28.
Kesalahan yang Kubuat
Ini
entah Jumat sore yang ke berapa. Dan, aku yang menerima rapor dan Senin depan resmi
menjadi penghuni kelas sebelas semester dua hanya bisa mengubur Yazi menjadi
masa lalu yang gak akan pernha menjadi masa depan, kurasa seperti itu. Aku sudah
hampir melupakan Yazi, dan Def sekarang yang mengisi hari-hariku. Aku dan Def
hanya teman duduk di pagi sebelum bel masuk. Itu saja. Aku mengaris bawahi itu,
karena aku memang sama sekali tidak tertarik untuk menjadikan Def pacarku.
Alasannya?
Aku gak tertarik saja. Susah kalau hatiku sudah bilang gak tertarik, mau Def
sesetia apa menemaniku, hatiku sudah gak berminat lagi. Setiap hari? Ya, setiap
hari aku menunggu anak lain datang dan aku duduk bersisian dengan Def. Apa Def
gak pernah berusaha untuk lebih dari sekadar teman? Gak juga, tapi mungkin
akhirnya Def terbiasa dan menganggap aku dan dia itu sahabat saja.
Aku sudah duduk di bangku tunggu, menunggu kereta menyalakn mesin dan berangkat. Malas menunggu terlalu lama di dalam kereta. Anak-anak sekolah dari kota lain yang akan naik kereta menunju stasiun dekat rumahku sudah berdatangan. Aku hafal muka-muka mereka. Jangan tanya anak-anak yang kost di kota ini dan juga akan menuju stasiun yang sama, banyak sekali dan seperti tumpah ruah. Satu stasiun sebesar ini hampir terlihat memakai putih abu semua.
Yaza
datang sendiri. Dia menatapku sesaat, setelahnya dia duduk di bangku yang
kosong, lebih tepatnya barisan belakangku. Di dekatku tentu saja Zee, Eva dan
pasukannya. Ramai seklai. Mau gak mau aku mesti balik badan akhirnya, karena
Zee menggodaku. ‘’Yang ditunggu gak ada, Laura. Jomlo itu nunggu siapa? Nunggu
pacar orang? Yang ngasih tas aja dibuang orangnya, gimana yang modal cinta
doank?’’ Yang lain tertawa.
Aku
menggeleng-gelengkan kepala, aku akhirnya mengubah posisi dudukku, bergabung
dengan mereka semua. ‘’Apa sih, Zee? Sebagai sesame jomlo jangan mendahului!’’
protesku sambil tertawa.
Yang
lain tentu saja tertawa. Yaza menatapku dari duduknya. Dia ikut tertawa.
‘’Kamu
ternyata bisa ketawa?’’ tanya Yaza padaku. Suasaan tambah ramai.
‘’Awas
Laura, Yaza jatuh cinta! Wah, Yaza ternyata.’’
Aku
hanya tertawa menaggapi celotehan yang akhirnya judulnya adalah membullyku.
Siapa lagi dalangnya kalau bukan Zee dan Eva.
Tiba-tiba
ada yang datang dan mendekati Yaza, dia adalah Yazi. Dia bicara sesuatu dengan
Yaza, kurasa itu urusan kakak beradik. Aku kaget sekaligus senang. Aku
yang sudah lama gak melihat batang
hidungnya, sekarang melihat Yazi ada di depanku.
Tidak
berapa lama teman sebangkunya Riana akhirnya datang mendekat juga. Aku langsung
jaga jarak. Dan, Yazi melihat perubahan air mukaku. Tentu saja, karena posisi
Yazi menghadap ke arahku, dan dia berbicara dengan Kakaknya sambil seselai
melihat ke arahku.
‘’Laura,
mau naik ke kereta gak, sekarang?’’ tanya Yazi. Aku menggeleng.
‘’Duluan aja Yazi, aku sama teman-teman yang
lain.’’
Yazi
terlihat kecewa. Dia mengangguk. Yazi akhirnya pergi dengan gerombolannya, di
antaranya tentu saja teman yang duduk sebangku dengan Riana ketika kelas
sembilan dulu.
Aku
mengubah posisi dudukku. Aku memperhatikan Yazi yang berjalan menuju kereta
dengan teman-temannya. Ada rasa perih yang tiba-tiba mengiris dadaku. Jangan-jangan
aku jatuh cinta berat kepada Yazi, tapi selalu berusaha menepisnya. Andai aku
bisa meyakinkan diriku, mungkin akan lebih baik, tapi setiapa aku ingin aku
melihat Yazi bersama cewek lain, selalu
begitu. Aku dulu pernah patah karena Ifu, dan aku bisa move on, tetapi dengan
Yazi aku kenapa susah sekali?
‘’Giaman
rapormu, Laura?’’ tanya Zee yang melihat aku memperhatikan Yazi.
‘’Bagus,
tapi aku gak mau kasih lihat. Males ambil dari tasku.’’
Zee
mengangguk, ‘’Gak maslah. Terus kamu sama yang ngasih tas?’’
Aku tertawa, ‘’Setiapa pagi aku sama dia,
sampai satu sekolah tahu dikira aku sama dia ada hubungan.’’
