12.
Aku Cemburu
‘’Laura,
kamu dipanggil Pak Maestro! Cepetan, gak pakai nanti.’’ Aku yang baru kembali
dari kantin dan baru saja hendak duduk mengurungkan niatku. ‘’Oke. Aku bakalan
ke sana.’’ Aku berniat memakan bakpao yang kubeli dan meminum es capucino yang
masih utuh, baru kemudian pergi ke ruang guru unyuk menenui Pak Maestro.
Sebenaranya
bukan Pak Maestro namanya, hanya saja akrena guru seni itu kalau melukis bagus
sekali, jadi kami anak-anak memanggilnya Pak Maestro. Aku tadi sebenarnya ingin
membeli donat, tetapi kehabisan, maksudku dinat yang topingnya meises cokelat.
Yang tersisa tinggal dinat dengan meses pink dan topping lainnya, aku kurang
suka. Jadi, aku memilih bakpao, toh isinya cokelat juga.
Baru saja aku menarik bangkuku, anak yang tadi mendaapat amanat langsung interupsi. ‘’Laura, gak pakai makan dulku! Emergency! You know emenrgency, emergency is darurat!’’ Kukira dia sudah pergi, ternyata masih di pintu. Sialan!
‘’Tapi,
aku lapar. Aku gak makan di kantin sengaja buat makan di kelas,’’ kataku
mencoba menawar. Aku dengan cepat duduk di bangkuku. Ternyata anak itu masuk ke
kelasku. Dia mendekat ke dudukku. Dia meletakkan dua tangannya di mejaku, ‘’Aku
diminta kamu datamg ke sana cepetan, bukan kelamanaan!’’ jelasnya dengan
penekanan.
Aku
meminum es capciku. ‘’Ini tinggal setengah, aku habisin, atau kamu yang
habisisin?’’ tantangku. ‘’Aku bakalan ke ruang guru habis es capcin ini habis
dan bakapaoku juga habis. Bodo amat sama ak Maestro! Aku lapar.’’ Tanpa
kusangka dia meraih gelas dari meja dan meminumnya habis. Dia juga mengambil
satu bakpaoku. Aku tentu saja kaget.
‘’Kamu?’’ tanyaku. ‘’Berbagi minum sama anak jenius gak masalah. Siapa tahu jeniusnya nular. Aku juga udah bantuin makan bakpaonya. Jadi aku udah bantu kamu. Sekarang makan bakpo satunya lagi, habis itu mesti ke ruang guru.’’
Aku
tertawa, ‘’Dasar gila! Untung aku bawa air minum, kalau enggak aku bakalan
seret habis makan bakpo. Oke, aku akan makan ini dan habis ini aku bakalan ke
ruang guru.’’ Dalam hati aku ingin berteriak; baru kali ini ada anak di suruh
guru terus memaksaku. Biasanya mereka yang disuruh memanggilku akan datang ke
kelasku menyampaikan, habis itu pergi gak peduli lagi. Toh tugasnya sudah
selesai.
Aku
akhirnya bangun dari dudukku dan pergi kelyar kelas, anak itu menghilang entah
ke mana, tadi dia hanya bilang ‘bye, Laura’ saja. Aku pergi ke ruang guru dan
pemandangan gak biasa terlihat di depan mata. Hari ini di ruang guru banyak
anak yang masuk dan berdesakkan. Aku mencolek salah satu di antara mereka,
‘’Ada apa ini?’’ Dia menoleh ke arahku dengan sikap acuh tak acuh, ‘’Lihat
nilai, yang nilainya di atas tujuh berarti lolos, yang di bawah tujuh ada tugas
lain yang mesti dikerjain.’’
‘’Nilai
apaan?’’ tanyaku penasaran. Pantas saja di kelas yang biasanya ramai di jam istirahat,
tadi hanya ada dua anak yang duduk di meja Yazi. ‘’NIlai seni, tugas gambar
kemarin.’’ Aku mengangguk. Aku memang kurang pandai menggambar. Tapi kurasa
enam dapatlah. Berarti aku akan mendapat tugas baru. Gak masalah.
Tapi
ini aneh, baru kali ini kejadian anak-anak mencari tahu nilai tugas dan
emmburuny sampai membuat ruang guru penuh sesak. Ini pasti kerjaan Pak Maestro.
Aku gak mungkin menyibak kerumunan untuk mendekat ke meja Pak Maestro dan
menanyakan ada apa memanggilku. Jadi, aku berusaha bergeser saja ke bagian
belakang tetapi yang dekat dengan barusan meja guru.
Pemndangan
aneh ke dua setelah kerumunan terjadi, di depan pintu masuk sampai ke meja
penerima tamu penuh sesak dengan anak-anak, sementara guru-guru berbicara
sambil tertawa-tawa melihat kerumunan anak-naka, Tidak terganggu sama sekali.
Me;ihatku di barusan paling belakang, Pak Maestro memanggilku untuk mendekat.
