7.
Makluk Mars
Hari ini hari ke dua sekolah dan jatuh di hari Selasa. Kelas Sembilan. Baguslah, hari ini Selasa dan gak mesti upacara, aku kurang nyaman dengan masalah barisannya. Apalagi digabung dengan anak kelas tujuh. Aku akan berbaris dengan anak-anak sekelas yang beda dengan kelas sebelumnya, dan berbaris dengan orang asing itu membuatku gak nyaman. Aku belum terbiasa, meski udah seminggu di kelas Sembilan ini.
Pelajaran
pertama hampir dimulai. Guru yang masuk sudah memperkenalkan diri. Tiba-tiba
ada anak yang masuk dan meminta nama yang disebutkan untuk keluar dan membantu
mengatur anak kelas tujuh. Yang dipanggi ternyata Nara dan satu lagi dia yang
duduk bersama Ifu. Siapa anak itu? Setahuku mereka yang aktif di kepengurusan
Osis yang biasanya membantu pelaksanaan dua minggu anak kelas tujuh untuk masa pengenalan
kampus.
Lalu aku? Kenapa mesti anak yang duduk bareng Ifu, bukan aku? Dia kurasa bukan pengurus Osis, aku tahu mereka semua, wajah-wajanya kuhafal. Ini pasti ada kesalahan.Aku langsung menayakan itu kepada ketua Osis. Aku mengirim pesan kepadanya intinya aku protes. Ketua Osis menjawab begini; Ini pesan dari pembina Osisi agar kamu gak ikut aktif mendampingi anak kelas tujuh. Aku sih maunya kamu ikut, tapi gimana lagi.
Aku tetap di kelas dan guru yang mengajar hari ini tahu aku bagaimana, hanya aku saja yang kurang tahu dia bagaimana. Aku lebih banyak berurusan dengan guru kelas delapan tahun kemarin, dan sialnya aku tidak hafal satu pun guru yang mengajat kelas sembilan, kecualai guru yang ternyata terbawa ikut naik ke kelas sembilan, maksudku tahun kemarin mengajar kelas delapan dan tahu ini mengajar kelas sembilan.
Setelah
menjelaskan ulang aku tidak diperkenankan duduk, tetapi menjawab pertanyaan
dari anak lain. ‘’Silakan yang ingin bertanya! Materi yang masih berhubungan dengan materi yang dibahas diperbolehkan,
tidak harus text book!’’ Guru yang mengajar memberi kesempatan dan banyak yang
langsung tunjuk tangan.
Aku tidak mau kalah, aku meminta mereka menyebutkan nama mereka sebelum melontarkan pertanyaan. Aku ada di depan kelas dengan dua per tiga dari jam kewajiban guru itu mengajar. Karena dua jam pelajaran ang berarti sembilan pulun menit, aku mendapat bagian enam puluh menit. Lumaayn juga mengoceh selama satu jam di depan kelas.
Pelajaran
selanjutnya hanya perkenalan guru saja. Guru itu lebih banyak bercerita tentang
pengalanannya mengajar dsn apa yang diharapkan di kelas yang akan dia ajar.
Tetapi, karena diselipi humor jadi kelas terasa seperti sepuluh menit saja.
Hari
ke dua ini sangat menakjubkan. Terutama tentang teman sebangku Ifu yang jelas-jelas
aku juga baru melihat wajahnya. Dia manis, tadi aku sempat mendengar namanya
ketika disebutkan untuk diminta mendampingi kelas tujuh, tapi aku lupa.
Dibanding Ifu dia lebih manis, dan yang membuatku kesal sepertinya dia
mengenalku dengan baik dan sialnya lagi ramah. Senyumnya manis sekali.
Aku sekarang merasa harus berdoa agar aku tidak jatuh cinta kepada makhluk Mars itu. Cukup kemarin kecewa dengan Ifu. Dan, aku harus terbiasa dengan Ifu dan Nara di hari-hari selanjutnya. Apalagi Riana tahu kalau aku menyukai Ifu.
Jam
istirahat pertama. Aku pergi ke perpustakaan. Aku ingin menayakan apakah aku
sudah bebas tugas atau masih harus berjaga.
Secara aku sudah kelas sembilan. Riana datang mendekat ke mejaku setelah
aku siap henadak bangundari dudukku. ‘’Kita ke kantin, Laura!’’ Aku
menggelengkan kepala. ‘’Aku mau ke perpustakaan.’’ Riana menatapku, ‘’Kok, kamu
sedih. Kenapa Laura?’’ tanya Riana. Aku menggeleng. ‘’Gak papa. Kamu ke kantin
aja, aku titip gorengan aja,’’ kataku sambil mengeluarkan uang dari sakuku.
