Namaku Bunga Ayahku Anjing Ibuku Serigala (Bab 13)

 

 Namaku Bunga Ayahku Anjing Ibuku Serigala

Penulis; Nurlaeli Umar


Daftar isi:

1.      Kepada Temanku Air, Daun, dan Api         

2.      Bandit Bandit Kecil Beraksi                                 

3.      Senyumku Menyelamatkanku                     

4.      Malam yang Menyiksa                                 

5.      Teman yang Pengacau                                 

6.      Tamu yang Berbeda                                     

7.      Melawan Bosan                                             

8.      Aku Bisa Berjalan                                        

9.      Raporku Kebakaran                                    

10.  Aku Harus Bisa Membaca                           

11.  Aku Cantik                                                    

12.  Aku Bisa Berlari                                           

13.  Aku Berharga                                                

14.  Aku Ingin Mati Saja                                     

15.  Belajar Memahami                                        

16.  Aku Baik Baik Saja                                      


Namaku Bunga. Umurku lima tahun. Aku anak pertama. Aku hanyalah penakut yang keras kepala.  Aku masuk ke kelas satu dengan memaksa ayah dan ibuku mendaftarkannya, karena aku membenci kesepian.

Ayah dan ibuku selalu sibuk, orang dewasa yang harus bekerja. Kupikir sekolah dan berada di keramaian anak-anak lain adalah hal yang menyenangkan. Ternyata tidak seperti itu. Aku sangat ketakutan, dan sangat bingung. Semua karena aku yang aneh.

Aku bahkan tidak pandai berjalan, apalagi berlari. Aku adalah bahan tertawaan anak-anak lain. Aku tidak bisa menulis seperti anak lain, semua terasa sulit. Belum lagi ibu guru kelasku yang kerap berteriak.

Membaca dan berhitung, semua itu tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Kupikir bersekolah itu bersenang-senang dan bisa membunuh kesepian. Belum selesai dengan satu ketakutan aku mencoba ketakutan yang lain. Aku mengaji dan sama saja, aku selalu terlambat menjadi tidak aneh. Aku ingin mati saja, sayang nenekku tidak memberitahu bagaimana cara untuk mati,


Ayahku dan ibuku tidak membantu sama sekali. Mereka pikir aku normal seperti anak-anak yang lain saja. Kejadian-kejadian buruk menimpaku, dan aku belajar karenanya. Orang dewasa selalu berpikir menjadi anak kecil itu mudah, itu sebabnya mereka tidak peduli. Tapi, benarkah aku butuh mereka peduli? Entahlah.



13. Aku Berharga

Semenjak aku bisa berlari aku senang dimintai tolong ibuku untuk pergi ke warung. Aku bisa berlari dan itu terasa ringan sekali. Lariku semakin cepat saja. Aku yang sangat bersemangat akan meninggalkan bonekaku dan langsung datang menerima panggilan ibuku. Bahkan, terkadang aku menawarkan diri untuk berbelanja ke warung dan menunggui ibuku yang sedang memasak barangkali butuh bantuanku untuk membeli sesuatu yang terlupa.

‘’Bunga, tolong belikan ibu kopi, ini teman ibu minta dibuatkan kopi. Sementara kopi di dapur habis dan hanya tinggal teh saja!’’ Dengan segera aku akan bangun. Aku tentu saja akan berlari dengan kencang. Sampai terkadang orang merasa heran, ‘’Kamu selalu terengah-engah kalau ke warung, apa ibumu sangat darurat dan sedang masak, sementara gula dan garamnya habis?’’ Aku mengangguk membenarkan, karena setelahnya aku akan pulang dengan berlari kembali.

Hari ini aku sangat lapar. Aku meraba dada kiriku di mana sakuku berada. Aku sudah tahu kalau uangku bisa untuk membeli banyak makanan. Aku ingin mencoba seberapa banyak makanan yang bisa kudapat dengan uangku kalau semuanya dihabiskan. Begitu bel istirahat, aku berlari ke kantin. Aku menunjukkan uangku. ‘’Apa dengan uang ini aku bisa mendapatkan ini lima dan ini tiga?’’

