26.
Ini Rasa Apa
Aku
dan Def tidak pergi ke tukang fotocopy seperti yang dia katakan tadi, kami
pergi duduk-duduk di kedai yang menjual mie dan bubur kacang hijau. Kami masuk
dan Def memesan bubur kacang hijau, sementara aku menggeleng ketika Def menanyaiku
ingin memesan apa. ‘’Jadi, kamu tahu dan gak ngomong ke aku, karena jaga
perasaanku?’’ tanya Def sambil menatapku dari duduknya. Aku mengangguk.
‘’Serba
salah Def. Meski gak banyak anak tahu kalau kamu jadian sama dia, tapi aku
tahu. Dan, waktu ketua Osis kita dekat sama dia aku gak ngasih tahu kamu,
karena kamu gak tahu aku tahu kalau kalian itu ada hubungan. Aku juga kesannya
sok tahu dan sok ikut campur kalau aku ngasih tahu. Yang ada nanti kesannya aku
cemburu dan diem-diem stalking kehidupanmu, bukan?’’ Def mengangguk.
‘’Soal hadiah yang kamu kasih, aku nolak Def, maaf banget. Aku gak bisa terima. Kamu bawa pulang lagi aja, kamu kasih ke adikmu atau siapa saja. Aku gak suka jadi pelampiasan. Kita tetep temenan. Gimana?’’ tanyaku kepaad Def. Def terlihat kecewa.
‘’Tapi,
aku terlanjur bilang ke teman sekelas yang tadi nanya kalau itu hadiah memang
aku beli buat kamu. Kamu bantu aku selamatkan mukaku di depan teman-teman,
please!’’ Aku menimbang, benar juga kalau aku menolak Def gak punya muka di
depan teman-teman. Bingkisan itu lumayan terlihat, kalau aku menolak dan DEf
membawa pulang, Def akan jadi bahan bercanda di setiap ada kesempatan. Aku
menagngguk dan Def senang.
‘’Kita
di sini sampai kapan, Def?’’ tanyaku karena Def terlihat santai-santai saja.
Def tertawa, ‘’Gimana kalau sampai jam istirahat?’’ usulnya. Aku bangun dari
dudukku. ‘’Iya, aku habisin dulu, baru kita balik ke kelas,’’ Def paham aku gak
setuju usulnya. Aku menunggu Def menghabiskan pesanannya.
‘’Ke
mana. Laura?’’ tanya Def memprotes karena aku berjalan ke tukang fotocopy.
‘’Beli alibi kalau ke-gap guru.’’ Def tertawa. Aku dan Def ke tukang fotocopy
untuk membeli beberapa buku tulis. Aku menghitungnya ada setengah lusin. Def
yang membayar semuanya setelah aku dan dia berebut saling menyodorkan uang
kepada pemilik fotocopy.
Melewati
ruang guru Def langsung mengangguk ketika ada guru yang memperhatikan kami.
Tanganku sudah dilepas Def sebelumnya. ‘’Kalian dari mana?’’ Def dengan sopan
mengatakan kalau kami baru saja membeli beberapa buku tulis, karena koperasi
belum buka. Melihatku ikut mengangguk dan memperlihatkan plastik yang kebetulan
putih dan tembus pandang, aku dan Def bisa langsung ke kelas tanpa hambatan.
Ini bukan jam istirahat, beda acara kalau aku dan Def membeli dan keluar
gerbang pas jam istirahat.
Begitu aku masuk ke kelas mereka masih sibuk, aku kembali ke mejaku dan mengerjakan tugas dengan cepat. Ketika jam pelajaran ke dua habis yang berarti tugas harus dikumpulkan aku dan Def sudah selesai dan bisa mengumpulkan seperti seharusnya.
‘’Laura,
kamu emang sama Def pacaran?’’ tanya Nino. Sudah kuduga dia akan bertanya
seperti itu. ‘’Gak, Nino. Def lagi banyak duit. Aku dibeliin tas sama buku
sekalian. Tadi kamu lihat kan, kalau aku sama Def keluar kelas, terus pas balik
bawa buku tulis?’’ tanyaku untuk meyakinkan Nino.
‘’Iya,
bener sih, berarti Def lupa beli bukunya buat sekalian dimasukkin ke dalam
tasnya. Tapi, Laura, setahu aku Def belum pernah beliin cewek manapun tas sama
bukunya sekalian. Aku curiga.’’ Aku tertawa.
