Namaku Bunga Ayahku Anjing Ibuku Serigala (Bab 10)

 








 Namaku Bunga Ayahku Anjing Ibuku Serigala

Penulis; Nurlaeli Umar


Daftar isi:

1.      Kepada Temanku Air, Daun, dan Api         

2.      Bandit Bandit Kecil Beraksi                                 

3.      Senyumku Menyelamatkanku                     

4.      Malam yang Menyiksa                                 

5.      Teman yang Pengacau                                 

6.      Tamu yang Berbeda                                     

7.      Melawan Bosan                                             

8.      Aku Bisa Berjalan                                        

9.      Raporku Kebakaran                                    

10.  Aku Harus Bisa Membaca                           

11.  Aku Cantik                                                    

12.  Aku Bisa Berlari                                           

13.  Aku Berharga                                                

14.  Aku Ingin Mati Saja                                     

15.  Belajar Memahami                                        

16.  Aku Baik Baik Saja                                      


Namaku Bunga. Umurku lima tahun. Aku anak pertama. Aku hanyalah penakut yang keras kepala.  Aku masuk ke kelas satu dengan memaksa ayah dan ibuku mendaftarkannya, karena aku membenci kesepian.

Ayah dan ibuku selalu sibuk, orang dewasa yang harus bekerja. Kupikir sekolah dan berada di keramaian anak-anak lain adalah hal yang menyenangkan. Ternyata tidak seperti itu. Aku sangat ketakutan, dan sangat bingung. Semua karena aku yang aneh.

Aku bahkan tidak pandai berjalan, apalagi berlari. Aku adalah bahan tertawaan anak-anak lain. Aku tidak bisa menulis seperti anak lain, semua terasa sulit. Belum lagi ibu guru kelasku yang kerap berteriak.

Membaca dan berhitung, semua itu tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Kupikir bersekolah itu bersenang-senang dan bisa membunuh kesepian. Belum selesai dengan satu ketakutan aku mencoba ketakutan yang lain. Aku mengaji dan sama saja, aku selalu terlambat menjadi tidak aneh. Aku ingin mati saja, sayang nenekku tidak memberitahu bagaimana cara untuk mati,

Ayahku dan ibuku tidak membantu sama sekali. Mereka pikir aku normal seperti anak-anak yang lain saja. Kejadian-kejadian buruk menimpaku, dan aku belajar karenanya. Orang dewasa selalu berpikir menjadi anak kecil itu mudah, itu sebabnya mereka tidak peduli. Tapi, benarkah aku butuh mereka peduli? Entahlah.


10. Aku Harus Bisa Membaca

Aku mulai memikirkan kata-kata temanku, aku akan berusaha untuk bisa membaca. Aku melakukan itu agar aku tidak ngendog saja. Aku tidak masalah dengan nilai raporku yang merah. Aku bersungguh-sungguh dengan niatku.

Saat jam istirahat aku sudah bisa berdiri agak lama. Setidaknya aku sudah bisa melangkah mendekati temanku yang bermain, meski aku tetap mencari dinding atau tiang untuk menopang agar aku tidak jatuh. Senang sekali melhiat mereka bermain, melompat, dan tertawa. Aku juga senang meski hanya bisa ikut tertawa. Setidaknya aku tidak sendirian lagi.

Tiba-tiba mereka bubar dan pergi. Teman sebangkuku yang digandeng tangannya oleh teman yang lain menoleh kepadaku, ‘’Kamu mau jajan?’’ Aku menggeleng. ‘’Sini uangmu, nanti aku kembalikan lagi.’’ Tentu saja aku senang, karena dia selama ini tidak pernah meminjam uangku, dan kali in dia mau meminjamnya. Aku mengeluarkan uangku, dia kemudian berlari bersama teman yang lainnya.

Aku merasa senang rasanya, berbeda rasanya ketika aku meminjamkan uang itu kepada teman yang lainnya. Dia pergi agak lama. Teman yang biasa meminjam uangku datang kepadaku, mukanya manis. Dia datang berdua dengan temannya yang aku tidak tahu siapa namanya. ‘’Bunga aku pinjam uangmu, nanti kukembalikan. Ini temanku juga akan meminjamnya juga, boleh, kan?’’

