25. Hadiah Tak Terduga
Aku
pagi ini berangkat dari rumah dan tentu saja gak bertemu dengan dengan Rayan.
Rayan sama sepertiku waktu ngekost kemarin, ritmenya pulang Jumat sore dan
kembali ngekost di hari Senin. Aku menyetop mobil angkutan menuju ke kota. Aku
lagi-lagi gak bertemu dengan Eva dan kawan-kawan lain. Aku malas menanyakan jam
berapa mereka berangkat, semenjak SMP aku gak pernah melakukan itu. Kami hanya
teman main saja.
Aku masuk dan duduk. Mobil melintas, supir menanyakan apakah mereka akan ikut, ternyata tidak. Sebetar, itu adalah Dion dan Yaza. Mereka akan berangkat dengan mengendarai motor. Pantas beberapa hari aku pulang pergi baru sekali di hari pertama saja aku bertemu dengan Yaza, ternyata dia lebih sering naik motor bersama Dion.
Kurasa
tidak hanya dengan Dion, anak-anak sekitaran rumahku banyak yang naik motor dan
bersekolah satu kota denganku, hanya saja yang masuk sekolah favorit cuma aku
saja. Bisa jadi Yaza kadang dengan Dion atau dengan yang lainnya. Mungkin kalau
sedang malas dia pulang naik mobil angkutan atau kereta.
Aku
sekarang sudah sampai di sekolah. Masih terlalu pagi kurasa, baru beberapa anak
yang terlihat jalan melewati pintu gerbang masuk ke area sekolah. Kurasa lima
menit lagi akan ramai. Aku berjalan menuju kelasku melewati banyak kelas
sebelumnya. Aku melihat beberapa anak masuk ke kelasku, mereka teman sekelasku
tentu saja.
Aku
masuk dan ketika aku baru saja duduk, Nino datang mendekati mejaku. ‘’Laura,
pinjam buku matematikanya.’’
Aku
tertawa, ‘’Kamu belum ngerjain PR?’’ Nino mengangguk. ‘’Berapa soal lagi yang
belum?’’ tanyaku, meski aku tahu jawabannya pasti belum semuanya.
‘’Belum
satu pun.’’ Nino begitu pasrah dengan jawabannya. Aku mengangguk. Aku gak
bertanya kenapa dia gak mengerjakan sama sekali PRnya, karena setahuku apa pun
PRnya Nino selalu gak pernah lupa untuk gak mengerjakan. Dia pemalas tingkat
tinggi.
Aku
mengambil buku dan memberikannya kepada Nino. ‘’Hari ini aku duduk di sini
aja.’’ Nino mengatakan itu dan aku gak masalah. Kelasku agak beda, kita bisa
duduk di mana saja kita inginkan. Tapi, kalau mau bestian dan selalu bersama
setiap hari juga dipersilakan.
‘’Terserah
kamu. Kerjain PRnya sekarang. Lumayan buat potongan hukuman dari pada gak
ngerjain sama sekali.’’ Aku mengatakan itu dan Nino biasa saja, malah
mengangguk.
Nino
mulai menulis, tapi dia benar-benar multitalenta, bibirnya masih bisa bicara
memprotes apa yang baru saja kukatakan. ‘’Jangan begitu, ada keinginan
ngerjain, meski dapat nyontek juga harus dihargai, Laura.’’
Aku
mendengar Nino mengatakan itu. ‘’Lima puluh soal gila aja nyalin, gak
gempor tuh tangan. Padahal kamu itu mending masuk IPS tahu, jadi kamu gak dapat
soal matematika tiap hari segitu banyaknya. Kenapa kamu gak nyerah aja?’’
tanyaku penasaran.
‘’Aku
itu udah milih IPS, tapi ternyata IPS penuh peminat. Aku dilempar ke IPA
gara-gara nilai Fisika sama Matematikaku bagus. Padahl semua itu hasil nyontek.
Aku kayak kena karma gitu. Merasa kayak tikus tinggal di gudang padi , tapi
kelaparan.’’
Aku
gak bereaksi apa-apa, karena aku tahu Nino bukan anak bodoh, hanya malas
mengejakan tugas saja. Mungkin dia tipe yang gak suka disuruh, tapi versi
akutnya.
‘’Kamu
gak papa duduk sama aku, nanti Def kesepian,’’ kataku sambil bangun.
“Kamu
mau ke mana, Laura?’’ tanya Nino menghentikan tangannya yang sedang menyalin
PR.
‘’Ke
kantinlah, gak ada titip-titip. Biar ngerasain karmanya pemalas, selain mesti
gempor tangan, juga kelaparan,’’ kataku sambil tertawa.
