Namaku Bunga Ayahku Anjing Ibuku Serigala (Bab 12)

 







 Namaku Bunga Ayahku Anjing Ibuku Serigala

Penulis; Nurlaeli Umar


Daftar isi:

1.      Kepada Temanku Air, Daun, dan Api         

2.      Bandit Bandit Kecil Beraksi                                 

3.      Senyumku Menyelamatkanku                     

4.      Malam yang Menyiksa                                 

5.      Teman yang Pengacau                                 

6.      Tamu yang Berbeda                                     

7.      Melawan Bosan                                             

8.      Aku Bisa Berjalan                                        

9.      Raporku Kebakaran                                    

10.  Aku Harus Bisa Membaca                           

11.  Aku Cantik                                                    

12.  Aku Bisa Berlari                                           

13.  Aku Berharga                                                

14.  Aku Ingin Mati Saja                                     

15.  Belajar Memahami                                        

16.  Aku Baik Baik Saja                                      


Namaku Bunga. Umurku lima tahun. Aku anak pertama. Aku hanyalah penakut yang keras kepala.  Aku masuk ke kelas satu dengan memaksa ayah dan ibuku mendaftarkannya, karena aku membenci kesepian.

Ayah dan ibuku selalu sibuk, orang dewasa yang harus bekerja. Kupikir sekolah dan berada di keramaian anak-anak lain adalah hal yang menyenangkan. Ternyata tidak seperti itu. Aku sangat ketakutan, dan sangat bingung. Semua karena aku yang aneh.

Aku bahkan tidak pandai berjalan, apalagi berlari. Aku adalah bahan tertawaan anak-anak lain. Aku tidak bisa menulis seperti anak lain, semua terasa sulit. Belum lagi ibu guru kelasku yang kerap berteriak.

Membaca dan berhitung, semua itu tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Kupikir bersekolah itu bersenang-senang dan bisa membunuh kesepian. Belum selesai dengan satu ketakutan aku mencoba ketakutan yang lain. Aku mengaji dan sama saja, aku selalu terlambat menjadi tidak aneh. Aku ingin mati saja, sayang nenekku tidak memberitahu bagaimana cara untuk mati,


Ayahku dan ibuku tidak membantu sama sekali. Mereka pikir aku normal seperti anak-anak yang lain saja. Kejadian-kejadian buruk menimpaku, dan aku belajar karenanya. Orang dewasa selalu berpikir menjadi anak kecil itu mudah, itu sebabnya mereka tidak peduli. Tapi, benarkah aku butuh mereka peduli? Entahlah.


12. Aku Bisa Berlari

Dengan rumah yang menjadi lebih jauh, aku memaksakan kakiku untuk berjalan lebih lama. Aku selalu membatin berbaik hatilah kepadaku kakiku, aku menyayangimu dan kau harus membalasnya dengan bertahan untuk tidak lemas tiba-tiba. Kita harus bekerja sama.

Karena jalan yang dilalui lebih panjang dan gang yang menuju rumahku berada di sisi pasar, tidak mungkin aku menjatuhkan diri ketika kakiku lemah. Tetapi, memang aku bisa memanfaatkan dinding belakang toko dan pagar rumah orang ketika aku sudah masuk ke gang. Sedangkan di jalan raya kakiku sekarang sudah jauh lebih baik. Langkahku menjadi sedikit lebih cepat.

Aku juga sudan jauh lancar membaca. Tentu saja aku memilih belajar sendiri. Meski teman bermainku tetap masih dengan boneka. Dan, ibuku yang tidak berjualaan lagi tetap sibuk. Dia sibuk dengan perabotan rumah dan teman-temannya. Sedangakan aku sibuk belajar membaca tulisan yang kutemui, bermain dengan bonekaku, dan bernyanyi Sayonara ketika aku merasa bosan. Lagu andalan yang menghiburku.

Aku sekarang sudah bisa membaca tulisan di badan truk dengan cepat. Dan, aku akan berteriak, sehingga supir-supir itu teroaksa memberiku jempol dari belakang kemudinya. Itu juga hiburan tersendiri untukku.



