Ayo, kita ke kelas kita. Kita kebagian kelas C. Tapi, aku kali ini gak duduk sama kamu. Ada tetanggaku yang sekarang sekelas sama aku udah minta lebih dulu buat duduk bareng, Kamu gak papa, kan?’’ Aku tertawa, aku mengangguk. ‘’Gak papa, santai aja.”

‘’Eh, iya bener. Aku lupa kalau kamu Laura, cewek paling famous di sekolah kita. Kalau gak duduk sama kamu mestinya aku yang bilang ke diriku sendiri gak papanya.’’ Aku tertawa, sepagi ini Riana sudah mulai berkhtotbah saja. Aku menggeser berdiriku, karena ada anak lain yang juga sedang mencari kelasnya.

‘’Ayo, cepetan kita ke kelasnya! Aku udah siapin kamu duduk di depan meja guru. Aku duduk di belakangmu.’’ Riana dengan rencannya memang keterlaluan, kenapa aku yang mesti ditumbalkan untuk duduk di depan meja guru. Tidak bisa dibiarkan. Aku bergegas ke kelas bersama Riana. Ini harus dibereskan, batinku. Aku kurang suka diatur-atur oleh orang lain, karena peraturan di sekolah ini saja sudah banyak.

Aku masuk setelah Riana. Ruangan kelasnya sama saja dengan kelas sebelumnya, view ke arah luar dari kaca sangat bagus. Aku bisa melihat pemandangan gunung dan pohon kelapa yang sangat banyak. Di samping kelasku ada lapangan sepak bola, jadi pemandangan ke arah jauh terlihat dari kelasku. Di kelas sebelumnya yang terlihat hanya sepeda, karena memang di samoing kelasku tempat parkiran sepeda. Andai ada pepohonan yang terlihat hanya pohon saja, pohon albasia dan banyak pohon pisang milik penduduk di luar pagar kawat.dan tembok sekolah.

‘’Ini deretan depan semuanya kosong?’’ tanyaku kepada Riana. Dia mengangguk. ‘’Kamu duduk di mana?’’ tanyaku. Riana tertawa, ‘’Kan aku udah bilang di depan meja guru itu kamu, aku di belakangnya.’’ Aku mengangguk. Aku meletakkan tasku di meja paling depan di dekat pintu.

‘’Kamu pilih di sini?’’ tanya Riana. Aku menagngguk. ‘’Di sini aja. Biar cepet keluar kalau bentar-bentar di panggil ke perpustakaan sama kalau dipanggil ke ruang guru.’’ Aku tahu Riana kecewa. Tapi, aku tahu dia sengajaa menaruhku di depan meja guru, karena dia malas duduk di situ. Dia ingin mencari aman. Bangku yang terisi itu menyisakan deretan paling depan. Jadi, yang datang awal memilih bangku di deretan belakang.



Padahal kalau mereka paham, mereka yang duduk bangku di belakang itu lebih terawasi oleh guru dibanding yang duduk di deretan bangku paling depan. Tempat yang mereka kira aman adalah tempat yang berbahaya, apalagi kalau hobi cheating, udah pasti lebih cepat ketahuan.

Aku malas jalan-jalan ke kelas lain atau ke kantin sekalipun. Aku melihat beberapa teman sekelas di kelas delapan mereka tinggal di kelas C ini sama denganku, tetapi sisanya anak kelas yang wajahnya kurang familiar. Mereka dari kelas lain. Aku tahu mereka mengenalku, tetapi aku tidak kenal nama mereka. Bererti aku harus mulai membiasakan menghafal nama mereka nantinya.

Ternyata Nara juga satu kelas denganku. Gak masalah. Hanya saja pasti dia yang semakin ke sii semakin terbaca terobsesi dengaku pasti bakal bikin masalah. Aku gak bisa menyalahkan mereka yang mengiri, kalau aku di posisi mereka pun aku bakal mengiri.

‘’Ya, udah. Jadi resminya kita jauhan, ya, Laura?’’ tanya Riana sedih. Aku mengangguk. ‘’Laura kayaknya seneng ya, jauh dari aku?’’ Aku tertawa. ‘’Kamu berlebihan, kita itu masih satu kelas, bahkan kalau beda kelas kita masih sekolah. Sok drama banget. Justru kalau dari tempat dudukku tingga duduk miring kita bisa ngobrol, bukan?’’

‘’Ngobrol gimana orang jauhan.’’ Riana sekarang merasa kesal, mungkin dia kira aku meledeknya. ‘’Kalau aku di depan kamu kalau kita ngobrol aku mesti nengok mulu, bukan? Dan, itu kelihatan banget sama guru kalau aku itu belajarnya sambil bercanda. Kalau dari sini bercandanya kelihatan kayak belajar.’’

Riana tertawa, dan dia mengangguk setuju. Baguslah sedih dan kesalnya sudah hilang. ‘’Tapi, Nara satu kelas sama kita.’’ Riana mengingatkanku. Aku mengangguk. Aku paham apa yang Riana maksudkan. ‘’Gak papa, santai aja. Dia gak bakal berani terang-terangan nyakitin aku.’’ Aku mengatakan itu dan Riana mengangguk setuju.


Selama ini melihat Nara terobsesi kepadaku aku biasa saja. Tapi tidak dengan Riana, dia kelihatan sekali kalau dia merasa terganggu. Aku juga tidak bisa menyalahkan Riana, Dia ingin nunjukin kalau dia itu care dan aku adalah temannya.

Bel masuk berbunyi. Benar saja anak yang masuk memang sebagian besar tidak kukenal. Bangku di deretan depan akhirnya terisi.. Hanya saja ternyata jumlah murinya ganjil dan korbannya adalah aku. Jadi, aku duduk sendiri. Aku duduk di pojok depan kanan, dekat pintu, dan sendirian. Menyedihkan.

Mataku langsung menangkap satu dari anak-anak yang akhirnya masuk kelas digiring oleh bel masuk, salah satunya adalah Ifu. Ada Ifu di kelas ini, dan Nara juga. Berarti aku harus membiasakan diri agar aku menerima itu sebagai takdir.

Dan, yang paling mengejutkan adalah Ifu duduk di pojok belakang sebelah kiri, jadi kalau aku memutar badanku sedikit aku bisa melihat Ifu dengan jelas dari dudukku. Ifu duduk satu deretan dengan Riana kalau dari meja guru. Sedangkan Nara duduk di belakang Riana. Karena bangku disusun empat ke samping dan enam ke belakang, berarti jarak antara tempat duduk ifu dan Nara hanya terhalang satu meja saja.

Sekarang aku tahu apa alasan Riana menyuruhku duduk di depan meja guru. Agar aku tidak melihat Ifu begitu memutar badan sedikit. Ups, jadi Riana tahu kalau aku suka sama Ifu!

 

Komentar