Namaku Bunga Ayahku Anjing Ibuku Serigala (Bab 14)


 Namaku Bunga Ayahku Anjing Ibuku Serigala

Daftar isi:

1.      Kepada Temanku Air, Daun, dan Api         

2.      Bandit Bandit Kecil Beraksi                                 

3.      Senyumku Menyelamatkanku                     

4.      Malam yang Menyiksa                                 

5.      Teman yang Pengacau                                 

6.      Tamu yang Berbeda                                     

7.      Melawan Bosan                                             

8.      Aku Bisa Berjalan                                        

9.      Raporku Kebakaran                                    

10.  Aku Harus Bisa Membaca                           

11.  Aku Cantik                                                    

12.  Aku Bisa Berlari                                           

13.  Aku Berharga                                                

14.  Aku Ingin Mati Saja                                     

15.  Belajar Memahami                                        

16.  Aku Baik Baik Saja      

Sinopsis;

   Namaku Bunga. Umurku lima tahun. Aku anak pertama. Aku hanyalah penakut yang keras kepala.  Aku masuk ke kelas satu dengan memaksa ayah dan ibuku mendaftarkannya, karena aku membenci kesepian.

Ayah dan ibuku selalu sibuk, orang dewasa yang harus bekerja. Kupikir sekolah dan berada di keramaian anak-anak lain adalah hal yang menyenangkan. Ternyata tidak seperti itu. Aku sangat ketakutan, dan sangat bingung. Semua karena aku yang aneh.

Aku bahkan tidak pandai berjalan, apalagi berlari. Aku adalah bahan tertawaan anak-anak lain. Aku tidak bisa menulis seperti anak lain, semua terasa sulit. Belum lagi ibu guru kelasku yang kerap berteriak.

Membaca dan berhitung, semua itu tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Kupikir bersekolah itu bersenang-senang dan bisa membunuh kesepian. Belum selesai dengan satu ketakutan aku mencoba ketakutan yang lain. Aku mengaji dan sama saja, aku selalu terlambat menjadi tidak aneh. Aku ingin mati saja, sayang nenekku tidak memberitahu bagaimana cara untuk mati,

Ayahku dan ibuku tidak membantu sama sekali. Mereka pikir aku normal seperti anak-anak yang lain saja. Kejadian-kejadian buruk menimpaku, dan aku belajar karenanya. Orang dewasa selalu berpikir menjadi anak kecil itu mudah, itu sebabnya mereka tidak peduli. Tapi, benarkah aku butuh mereka peduli? Entahlah.

 

14. Aku Ingin Mati Saja

Nenekku meninggal dunia. Dia adalah temanku satu-satunya. Dia akhir-akhir ini kerap mengajakku ke rumahnya setelah aku dan ibuku pindah rumah ke dekat rumahnya, bahkan ke kamarnya yang tidak seorang pun boleh masuk. Aku sudah diwanti-wanti ibuku agar aku tidak masuk ke kamar nenekku. Tetapi terlanjur, nenekku pandai merayu. Semenjak itu aku suka masuk ke dalam kamarnya. Aku juga kerap mendapat beberapa lembar uang yang bisa kupakai untuk jajan membeli permen karet dan kerupuk kesukaanku.

Kamarnya indah, tidak ada yang menakutkan. Aku diperlihatkan koleksi kebaya dan kainnya. ‘’Kau lama sekali dewsa, aku ingin memberikan semuanya padamu saja.’’ Aku menatap nenekku dan mengatakan bahwa nenek harus memberikanya kepada orang-orang dewasa lain saja. ‘’Kau masih terlalu kecil untuk tahu kalau semua orang itu seperti binatang buas yang siap menelanmu di mana ada kesempatan.’’

‘’Kalau begitu, berhenti mengundang orang-orang untuk datang ke rumah ini dan memaksaku makan. Mereka pikir aku akan merasa senang karena mereka memberiku makanan’’

‘’Äpa mereka membentakmu dan memarahimu seperi ini?’’ tanya nenekku sambil memperagakan dan aku tertawa dibuatnya.  Aku jarang tertawa, ibuku tidak pernah suka mendengar aku tertawa. Ayah dan ibuku tertawa hanya dengan teman-temannya saja.

