Bab 9. Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku

  9. Cowok yang Duduk di Belakangku

Pagi ini aku bangun agak kesiangan. Semalam udara sangat panas, mungkin karena siang terik, dan malam hendak hujan tapi gak jadi. Alamat, aku susah tidur sekaligus susah bangun. Kipas angin di kamar sudah kunyalakan, tapi gak ngaruh. Aku ingin mandi malam-malam, karena berkeringat lagi-berkeringat lagi, tapi gak mungkin. Aku justru takut malah gerah hilang sakit yang datang.

Ibuku sudah mengetuk pintuku berkali-kali, aku yang mengunci pintu kamarku dari dalam benar-benar gak mendengar apa pun. Begitu aku keluar dari kamar ibuku langsung mengomentari sikapku,’’ Lain kali pasang alarm, jadi tahu mesti bangun jam berapa-berapanya.’’ Aku mengangguk. Dan, astaga! Ketika aku melihat jam di dinding aku ke belakang menyambar handuk dan  langsung mandi. Kalau semalam tidur kurang nyaman hal sepele seperti mestinya lihat handphone buat ngecek jam ikut kelewatan juga. Aku menggaruk-garuk kepalaku yang gak gatal, merasa aku bodoh sekali.

“Kamu udah PR-nya, Laura?’’ tanya Eka, lima menit setelah aku duduk di bangkuku. Suaranya enak di telinga dan terdengar sejuk. Eka yang sibuk ketika aku baru sampai akhirnya  menanyakan pertanyaan itu. Belum sempat kujawan,’’Oh, iya, aku lupa kalau kamu itu pinter.’’ Aku memutar dudukku setelah kuletakkan buku PR-ku di atas meja. ‘’Udah selesai, bukan karena aku pinter, tapi aku ngerjain. Kalau gak dikerjain tetap aja gak kelar, mau sepinter apa pun.’’ Eka tertawa. Dia mengangguk-anggukan kepalanya.


Eka itu gambaran cowok yang begini; dia cakep alias tampan, tinggi dan kulitnya putih. Eka setinggi Ifu. Mungkin dibanding Yazi jauh lebih tampan Eka, hanya saja Eka pilih-pilih dan agak menjaga jarak dengan yang lain. Tapi, tentu saja tidak denganku. Dia terkadang menanyaiku apa aku perlu bantuannya, misalnya merautkan pensil atau dengan segera menawariku apa aku akan meminjam pulpen darinya. Aku biasanya lebih banyak menggeleng dan jarang sekali mengiyakaj tawaran Eka, tetapi dia gak patah semangat, dia tetap baik. Di jam istirahat awal-awal masuk kelas ini Eka juga suka menawariku makanan dari kantin, tapi aku selalu sama; menggeleng.

‘’Laura, kamu balik badan aja , kita ngobrol! Aku gak mau ngomong sama punggungmu. Please!’’ Aku tertawa dari dudukku. Aku menengok ke samping kanan, aku takut kalau menegok ke samping kiri aku akan melihat Yazi. ‘’Kamu lucu banget, kamu duduk dekat dinding terus nengoknya ke kanan, emang kalau ke kiri kenapa? Kamu aneh. Jangan-jangan kamu punya salah sama anak lain, ya?’’ ledek Eri.

Aku akhirnya memutar badanku yang berarti memutar ke kiri. Aku melihat Yazi dari dudukku, dia sedang bicara dengan Nara dan Ifu dari duduk mereka masing-masing. ‘’Ini aku udah muter. Mau ngomongin apa?’’ tanyaku kepada Eka. Eka tertawa, dia malah terlihat salah tinggkah. Aku seperti bercermin, mungkin Eka sekarang adalah aku di mata Yazi, lucu.

‘’Aku mau nanya, karena aku penasaran.Kamu cara belajarnya gimana? Kamu, kok, pinter banget. Kamu itu cewek, tapi otakmu gak kira-kira pinternya. Aku dulu pas kelas tujuh sama delapan penasaran banget sama kamu, Laura.’’ Aku mengangguk-angguk. ‘’Itu meledekku, Eka.’’ Aku mengatakan itu sambio tersenyum.

‘’Ngeledek gimana? Orang aku penasaran beneran.’’ Eka membalas kata-kataku dengan serius. ‘’Iya, justru aku yang enasarn sama kamu. Kamu secakep ini jangan-pjangan malah jomlo,’’ kataku ingin mengajaknya bercanda. Aku ingin jawaban yang seru, misalnya dia mengatakan pacaranya dua, gebetannya sepuluh. Karena itu memang pantas.