Riana
mengangguk, teman sebangkunya menyebalkan, sepertinya dia merasa senang bisa
mengambil Riana dariku, padahal aku biasa saja. Aku sedang kesal dengan diriku
sendiri. Riana pergi ke kantin, dan aku pergi ke perpustakaan.
‘’Pak Sobi, mana?’’ tanyaku kepada petugas yang berjaga. Pak Sobi adalah guru Bahasa Indonesia yang menjadi pembina perpustakaan. ‘’Mau nanyain tugas, ya?’’ Aku mengangguk. ‘’Kelas Sembilan udah gak jaga, kan?’’ tanyaku kepada petugas yang berjaga. Dia memang petugas yang dipekerjakan, bukan siswa yang diperbantukan.
‘’Kayaknya
untuk tahun ini gak ada siswa yang diperbantukan untuk jaga perpustakaan. Tapi,
kamu bisa tanya langsung. Atau saya yang tanya?’’ tawar petugas itu kepadaku.
Aku mengangguk. Aku berjalan ke rak meninggalkan meja petugas perpustakaan. Sementara
dia sibuk dengan handphonenya, dia mengetik sesuatu, dan aku memilih buku yang
ingin kupinjam. Aku mendapatkan tiga buku, kemudian menyerahkannya kepada
petugas perpustakaan untuk dicatat.
‘’Laura,
benar. Untuk tahun ini tidak ada lagi siswa yang diperbantukan. Tapi, kecuali
kamu.’’ Petugas perpustakaan memeperlihatkan chat-an dengan Pak Sobi.
‘’’Maksudnya apa?’’ tanyaku kurang paham. Dia tertawa. ‘’Kalau diperlukan kamu
tetap harus bantu kami. Paling bantu-bantu kalau ada buku baru masuk. GImana?’’
Aku tertawa. ‘’Oke. Ini buku yang mau kupinjam, dan ini kartunya.’’
Petugas itu sangat kenal dengaku. ‘’Padahal kamu bisa pinjam tanpa kartu, beda. Tapi, pasti jamu gak mau.’’ Aku mengangguk, ‘’Takutnya aku lupa, dan jadinya lupa buat ngembaliian juga. Itu kan milik sekolah.’’ Dia tertawa, dan aku juga.
Aku
kembali ke kelas. Ada pemandangan bagus. Sepertinya teman yang sebangku dengan
Ifu itu memang makhluk dari planet lain yang kesasar di kelasku. Buktinya,
sekarang dia sedang dikelilingi bidadari-bidadari. Aku dengan kecepatan kilat
menghitung kalau ada enam cewek ayng mengerubutinya dan mengajaknya bicara.
Sedangkan makhluk palnet lain itu sendirian. Mereka bicara dan tertaw-teawa,
tentu saja bagian yang tertawa-tawa itu para bidadarinya. Makhluk planet lain
itu hanya tersenyum saja.Dan,
yang lebih mengejutkanku adalah Riana ikut tergabung di antara mereka. Aku
melihat ke arah mereka karena begutu aku hendak duduk, Riana memanggilku,
‘’Laura ke sini!’’ Aku mengacungkan bukuku. ‘’Oke!’’ teriak Riana dari arah
perkumpulan itu. Sialnya aku melihat ke arah makhluk planet lain itu dan mata
kami bertumbukan. Dia tersenyum manis sekali. Aku dengan cepat duduk di kursiku
dan kemudian sibuk membuka halamannya satu dari tiga buku yang kupinjam.
Pelajaran jam selanjutnya aman. Sampai juga ke jam istirahat ke dua. Aku masih enggan ke kantin, apalagi plastik yang berisi gorengan yang tadi aku menitip beli kepada Riana masih utuh isinya. Riana mendekat ke mejaku, ‘’Gorengannya ada di kolong. Kamu tahu, kan?’’ tanya Riana memastikan kalau aku tahu titipanku sudah dialetakkan di kolong adan aku menemukannya.
‘’Iya,
ini masih utuh. Kamu temenin aku makan di sini, atau kamu mau keluar?’’ tanyaku,
dan ternyata Riana memilih untuk keluar. Aku mencpmot gorenga sambil tetap
menbaca buku. ‘’Makan gorengan sambil baca buku, apa bukunya gak berminyak?’’
Yang bertanya kali ini bukan Riana, tetapi makhluk Mars itu, aku tahu itu katena
begitu dia bertanya aku langsung mengangkat mukaku.
Tentu
saja di luar perkiraanku. Seberani itu dia. Dia tersenyum, mungkin aku terlihat
lucu karena kaget dengan kebedaaannya di dekat mejaku. ‘’Aku ada tissue.’’ Dia
mengangguk. Ya, Tuhan, kalau begini keadaannya aku bisa melupakan Ifu dan malah
benar-enar jatuh cinta kepada teman sebangkunya. Gawat!






Komentar
Posting Komentar