Namaku Bunga Ayahku Anjing Ibuku Serigala
Daftar isi:
1. Kepada Temanku Air, Daun, dan Api
2. Bandit Bandit Kecil Beraksi
3. Senyumku Menyelamatkanku
4. Malam yang Menyiksa
5. Teman yang Pengacau
6. Tamu yang Berbeda
7. Melawan Bosan
8. Aku Bisa Berjalan
9. Raporku Kebakaran
10. Aku Harus Bisa Membaca
11. Aku Cantik
12. Aku Bisa Berlari
13. Aku Berharga
14. Aku Ingin Mati Saja
15. Belajar Memahami
16. Aku Baik Baik Saja
Sinopsis;
Namaku Bunga. Umurku lima tahun. Aku anak pertama. Aku hanyalah penakut yang keras kepala. Aku masuk ke kelas satu dengan memaksa ayah dan ibuku mendaftarkannya, karena aku membenci kesepian.
Ayah dan ibuku selalu sibuk, orang dewasa yang harus bekerja. Kupikir sekolah dan berada di keramaian anak-anak lain adalah hal yang menyenangkan. Ternyata tidak seperti itu. Aku sangat ketakutan, dan sangat bingung. Semua karena aku yang aneh.
Aku bahkan tidak pandai berjalan, apalagi berlari. Aku adalah bahan tertawaan anak-anak lain. Aku tidak bisa menulis seperti anak lain, semua terasa sulit. Belum lagi ibu guru kelasku yang kerap berteriak.
Membaca dan berhitung, semua itu tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Kupikir bersekolah itu bersenang-senang dan bisa membunuh kesepian. Belum selesai dengan satu ketakutan aku mencoba ketakutan yang lain. Aku mengaji dan sama saja, aku selalu terlambat menjadi tidak aneh. Aku ingin mati saja, sayang nenekku tidak memberitahu bagaimana cara untuk mati,
Ayahku dan ibuku tidak membantu sama sekali. Mereka pikir aku normal seperti anak-anak yang lain saja. Kejadian-kejadian buruk menimpaku, dan aku belajar karenanya. Orang dewasa selalu berpikir menjadi anak kecil itu mudah, itu sebabnya mereka tidak peduli. Tapi, benarkah aku butuh mereka peduli? Entahlah.
14.
Aku Ingin Mati Saja
Nenekku meninggal dunia. Dia
adalah temanku satu-satunya. Dia akhir-akhir ini kerap mengajakku ke rumahnya
setelah aku dan ibuku pindah rumah ke dekat rumahnya, bahkan ke kamarnya yang
tidak seorang pun boleh masuk. Aku sudah diwanti-wanti ibuku agar aku tidak
masuk ke kamar nenekku. Tetapi terlanjur, nenekku pandai merayu. Semenjak itu
aku suka masuk ke dalam kamarnya. Aku juga kerap mendapat beberapa lembar uang
yang bisa kupakai untuk jajan membeli permen karet dan kerupuk kesukaanku.
Kamarnya indah, tidak ada
yang menakutkan. Aku diperlihatkan koleksi kebaya dan kainnya. ‘’Kau lama
sekali dewsa, aku ingin memberikan semuanya padamu saja.’’ Aku menatap nenekku
dan mengatakan bahwa nenek harus memberikanya kepada orang-orang dewasa lain saja.
‘’Kau masih terlalu kecil untuk tahu kalau semua orang itu seperti binatang
buas yang siap menelanmu di mana ada kesempatan.’’
‘’Kalau begitu, berhenti
mengundang orang-orang untuk datang ke rumah ini dan memaksaku makan. Mereka
pikir aku akan merasa senang karena mereka memberiku makanan’’
‘’Äpa mereka membentakmu dan
memarahimu seperi ini?’’ tanya nenekku sambil memperagakan dan aku tertawa
dibuatnya. Aku jarang tertawa, ibuku
tidak pernah suka mendengar aku tertawa. Ayah dan ibuku tertawa hanya dengan
teman-temannya saja.