Sore ini aku mulai berangkat mengaji. Aku melakukan itu dan sebenarnya aku tidak tahu apa itu dan di sana apa yang mesti kulakukan. Aku mendengar teman-temanku bercakap tentang itu di sekolah hari ini. 
‘’Yakin kamu mau mengaji?’’ tanya ibuku terheran. Aku mengangguk. Aku tidak mendaftar, tetapi, aku hanya berangkat. Aku berangkat lebih awal dengan menunggu di depan gang. Menunggu mereka yang berangkat dan mengekor. Tentu saja aku tidak berteman.

Seperti sekolah, aku benar-benar menyesal. Ternyata semuanya asing. Mereka mengucapkan kalimat-kalimat asing yang panjang. Ingin rasanya pulang, tapi aku juga penasaran. Aku bertahan sampai semua selesai. Banyak sekali anak-anak yang datang, sandal bertumpuk,  dan akhirnya semua yang datang duduk sangat rapat. Ketika akhirnya mendaoat giliran aku hanya menirukan sambil melihat mulut yang mengajariku.

 ‘’Baru pertama kali mengaji?’’ Aku  mengangguk. ‘’Gak papa ikuti dan liat-lihat yang lain saja dulu. Malam Jumat libur, jadi kamu tidak usah berangkat. Yang datang hanya anak-anak yang sudah besar saja.’’ Aku mengangguk lagi.

Setelah semuanya yang asing kulihat dan aku mengikuti petunjuk dari yang sudah lama mengaji, akhirnya aku pulang. Semua anak pulang dijemput , aku mencari ayahku. Ayahku ada dan aku senang bukan kepalang. 

‘’Sebaiknya kamu mengaji kalau sudah besar saja, sekolah saja kamu merepotkan, apalagi ditambah mengaji.’’ Ayahku mengatakan itu dan itu meyakitiku. ”Mengaji dengan ibumu saja!’’ Tanpa diperintah otakku langsung memutar memori bagaimana ayah dan ibuku mengajariku membaca, dan itu menyiksaku. Belum lagi akhirnya mereka menyerah.


Ayahku bertahan hanya tiga malam saja menjemputku, di malam ke empat aku pulang sendiri. Aku sangat ketakutan, karena jalanan gelap, orang-orang hanya memasang lampu di dalam rumah saja. Aku berjalan dalam remang cahaya sisa pendar dari rumah orang yang melewati kaca-kaca depan rumah mereka yang tertutup kain gordein, sesekali terantuk batu dan rasanya sedikit sakit dan pedas di kakiku.

‘’Kenapa ayah tidak menjemputku, Ibu?’’ tanyaku memprotes. Bukan jawaban yang tepat yang kudapati tentang alasana ayah tidak enjemputku, tetapi ibuku malah mengulang kalimat ayahku dengan mengatakan aku terlalu kecil untuk mengaji dan merepotkan saja. Dan, usulan yang sama agar aku mengaji saja di rumah, toh, ibuku tidak sibuk berdagang lagi. Hanya ayahku saja yang pergi mencari uang dengan berjualan, meski jualannya tidak sama seperti di rumah lama.

Aku lagi-lagi memilih diam, dan tidak memprotes lagi, aku terlanjur menyukai mengaji, meskipun tetap sama di tempat mengaji dan di sekolaha aku adalah murid terlambat. Ayahku menjemputku sepulang mengaji aku hanya tiga hari pertama saja, setelahnya ayahku menghilangm dan aku pulang menembus gelap sendirian. Benar-benar sendirian, karena tidak ada anak yang pulang searah denganku.

Aku selalu pulang malam sendiri berteman kegelapan. Kalau tidak karena ayahku banyak tamu, tentu dia entah ke mana. Sementara ibuku akhirnya melahirkan adikku. Adik yang lucu yang membuat hidupku semakin lucu.

Hari berganti, tahun berganti tahun. Aku sudah bisa berjalan. Meski masih pelan dibanding yang lain, tetapi kakiku semakin kokoh. Aku bisa berjalan terus tanpa henti ketika pulang sekolah dan itu adalah prestasi. Tapi, aku masih bodoh, masih takut untuk membelanjakan uangku. Sekalinya aku punya keberanian sepulang sekolah makanan sudah habis semua yang tertinggal hanya lapaknya saja. Kurasa mereka yang berdagang tidak membutuhkan uangku.

