24.
Saran Kado yang Gila
Aku pulang langsung naik angkutan menuju ke stasiun. Ada banyak anak dari desa sebelah yang bersekolah di SMP lain yang melanjutkan sekolah di kota yang sama dengaku. Di dekat sekolah SMPku ada SMA, tetapi aku merasa perlu melanjutkan ke kota saja. Bukan ingin terlihat berbeda, tetapi aku menimbang akan banyak pengalaman baru dan suasana baru yang kudapat. Banyak sekolah SMA dan itu lebih dekat jaraknya dari pada ke kota ini juga, tetapi aku masih tetap dengan alasan yang sama. Meski harus diakui kalau sekolahku itu sekolah favorit semua anak.
‘’Ada
yang nelpon siapa Laura?’’ tanya Zee yang sedang menyimak kakak kelas yang
sekolahnya bertetangga dengan sekolahku. Dia sedang bercerita tentang kucing
yang kerap masuk ke kelasnya. Aku melihat siapa yang menelpon, ternyata Def.
Aku malas menjawabnya, aku sedang asyik ikut menimpali cerita kakak kelas tentang
kucing.
‘’Gak mau diangkat? Sini aku yang angkat!’’ tawar Zee. Tentu saja aku menolak, itu konyol namanya kalau aku sampai memberikan handphone dan membiarkan Zee menjawab panggilan dari Def. ‘’Emang kamu tadi lagi ngomongin apa sama yang telepon itu, Laura?’’ tanya Zee merasa aku mengabaikan panggilan itu dan dia kurang nyaman.
Benar
juga, apa masksud Def, sampai aku diminta untuk memilihkan hadiah untuk
pacarnya. Lagian apa benar Def punya pacar. Aku curiga dengan option ke dua
kalau Def berusaha membuat aku cemburu. Def menelpon lagi. Kakak kelas yang
sedang saling sahut menanggapi dan sekarang topik ceritanya sekitar masalah
hujan sempat diam. Aku tertawa. ‘’Oke, kalian terusin aja, ini akan
kuangakat.’’
Aku tetap duduk di bangku tempatku duduk, karena aku duduk paling pinggir jadi aku lebih leluasa menelpon, ‘’Halo, kita ngomong lewat chat-an aja. Aku ada di stasiun, gak etis teriak-teriak, karena di sini ramai dan ruang publik juga.’’ Def mengiyakan. Def mengirim pesan lagi; Gimana tadi pertanyaanku, aku mesti beli kado apaan?
Def
membalas pesanku; Aku kan minta saran, karena otakmu encer.
Aku
menjawab pesan Def; Ya, itu yang kubilang. Tapi kalau maksa aku saranin beli
tas sekolah yang warnanya merah, hitam, pink, atau cokelat muda. Kayaknya
cocok.
Def
menjawab pesanku; Kamu gak pengen tahu siapa pacarku dan kelas berapa?
Ake
membalas pesan Def; Aku buka ibumu, jadi gak perlu tahu siapa nama pacarmu dan
sekarang kelas berapa, rumahnya di mana. Aku orang di luar lingkaran Def.
Terserah aja.
Def
menjawab pesanku; Kamu sekarang di mana? Apa kamu di kost-kostanmu?
Aku
menjawab pesan Def; Aku ada di stasiun, aku mau pulang. Sekarang aku gak ngkost
lagi.
Def menulis pesan dan mengirimiku lagi; Yah, padahal aku aku minta ditemenin. Aku kan bukan cewek, takut salah beli. Barang yang udah dibeli kan gak bisa dikembaliin.
Def
mengetik, tapi handphoneku kumasukkan ke dalam tas. Aku jadi tertinggal
pembicaraan dengan kakak angkatan, padahal ketemu mereka itu hanya di moment
pulang sekolah seperti ini. Pertama kalau di rumah, kami jarang main bareng, ke
dua meski sekarang aku gak kost lagi, belum tentu pagi-pagi bisa satu mobil,
dan ke tiga besok atau sebentar lagi pembicaraan pasti ganti topik.
‘’Ayo,
kita naik!’’ ajak Zee. Kakak kelas yang sekolahnya bertetangga denganku
meprotesnya, ‘’Udah biarin Laura ditinggal di sni aja biar jagain stasiun. Tuh,
kan bener handphonenya bunyi lagi.’’ Aku tertawa. Aku yang sudah bangu dari
dudukku mengekor mereka. Hanphoneku kuambil dan kurejeck panggilan dari Def.
Sebenarnya bisa kuganti mode getar saja, tapi aku takut ibuku yang menelpon.
Aku
baru duduk di kereta, mesin kereta sudah menderu saja, berarti sebentar lagi
kereta akan berangkat. Ada sensasi beda denagn ketika kost. Kalau kost saat ini
pasti sedang istirahat, tapi aku gak menyesal, dengan resign dari anak kost aku
akan lebih banyak ketemu kakak angkatan yang pasti beda vibesnya dengan anak
kost-kostan tetangga kamarku yang beda sekolah asal dan dari daerah lain juga.
Benar, Def menelpon, dan aku mereject panggilan. Ahirnya aku memutuskan untuk menggantinya dengan mode getar saja. Aku mengirim pesan kepada Def; Def, aku udah di kereta. Seperti yang kubilang terserah kamu aja beli hadiahnya.
Aku
membalas pesan Jack; Kan aku udah bilang dari tadi. Aku juga udah balas pesan
kamu berkali-kali. Kalau kamu bingung ajak ibumu, atau Nino. Atau kalau bingung
lagi, putusin pacarmu, kerjanya bikin bingung orang dan bikin pacarnya gangguin
aku.
Aku
gak tahu apa reaksi Def, tapi setelah pesanku terkirim dia gak mengirim pesan
apa-apa lagi. Paling-paling besok di sekolah dia akan duduk dibangkuku dan
meminta aku menjelaskan semuanya. Atau bisa jadi dia marah? Aku gak peduli,
seharusnya aku yang marah, aku yang merasa terganggu dengan chatnya.
‘’Yaz!’’ panggil Zee. Aku menoleh ke arah mata Zee menunjuk. Jadi ini yang namanya Yaza? Aku hanya diam menatap saja. Dia mendekati Zee. Mereka berdua bicara. Yaza cakep? Sangat. Kulitnya sawo matang. Hampir mirip dengan Yazi. Hanya saja Yaza lebih tinggi dari Yazi. Yaza melihat ke arahku, hanya melihat saja. Dia tidak mengenalku dan aku juga gak kenal dia.
Dion
itu sepupunya Eva. Rumah mereka bersebelahan. Eva itu anak yang sekolahnya
bertetangga dengan sekolahku. Jadi, Eva, Dion, dan Yaza itu satu sekolah. Aku
baru tahu. Aku juga baru tahu Yaza, padahal katanya Yaza sering main ke rumah
Dion. Mungkin aku kebanyakan berhibernasi jadi aku kurang tahu tentang dunia
luar rumahku, padahal rumah Dion dan Eva hanya berjarak seratusan meter saja.






Komentar
Posting Komentar