Namaku Bunga Ayahku Anjing Ibuku Serigala (Bab 4)



 
Namaku Bunga Ayahku Anjing Ibuku Serigala

Penulis; Nurlaeli Umar

Daftar isi:

1.      Kepada Temanku Air, Daun, dan Api         

2.      Bandit Bandit Kecil Beraksi                                 

3.      Senyumku Menyelamatkanku                     

4.      Malam yang Menyiksa                                 

5.      Teman yang Pengacau                                 

6.      Tamu yang Berbeda                                     

7.      Melawan Bosan                                             

8.      Aku Bisa Berjalan                                        

9.      Raporku Kebakaran                                    

10.  Aku Harus Bisa Membaca                           

11.  Aku Cantik                                                    

12.  Aku Bisa Berlari                                           

13.  Aku Berharga                                                

14.  Aku Ingin Mati Saja                                     

15.  Belajar Memahami                                        

16.  Aku Baik Baik Saja                                      


Namaku Bunga. Umurku lima tahun. Aku anak pertama. Aku hanyalah penakut yang keras kepala.  Aku masuk ke kelas satu dengan memaksa ayah dan ibuku mendaftarkannya, karena aku membenci kesepian.

 

Ayah dan ibuku selalu sibuk, orang dewasa yang harus bekerja. Kupikir sekolah dan berada di keramaian anak-anak lain adalah hal yang menyenangkan. Ternyata tidak seperti itu. Aku sangat ketakutan, dan sangat bingung. Semua karena aku yang aneh.

 

Aku bahkan tidak pandai berjalan, apalagi berlari. Aku adalah bahan tertawaan anak-anak lain. Aku tidak bisa menulis seperti anak lain, semua terasa sulit. Belum lagi ibu guru kelasku yang kerap berteriak.

 Membaca dan berhitung, semua itu tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Kupikir bersekolah itu bersenang-senang dan bisa membunuh kesepian. Belum selesai dengan satu ketakutan aku mencoba ketakutan yang lain. Aku mengaji dan sama saja, aku selalu terlambat menjadi tidak aneh. Aku ingin mati saja, sayang nenekku tidak memberitahu bagaimana cara untuk mati,

 Ayahku dan ibuku tidak membantu sama sekali. Mereka pikir aku normal seperti anak-anak yang lain saja. Kejadian-kejadian buruk menimpaku, dan aku belajar karenanya. Orang dewasa selalu berpikir menjadi anak kecil itu mudah, itu sebabnya mereka tidak peduli. Tapi, benarkah aku butuh mereka peduli? Entahlah.


Namaku Bunga Ayahku Anjing Ibuku Serigala

4. Malam yang Menyiksa

Malam sudah datang. Aku seperti biasa mulai menikmati kesepian. Di luar gelap. Aku melihat dari kaca ruang depan. Tidak ada yang bisa kulihat selain warna hitam. Pohon jambu biji menjadi hitam, pohon pisang pun sama. Aku tidak pernah sengaja keluar rumah malam-malam, bahkan meski bulan ternag benderang. Untuk apa?

Satu-satunya hiburan adalah radio, tetapi itu dipakai ayahku nanti malam untuk mendengarkan wayang kulit sampai menjelang pagi. Aku hanya mendengar bunyi katak dan mungkin jangrik atau entah seranggga apa. Aku tidak pernah benar-benar meihat mereka itu bagaimana, Apakah mereka sama sepertiku berbicara atau itu adalah cara mereka bernyanyi? Atau mereka punya kesepakatan dengan ayam jantan soal waktu? Ayam jantan atau ayam betina akan melakukan hal yang sama ketika siang hari, mereka berkokok dan berkotek.

Aku bosan dengan melihat gelap di luar, tetapi aku melakukannya hampir setiap malam. Sementara ayah dan ibuku sibuk di dalam untuk mebuat kue jualan dan menyiapkan apa yang tidak kutahu untuk esok pagi. Mereka hanya berdua saja, tidak ada yang membantu sama sekali. Biasanya setelah aku selesai dengan melihat luar, ayahku akan menyuruhku tidur. Atau, aku kadang tertidur bersama bonekaku di dipan ruang depan. Dan aku terbangun di kamarku esok paginya.

Malam ini berbeda. Entah apa yang membuat ayahku tiba-tiba mengontrol buku sekolahku. Mungkin tanpa kutahu ibu guruku yang cantik bertemu dengan ayahku, atau malah ibuku. Mereka orang dewasa kadang bertemu tidak perlu memberitahuku. Aku sendiri tidak pernah bertemu siap-siapa di rumah, kecuali orang dewasa yang membeli dagangan ayah dan ibuku. Atau mereka yang datang sebentar, kemudian pergi dengan membawa dagangan yang dibuat ayah dan ibuku ketika malam hari, dan mereka yang membawa akan datang lagi di sore hari. Atau orang-orang dewasa yang akan berbicara dengan ibuku setelah sedikit memujiku dan akhirnya keluar rumah dengan membawa sesuatu yang dibungkus kantung kain bekas wadah tepung yang sudah dicuci bersih ibuku..

