Namaku Bunga Ayahku Anjing Ibuku Serigala (Bab 15)

 


15. Belajar Memahami

Ternyata nenekku tidak datang ke dalam mimpiku, bahkan. Dia mungkin belum ingin aku mengikuti langkahnya. Dia ingin aku hidup. Aku akhirnya harus menghadapi bahwa hari di mana pemilihan ketua kelas harus terjadi. Aku sudah mengatakan keberatanku dan memilih mundur. Tetapi, ibu guru tidak mendengar keluhanku. ‘’Ibu yang mengatur, bukan kamu, Bunga!’’ Aku hanya bisa mengangguk dan duduk lagi.

Entah bagaimana ternyata aku menjadi calon ke dua yang mendapatkan suara terbanyak. Otomatis aku menjadi wakil ketua kelas. Meski aku tidak bahagia, ternyata semua baik-baik saja. Di tempatku mengaji masih ada yang sakit hati dengan kemenanganku. Mereka kakak kelas di sekolahku.



Aku sudah mendapat penolakan dari bu guru perihal aku ingin mundur, dan akhirnya terpilih. Aku merasa kalau kakak kelasku tidak menginginkan aku menjadi wakil ketua kelas, mereka harus mengatakan itu kepada ibu guruku sendiri. Aku akhirnya terbiasa dan menganggap itu adalah hal memang harus kuhadapi.

Kepercayaan dari sekolah yang menganggap aku anak pandai karena nilai-nilaiku bagus dan paham ketika diberi tugas, tidak membuat anak-anak yang tidak suka padaku menjadi bungkam. Mereka tetap menjelek-jelekkan aku. Mereka mencari celah di mana aku mempunyai kesalahan. Awalnya aku sedih, tetapi akhirnya aku terbiasa. Aku hanya berpikir aku bisa jajan banyak dengan uangku tanpa gangguan mereka, aku bisa mendapatkan nilai bagus dengan lebih banyak mengingat pelajaran dengan membaca ulang.

Aku tidak sanggup untuk mendengar mulut temanku bicara buruk, karena itu aku lebih suka memilih buku-buku di perpustakaan meski harus mengantri dan kerap terjatuh karena berdesakan dan kalah dibanding tenaga anak lain, meski bu guru kelas lain selalu berteriak, ‘’Kalian harus belajar tertib!’’

Hari ini semua anak akan belajar senam baru, anak-anak dari kelas empat, lima, dan enam. Entah ada angin apa, anak yang suka meminjam uangku berbisik kepada semua anak perempuan. Dan, ketika aku mendekat, dia mengatakan kalau aku sebenarnya tidak diikutsertakan untuk latihan senam bersama. Hanya aku saja dari semua anak yang ada. Aku merasa tidak percaya. Tetapi, mereka bahkan melihatku dengan tatapan tidak suka.



Aku merasa apa yang dikatakan anak yang suka meminjam uang kepadaku kepada anak-anak yang lain bukan kalimat bahwa aku tidak diikutsertakan, tetapi kalimat jahat yang tidak kutahu. Meski aku anak paling muda di kelasku dan tidak berteman baik dengan mereka, ada beberapa anak yang memang tidak pernah menjahatiku. Tetapi, kali ini mereka semua kompak. Aku merasa sangat sedih.

Aku tidak menangis, aku berlari ke arah warung dekat pintu gerbang. Aku menghabiskan semua uangku dan kembali dengan seplastik jajanan. Aku memakannya sendirian. Anak yang kerap meminjam uangku di kelas satu itu mendekat. ‘’Aku bagi makananmu, nanti kamu kutemani.’’ 

Aku menoleh ke arah teman yang lain. Mereka banyak, satu kelas. Kalau aku mengikuti permintaannya, uangku sudah habis dan makananku akan habis juga. Aku akan kehausan dan kelaparan. Bagaimana kalua mereka mengulang hal itu setiap hari? Aku sudah merasa nyaman tidak meminjamkan uang selama ini. Aku tidak ingin keadaan kembali ke hari-hari burukku.

Aku menggeleng, ‘’Gak papa, kok, kamu gak berteman sama aku. Kamu berteman saja sama mereka. Aku bisa sendirian di sini. Pergilah, aku sedang ingin menikmati jajananku tanpa berbagi!’’ Anak itu merengut. Dia kembali kepada teman-temanku yang lain. Tetapi dia tidak menyerah, dia datang bersama dua teman yang lainnya, ‘’Bunga, kalau kamu mau bagi makananmu, kita berteman lagi. Gimana?’’


