Namaku Bunga Ayahku Anjing Ibuku Serigala
Penulis; Nurlaeli Umar
Daftar isi:
1. Kepada Temanku Air, Daun, dan Api
2. Bandit Bandit Kecil Beraksi
3. Senyumku Menyelamatkanku
4. Malam yang Menyiksa
5. Teman yang Pengacau
6. Tamu yang Berbeda
7. Melawan Bosan
8. Aku Bisa Berjalan
9. Raporku Kebakaran
10. Aku Harus Bisa Membaca
11. Aku Cantik
12. Aku Bisa Berlari
13. Aku Berharga
14. Aku Ingin Mati Saja
15. Belajar Memahami
16. Aku Baik Baik Saja
Namaku Bunga. Umurku lima tahun. Aku anak pertama. Aku hanyalah penakut yang keras kepala. Aku masuk ke kelas satu dengan memaksa ayah dan ibuku mendaftarkannya, karena aku membenci kesepian.
Ayah dan ibuku selalu sibuk, orang dewasa yang harus bekerja. Kupikir sekolah dan berada di keramaian anak-anak lain adalah hal yang menyenangkan. Ternyata tidak seperti itu. Aku sangat ketakutan, dan sangat bingung. Semua karena aku yang aneh.
Aku bahkan tidak pandai berjalan, apalagi berlari. Aku adalah bahan tertawaan anak-anak lain. Aku tidak bisa menulis seperti anak lain, semua terasa sulit. Belum lagi ibu guru kelasku yang kerap berteriak.
Membaca dan berhitung, semua itu tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Kupikir bersekolah itu bersenang-senang dan bisa membunuh kesepian. Belum selesai dengan satu ketakutan aku mencoba ketakutan yang lain. Aku mengaji dan sama saja, aku selalu terlambat menjadi tidak aneh. Aku ingin mati saja, sayang nenekku tidak memberitahu bagaimana cara untuk mati,
12.
Aku Bisa Berlari
Dengan rumah yang menjadi lebih jauh, aku memaksakan kakiku untuk berjalan lebih lama. Aku selalu membatin berbaik hatilah kepadaku kakiku, aku menyayangimu dan kau harus membalasnya dengan bertahan untuk tidak lemas tiba-tiba. Kita harus bekerja sama.
Karena jalan yang dilalui lebih panjang dan gang
yang menuju rumahku berada di sisi pasar, tidak mungkin aku menjatuhkan diri
ketika kakiku lemah. Tetapi, memang aku bisa memanfaatkan dinding belakang toko
dan pagar rumah orang ketika aku sudah masuk ke gang. Sedangkan di jalan raya
kakiku sekarang sudah jauh lebih baik. Langkahku menjadi sedikit lebih cepat.
Aku juga sudan jauh lancar
membaca. Tentu saja aku memilih belajar sendiri. Meski teman bermainku tetap
masih dengan boneka. Dan, ibuku yang tidak berjualaan lagi tetap sibuk. Dia
sibuk dengan perabotan rumah dan teman-temannya. Sedangakan aku sibuk belajar
membaca tulisan yang kutemui, bermain dengan bonekaku, dan bernyanyi Sayonara
ketika aku merasa bosan. Lagu andalan yang menghiburku.
Aku sekarang sudah bisa membaca tulisan di badan truk dengan cepat. Dan, aku akan berteriak, sehingga supir-supir itu teroaksa memberiku jempol dari belakang kemudinya. Itu juga hiburan tersendiri untukku.
Seperti sekolah, aku benar-benar menyesal. Ternyata semuanya asing. Mereka mengucapkan kalimat-kalimat asing yang panjang. Ingin rasanya pulang, tapi aku juga penasaran. Aku bertahan sampai semua selesai. Banyak sekali anak-anak yang datang, sandal bertumpuk, dan akhirnya semua yang datang duduk sangat rapat. Ketika akhirnya mendaoat giliran aku hanya menirukan sambil melihat mulut yang mengajariku.