‘’Nek, kenapa ibuku marah,
ketika aku mengatakan aku main ke dalam kamarmu? Ibuku mengancam agar aku tidak
melakukannya lagi, dan kalau aku melanggar aku tidak boleh bermain ke rumahmu
lagi.’’
Nenekku diam saja. ‘’Nenenk
kenapa diam?’’ Nenek melihat ke rahku, ‘’Karena aku akan mengajarimu cara diam
yang benar.’’ Aku tertawa dan kami akhirnya
tertawa bersama.
Sayang, hari ini semua orang
berduka. Mereka mengatakan nenekku mati. Tentu saja aku tidak suka. Aku ingin
mengecek kebenarannya, Aku menyingkap orang-orang yang berdiri mengelilingi
dipan. Aku melihat nenekku tidur denga tenang, Aku tidak memanggilnya, tapi aku
merasa nenekku tenang dan senang.
Orang-orang menangis. Aku
belum menangis. Mereka siapa aku tidak tahu. Terlalu banyak. Ibuku menangis
sejadi-jadinya, ayahku juga. Ternyata mereka bisa menangis lebih dariku ketika
mereka menggembrak meja mengajariku membaca yang hanya bertahan beberapa malam
saja.
Aku mendekati jenazah
nenekku. Dia seperti mengatakan kalau aku harus diam, karena di juga saat ini
sedang diam. Aku pergi meninggalkan nenekku. Ada yang sakit di dadaku, kurasa
itu semacam sedih. Lebih sakit dari ketika aku tahu teman-temanku tidak mau
berteman denganku, dan membohongiku. Lebih sakit dari rasa malu dari ejekan
temanku yang menertawakanku karena aku masih belajar berjalan ketika aku kelas
satu.
Aku tidak berselera makan. Kurasa besok aku akan merasa kehilangan. Benar saja, belum sampai besok, nenekku sudah di bawa pergi ke pekuburan. Dia tidak pulang lagi. Aku yang sempat tertidur karena sedih akhirnya terbangun.
Di saat sebagian orang-orang mengantar
nenek ke pekuburan, aku melihat orang-orang yang kukenal dan berbeda menjarah
semua yang ada di rumah nenenk. Mereka membawa apa yang bisa dibawa. Aku yang
melihat semuanya hanya terdiam, mereka bahkan mengambil koleksi kebaya nenek
dan kain-kainnya. Mereka itu yang selama ini mengaku saudara.
Dalam sekejap rumah nenek
kosong. Koleksi perabotan nenek di kamar belakang yang lengkap juga ikut
dibawa. Tidak tersisa kecuali satu gelas plastik bekas agar-agar saja. Rumah
nenekku terasa lega. Semua pergi bersama nenekku yang pergi dan tak pernah
kembali lagi.
Aku mengatakan itu semua kepada
ibuku. Ibuku berlari ke rumah nenekku, aku menyusul dan mendapatinya duduk
lemas. ‘’Orang-orang itu seperti anjing yang berebut daging. Ketika pemiliknya
meninggal, mereka semua mengambilnya tanpa tersisa. Benar-benar keterlaluan!’’
Aku menyebutkan beberapa nama dan apa saja yang diambil olehnya. Seketika
banyak yang datang juga menanyakan mengapa semua terjadi. Aku menyebutkan semua
nama orang yang kukenal dan kuingat.
Aku merasa kesepian di hari
berikutnya. Kudengar beberapa pertengkaran terjadi di rumah. nenekku setelah nenekku
meninggal. Ramai suaranya dan bernada tinggi semua. Aku tidak masuk ke sana
untuk mencari tahu. Aku hanya melihat banyak sandal di depan pintu. Aku tidak
tahu itu karena apa, tetapi ibuku berlinang air mata dan sesenggukan setelah
kembali dari sana.
