Namaku Bunga Ayahku Anjing Ibuku Serigala (Bab 11)

 







 Namaku Bunga Ayahku Anjing Ibuku Serigala

Penulis; Nurlaeli Umar


Daftar isi:

1.      Kepada Temanku Air, Daun, dan Api         

2.      Bandit Bandit Kecil Beraksi                                 

3.      Senyumku Menyelamatkanku                     

4.      Malam yang Menyiksa                                 

5.      Teman yang Pengacau                                 

6.      Tamu yang Berbeda                                     

7.      Melawan Bosan                                             

8.      Aku Bisa Berjalan                                        

9.      Raporku Kebakaran                                    

10.  Aku Harus Bisa Membaca                           

11.  Aku Cantik                                                    

12.  Aku Bisa Berlari                                           

13.  Aku Berharga                                                

14.  Aku Ingin Mati Saja                                     

15.  Belajar Memahami                                        

16.  Aku Baik Baik Saja                                      


Namaku Bunga. Umurku lima tahun. Aku anak pertama. Aku hanyalah penakut yang keras kepala.  Aku masuk ke kelas satu dengan memaksa ayah dan ibuku mendaftarkannya, karena aku membenci kesepian.

Ayah dan ibuku selalu sibuk, orang dewasa yang harus bekerja. Kupikir sekolah dan berada di keramaian anak-anak lain adalah hal yang menyenangkan. Ternyata tidak seperti itu. Aku sangat ketakutan, dan sangat bingung. Semua karena aku yang aneh.

Aku bahkan tidak pandai berjalan, apalagi berlari. Aku adalah bahan tertawaan anak-anak lain. Aku tidak bisa menulis seperti anak lain, semua terasa sulit. Belum lagi ibu guru kelasku yang kerap berteriak.

Membaca dan berhitung, semua itu tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Kupikir bersekolah itu bersenang-senang dan bisa membunuh kesepian. Belum selesai dengan satu ketakutan aku mencoba ketakutan yang lain. Aku mengaji dan sama saja, aku selalu terlambat menjadi tidak aneh. Aku ingin mati saja, sayang nenekku tidak memberitahu bagaimana cara untuk mati,

Ayahku dan ibuku tidak membantu sama sekali. Mereka pikir aku normal seperti anak-anak yang lain saja. Kejadian-kejadian buruk menimpaku, dan aku belajar karenanya. Orang dewasa selalu berpikir menjadi anak kecil itu mudah, itu sebabnya mereka tidak peduli. Tapi, benarkah aku butuh mereka peduli? Entahlah.



11. Aku Cantik

Hari berganti, kemampuan membacaku menjadi lebih baik dari hari ke hari. Aku men-challange diriku sendiri setiap ada tulisan entah itu di buku, di sobekan koran, atau di badan truk yang lewat dan berjalan pelan. Aku kadang berteriak membacanya meski salah. Kadang aku membacanya kimas, dan orang dewasa yang kebetulan lewat membetulkan dengan mengatakan ‘’Itu bacanya Kijang Mas.’’

Aku mengingat huruf-huruf itu ketika di lain waktu truk itu lewat. Truk yang membawa pisang dan gula merah dari sekitaran kampung ke kota jauh. Entah ke mana. Terkadang temanku yang sok tahu membaca tulisan di bungkus kerupuk dan aku memungutnya setelah mereka pergi. Semakin hari aku semakin bisa.

Aku hanya sesekali di hukum di kelas. Itu sebuah kemajuan. Cara menulisku lebih bagus. Nilaiku naik meski hanya mendapat lima, setidaknya tidak dua lagi.