 Pedagang itu mengangguk. Aku memberkan uang itu, dan ketika aku berbalik badan ingin kembali ke kelasku, pedagang itu memanggilku, ‘’Ambil kembaliannya!’’ Aku menerima kembaliannya. Aku tidak lantas pergi. ‘’Dengan uang ini aku akan dapat apa lagi?’’ Pedagang itu memandangiku, ‘’Kamu akan habiskan uangmu?’’ Aku mengangguk. ‘’Ini, ini dan ini, ditambah ini.’’


Aku mendapat banyak sekali makanan dan semua kumasukkan ke saku bajuku dan dua saku rokku. Dua lagi di tangan kanan dan kiriku. ‘’Kamu gak papa menghabiskan uangmu?’’ tanya pedagang itu. Aku mengangguk dan tersenyum.

Sepanjang dari kantin ke depan kelasku aku mengingat-ingat apa saja yang kudapat dari uangku itu. Ternyata sangat banyak. Aku besok akan mengulanginya sampai aku benar-benar paham dan hafal di luar kepala.

Aku kembali ke depan kelasku. Aku tetap tidak berteman. Mungkin aku membosankan, dan sejujurnya aku tidak tahu apa itu permainan. Andai aku tertawa  itu juga karena aku melihat yang lain senang dan tertawa. Aku mudah tertular tertawa, meski aku tidak tahu apa alasan mereka tertawa.

Teman yang masih suka meminjam uangku sekarang hanya beberapa saja. Aku sudah naik ke kelas tiga. Kurasa mereka itu anak yang memang tidak bosan meminjam dan menggangguku. Sedangkan yang lain sibuk jajan dengan uang mereka sendiri atau berbagi makanan dengan yang lain, mungkin semacam patungan membeli kemudian berbagi. Teman yang masih suka memakai uangku datang mendekatiku. ‘’Kamu jajan sendiri?’’ tanyanya heran. Aku mengangguk.

‘’Aku pinjam uangmu!’’ Aku menggelengkan kepalaku. ‘’Habis. Uangku habis untuk jajan.’’ Dia tentu saja kaget, ‘’Kamu habiskan semuanya?’’ Aku mengangguk. Dia menatapku dengan tajam, kemudian pergi dan kembali dengan beberapa teman lain yang suka meminjam juga. ‘’Kebanyakan jajan, aku akan melaporkannya kepada ibumu dan bu guru!’’

Selama ini ketika aku menolak memberi pinjaman kepada beberapa teman, tidak ada yang melaporkannya kepada ibuku, dari situ aku berpikir jika aku menolaknya kali ini pun tidak masalah. Aku diam saja. Lalau bagaimana dengan bu guru? Aku menarik napas berat, akan runyam kalau mereka sampai melapor kepada bu guru. Aku tetap memilih diam. 

Aku hanya berpikir bahwa satu-satunya jalan adalah menghabiskan semua jajanannya sebelum bel masuk. Kebetulan aku belum sarapan. Aku yakin itu satu-satunya jalan yang bisa menyelamatkanku agar tidak berhadapan dengan bu guru dengan banyak bukti. Aku mulai memakan makanan-makanan itu satu per satu di depan tema-temanku yang kerap meminjam uangku. Mereka menatapku sambil menelan air liurnya, aku tidak berpikir apa-apa selain aku harus selamat. Begitu bel berbunyi habis sudah semua makanan itu.

Tentu saja aku kekenyangan. Itu adalah pertama kali aku makan kenyang dan sampai kekenyangan. Luar biasa, aku hampir tidak bisa bernapas. Begitu masuk kelas aku hampir tertidur pulas, karena perutku terasa sangat penuh. Tapi, aku harus bisa bertahan setidaknya sampai bel pulang. Tidak mengenakana memang, tetapi aku merasa lega tidak bisa dilaporkan ke bu guru. Aku sesekali melihat ke arah mereka yang tadi gagal menerima pinjaman uang dariku, matanya menatapku tajam, mereka marah. Aku tidak peduli, karena aku sibuk menahan perutku yang kekenyangan.