Aku memang paling muda di kelas, tetapi aku bisa membaca dan berhitung bukan karena temanku, aku sebalum hari ini juga sering memberikan uangku tetapi aku tetap sendiri tidak ditemani. Aku menggeleng. ‘’Tidak apa-apa, aku tidak ditemani kalian. Aku sedang ingin sendiri.’’ Mereka bertiga merengut dan saling berbicara. Satu orang menghentikan langkah, dia kembali kepadaku, ‘’Bagaimana kalau aku mengatakan kepada ibumu kalau kamu pelit. Pasti ibumu marah.’’

Ibuku tidak pernah membelaku bahkan hanya untuk sebuah kalimat di koran. Aku tidak peduli. ‘’Katakan saja kepada ibuku apa yang ingin kamu katakan! Aku sedang lapar sekarang.’’ 

Sebenarnya aku sedikit takut, kalau mereka benar-benar mengatakan itu semua kepada ibuku yang kerap berbagi dan melarang pelit. Tetapi, aku tidak peduli lagi. Nanti, kalau ibuku memarahiku, aku akan mengatakan kalau uangnya hilang terjatuh di got depan sekolah dan masuk lumpur. 



Aku tidak mau berpikir lagi, aku hanya tahu ternyata mereka mau berteman dengan makananku, tetapi tidak pernah ingin berteman denganku. Aku tidak pernah melihat mereka memperlakukan teman yang lain seperti terhadapku.

Hari berikutnya aku bertemu dengan salah satu yang kerap menekanku di sekolah. Dia memakai bajuku, baju yang ibuku berikan kepada seseorang karena seseorang meminta baju kepada ibuku untuk anaknya. Baju itu masih bagus, tetapi ibuku memberikannya karena aku dijanjikan baju baru. Meski, ternyata aku belum mendapat gantinya juga.

Aku memperhatikan baju itu. Benar itu bajuku. Aku berlari ke rumah, menanyakan apakah bajuku diberikan kepada orang tua temanku. Ibuku membenarkan. Sekarang aku tahu, kenapa temanku selalu menekanku di sekolah, ternyata bukan hanya uang jajan saja, baju bekasku pun mereka mau.

Di hari yang lainnya aku diajak ibuku ke satu rumah, yang ternyata itu rumah temanku. Aku tidak menyapa temanku untuk mencari muka di hadapan ibuku. Aku tetap diam. Ibuku datang memberikan kantung besar berisi beras dan beberapa makanan. Ibuku juga memberikan sebuah amplop berisi uang. Sepanjang ibuku berbicara dengan orang tuanya mataku mengincar temanku seperi elang ingin menerkam induk ayam.

‘’Ibu, apa ibu akan memberikan barang yang sama untuk temanku yang lain?’’ tanyaku ingin tahu. 



Ibuku menghardikku, ‘’Mereka yang lain itu orang yang kaya, bagaimana mungkin kita memberi barang-barang seperti itu yang mereka bisa beli dan cukup uang!’’ Sekarang aku tahu ternyata temanku yang tidak pernah menekanku dan mengancamku ini dan itu ternyata mereka dari keluarga berbeda.

Sebenarnya aku tidak tahu apa itu kaya dan miskin, aku hanya tahu temanku yang suka menekanku itu mereka kekurangan. Semenjak hari itu aku jadi sedikit mempunyai pikiran jahat, coba saja kalau mereka berani berulah lagi, akan kubalikkan keadaan dengan mengatakan mereka mengemis kepada ibuku juga. 

            Untung saja hal itu tidak pernah terjadi. Dua temanku yang mendapat baju dan beras dari ibuku tidak pernah melihat ke arahku ketika di sekolah, seolah aku tidak ada. Mereka juga tidak pernah menggangguku lagi, kecuali sedikit bisik-bisik dan ketika aku melihat ke arahnya mereka langsung terdiam.

Ibuku tidak pernah tahu apa yang dilakukan kedua temanku itu di sekolah. Aku tidak pernah bercerita apa pun. Setiap tahun ibuku rutin memberikan sejumlah uang dan baju bekasku yang masih bagus, begitu juga terhadap temanku yang diberikan beras dan uang.


 

Komentar