Zee
tertawa, ‘’Padahal iya, kan?’’ desak Zee. Aku menggeleng.
‘’Cewek
yang sama adiknya Yaza itu kurasa bukan pacarnya. Dia cuma pengen jadi pacarnya.
Tapi, dia gak akan dapetin hatinya.’’ Zee mengatakan itu, dan aku hanya tertawa
saja.
‘’Kamu tahu kenapa, Laura?’’ tanya Zee
kepadaku. Aku menggeleng. ‘’Karena dia, adiknya Yaza cuma suka sama kamu. Tapi,
kamu jangan ngarep jadian sama dia, karena cewek itu gak bakalan ngebiarin kamu
deket sama adiknya Yaza.’’
‘’Jadi,
kamu merhatiian selama ini?’’ tanyaku kepada Zee.
Zee
tertawa, ‘’Aku itu seniormu. Kelihatan banget ada apa-apanya dia sama kamu.
Emang pernah deket apa gimana dulunya? Atau dia itu mantan kamu terus minta
balikan dan kamu ngegantungin?’’
Aku menggeleng.
‘’Jangan
bohong, Laura! Kelihatan banget kalau dia itu suka dan sayang sama kamu.’’
‘’Gak
ada apa-apa. cuma temen sekelas aja. Udah, kalau kamu mau jadian sama Yaza,
jadian aja. Gak usah nyuruh aku jadian sama adiknya.’’
Aku
mengatakan itu agar Zee berhenti mengompori hatiku yang semakin sakit.
‘’Kan,
kita bisa barengan, jadi satu keluarga besar nantinya, aku sama kakaknya, kamu
sama adiknya, anak kita jadi sepupuan. Bener, kan?’’ ledek Zee, dan aku
mencubit lengan Zee.
‘’Bangun, Zee! Jangan mimpi mulu. Aku mau ke kereta, dari pada dengerin analisamu yang aneh, ilmiah kagak, bikin pusing iya.’’
Zee
tertaw-tawa, dan aku benar-benar bangun dari dudukku. Aku pergi menuju kereta.
Zee, Eva dan yang lain yang sedang asyik bicara dengan Yaza langsung ikutan
bangun menyusulku dan kami naik kereta di gerbong yang sama.
Bangku
penumpang di gerbong ini ada empat memanjang. Rombongaku duduk di pinggu dekat jendela
semua, padahal biasanya kami saling berhadapan. Di samping kiriku ada Zee, dan
di samping kananku duduk Eva. Mereka berdua bicara dengan anak yang
bersebelahan dan aku diam sendiri.
Yazi
tiba-tiba sudah duduk di depanku. Dia menatapku. ‘’Kamu kenapa, Laura? Kamu gak
kenal aku lagi? Kamu jadi aneh. Dan, kamu gak peka.’’
Aku
diam saja. Saat Yazi mengatakan itu entah kenapa aku ingin dipeluk dan ingin
menangis sejadi-jadinya di pelukan Yazi. Tapi, itu tidak mungkin. Aku hanya
bisa menatap Yazi, kemudian menunduk.
‘’Kamu
akan diam begitu dan gak mau ngomong sama aku lagi?’’ tanya Yazi. Aku tetap
menunduk.
‘’Oke,
aku memang udah gak ada tempat berarti, bahkan untuk sekedar denger kamu nyapa
dan lihat kamu senyum.’’
Yazi
menungguiku. Aku terus menunduk. Setelah bunyi peluit terdengar Yazi bangun
dari duduknya dan pindah ke gerbong lain.
Setelah
Yazi pergi aku menyeka sir mataku yang mau menetes.
‘’Kamu
baik-baik aja?’’ tanya Zee kepadaku.
Aku
mengangguk. Zee tidak mengatakan apa-apa. Dia membiarkanku. Dia juga gak
bertanya kalau Yazi bicara apa padaku. Pasti Zee sudah mendengarnya.
Handphoneku
bergetar, ada panggilan masuk. Ketika aku melihatnya itu dari Def. Aku sedang
sedih dan malas menerima panggilan dari Def. Aku mengetik pesan; Jangan
sekarang, aku habis berantem sama pacarku.
Def
membalas pesanku; Hebat juga, cewek sekulkas kamu punya pacar. Spill wajahnya.
Aku
membalas pesan Def; Nanti kamu jatuh cinta sama dia.
Def
membalas pesanku; Oke, kalau begitu. Tapi, kamu sialan, kamu kira aku belok.
Lihat aja, urusan kita belum selesai. Sampai ketemu hari Senin!
Aku
membiarkan pesan itu. Aku benar-benar sedih. Tapi, mungkin bagus begini, meski
sakit setidaknya Yazi gak akan terus menunggu aku peka. Biar saja Yazi marah.
Akan lebih baik kalau Yazi menjauh, aku malas dengan fansnya dan Yazi yang gak
jaga jarak dengan mereka. Aku itu pencemburu, tapi Yazi selalu membuatku
cemburu. Itu melelahkan. Mungkin lebih baik begini, semua menggantung sampai
Yazi kelak ngasih tahu aku siapa kekasihnya yang sebenarnya.









Komentar
Posting Komentar