Masalahku masih sama seperti hari-hari sebelumnya, uang jajanku masih dipinjam anak-anak lain , meski teman sebangkuku kerap meminjam dan memberiku makanan. Tapi, hari ini aku sangat sedih. Teman sebangkuku yang sedang mendekat kepadaku ditarik tangannya oleh teman yang lain, ‘’Kata mamaku jangan berteman dengan anak bodoh. Bodoh itu bisa menular.’’ Teman sebangkuku hanya menatapku, tapi aku tahu teman yang menariknya lebih menarik hatinya dari pada aku.

Mereka pergi dan berlari melewati lapangan pergi ke arah kantin. Aku menjadi berpikir aku bisa ke warung jajan di dekat gerbang, aku memang tidak tahu aku bisa apa di sana, di mana terlihat dari sini banyak anak-anaknya saling berebut dan mengerumuni para pedagang itu. Tetapi, aku juga ingin mencobanya. Seridaknya tahu apa yang dilakukan banyak anak-anak di sana . Baru dua langkah kakiku menjejak ke lapangan sekolah, temanku yang biasa meminjam uang datang mendekat. Dia meminjam uangku, dan aku memberikannya. Aku sekarang berdiri tidak duduk lagi dan tidak bersandar ke dinding lagi. Aku menunggu temanku mengembalikan uang itu.

Dia akhirnya datang dan mengembalikan uangku. Baru saja aku melangkah temanku yang lain datang meminjam, kali ini karena aku harus membawa uang untuk mendekat ke arah warung dekat gerbang itu jadi tidak kupinjamkan. Ancaman itu keluar dari mulutnya, ‘’Aku akan mengatakn kepada ibumu kalau kamu tukang jajan di sekolah, makanya kamu bodoh tidak bisa membaca!’’ Aku sangat terkejut dengan tuduhan itu. Selama ini aku bahkan sama sekali tidak membeli dengan tanganku sendiri, mereka  yang menghabiskan uangku.

Teman yang lain datang membantu anak tadi dan mengataiku, ‘’Dasar jelek, pelit, gak cantik. Bodoh lagi. Kita sebaiknya tidak usah menemani dia! Biar dia sendirian saja.’’ Ingin rasanya aku menangis. Selama ini meski aku meminjami uang itu kepada mereka sampai akhirnya tidak kembali sama sekali aku tetap tidak ditemani. Temanku hanya tiang dan dinding, juga ejekan dari anak laki-laki yang lewat yang hanya bisa kujawab dengan diam.

Aku tidak terlalu sedih setelah mereka pergi. Aku itu Bunga, sepanjang aku melihat bunga tidak pernah kulihat ada bunga yang buruk. Apalagi bougenville di depan ruang kelas tiga yang berwarna oranye dan hampir mengusir rontok semua daunnya itu. Dia sangat cantik. Jadi, aku tidak peduli ketika temanku mengatakan aku tidak cantik, meski sebenarnya aku sedih dan ingin menangis tadi.

Di sisi lain hari ini aku sedang senang, kakiku ternyata tidak terlalu sakit berjalan dari rumah baru yang tentu leboh jauh jaraknya dari sekolah. Belum lagi aku tadi bisa membaca sebaris kalimat yang belum bu guru baca di depan kelas. Sebaris kalimat dari buku di halaman baru. Meski gemetar dan agak lama bacaanku hanya salah dua, aku masih membaca a-m-b-o-i dengan am-bo-i dan p-a-n-t-a-I dengan pan-ta-i. Ternyata cara membacanya berbeda.

Aku akhirnya memberanikan diri melanjutkan langkahku yang tertunda. Aku melangkah ke tengah lapangan. Aku sudah sampai di tengah lapangan. Kakiku masih bisa meski lambat untuk sampai ke warung samping gerbang. Seharusnya begitu, tetapi bel masuk berbunyi. Semua anak berlari masuk kelas. Aku bingung, aku tidak bisa berlari. Aku ingin menangis merasa bel tidak mendukungku, Kenapa dia berbunyi tidak menungguku sampai di warung dekat gerbang dan melihat ada apa sebenarnya di sana itu, lalu kembali ke kelas?