‘’Baru pertama kali mengaji?’’ Aku mengangguk. ‘’Gak papa ikuti dan liat-lihat
yang lain saja dulu. Malam Jumat libur, jadi kamu tidak usah berangkat. Yang
datang hanya anak-anak yang sudah besar saja.’’ Aku mengangguk lagi.
Setelah semuanya yang asing kulihat dan aku mengikuti petunjuk dari yang sudah lama mengaji, akhirnya aku pulang. Semua anak pulang dijemput , aku mencari ayahku. Ayahku ada dan aku senang bukan kepalang.
‘’Sebaiknya kamu mengaji kalau sudah besar saja, sekolah saja kamu merepotkan, apalagi ditambah mengaji.’’ Ayahku mengatakan itu dan itu meyakitiku. ”Mengaji dengan ibumu saja!’’ Tanpa diperintah otakku langsung memutar memori bagaimana ayah dan ibuku mengajariku membaca, dan itu menyiksaku. Belum lagi akhirnya mereka menyerah.
Ayahku bertahan hanya tiga
malam saja menjemputku, di malam ke empat aku pulang sendiri. Aku sangat
ketakutan, karena jalanan gelap, orang-orang hanya memasang lampu di dalam
rumah saja. Aku berjalan dalam remang cahaya sisa pendar dari rumah orang yang
melewati kaca-kaca depan rumah mereka yang tertutup kain gordein, sesekali
terantuk batu dan rasanya sedikit sakit dan pedas di kakiku.
‘’Kenapa ayah tidak
menjemputku, Ibu?’’ tanyaku memprotes. Bukan jawaban yang tepat yang kudapati
tentang alasana ayah tidak enjemputku, tetapi ibuku malah mengulang kalimat
ayahku dengan mengatakan aku terlalu kecil untuk mengaji dan merepotkan saja.
Dan, usulan yang sama agar aku mengaji saja di rumah, toh, ibuku tidak sibuk
berdagang lagi. Hanya ayahku saja yang pergi mencari uang dengan berjualan,
meski jualannya tidak sama seperti di rumah lama.
Aku lagi-lagi memilih diam,
dan tidak memprotes lagi, aku terlanjur menyukai mengaji, meskipun tetap sama
di tempat mengaji dan di sekolaha aku adalah murid terlambat. Ayahku menjemputku
sepulang mengaji aku hanya tiga hari pertama saja, setelahnya ayahku
menghilangm dan aku pulang menembus gelap sendirian. Benar-benar sendirian,
karena tidak ada anak yang pulang searah denganku.
Aku selalu pulang malam
sendiri berteman kegelapan. Kalau tidak karena ayahku banyak tamu, tentu dia
entah ke mana. Sementara ibuku akhirnya melahirkan adikku. Adik yang lucu yang
membuat hidupku semakin lucu.
Hari berganti, tahun berganti
tahun. Aku sudah bisa berjalan. Meski masih pelan dibanding yang lain, tetapi
kakiku semakin kokoh. Aku bisa berjalan terus tanpa henti ketika pulang sekolah
dan itu adalah prestasi. Tapi, aku masih bodoh, masih takut untuk membelanjakan
uangku. Sekalinya aku punya keberanian sepulang sekolah makanan sudah habis
semua yang tertinggal hanya lapaknya saja. Kurasa mereka yang berdagang tidak
membutuhkan uangku.
Seperti kata bu guru, kalau anak banyak jajan akan menjadi bodoh. Aku yang kerap tidak jajan menjadi pintar karenanya. Aku tidak tahu apa dan bagaimana hubungannya. Yang jelas semakin hari bersama bertambahnya kepandaianku membaca dan berjala nilaiku semakin bagus saja. Aku jarang dihukum di depan kelas. Tidak sampai dipuji, tetapi itu sudah bagus untukku. Aku semakin yakin kalau apa yang dikatakan bu guru itu benar: Jangan terlalu banyak jajan!