Aku
perg ke luar kelas dan membiarkan Nino dengan mimik memelasnya yang palsu. Aku
tahu dia pasti akan memintaku membelikan ini dan itu untuk sarapan, tapi aku
selalu menolaknya, pun kali ini. Nino harus belajar untuk menerima resiko.
Aku
masih di kantin ketika bel masuk berbunyi. ‘’Laura!’’ Aku yang sedang meminum
tegukan terakhir kopi susu hangat menoleh ke sumber suara. Astaga, Def
ternyata! Aku bangun dan akhirnya kembali ke kelas dengan Def.
‘’Aku udah beli hadiahnya.’’ Aku mengangguk.
‘’Kok, cuma ngangguk?’’ tanya Def kurang puas. ‘’Aku perlu nari muter-muter
gitu? Gila aja, kamu Def! Masak cuma karena kamu udah beliin hadiah buat pacar
kamu terus aku suruh jadi gila.’’ Def tertawa.
Def
hari ini gak duduk bareng Nino, karena Nino akan duduk denganku. Aku masuk kelas
dan Def pergi ke tempat duduknya
sendiri. Sampai ke dekat mejaku aku melihat sesuatu yang berbeda. Astaga! Apa
maksudnya? Nino masih menyalin. ‘’Ini punya siapa, Nino?’’ tanyaku dan Nino
menjawab sambil tetap menyalin.
‘’Kata
Def itu punyamu. Emang bukan punyamu? Berarti Def bohong, donk.’’
Jawaban seperti apa itu? Aku mencari Def yang
ternyata duduk di pojok belakang dengan anak lain. Def mengangguk. Ketua kelas
masuk dan mengatakan jam pertama dan ke dua kami disuruh mengerjakan soal-soal.
Dia menuliskan halaman berapa yang mesti dikerjakan di papan tulis. Aku
mendekati Def. ‘’Laura, kamu udah tahu kalau ada tugas, kan?’’ tanya ketua
kelas memastikan. Aku mengangguk. Aku tetap berjalan ke samping meja Def.
‘’Kita keluar!’’ Def mengangguk dengan santainya.
‘’Kita
mau ke mana?’’ tanya Def kepadaku.
‘’Menurutmu?’’ Def mengangguk dia berjalan dan
berhenti dekat denganku.
‘’Kita
ke toko buku di seberang. Buku tulisku habis, koperasi baru buka jam
stirahat.’’ Aku mengangguk mengiyakan idenya.
‘’Itu
maksudmu apa?’’ tanyaku perihal bungkusan di bangkuku.
‘’Itu
buat kamu.’’ Def mengatakan itu tanpa menoleh kepadaku.
‘’Pacarmu?’’ tanyaku penasaran.
‘’Seperti
yang kamu bilang aku udah putusin dia.’’
Aku
menarik lengan Def. ‘’Gila, kamu, Def! Aku becanda.’’ Aku merasa Def
keterlaluan menanggapi serius apa yang kukatakan.
‘’Aku
udah beli tas seperti saranmu, warnanya merah tua. Aku tahu kamu gak suka
pink.’’ Def mengatakan itu dan menarik tanganku untuk neyeberang.
‘’Def,
kenapa malah buat aku? Kamu marah karena aku kemarin ngusulin ide gila? Atau
apa?’’ Aku takut Def mengatakan kalau dia menyukaiku.
‘’Aku
kemarin keluar rumah pergi ke toko tas. Aku chat dia suka warna apa, pilihannya
pink sama cokelat muda. Dia bilang suka keduanya. Tapi, kamu tahu apa yang aku
lihat di depan kasir? Dia dirangkul ketua Osis kita, dia membeli tas dengan
warna biru tua. Ya, udah, akhirnya mereka keluar aku bambil tas ini, ini lebih
mahal. Kurasa ini cocok buatmu. Sayang sekali aku gak jatuh hati sama kamu,
seharusnya waktu aku jatuh hati yang harusnya ada saat itu kamu, Laura. Pasti
aku gak akan sesengsara ini. Seengaknya kalau aku gak jadian sama kamu, kita
bisa berteman sampai tua nanti.’’
‘’Tapi,
kita udah berteman dan gak harus jatuh cinta. Apa itu kurang?’’ tanyaku kepada
Def. ‘’Gak sih. Cuma bisa-bisanya kamu ngomong suruh putusin pacarku dan
ternyata benar. Apa kamu pernah lihat mereka sebelumnya?’’
Aku
mengangguk.
‘’Sialan
kamu, Laura!”
Aku diam saja. Aku tahu Def gak menyalahkanku,
dia hanya kesal.
.



Komentar
Posting Komentar