Di sekolah aku kerap ditertawakan teman-temanku karena aku tidak pandai memegang pensil dan tulisanku tidak terbaca bu guru. Padahal aku sudah membuatnya semirip mungkin apa yang ditulis di papan tulis. Kurasa mata bu guru tidak baik-baik saja, atau mataku yang tidak baik-baik saja? Aku tidak tahu pastinya.

Aku sedang bermain boneka ketika ayahku mendekat. ‘’Mana tasmu? Kamu sekolah tapi tidak mengerti apa-apa. Ayah sudah bilang kamu sekolahnya dua tahun lagi, atau paling cepat setahun lagi. Ibu gurumu mengeluh kamu tidak bisa mengikuti pelajaran seperti anak lain.’’

Astaga! Aku selalu mengikuti kelas dan tidak pernah bermain di kelas. Mengapa bu guru melaporkan hal yang tidak kumengerti kepada ayahku? ‘’Apa bu guru bertemu dengan Ayah?’’ tanyaku kepada ayahku yang masih mematung menunggu aku menunjukkan di mana tasku berada.

“Tasmu mana?’’ tanya ayahku sekali lagi. Aku merasa ini akan tidak baik-baik saja. Aku bangun dari dudukku dan mengambil tasku. Ayahku menerima tasku dan duduk di dekat meja panjang. Semacam meja makan, tetapi di sini dan di rumah orang-orang yang pernah kukunjungi digunakan untuk menerima tamu.

Aku tidak lagi bermain boneka. Aku menatap dengan banyak pertanyaan di kepalaku kepada ayahku yang sedang mengeluarkan buku tulisku. Sekarang ayahku mulai membuka bukuku. Kulihat dadanya turun naik dan matanya menjadi seperti anjing. Seperti anjing yang tidak bersahabat di rumah kerabat. Anjing yang hanya mengincarku saja sampai aku naik ke atas meja makan, sementara semua kerabat yang melihat menertawakanku. Ketakutanku adalah lelucon untuk mereka, benar-benar tidak kupahami. Aku diselamatkan dan anjingnya disuruh pergi setelah aku menangis. Apa kali ini aku harus menangis di depan ayahku? Aku benci menangis.

Mata ayahku beberapa kali terlihat terbelalak melihat buku tulisku. Sungguh aku tidak melakukan kesalahan apa-apa. Aku menulis tidak melewati garus seperti kata bu guru, aku tidak jajan banyak-banyak seperti kata bu guru, apa ayahku marah karena bukuku tidak mendapat angka seperti teman-temanku?

‘’Kemari dan duduk di sini!’’ Ayahku mengatakan itu, dan aku mendekat. Aku duduk di samping ayahku. Tiba-tiba aku merasa takut, takut ayahku akan melengking seperti suara ibu guruku ketika aku melakukan kesalahan.‘’Kamu lihat ini semua dapat nilai nol besar. Tidak ada satu pun huruf yang kamu tulis bisa dibaca. Kamu juga menulis angka semua terbalik. Bagaimana mungkin kamu meminta bersekolah? Ini akibatnya kalau belum masanya bersekolah tetapi minta sekolah! Sekarang belajar membaca! Kalau sudah membaca dan benar, nanti kamu tinggal menulis ulang apa yang Ayah tulis!’’

Ayahku menuliskan huruf dan aku bisa mengejanya. Tetapi, ketika disuruh membacanya dengan menyambung aku sama sekali tidak bisa. Ayahku tidak tahu bagaimana usahaku setiap membaca di kelas. Aku harus menghafalkan nama huruf-huruf itu dengan melihat papan tulis, kemudian menoleh ke dinding. Aku memastikan hurufnya sama kemudian aku akan mengurutkan A sampai Z, karena aku hanya hafal lagu ABC sampai Z saja. Lagu yang kudengar dari teman-temanku.

Ayahku sekarang benar-benar sudah menyerupai anjing dan akan segera menggonggong. Dia benar-benar hilang kesabaran. Tidak hanya penggaris plastikku yang dia pukulkan ke meja, tetapi ke kakiku. Aku sangat ketakutan. Aku tetap tidak bisa mengikuti bagaimana ayahku mengajariku membaca. Semua hilang, aku lebih berkonsentrasi dengan penggaris itu. aku merasa jantungku akan copot karena suara penggaris yang beradu dengan meja atau memikirkan sebelah mana dari kaki yang sekarang akan kena. Benar-benar malam yang paling kubenci.

Ibuku tidak membantuku sama sekali. Dia datang dari arah ruang tengah dengan banyak taburan tepung di bajunya. Dia ikut mengomeliku. Aku merasa benar-benar ingin pergi saja, menghilang dari dunia ini selamanya.

 

 

Komentar