Aku mengangguk, dia menadahkan tangannya. Aku menggeleng. ‘’Uangnya sudah dipinjam yang lain barusan.’’ Dia merengut. ‘’Kamu sudah tidak mau berteman denganku lagi ternyata, sekarang aku bukan yang pertama meminjam uangmu, tetapi kamu memberikannya kepada orang lain.’’

Aku tidak tahu apa bedanya pertama dan ke dua, bagiku sama saja, mereka datang meminjam uangku, mengembalikannya, kemudian pergi meninggalkan aku sendiri, begitu silih berganti. Dia melirik teman satunya lagi, tiba-tiba temannya mulai bicara yang membuatku kaget, aku tidak pernah diperlakukan seperti itu sebelum ini. ‘’Dasar kamu pipi tembem, tapi kurus! Kamu itu gak cantik, dan gak bisa baca! Pasti nilai rapor kamua merah semua, dan pasti tahun depan ngendog!’’

Aku menatap ke anak yang sebelumnya belum pernah kulihat itu. Kurasa dia kelas di atasku. Mungkin kelas dua atau kelas tiga. ‘’Kalau kamu tidak mau meminjamkan uang itu, aku dan temanmu akan mengatakan kepada ibumu, kalau di sekolah kamu itu nakal!’’ Tentu saja aku memprotesnya. ‘’Aku gak nakal!’’ Tetapi, anak itu lebih pandai berkata-kata dariku, ‘’Ibumu mana percaya, buktinya anak yang lain bisa membaca, tetapi kamu tidak sama sekali dan sering dihukum di depan kelas.’’

Ingin rasanya aku marah dan berteriak, tetapi aku tidak pernah melakukan itu, ibuku akan mencubitku ketika aku mulai memprotes dengan mamanggil ‘bu’ lebih kencang di rumah. Ibuku akan mencubit pahaku atau memukulku dengan gagang sapu. Bagaimana kalau ibuku tahu aku kerap dihukum di depan kelas? Mungkin aku juga tidak boleh lagi bermain boneka, selain harus belajar membaca dengan ibuku di bawah intimidasinya dengan pukulan penggaris di meja. Menakutkan sekali.

Anak yang duduk sebangku denganku sudah datang, dua anak yang mengancamku pergi. ‘’Kamu dinakalin?’’’Aku menggeleng. Aku terbiasa tidak mengeluh di rumah. Aku menggeleng lagi. ‘’Dia meminta uangmu?’’ Dari mana teman sebangkuku tahu? Aku menggeleng. ‘’Jangan beri dia uangmu. Kamu bahkan tidakbisa jajan sama sekali, bukan?’’ tanya teman sebangkuku. Aku tidak mau mengeluh. Aku diam saja.

‘’Ini, uangmu, dan ini kuenya.’’ Teman sebangkuku memberikan itu padaku. Aku ingin bertanya kenapa dia memberiku kue, tapi dia sudah berlari ke arah lain bersama temannya. Aku memasukkan uangku ke dalam saku. Ternyata masih banyak, dari satu uang menjadi banyak. Aku bingung, bagaimana bisa?

Kuenya kumakan, dia memberiku dua kue. Rasanya enak, Aku menyukainya. Tentu saja setelahnya uang itu dipinjam anak lain sampai tidak bersisa. Terpikir olehku andai aku bisa berjalan ke kantin dan tidak jatuh, pasti aku akan tetap bisa makan kue dan meminjamkan uangku kepada temanku.

Aku mulai berpikir setelah hari itu. Satu, kenapa temanku tidak meminjam uangku, tetapi memberikanku kue yang enak. Yang ke dua, kapan aku bisa membaca. Aku tidak tahu harus dari mana mulainya, tapi aku yakin aku pasti bisa membongkar kedua pertanyaanku dan mendapatkan jawabannya.

Aku memperhatikan buku cetak yang dibagi di sekolah. Karena, bu guru kerap mengulang membacanya aku tentu saja bisa membacanya karena hafal. Aku mulai memperhatikan  satu kata. Aku mengejanya. Hanya mengeja huruf mati dan huruf  hidupnya. Aku berusaha memecahkan bagaimana huruf-huruf itu menjadi begitu cara membacanya. Aku mulai bisa sedikit demi sedikit. Aku bisa membedakan bagaimana b-u-k-u dibaca menjadi buku, dan b-a-n-g-k-u menjadi bangku. Berarati n dan g itu menjadi satu.

