8. Racun Makhluk Planet Lain
‘’Kamu gak tugas di kelas tujuh?’’ tanyaku. Makhluk dari planet lain itu tertawa. ‘’Sebenarnya aku juga gak tahu kenapa aku dipanggil ikut dengan mereka. Aku padahal gak aktif di mana pun. Dan, masalah kamu gak ikut aku dengar karena guru-guru ingin nilaimu tetap bagus. Padahal seharusnya yang kayak aku jangan diperbantukan, bisa makin ketinggalan pelajaran dan susah ngejarnya.
Aku tertawa, aku lupa kalau dia makhluk dari planet
lain yang tadi dikerubuti para bidadari. ‘’Kamu suka banget baca buku, apa kamu
gak takut makin pinter aja?’’ tanyanya dan dia tetap berdiri di samping mejaku.
‘’Ada-ada aja. Gak lah, semua anak itu pinter,’’ jawabku. Ini bukan perkara
merendah aatu bagaimana, aku juga mengakui aku tidak sesempurna itu dengan penunjukkanku
sebagi siswa teladan.
‘’Ternyata kamu ramah, ya? Aku takut aku pas nanyak
kamu gak mau jawab,’’ katanya terus bicara. Aku tertawa. ‘’Kamu juga murah
senyum,’’ lanjutnya. Aku hanya meliriknya saja, aku kembali membaca bukuku. Aku
mati kutu, benar-benar di luar dugaanku. Dia dengan tenangnya datang ke mejaku
dan bicara seakrab itu.
‘’Ya, udah kalau aku ganggu. Gak masalah. Kamu baca buku aja, tapi kalau aku nanya kamu jawab, ya, lain kali!’’ Aku mengangkat wajahku menatapnya. Alu tidak mengangguk atau mengatakan; iya. Aku memasang muka datar. Tetapi, senyum di wajah makhluk olanet lain itu tetap terpasang dan manis sekali. Dia pergi dari mejaku dan membiarkanku melanjutkan membaca buku.
Aku memang senang membaca buku, aku bisa menamatkan
dua buku tebal dalam sehari. Tapi, sungguh kali ini aku gak bisa konsentrasi.
Apa aku jatuh cinta sama makhluk planet lain tadi? Aku masih malu dengan
kejadian aku menyukai Ifu. Untuk kali ini aku akan melawan rasa suka itu, rasa
suka kepada makhluk planet lain itu.
Pantas saja anak Osis berulah, kurasa alasan makhluk
planet lain itu dimasukkan ke dalam kelompok pendamping anak kelas tujuh agar
mereka bisa cuci mata. Pasti yang berulah anak Osis yang perempuan. Aku
membiarkannya, aku tidak memprotesnya, meski ketua Osis yang masih menjabat
lumayan berteman baik denganku.
Aku hanya membuka-buka buku sekadarnya dan cek
halaman, tapi memang itu kebiasaanku kalau membaca buku aku membaca satu
halaman bab terakhir, pertengahn buku, baru kemudian satu halaman bab pertama.
Kalau sudah selesai bab pertama aku biasanya pindah ke blurb, lalu ke depan, ke
kata pengantar. Setelahnya aku membaca profil penulis, lanjut ke baba dua
sampai akhir.
Bel masuk berbunyi, setelah dua jam pelajaran
selanjutnya yang akan berlangsung, tinggal bel pulang yang akan berbunyi.
Sebentar lagi pulang itu yang kutanam di kepalaku, jadi aku mesti bersemangat.
Anak-anak masuk kelas, aku melihat Ifu berjalan bersama dengan Nara. Mereka
berdua melewati mejaku tentu saja. Di belakang Ifu ada makhluk planet lain.
Mereka bertiga terlihat akrab. Kurasa ini sudah rambu-rambu agar aku gak jatuh
cinta dengan makhluk planet lain, alasannya tentu Nara.
Nara sangat cantik. Dia cukup aktif di kepengurusan
Osis sama sepertiku, hanya saja aku kali ini gak mendapingi anak kelas tujuh.
Memang di pelajara Nara agakkurang, tetapi gak bisa dipungkiri Nara juga populer.
Makhluk planet lain itu menoleh ke arahku dan tersenyu,. Duh! Kenapa mesti begitu? Kalau mau masuk tinggal masuk saja, gak perlu menoleh dan pasang senyum manis segala. Tapi, aku gak bisa melarag dia, toh aku dan dia itu sama-sama penghuni kelas sembilan C ini dan bukan salahnya juga
Pelajaran dimulai, setelah sedikit mencatata dan
dijelaskan, guru yang mengajar melontarkan pertanyaan yang mesti dijawab.