Aku kerap diasingkan ketika
ibuku mendapat kunjungan dari teman-temannya dan mereka berbicara dengan
asyiknya. Yang kulakukan adalah diam di
kamar atau berada di luar duduk di bangku panjang menunggu truk-truk pengangkut
pisang dan gula merah lewat sambil bernyanyi Sayonara. Sebab, berada di
pangkuan ibuku itu terlalu aneh bagiku. Selain itu, ibuku akan mengatakan kalau
anak kecil tidak boleh tahu urusan orang dewasa. Dan, anak kecil itu harus berteman
dengan anak kecil lagi. Yang terakhir yang membuat aku bingung. Tetanggaku
tidak mempunyai anak sebaya denganku.
Aku pemberani? Tidak! Aku
hanyalah penakut yang keras kepala. Setiap pulang mengaji aku akan bertemu
dengan gelap dan sepanjang jalan aku akan menereka-reka bentuk-bentuk wajah dan
tubuh mereka dalam kepalaku. Mereka yang hidup di kegelapan dan ada di
sekitaran. Sepanjang jalan aku berdoa dan berdoa, agar aku tidak melihat atau
bertemu dengan mereka. Aku tidak suka mereka menampakan diri. Ketakutanku akan
semakin meninggi bersama banyaknya langkah kakiku. Jika keadaan demikian, aku
akan marah. Kukatakan kepada gelap yang pekat dengan sedikit beteriak, ‘’Kalau
kau sampai menganggguku, aku akan mengatakan kepada teman-temanku di mana letak
tempat dirimu berada, dan akan kubiarkan ketika siang hari orang-orang dan
teman-temanku mengacaukan persembunyianmu!’’
Aku tidak tahu itu berefek
atau tidak, yang kutahu aku tidak pernah melihat mereka meski gelap selalu
datang setiap aku pulang dari mengaji. Ketakutanku akan menghilang bersama
pendar lampu-lampu dari dalam rumah tetanggaku yang mungkin sudah tidur. Dan
lampu di rumahku yang menyala dan terkadang banyak orang di sana.
Aku melangkahkan kakiku tanpa
sengaja kakiku tidak berasa dan langkahku semakin cepat saja. Aku mulai
berpikir bahwa berlari seperti teman-temanku adalah hal terbaik yang harus
kulakukan malam berikutnya. Benar saja langkah kakiku semakiin ringan di siang
hari. Aku merasa senang karenanya. Kurasa gelap membuatku takut, dan takut
membuatku bisa melangkah dengan cepat, lalu langkah cepat kurasa nantinya akan
membuatku bisa berlari.
Aku sudah hampir kelas tiga
saja. Dan, di kelas empat nanti akan ada pelajaran berlari. Aku mulai belajar
itu ketika pulang sekolah. Aku melakukannya ketika ibuku menyuruhku membeli
sesuatu misalnya gula yang ibuku minta segera. Kurasa itu karena ibuku lupa
membelinya atau sudah habis. Aku mulai belajar berlari di saat anak-anak balita
lain sudah bisa berlari, aku yang hampir kelas tiga baru belajar berlari
Dadaku berdetak cepat, aku
mulai mencobanya. Dan itu menyenangkan. Aku terengah-engah sampai di warung
tempaku berbelanja. Tidak jauh, hanya seratus meter dari rumah, dan rasanya aku
sudah melesat seperti pesawat yang sesekali melintas dan terlihat kecil di
langit sana.
‘’Kenapa terngah-engah?’’ tanya pemilik warung.
Aku tentu saja malu sekali. Tidak mungkin aku mengtakan
sedang belajar berlari. Aku hanya tercsenyum. Aku mengulurkan uang dan mendapatkan gula. Aku kembali ke
rumah dengan berlari. Senang sekali. Kurasa itu alasan teman-temanku senang
berlari di sekolah. Ada kegembiraan yang berbeda dan luar biasa..
Komentar
Posting Komentar