Bab 27 Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku

 


27. Kan

Pagi ini seperti pagi yang lain sebelumnya, aku mesti bangun pagi untuk bersiap ke sekolah. Ibuku menyelipkan sebungkus makanan, karena aku enggan untuk sarapan seperti biasanya. Bayangkan saja, lima seperempat aku sudah siap dengan seragam dan sepatu, mana enak di jam seperti itu makan. Perut pasti akan protes, kecuali lebih pagi sedikit dan berniat puasa alias makan sahur, itu lain cerita.

‘’Apa isinya, Bu?’’ tanyaku.

Pagi ini ibuku melakukan sabotase, karena di pagi sebelumnya begitu ibuku datang dari membeli sesuatu aku sudah pergi dengan mobil yang membawaku ke kota. ‘’Lemper tiga biji, terus ada pisang gorengnya juga.’’




 Aku tertawa, ada pisang gorengnya juga itu berapa. Jangan-jangan ibuku menaruhnya banyak, dan aku akan memakan itu sampai istirahat ke dua pun tetapa stay di kelas nanti.

‘’Berapa pisangnya?’’ tanyaku karena bungkusan terlanjur sudah masuk tas dan aku malas membukanya lagi.

 ‘’Lima.’’ Aku tertawa saja, l-i-m-a itu terlalu banyak untuk bekal, apalgi ada yang lainnya. Tidak mungkin kukeluarkan, itu akan melukai ibuku.

Begitu aku pamit dan kemudian keluar pagar mobil yang biasa kunaiki datang. Aku langsung mengangguk ketika sopir menanyakan apakah aku akan ikut sekarang atau mobil yang selnjutnya datang. ‘’Sekarang aja, Pak.’’ Mobil berhenti dan aku naik.





Sebuah kejutan, ada Yaza di bangku paling belakang. Dia yang sedang bicara dengan Dion yang menatapku. Entah ada angin apa Dion naik angkutan umum, biasanya dia membawa motor ke sekolahnya.

Aku hampir gak pernah bicara dengan Dion, dulu memang Dion kerap meledekku ketika bertemu; Cantik mau ke mana? Tetapi setelah Dion berpacaran dengan Isma yang teman sekelasku semasa di kelas sembilan dulu, dia gak pernah lagi melakukan itu. Paling dia hanya menegurku; Laura!. Dan aku biasanya mengangguk saja. Mungkin dia takut aku mengadu kepada Isma. Sayang kalau kehilangan Isma, dia cantik dan baik.

Dion sangat tampan, hanya saja aku cuma sebatas mengaguminya saja, aku gak pernah benar-benar jatuh hati padanya. Mungkin karena dia tetanggaku dan aku terbiasa melihatnya sebagai kakak kelas sedari kecil.



Dion itu masuk kategori cowok cakep, aku mengakuinya berkali-kali, dan ini entah kali ke barapa, kalau dia ternyata berteman baik alias sahabatan dengan Yaza, teori yang selama ini kudengar kalau makhluk hidup itu lebih nyaman dengan yang sejenis itu benar adanya berarti; yang cakep cenderung berteman dengan yang cakep lagi, yang otaknya encer cenderung berteman dengan yang otaknya encer lagi.

Aku bersikap biasa saja. Aku tidak tertarik dengan Yaza atau Dion, meski kata mereka pengagum keduanya aku itu gak normal. Ini masalah selera saja. Seleraku adiknya Yaza.

 Tidak berapa lama kemudian mobil berhenti dan ada lima anak sekolah yang masuk. Dua di antaranya adalah Zee dan Eva. Suasana mobil menjadi ramai sekali, Satu dengan yang lain bersahutan, apalagi setelah Dion meroasting Eva yang sepupunya.

Sembilan puluh delapan persen penumpangnya anak sekolah, alias semua penumpangnya anak sekolah, dan yang dua persen itu hitungan supir dengan kernetnya. Kok, bisa dua persen? Anggap saja begitu biar gampang. Dion yang memang pandai bicara bersahutan dengan Zee yang membela Eva. Yang lain hanya kebagian tertawa.

Suasana menjadi sepi setelah Dion sibuk bicara dengan Yaza, hanya berdua saja. Sdang yang lain sibuk diam menikmati pemnadangan sepanjang jalan dari kaca.

 ‘’Ini tas baru yang kado kemarin?’’ tanya Zee kepo. Aku mengangguk. ‘’Wah, bagus banget. Ini kan tas yang lagi banyak dipengenin cewek-cewek. Pacarmu itu pengertian banget, beliin tas harganya mahal gini.’’

Aku meralat perkataan Zee, ‘’Dia bukan pacarku. Aku jomlo. Aku gak laku, Zee.’’

Zee tertawa, ‘’Gak punya pacar gak papa, yang penting ada yang ngasih tas baru dna mahal. Kalau kamu gak mau, kasih dia buatku, nomornya berapa?’’





Eva langsung meng-cut kegilaan Zee, ‘’Hee, Zee! Istighfar. Jangan main serobot aja.’’ Semua yang mendengar tertawa.

‘’Iya, nih, Zee, semangat banget. Siapa yang dikasih kado, siapa yang antusias,’’ celetuk penumpang lain di bangku belakangku. Aku mengenal dia, dia juga mengenalku.

‘’Eh, dari pada dianggurin, gak, sih? Laura katanya mending jomlo, alias mau solo player, kasihan kan, anak orang ditolak. Dari pada aku nganggur, sebagai jomlowati sejati aku menawara diri, menginjak harga diriku sebagai senior. Gak papa adik kelas juga, yang penting punya pacar, malem Minggu jadi gak sendirian.’’ Seisi mobil tertawa, aku melihat kernet dan supir juga ikut tertawa. Zee memang paling-paling.