‘’Kita harus pindah dari
sini,’’ keluh ibuku. Aku tentu saja tidak mau itu terjadi. Di rumah lama yang
masih kosong tidak ada bangku di luar rumah sedekat rumah sekarang ke jalan
raya. Aku tidak bisa ke pasar di hari pasaran untuk melihat-lihat baju yang
orang jual. Baju-baju yang ingin aku beli suatu hari nanti, tapi tidak pernah
terjadi.
Doaku terkabul, sepertinya
begitu. Kami tidak kembali ke rumah lama lagi. Aku masih bisa mengaji di malam
hari, meskipun jalanan gelap di sini ketika malam hari, tetapi menurutku lebih
baik, setidaknya banyak rumah tetangga kulewati ketika malam hari sepulang
mengaji, tidak seperti di rumah lama yang hanya ada kolam luas dan pohon-pohon
yang bergerak seperti tangan-tangan raksasa ketika bulan bersinar terang.
Malam ini aku pergi mengaji
lagi. Ini semua gara-gara pemilihan ketua kelas di sekolah dua hari yang akan
datang. Aku ditunjuk menjadi salah satu calonnya. Ada empat nama anak yang
ditulis bu guru di papan tulis. Aku tidak pernah ingin menjadi apa pun
sebenarnya. Di kelas empat ini aku sudah merasa senang dengan bisa jajan di
kantin sendiri, terbebas dari teman-teman yang meminjam uangku, dan aku bisa
mendapat nilai bagus-bagus.
Aku mendapat nilai
bagus-bagus karena aku merasa terlambat dibanding teman-teman yang lain, dan
rajin selalu mengulang-ulang membaca apa yang dijarkan di sekolah, bahkan
sampai hafal semua kalimat yang kutulis di bukuku. Aku hafal melebihi teman
yang lain. Ketika ibu guru memberiku ulangan aku tentu saja mudah menuliskan
jawabannya.
Kepandaian berhitungku
bagus, aku senang menghitung barang yang kubeli dari warung dan kembaliannya.
Aku sudah tahu nilai uang dan bisa membelanjakan uang jajanku dengan sangat
baik. Kapan aku harus menyisakan untuk besok dan memilih apa saja yang tidak
perlu kubeli.
Malam ini aku benar-benar
ingin marah kepada ibu guru. Teman-teman di tempat mengaji yang selalu mengolok
mulutku yang susah melafalkan kalimat-kalimat yang diajarkan guru ngaji menjadi
dua kubu. Mereka mendukung dua temanku. Tidak hanya itu saja. Ketika aku
berjalan pulang aku diasingkan. Satu kubu pendukung C dan satu kubu pendukung D.
Sebenarnya tidak masalah. Tetapi, mereka semua mengatakan hanya akan mendukung
dua temanku yang cantik dan pandai saja. Aku tahu mereka tidak menyukaiku.
Tetapi, tidak boleh pulang dan berjalan bersama itu benar-benar menghancurkan
hatiku, seolah aku adalah pelaku kejahatan seperti pencuri uang di dalam tas
temanku atau sebagainya yang aku juga tidak tahu.
Aku pulang malam kali ini tidak
dengan berlari seperti biasanya. Aku sedang sangat sedih. Aku merasa sendirian
di dunia ini. Mengadu kepada ibuku? Tidak ada gunanya. Ibuku bahkan pernah
menolakku karena sebuah tulisan di koran. Kedua temanku yang salah memahami
kalimat malah dibela ibuku, ketika mereka bertamu bersama ibu mereka ke
rumahku.
Aku ingin mati saja. Aku
ingin pergi dari dunia ini bersama nenekku. Aku tidak tahu bagaimana caranya.
Nenekku tidak mengatakan apa-apa sebelum meninggal. Dia tidak memberitahuku
pintu mana yang bisa dibuka agar aku ikut dengannya. Aku menangis sambil
membatin menyebut nenekku dan tidak ingin hidup lagi. Aku sengaja tidak berlari
malah melambatkan langkahku agar aku bisa menangis lebih lama dan pulang
terlambat. Aku tidak lagi takut gelap.



Komentar
Posting Komentar