Aku mendekat ke arah Pak Maestro. ‘’Iya Pak, ada apa memanggil saya?’’ Dia mengagguk-angguk. ‘’Kamu kenapa ikut kerumunan anak-anak yang lain?’’ tanya Pak Maestro. ‘’Nilai kamu itu gak aad di daftra nilai. Kalau kamu ingin tahu nilai kamu berapa, kamu seharusnya pergi ke TU saja. Kalu dipanggil dari tadi malah baru datang.’’
‘’Say
dari kantin lapar. Baiklah saya akan ke TU saja. Terima kasih,’’ kataku sambil
emngangguk pamit diri. ‘’Laura, satu hal, kamu jangan dendam sama saya, ya!’’
Aku mengangguk. Dia tertawa. Guru seni yang satu ini memang agak beda. Sewaktu
di kelas delapan dia selalu mengatakan di depan kelas kalau dia heran ada anak
sejenius aku. Awalnya aku sedikit heran, tetapi dia lebih heran setiap harinya
kepadaku katanya, dan aku akhirnya menyerah untuk tidak heran. Aku lebih tidak
heran kalau anak-anak menuebutnya kalau Pak Maestro itu menginginkan orakku untuk
di pindah ke kepalanya. Teman-temanku selalu berseloroh begitu.
Aku
keluar dari ruang guru, mereka yangberkerumun menyedikit. Aku sekarang pergi ke
arag ruang TU yang dekat dengan pintu kelasku. Banyaka ank berkerumun di depan
kaca. Apa lagi ini? Astaga, apa yang Pak Maestro katakana benar adanya.
Gambarku mendapat nilai 20 dari seratus disandingkan dengan gambar paling bagus
seangkatan yang mendapat nilai delapan puluh Sembilan. Satu lagi mendapat nilai
Sembilan ouluh, nilai sempurna untuk menggambar.
Aku tidak mengatakan apa-apa melihat penampakan di depanku, hanya menarik napas mengembuskannya perlahan dan aku langsung pergi ke kantin. Aku butuh minuman manis. Aku ingin menghibur diriku sendiri dengan keterkejutan ulah dari Pak Maestro.
‘’Kenapa?’’
tanya Riana yang sudah aad di kantin. ‘’Pasti karena gamabar itu, ya?’’ Aku
mengnangguk. ‘’Emang, Pak Maestro itu bener-bener. Kurasa dia dulu pengen
banget jadi kamu, kamu dengan orakmu, Laura.’’
‘’Tapi,
gila aja, becandanyna luar biasa. Mana nilaiku paling jelek seangkatan, terus
dijejerin bareng yang dapat nilai paling tinggi. Bisa-bisanya tadi dia bilang
aku gak boleh dendam. Aku sekarng mau jajan, pengen yang sedikit panas sama
pedes.’’ Riana mengangguk. Meski dia gak lagi satu meja denganku dan sibuk dengan
teman barunya, tapi aku tahu dia tetap Riana yang baik seperti dulu.
Basoku
sudah ada di depanku. Yazi datang bersama Nara dan duduk berseberangan denganku
berhadapan. Dia memesan baso dan mereka makan berdua di depanku. Aku pura-pura
sibuk dengan isi mangkukku, sementara Riana sibuk dengan makan sambil terus
bicara dengan teman sebangkunya itu.
Entah kenapa aku merasa malas untuk melihat ke arah Yazi dan Nara, meski beberapa kali Riana dan Yazi, juga Nara saling berbicara dan bersahutan. Aku malas mengangkat wajahku. Setelah basoku habis dan meinum es teh manis pun aku mencoba untuk tidak melihat ke arah Nara dan Yazi.
‘’Aku
duluan,’’ kataku kepada Riana. ‘’Gak mau bareng?’’ tawar Riana. Aku menggeleng.
Riana mengiyakan. Teman yang sebelah Riana ikut mengangguk mengiyakan. Aku
kembali ke kelas sendirian.
Aku
sudah duduk ketika Nara masuk ke kelas. Yazi masih di luar. Dia tertawa-tawa
bersama yang lain ketika masuk. Yazi mendekat ke mejaku, ‘’Udah, jangan sedih.
Pak Maestro Cuma ingin menggodamu aja. Kita semua tahu kalau Pak Maestro itu
mengangumi otakmu. KUrasa bukan Pak Maestri aja, semua ank iri sama kamu,
termasuk aku. Jadi berhenti sedih. Tadi, di kantin kamu kelihat sedih banget,
sampai ngak mau ngoming sama aku.’’
Aku
mengangguk. ‘’Aku gak sedih, Cuma kesel aja. Pak Maestro emang kurang
kerjaan.’’ Aku mengatakn itu, mana mungkin aku mengatakan kalau aku kesal
gara0gara dia dan Nara duduk bersisisan dan emreka sangat akrab.
‘’Kalau
gitu senyum coba, Kalau gak senyum aku gak mau balik ke mejaku.’’ Aku
mengangguk. Tentu saj aku dengan mudah tersenyum di depan Yazi, Mana bisa aku
ngambek, sementara hatiku berbunga-bunga.







Komentar
Posting Komentar