Mau tidak mau akhirnya aku kembali ke kelas, masih dengan langkah satu-satu. Suasana di luar kelas sudah sepi hanya aku saja. Baru saja aku hendak mencapai pintu kelas, teman-temanku berhamburan keluar. Aku bingung. ‘’Kenapa bingung? Kita pulang, gak belajar. Bu guru ada rapat!’’ Aku mengangguk. Aku menunggu teman-teanku keluar, baru aku masuk mengambil tasku.

Aku merasa beruntung. Akhirnya aku pulang dan besok berencana untuk mencoba berjalan lagi ke kantin. Aku tidak mau kalah dengan bel, aku berniat ketika bel berbunyi aku akan langsung berjalan ke kantin melewati lapangan, paling sial setelah aku sampai ke sana dan kembali ke kelas, bel itu baru akan berbunyi.

Temanku mungkin sudah sampai di tumah mereka masing-masing, ketika akhirnya aku terpaksa pulang melewati lapangan. Anak kelas atas sedang ada kegiatan di luar kelas mereka, aku tidak mau mengganggu. Kurasa yang rapat hanya guru kelasku saja. Jarang sekali ada kegiatan rapat di sekolahku dengan melibatkan banyak guru. Tadi aku mendengar beberapa anak yang mengatakan guru kelasku pergi ke kecamtan. Aku tidak tahu apa itu kecamatan, mungkin nama tempat yang jauh dari sini.

Aku akhirnya ke waung samping gerbang meski bukan di jam istirahat. Aku harus melewati warung itu baru ke pintu gerbang agar aku tidak mengganggu kakak kelas yng sedang melakukan kegiatan di depan kelas mereka.. Beberapa pedagang sedang membereskan barang dagangannya. Aku mendekat. ‘’Mau beli apa?’’ tanya penjual di kantin dengan ramah. Aku menggeleng. ‘’Kamu punya uang?’’ Aku mengangguk. Aku perlihatkan uangku. ‘’Apa uang ini bisa membeli ini?’’ tanyaku sambil menunjuk kue hijau, kue yang teman sebangkuu biasa membelikannya dengan uangku.

‘’Kalau dibeli semua ini masih ada kembalian. Ini sisa tiga. Mau semuanya?’’ tanya penjual di kantin itu menawariku. Senang sekali rasanya. Ternyata uangku yang sisa dipinjam masih bisa membeli kue hijau dan masih kembali juga. Aku mengangguk, kemudian aku menerima kue dan kembaliannya.

Aku pergi dari arah warung menuju ke pintu gerbang. Baru beberapa langkah aku berbalik badan kembali mendekat. ‘’Apa kalau uangku yang ini masih bisa untuk membeli bubur?’’ tanyaku menunjuk panci yang terbuka dan tinggal kerak sisa bubur. Orang itu tertawa, ‘’Sangat bisa.’’ Dia mengambil beberapa lembar uangku dan meletakkannya di meja, kamu hanya perlu uang ini dan ini untuk mebeli semangkuk bubur. Sayang sudah habis. Beli besok pagi saja.’’ Dia mengembalikan uang dari meja itu ke telapak tanganku dan aku mengangguk senang.

Ternyata selama ini karena kakiku aku menjadi sangat bodoh dan teman-temanku memanfaatkanku tanpa belas kasihan. Aku juga sekarang tahu di kertas uang ternyata tulisan itu mempunyai nilai. Aku berjanji akan semakin rajin belajar membaca, setidaknya aku bisa lolos di kelas dari hukuman bu guru, jajan di kantin, dan perutku kenyang. Tentang perkataan temanku yang mengatakan aku tidak cantik itu salah besar. Aku belum pernah melihat bunga buruk, jadi aku tidak jelek. Sebuah keyakinan yang menyenangkan dan aku belajar untuk tidak percaya dengan apa yang temanku katakana begitu saja.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Komentar