‘’Aku memang jomlo. Kalau kamu jadi pacarku mau gak, Laura?’’ Benar saja, jawaban Eka di luar perkiraanku. Eri tertawa-tawa mendengar Eka mengatakan itu dengan serius. ‘’Gak mau,’’ jawabku dan Eka tertawa. ‘’Kenapa? Karena aku gak pinter?’’ tanya Eka sambil menatapku. ‘’Bukan, tapi, karena kamu kelwat cakep, aku minder.’’ Aku mengatakan itu dengan serius. Eka menggeleng-gelengkan kepalanya. ‘’Jadi, aku cakep itu kesalahan, ya?’’ tanya Eka. Aku menggelengkan kepalaku.

Eka bukan orang yang gampang patah hati. Dia juga pede gila. Dia gak marah kutolak, kurasa Eka memang sayang betulan. ‘’Oke, aku ditolak, padahal aku udah serius. Gak masalah. Sekarang kasih tahu aku kenapa kamu pinter banget!’’

Kali ini aku menjawbnya dengan tertawa. Eka semakin penasaran, dia benar-benar menungguku menjawab apa rahasiaku. ‘’Eh, kamu seriusan nanyanya, Ek?’’ Eka mengangguk, Eri juga menagngguk. ‘’Kalian berdua memang berniat mencuri rahasiaku,’’ kataku sambil tertawa. Eri dan Eka berpandangan, ‘’Kita serusan, bukan malah diketawain!’’

‘’Aku beneran gak tahu apa rahasianya. Aku belajar kalau ada PR aja, mungkin karena kalau guru ngejelasin aku paham. Aku juga gak makan vitamin tambahan. Kamu tahu aku bukan orang kaya. Jadi, gak ada rahasia.’’

‘’Masalahnya aku juga paham apa yang diomongin guru di kelas, Eri juga paham. Terus salah dan bedanya di mana?’’ tanya Eka serius. Aku tertawa, aku benar-benar heran dengan mereka berdua. Sudah kukatakan kalau aku sama saja cara belajarnya dengan yang lainya.

Mereka berdua menatapku dengans serius menunggu jawabanku. Akhirnya aku berpikir jawaban apa yang kira-kira bisa memuaskan mereka berdua tanpa harus mengulang pertanyaan yang sama di hari yang lain. ‘’Oke, dengeri oleh kalian berdua. Aku belajar pagi selepas subuh, sepulang sekolah, dan malam sebelum tidur.’’

Tidak kukira Eka menjawab dengan mengatakan dia juga melakukannya. Aku memutar otakku. Cowok memang begitu kalau penasaran, lebih gila dari aku kalau penasaran. ‘’Oke, bagaimana sama jawabanku ini, aku itu mengingat lebih lama dari kalian, alias penyimpananku di otak lebih banyak dan tahan lama dibanding kalian. Gimana? Itu kesannya merendahkan kalian berdua, tapi aku gak punya jawaban lain lagi.’’

Tidak kusangaka mereka berdua mengangguk paham. Kan, cowok itu aneh, bukan? Mereka bilang cewek itu aneh, padahal mereka berdua yang cowok juga aneh menurutku sebagai cewek.

Obrolan beralih mengomentari bola semalam. Aku yang memang suka bola ikut bicara, tentu saja aku gak seperfect cowok yang seru kalau bicara bola, tapi aku nyambung. Kita bertiga ngobrol seru sekali. ‘’Eh, Eka, kamu udah selesai, kan, PR-nya?’’ tanya Eri mengingatkan. Eka mengangguk. Sementara Eri  senyum-senyum sendiri.

“Kenapa kamu Eri?’’ tanyaku agak sedikit bingung. ‘’Aku belum dua nomor lagi,’’ jawab Eri, dan tentu saja aku bersiap balik badan untuk mengambil buku. Niatku memberi contekan.

Begitu balik badan, Yazi sudah ada di depan mejaku. ‘’Ada apa?’’ tanyaku. ‘’Ambil pulpen yang kemarin kamu kasih?’’ lanjutku. Yazi mengeluarkan buku PR-nya, ‘’Bantu aku cara buat nomor terakhir.  Aku belum.’’ Aku mengangguk. Aku menggeser buku yang Yazi keluarkan dari tasnya. Aku menjelaskan ini dan itu. Yazi mengangguk. ‘’Makasih, Laura.’’’Aku mengangguk dan mengatakan iya. Aku jarang mengatakan sama-sama untuk membalas kata terima kasih, kecuali aku dan seseorang itu bertukar.

Yazi pergi dan aku berbalik badan. Mata Eka menatap Yazi yang berjalan ke arah bangkunya. Aku melihat ada ketidaksukaan kepada Yazi, mungkin Eka merasa dia diselang, dan terganggu. ‘’Kamu jatuh cinta sama Yazi, Ek?’’ tanyaku mencoba membuat Eka menghentikan sikapnya. Ini masih pagi, aku kurang suka membuat mood di pagi hari buruk, meski kadang suasana gak selalu sesuai mauku,

 

 

 

 


Komentar