‘’Tapi, tasmu memang mahal, sih, Laura. Itu bikin ngiri kita semua. Padahal aku udah naksir dan pengen beli ngeduluin kalian. Eh, pacarnya Laura udah ngasih duluan.’’ Eva mengatakan itu dan Zee ikut mengangguk.

‘’Maksudnya apa, nih, Kalian ngebahas tas, atau kalian masih ngira dia pacarku?’’ tanyaku.

 Tentu saja suasana terpancing menjadi lebih seru. Suasana yang tadi menyepi, kembali ramai lagi. Sebagian bilang tasku bikin ngiri, sebagian lagi pacarku bikin ngiri. Lalu, kami tertawa lagi. Aku tahu mereka bisa membelinya kapan mereka mau, dan masalah pacar aku tahu mereka memang pilih-pilih, dan hampir semua yang ada di mobi ini aku tahu masih jomlo, kecuali Dion.



Yaza? Kurasa dia juga jomlo. Dari pada tidak ada bahasan dan suasana mobil sepi, sementara mendengarkan musik kita semua sedang bosan, jadi bercandaan seperti ini adalah pilihan terbaik.

Mobil sudah sampai. Aku, Eva, Dion, dan Yaza satu tujuan. Zee dan beberapa anak yang lain satu tujuan. Kami berpisah dan mesti melanjutkan dengan mobil lain atau berjalan kaki. Tapi, Eva memintaku untuk berjalan kaki saja, dan ternyata Dion dan Yaza juga memilih berjalan kaki. Aku bicara dengan Eva, dan Yaza dengan Dion. Kami berjalan berempat. Eva lumayan receh, dia gak membahas tentang tasku lagi, tetapi dia membahas tentang hal lain.

Lmmayan capek kakiku, dan akhirnya sampai di depan gerbang sekolahku, aku mesti masuk, sementara Eva, Dion, dan Yaza mesti berjalan sedikit lagi untuk sampai ke pintu gerbang sekolah mereka.



‘’Daa, Laura!’’ Aku melambaikan tanganku membalas ucapan Eva. Aku mengangguk kepada Dion, sementara Yaza menatapku tidak berkedip. Aku mesti menjaga harga dirinya di hadapan Dion dan Eva, aku mengangguk juga kepada Yaza, Yaza akhirnya membalas anggukan kepalaku.

Mereka bertiga melanjutkan langkah kakinya menuju sekolahnya yang bertetanggaan dengan sekolahku, sementara aku masuk ke area sekolah dan tiba-tiba teringat Yazi. Semua karena Yaza menataopku dan terlihat berbeda. Yazi, kenapa aku tiba-tiba ingin tahu kabarnya. Entah kapan lagi aku bisa bertemu dengannya, kalau bukan karena sedang beruntung aku memang benar-benar gak pernah bertemu Yazi, meski setiap Jumat sore dia jua kerap naik kereta satu arah denganku.

Yaza pasti tahu aku itu satu angkatan dengan Yazi adiknya. Mungkin kalau nanti aku kangen dengan Yazi, aku bisa meminta nomor Yazi. Kurasa dia sudah mengganti nomornya yang dulu. Tapi, apa aku punya keberanian? Tatapan mata Yaza terlau menusuk, aku sedikit merasa takut.



Tiba-tiba setelah hamoir dua tahun melanjutkan sekolah di sekolah ini, aku merasa kalau Yazi satu sekolah denganku aku akan merasa lebih senang. Iya, seperti itu kukira. Aku bisa pulang dan pergi bersama. Meski aku tahu pasti Yazi di mana pun akan dikelilingi cewek cantik. Tapi, dari cara Yazi menatapku, aku merasa apa yang dulu Riana katakana benar, kalau Yazi punya hati untukku lebih besar dari pada yang dia berikan kepada cewek-cewek yang mengejarnya.

Bagaimana dengan mata Yaza? Aku curiga, Yaza menyukaiku. Entah mengapa tiba-tiba terbersit rasa takut aku tidak akan pernah bersama Yazi, karena Yaza menyukaiku. Tapi, bagaimana kalau ternyata Yazi dengan yang lain dan yang tersisa hanya Yaza? Aku gak tahu. Karena kenyataannya sampai sekarang aku tidak dengan Yazi. Mungkin Yazi sudah mempunyai pacar, begitu juga dengan Yaza. Berati pagi ini fix otakku yang eror!

‘’Tasnya bagus, beli di mana?’’ tanya seseorang yang suaranya kukenal baik.



Benar, ternyata itu Def. Aku menoleh dan dia sudah menjajari langkahku saja. ‘’Kaget, Def. Kukira hantu sepagi ini. Kok, kamu jalan pagi? Biasanya siangan. Kamu kan naik motor, bisa datang bahkan lima menit sebelu bel.’’

‘’Pagi-pagi udah ngomel. Jangan suka ngonmel. Ntar aku cium!’’ Aku kaget sekali dengan candaan Def. Aku menatap ke arah Def. Dia gak peduli, dia malah memegangi lenganku dan mengajakku meneruskan langkah. ‘’Udah, ayo, kita ke kelas!’’

‘’Tapi, aku mau protes kamu ngomong apa tadi?’’ tanyaku kesal.

 ‘’Kenapa emang kalau aku mau nyium kamu? Kan kamu tinggal bilang mau atau gak mau.’’ Dengan ringannya Def mengatakan itu.

‘’Kamu tahu, Def? Tas ini dan sepagi ini kamu udah berangkat, terus narik tamganku, apa mantanmu gak marah-marah? Aku gak mau terlibat.’’

Def tertawa. ‘’Kalau dia bikin msalah, aku yang bakal maju, Tenang aja.”

 

 

 

 

 

 

Komentar