Di hari berikutnya ibuku memecah uang itu menjadi dua lembar. ‘’Ini uang yang berbeda,’’ protesku kepada ibuku. ‘’Itu jumlah yang sama dengan hari-hari biasa.’’ Sekarang aku tahu ternyata dua uang ini sama dengan satu uang yang kemarin. Aku berpikir untuk membelanjakannya satu dan satu lagi kalau aku benar-benar masih lapar. Aku menolak sarapan meski satu suap nasi dan satu teguk air. Aku ingin tahu seberapa banyak satu uangku mendapat jajanan di sekolah. Aku harus mulai belajar, karena aku baru sadar selama ini teman-temanku kenyang dengan uangku sementara aku kelaparan.

Seiring bertambah hari aku bisa membelanjakan uangku dan menghitungnya dengan benar, Aku juga bisa membeli sebanyak yang aku ingin saja. Tentu saja teman-temanku semakin sedikit dan musuhku semakin banyak. Apalagi, semakin hari nilai yang kudapat semakin baik, aku semakin paham apa itu pelajaran. Aku mengingat apa yang bu guru jelaskn dan ajarkan, nilai ulanganku tidak merah lagi. Ketika pembagian rapor tidak ada lagi angka merah. Meskipun aku  sangat menyukai warna merah.

Aku tetap tidak mau diajari ibu dan ayahku. Aku belajar sendiri. Mereka berdua pun sepertinya baik-baik saja. Ketika ibuku lebih perhatian kepada adikku, aku tidak peduli. Aku sibuk denga duniaku. Aku banyak merasakan hal-hal baru yang ternyata tidak mengenakan, seperti lututku yang sering berdarah dan berkoreng, karena aku kerap terantuk batu ketika berlari sehingga lututku mencium tanah lekat-lekat, atau karena aku susah mengerem ketika berlari. Atau aku belajar jajan di warung dekat rumah dan mengabiskan semua sisa uang jajanku di sekolah untuk membeli permen karet yang tidak pernah berhasil dibuat balon tiup olehku.

Di sekolah bu guru yang tiap tahun seiring naik ke kelas yang berbeda, berganti. Aku mulai dilibatkan dan ditunjuk untuk pentas seperti menari. Tentu saja itu sesuatu yang membuatku bingung. Aku yang tidak merasa senang terlihat, terpaksa berlatih di bawah tatatapan banyak mata, dan akhirnya tampil. Aku sama sekali tidak merasa senang, sementara teman yang tidak terpilih masih mengungkit masalah dia kelaparan sepanjang jam istirahat dan merasa bu guru salah memilihku.

Ketika mulai latihan pramuka sekali seminggu atau kegiatan apa pun dan ingin memilih kepala regu, semua anak menunjuk dan mengusulkanku. Aku merasa tidak bisa dan menolak, tetapi bu guru mengatakan aku harus mengambil itu. Dari situ aku mulai belajar, bahwa aku bisa, dan tidak harus peduli dengasn mulut temanku yang jahat.

Pernah satu kali aku bertanya kepada teman yang tidak dekat denganku dan kebetulan kami pulang bersama , ‘’Apa kamu suka memberikan uang jajanmu kepada si A?’’ Aku menanyakan itu, karena A kerap kali membandingakan aku dengan temanku itu, katanya dia lebih cantik dariku dan lebih pandai juga. Aku ingin tahu kebenarannya.

Temanku tertawa, ‘’Untuk apa aku membelikan dia jajan? Dia juga diberi uang jajan oleh mamanya setiap hari.’’ Berarti aku menolak memberinya pinjaman uang itu adalah sudah tepat. Aku jadi tidak merasa kasihan lagi.

 

 

 


Komentar