Seperti kata bu guru, kalau anak banyak jajan akan menjadi bodoh. Aku yang kerap tidak jajan menjadi pintar karenanya. Aku tidak tahu apa dan bagaimana hubungannya. Yang jelas semakin hari bersama bertambahnya kepandaianku membaca dan berjala nilaiku semakin bagus saja. Aku jarang dihukum di depan kelas. Tidak sampai dipuji, tetapi itu sudah bagus untukku. Aku semakin yakin kalau apa yang dikatakan bu guru itu benar: Jangan terlalu banyak jajan!


Aku kerap diasingkan ketika ibuku mendapat kunjungan dari teman-temannya dan mereka berbicara dengan asyiknya. Yang kulakukan adalah diam  di kamar atau berada di luar duduk di bangku panjang menunggu truk-truk pengangkut pisang dan gula merah lewat sambil bernyanyi Sayonara. Sebab, berada di pangkuan ibuku itu terlalu aneh bagiku. Selain itu, ibuku akan mengatakan kalau anak kecil tidak boleh tahu urusan orang dewasa. Dan, anak kecil itu harus berteman dengan anak kecil lagi. Yang terakhir yang membuat aku bingung. Tetanggaku tidak mempunyai anak sebaya denganku.

Aku pemberani? Tidak! Aku hanyalah penakut yang keras kepala. Setiap pulang mengaji aku akan bertemu dengan gelap dan sepanjang jalan aku akan menereka-reka bentuk-bentuk wajah dan tubuh mereka dalam kepalaku. Mereka yang hidup di kegelapan dan ada di sekitaran. Sepanjang jalan aku berdoa dan berdoa, agar aku tidak melihat atau bertemu dengan mereka. Aku tidak suka mereka menampakan diri. Ketakutanku akan semakin meninggi bersama banyaknya langkah kakiku. Jika keadaan demikian, aku akan marah. Kukatakan kepada gelap yang pekat dengan sedikit beteriak, ‘’Kalau kau sampai menganggguku, aku akan mengatakan kepada teman-temanku di mana letak tempat dirimu berada, dan akan kubiarkan ketika siang hari orang-orang dan teman-temanku mengacaukan persembunyianmu!’’

Aku tidak tahu itu berefek atau tidak, yang kutahu aku tidak pernah melihat mereka meski gelap selalu datang setiap aku pulang dari mengaji. Ketakutanku akan menghilang bersama pendar lampu-lampu dari dalam rumah tetanggaku yang mungkin sudah tidur. Dan lampu di rumahku yang menyala dan terkadang banyak orang di sana.

Aku melangkahkan kakiku tanpa sengaja kakiku tidak berasa dan langkahku semakin cepat saja. Aku mulai berpikir bahwa berlari seperti teman-temanku adalah hal terbaik yang harus kulakukan malam berikutnya. Benar saja langkah kakiku semakiin ringan di siang hari. Aku merasa senang karenanya. Kurasa gelap membuatku takut, dan takut membuatku bisa melangkah dengan cepat, lalu langkah cepat kurasa nantinya akan membuatku bisa berlari.

Aku sudah hampir kelas tiga saja. Dan, di kelas empat nanti akan ada pelajaran berlari. Aku mulai belajar itu ketika pulang sekolah. Aku melakukannya ketika ibuku menyuruhku membeli sesuatu misalnya gula yang ibuku minta segera. Kurasa itu karena ibuku lupa membelinya atau sudah habis. Aku mulai belajar berlari di saat anak-anak balita lain sudah bisa berlari, aku yang hampir kelas tiga baru belajar berlari

Dadaku berdetak cepat, aku mulai mencobanya. Dan itu menyenangkan. Aku terengah-engah sampai di warung tempaku berbelanja. Tidak jauh, hanya seratus meter dari rumah, dan rasanya aku sudah melesat seperti pesawat yang sesekali melintas dan terlihat kecil di langit sana.

‘’Kenapa terngah-engah?’’ tanya pemilik warung. 

Aku tentu saja malu sekali. Tidak mungkin aku mengtakan sedang belajar berlari. Aku hanya tercsenyum. Aku mengulurkan  uang dan mendapatkan gula. Aku kembali ke rumah dengan berlari. Senang sekali. Kurasa itu alasan teman-temanku senang berlari di sekolah. Ada kegembiraan yang berbeda dan luar biasa..

 

 

 


Komentar