Benar
juga, apa yang Def lakukan memang berbeda. Tapi, aku yang tahu jalan ceritanya
gak mungkin cerita kalau cerita di balik tas sebenarnya lebih ke tragedy. Iya,
tragedi selingkuh pacarnya Def. Tapi, kalau dipikir lagi, kenapa Def mesti
membeli tas itu kalau kejadiannya dia melihat pacarnya bersama ketua Osis di toko
itu, padahal ketua Osis dan pacar Def gak melihat penampakan Def sama sekali.
Kalau Nino curiga, aku juga jadi sedikit ikut ketularan curiga. Def?
Reaksi
teman sekelas yang lain? Tentu saja Def ditanyai setiap anak apa Def dan aku
ada hubungan khusus. Aku? Tentu saja dengan mudah mengatakan ini; aku gak tahu,
tanya aja Def apa maksudnya ngasih hadiah ke aku. Kurasa dia lagi banyak duit. Dan,
Def yang menjawab pertanyaan dengan kencang dia mengatakan kalau dia habis membongkar
celengan saja. Tapi, tetap saja Def diledek teman sekelas kalau aku dan dia ada
apa-apanya. Melihat Def santai, aku pun sama.
Def
memang banyak fansnya, gak heran berita Def memberiku hadiah tersebar secepat
kecepatan cahaya. Jam istirahat ke dua, fans Def dari kelas lain datang ke
kelasku mencari Def. ‘’Laura, kamu tahu Def di mana?’’ tanya salah satu dari
mereka. Aku menggeleng. ‘’Itu hadiah dari Def?’’ tanya yang lain. Aku
mengangguk. ‘’Def pilih kasih,’’ keluh salah satu yang lain di antara mereka.
Tapi,
fans Def dari kelas lain itu gak ada yang menanyakan apakah aku pacar Def atau
bukan. Mungkin mereka takut aku mengatakan; iya, yang berarti kans atau
kesempatan mereka buat jadi pacar Def gak ada sama sekali alias nol. Aku tahu
itu, karena itu aku santai saja.
Bukan
berarti teman cewek dari kelasku gak ada yang cemburu, tapi mereka sepertinya
menahan diri. Mereka cuma membujukku agar aku membuka hadiahnya. Aku hanya
tertawa-tawa saja. ‘’Besok kupakai, isinya tas. Def ngasih tahu gitu.’’
Aku pulang dengan membawa hadiah dari Def. Sampai di stasiun teman yang
kakak angkatan dan beda sekolah langsung membujukku agar membuka hadiahnya. ‘’Laura,
bukalah! Pacarmu kan gak ikut di dalam tasnya, jadi gak akan ketahuan kalau
kita yang maksa.’’ Aku tertawa mendengar celoteh mereka yang gak sabar. ‘’Nanti
di kereta aja. Di sini satu dunia ngelihat semua,’’ kataku menolak.
Karena
teman-temanku terus membujuk, akhirnya aku membuka kado dari Def. Astaga! Tas
yang Def beri untukku adalah tas yang sama dengan yang mantannya pakai hari
ini, hanya warnanya saja yang berbeda. Aku mengangguk-angguk, sementara tas itu
beredar dari satu tangan ke tangan yang lain untuk diperhatikan dan dipuji.
Iyalah, itu tas mahal.
Tas
sudah kembali kumasukkan ke dalam kantung plastiknya. Aku terdiam setelahnya,
sementara teman-temanku mereka terus bercerita bergantian dan sesekali tertawa.
Sesekali aku ikut nyengir saja. Aku membatin; apa dengan pemberian semahal ini
Def gak meminta lebih? Tiba-tiba aku ingat Yazi. Iya Yazi. Kenapa di saat
seperti ini aku malah ingat Yazi?
Apa
kabar Yazi? Aku tiba-tiba merasa aku berse;ingkuh dari Yazi, padahal aku dan
Yazi hanya teman biasa. Teman yang tidak pernah benar-benat dekat. Hanya karena
dua tahun yang lalu dia pernah menemaniku menambal ban, dan menyapaku setiap
harinya aku merasa dekat. Def juga melakukan itu, dan Nino juga. Mereka berdua
bahkan lebih dekat dari pada Yazi. Tapi,
kenapa di saat seperti ini aku teringat Yazi?
Komentar
Posting Komentar