‘’Nek, kenapa ibuku marah, ketika aku mengatakan aku main ke dalam kamarmu? Ibuku mengancam agar aku tidak melakukannya lagi, dan kalau aku melanggar aku tidak boleh bermain ke rumahmu lagi.’’

Nenekku diam saja. ‘’Nenenk kenapa diam?’’ Nenek melihat ke rahku, ‘’Karena aku akan mengajarimu cara diam yang  benar.’’ Aku tertawa dan kami akhirnya tertawa bersama.

Sayang, hari ini semua orang berduka. Mereka mengatakan nenekku mati. Tentu saja aku tidak suka. Aku ingin mengecek kebenarannya, Aku menyingkap orang-orang yang berdiri mengelilingi dipan. Aku melihat nenekku tidur denga tenang, Aku tidak memanggilnya, tapi aku merasa nenekku tenang dan senang.

Orang-orang menangis. Aku belum menangis. Mereka siapa aku tidak tahu. Terlalu banyak. Ibuku menangis sejadi-jadinya, ayahku juga. Ternyata mereka bisa menangis lebih dariku ketika mereka menggembrak meja mengajariku membaca yang hanya bertahan beberapa malam saja.

Aku mendekati jenazah nenekku. Dia seperti mengatakan kalau aku harus diam, karena di juga saat ini sedang diam. Aku pergi meninggalkan nenekku. Ada yang sakit di dadaku, kurasa itu semacam sedih. Lebih sakit dari ketika aku tahu teman-temanku tidak mau berteman denganku, dan membohongiku. Lebih sakit dari rasa malu dari ejekan temanku yang menertawakanku karena aku masih belajar berjalan ketika aku kelas satu.

Aku tidak berselera makan. Kurasa besok aku akan merasa kehilangan. Benar saja, belum sampai besok, nenekku sudah di bawa pergi ke pekuburan. Dia tidak pulang lagi. Aku yang sempat tertidur karena sedih akhirnya terbangun. 

Di saat sebagian orang-orang mengantar nenek ke pekuburan, aku melihat orang-orang yang kukenal dan berbeda menjarah semua yang ada di rumah nenenk. Mereka membawa apa yang bisa dibawa. Aku yang melihat semuanya hanya terdiam, mereka bahkan mengambil koleksi kebaya nenek dan kain-kainnya. Mereka itu yang selama ini mengaku saudara.

Dalam sekejap rumah nenek kosong. Koleksi perabotan nenek di kamar belakang yang lengkap juga ikut dibawa. Tidak tersisa kecuali satu gelas plastik bekas agar-agar saja. Rumah nenekku terasa lega. Semua pergi bersama nenekku yang pergi dan tak pernah kembali lagi.

Aku mengatakan itu semua kepada ibuku. Ibuku berlari ke rumah nenekku, aku menyusul dan mendapatinya duduk lemas. ‘’Orang-orang itu seperti anjing yang berebut daging. Ketika pemiliknya meninggal, mereka semua mengambilnya tanpa tersisa. Benar-benar keterlaluan!’’ Aku menyebutkan beberapa nama dan apa saja yang diambil olehnya. Seketika banyak yang datang juga menanyakan mengapa semua terjadi. Aku menyebutkan semua nama orang yang kukenal dan kuingat.

Aku merasa kesepian di hari berikutnya. Kudengar beberapa pertengkaran terjadi di rumah. nenekku setelah nenekku meninggal. Ramai suaranya dan bernada tinggi semua. Aku tidak masuk ke sana untuk mencari tahu. Aku hanya melihat banyak sandal di depan pintu. Aku tidak tahu itu karena apa, tetapi ibuku berlinang air mata dan sesenggukan setelah kembali dari sana.