Tentu saja kemampuan membacaku masih sangat-sangat lambat. Di saat temanku mulai menggabungkan satu kata dengan kata yang lain menjadi satu kalimat, satu kalimat disambung kalimat lain, aku masih terbata mengejanya. Tapi, aku tidak putus asa. Masih lambat, tetapi benar, bagiku itu sudah hebat.

Siang ini aku pulang sekolah dan mendapati hal yang menakutkan. Ketika aku membuka pintu belakang, semua yang ada di rumahku raib. Aku berusaha berjalan dari dapur ke ruang tengah, kemudian ke ruang depan, semua kosong. Hanya ada ruangan tanpa perabot sama sekali. Bahkan, bonekaku meninggalkanku sendirian di sini. Aku keluar dan menangis di depan pintu belakang.

Aku merasa sangat haus dan lapar sekaligus. Aku merasa sendiri dan ditinggalkan. Aku menangis sejadi-jadinya. Melihatku menangis seseorang yang mengenal ibuku mendekatiku. Kurasa kebetulan dia lewat dari jalan besar depan rumahku yang jarang dilalui orang, karena jalan itu hanya ramai ketika hari pasar saja. ‘’Kenapa kamu menangis?’’ tanya perempuan itu. ‘’Ibuku hilang, semua yang ada di dalam .rumah hilang.’’

Orang itu menepuk bahuku, ‘’Ibumu tidak mengatakan kalau hari ini rumahmu pindah ke dekat pasar? Ibumu pindah ke rumah kosong milik nenekmu.’’

Aku hanya melongo. Ibuku pindah, dan terlupa mengatakan itu kepadaku? Lelucon seperti apa ini? ‘’Ayo, kuantar!’’ Perempuan itu menawarkan diri mengantarku. Aku menggeleng. ‘’Aku bisa. Aku mengatakan itu karena kakiku terasa lemah. Aku pasti butuh waktu lama untuk sampai, meski jaraknya hanya dua ratus meter dengan arah berlawanan dengan arah menuju sekolahku dan mesti melewati jalan berbatu dan sepi di depan rumahku.

‘’Benar bisa sendiri?’’ Aku mengangguk. Perempuan itu mentapku sambil teraenyum, dia memastikan apa aku benar bisa atau perlu bantuannya. Aku mengangguk, menghapus air mataku dan ingus yang ikut keluar. Dia tertawa melihatku yang mungkin lucu di matanya, karena mengusap semuanya dengan rok seragam yang kupakai. ‘’Ya, sudah kalau begitu, aku pergi.’’ Aku mengangguk.

Aku pergi dengan langkah satu-satu. Ibuku benar-benar aneh. Pindah rumah sampai lupa kepada aku anaknya. Kemarin dan semalam semua baik-baik saja. Tidak ada persiapan mengepak sesuatu atau apa pun, semuanya wajar seperti biasa.

Aku berjalan dengan tenang, karena tidak akan ada yang menegurku ketika kakiku merasakan sakit. Tidak ada orang yang melintas. Belum lagi jalan ini penuh dengan batu dan terik yang menyengat, keduanya seolah meghajar siapa pun yang lewat di jam seperti ini. Orang-orang lebih memilih jalan di depan sekolahku, jalan dari tanah. Meski berbatu, tetapi lebih banyak tanahnya. Pohon-pohon di pinggir jalan pun bisa meneduhi pejalan kaki jika merasa kepanasan.

Benar saja, aku akhirnya sampai. Bajuku penuh keringat, dan ubun-ubunku terasa ingin meletus kepanasan. Aku sampai di pintu rumah di samping rumah nenekkku. Aku berjalan ke belakang menemui ibuku lewat pintu belakang. Ibuku dengan ringannya tertawa, ‘’Ibu lupa memberitahumu, maafkan Ibu!’’ Tidak ada pilihan lain selain diam. ‘’Aku haus,’’ kata itu yang keluar dari mulutku. Aku sudah kenyang menangis tadi, air mataku sudah habis.

 

 

 

 

 

 

 

 


Komentar