Sistemnya asal tunjuk, jadi meski ada yang tahu jawabannya belum tentu
diperkenankan menjawab.
Kali ini setelah Riana dan anak di barisan lain
ditunjuk, sekarang giliran Ifu yang mendapat pertanyaan. Ifu bisa menjawab
tetapi kurang tepat. Pertanyaan dilempar ke makhluk planet lain, dia dengan
santainya menjawab sambil mencuri waktu di mana guru yang bertanya menuliskan
inti dari jawaban di papan tulis, dia tersenyum ke arahku yang melihat ke
arahnya.
Tentu saja aku pasang muka datar. Dia tambah senang
menggodaku. Aku kembali melihat ke papan tulis. ‘’Laura, coba jelaskan lebih
detail dari jawaban Yazi barusan. Ini intnya sudah Ibu tulis di papan tulis.”
Aku mengangguk dan kemudian menjelaskan sesuai permintaan guru yang mengajar.
‘’Sangat bagus penjelasannya,’’ puji guru itu setelah aku selesai menjelaskan. Enrah mengapa ini terbaca seperti Yazi tidak bisa dan aku bisa, Yazi gak pintar dan aku lebih anak pintar. Padahal biasanya ketika aku melengkapi jawaban teman aku gak pernah merasa seperti ini. Aku merasa aku menunjukkan aku lebih dan aku merasa bersalah, tetapi tidak dengan Ifu, aku gak merasakan perasaan seperti itu.
Bel pulang akhirnya berbunyi. Setelah guru keluar kelas, ‘’Kamu keren!’’ Aku mengangkat wajahku dan Yazi ada di samping mejaku. Dia hanya sebentar melakukannya, setelah itu dia berbalik badan dan pulang bersama Nara dan Ifu. Aku emasang muka datar. Nara, Ifu dan Yazi mereka ternyata satu circle, sudah pasti Yazi tidak bisa mendekat ke arahku, Nara tidak akan membiarkan itu meski hanya sebatas teman saja.
Aku mengangguk, aku yang sudah memasukkan buku dan peralatn
menulis ke dalam tasku bergegas bangun. Riana dengan teman sebangkunya berjalan
di depan, dan aku di belakang mereka berdua. Kami bertiga bicara sambil
berjalan. Riana dan teman sebangkunya kadang berhent, lalu mengajakkku bicara.
Tapi, aku lebih suka mendengarkan saja. Ini bukan diskusi, tetapi lebih ke
cerita tentang siapa lagi, kalau bukan tentang makhluk planet lain di kelas
kami. Dia dalah Yazi!
Ternyata makhluk planet lain sudah meracuni cewek-cewek
satu kelas dengan begitu cepat dan bahaya. ‘’Kamu tahu gak, tadi Yazi senyum
sama aku. Yazi itu ternyata rumahnya yang luas itu dan dia juga punya kakak
yang sama manisnya.’’ Teman sebangku Riana mengatakan itu dengan mata berbinar,
dia menoleh ke arahku.
‘’Seriusan? Emang kakaknya juga semanis Yazi? Siapa namanya? Apa dia masih sekolah?’’ tanya Riana antusias. Teman sebangku Riana ternyata kenal baik Yazi, dia mengatakan kalau arah rumah Yazi searah rumahnya dari sekolah. Dia melewati rumah Yazi setiap harinya. Aku mendengarkan saja.
‘’Aku kurang tahu siapa namanya, dia cowok, sekarang
kelas dua SMA. Dia sekolah di kota. Masih ada satu lagi Yazi punya adik
perempuan dan dia satu kelas di bawah kita,’’ jelas teman sebangku Riana.
‘’Adiknya sekolah di sekolah kita?’’ tanyaku. Teman
sebangku Riana mengatakan kalau adik Yazi sekolah di sekolah lain. Aku
mengangguk-angguk. Temtang informasi kalau Yazi mempunyai kakak dan adik buatku
sebenarnya mungkin kurang perlu. Aku bukan petugas sensus penduduk, dan aku juga
gak perlu tahu siapa ayahnya dan pekerjaannya, bukan? Aku hanya punya teman
sekelas bernaam Yazi yang ternyata hampur semua cewek menyukai Yazi tanpa
terkecuali. Termasuk aku. Aku harus mengakui kalau Yazi ramah dan senyumnya
manis. Yazi juga pinter di pelajaran, setidaknya aku mendapat bocoran dari
teman sebangkunya Riana, kalau Yazi dulu di SDnya adalah juara pertama dan
aktif di kegiatan sekolah.
Komentar
Posting Komentar