‘’Kita harus pindah dari sini,’’ keluh ibuku. Aku tentu saja tidak mau itu terjadi. Di rumah lama yang masih kosong tidak ada bangku di luar rumah sedekat rumah sekarang ke jalan raya. Aku tidak bisa ke pasar di hari pasaran untuk melihat-lihat baju yang orang jual. Baju-baju yang ingin aku beli suatu hari nanti, tapi tidak pernah terjadi.

Doaku terkabul, sepertinya begitu. Kami tidak kembali ke rumah lama lagi. Aku masih bisa mengaji di malam hari, meskipun jalanan gelap di sini ketika malam hari, tetapi menurutku lebih baik, setidaknya banyak rumah tetangga kulewati ketika malam hari sepulang mengaji, tidak seperti di rumah lama yang hanya ada kolam luas dan pohon-pohon yang bergerak seperti tangan-tangan raksasa ketika bulan bersinar terang.

Malam ini aku pergi mengaji lagi. Ini semua gara-gara pemilihan ketua kelas di sekolah dua hari yang akan datang. Aku ditunjuk menjadi salah satu calonnya. Ada empat nama anak yang ditulis bu guru di papan tulis. Aku tidak pernah ingin menjadi apa pun sebenarnya. Di kelas empat ini aku sudah merasa senang dengan bisa jajan di kantin sendiri, terbebas dari teman-teman yang meminjam uangku, dan aku bisa mendapat nilai bagus-bagus.

Aku mendapat nilai bagus-bagus karena aku merasa terlambat dibanding teman-teman yang lain, dan rajin selalu mengulang-ulang membaca apa yang dijarkan di sekolah, bahkan sampai hafal semua kalimat yang kutulis di bukuku. Aku hafal melebihi teman yang lain. Ketika ibu guru memberiku ulangan aku tentu saja mudah menuliskan jawabannya.

Kepandaian berhitungku bagus, aku senang menghitung barang yang kubeli dari warung dan kembaliannya. Aku sudah tahu nilai uang dan bisa membelanjakan uang jajanku dengan sangat baik. Kapan aku harus menyisakan untuk besok dan memilih apa saja yang tidak perlu kubeli.

Malam ini aku benar-benar ingin marah kepada ibu guru. Teman-teman di tempat mengaji yang selalu mengolok mulutku yang susah melafalkan kalimat-kalimat yang diajarkan guru ngaji menjadi dua kubu. Mereka mendukung dua temanku. Tidak hanya itu saja. Ketika aku berjalan pulang aku diasingkan. Satu kubu pendukung C dan satu kubu pendukung D. Sebenarnya tidak masalah. Tetapi, mereka semua mengatakan hanya akan mendukung dua temanku yang cantik dan pandai saja. Aku tahu mereka tidak menyukaiku. Tetapi, tidak boleh pulang dan berjalan bersama itu benar-benar menghancurkan hatiku, seolah aku adalah pelaku kejahatan seperti pencuri uang di dalam tas temanku atau sebagainya yang aku juga tidak tahu.

Aku pulang malam kali  ini tidak dengan berlari seperti biasanya. Aku sedang sangat sedih. Aku merasa sendirian di dunia ini. Mengadu kepada ibuku? Tidak ada gunanya. Ibuku bahkan pernah menolakku karena sebuah tulisan di koran. Kedua temanku yang salah memahami kalimat malah dibela ibuku, ketika mereka bertamu bersama ibu mereka ke rumahku.

Aku ingin mati saja. Aku ingin pergi dari dunia ini bersama nenekku. Aku tidak tahu bagaimana caranya. Nenekku tidak mengatakan apa-apa sebelum meninggal. Dia tidak memberitahuku pintu mana yang bisa dibuka agar aku ikut dengannya. Aku menangis sambil membatin menyebut nenekku dan tidak ingin hidup lagi. Aku sengaja tidak berlari malah melambatkan langkahku agar aku bisa menangis lebih lama dan pulang terlambat. Aku tidak lagi takut gelap.


 

 

 

 

 

 

 

                             

Komentar