Namaku Bunga Ayahku Anjing Ibuku Serigala (Bab 6)

 Bunga Ayahku Anjing Ibuku Serigala

Penulis; Nurlaeli Umar

Daftar isi:

1.      Kepada Temanku Air, Daun, dan Api         

2.      Bandit Bandit Kecil Beraksi                                 

3.      Senyumku Menyelamatkanku                     

4.      Malam yang Menyiksa                                 

5.      Teman yang Pengacau                                 

6.      Tamu yang Berbeda                                     

7.      Melawan Bosan                                             

8.      Aku Bisa Berjalan                                        

9.      Raporku Kebakaran                                    

10.  Aku Harus Bisa Membaca                           

11.  Aku Cantik                                                    

12.  Aku Bisa Berlari                                           

13.  Aku Berharga                                                

14.  Aku Ingin Mati Saja                                     

15.  Belajar Memahami                                        

16.  Aku Baik Baik Saja                                      


Namaku Bunga. Umurku lima tahun. Aku anak pertama. Aku hanyalah penakut yang keras kepala.  Aku masuk ke kelas satu dengan memaksa ayah dan ibuku mendaftarkannya, karena aku membenci kesepian.

Ayah dan ibuku selalu sibuk, orang dewasa yang harus bekerja. Kupikir sekolah dan berada di keramaian anak-anak lain adalah hal yang menyenangkan. Ternyata tidak seperti itu. Aku sangat ketakutan, dan sangat bingung. Semua karena aku yang aneh.

Aku bahkan tidak pandai berjalan, apalagi berlari. Aku adalah bahan tertawaan anak-anak lain. Aku tidak bisa menulis seperti anak lain, semua terasa sulit. Belum lagi ibu guru kelasku yang kerap berteriak.

Membaca dan berhitung, semua itu tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Kupikir bersekolah itu bersenang-senang dan bisa membunuh kesepian. Belum selesai dengan satu ketakutan aku mencoba ketakutan yang lain. Aku mengaji dan sama saja, aku selalu terlambat menjadi tidak aneh. Aku ingin mati saja, sayang nenekku tidak memberitahu bagaimana cara untuk mati,

Ayahku dan ibuku tidak membantu sama sekali. Mereka pikir aku normal seperti anak-anak yang lain saja. Kejadian-kejadian buruk menimpaku, dan aku belajar karenanya. Orang dewasa selalu berpikir menjadi anak kecil itu mudah, itu sebabnya mereka tidak peduli. Tapi, benarkah aku butuh mereka peduli? Entahlah.



 6. Tamu yang Berbeda

‘’Anak-anak, besok hari Minggu. Kalian tidak sekolah. Itu yang namanya libur. Kalian besok di rumah membantu orang tua membersihkan rumah seperti menyapu. Siapa yang suka membantu ibu menyapu di rumah?’’ Aku mencatat di kepalaku besok adalah hari Minggu, berarti aku libur dan tidak masuk sekolah. Itu melegakan. Yang ke dua siapa yang suka membantu ibu di rumah. Bagaimana aku bisa membantu menyapu? Aku melangkah saja sudah merasa lelah dan lututku lemah.

Aku tidak mengacungkan tangan. Bu guru melihatku, ‘’Mana tanganmu Bunga? Ayo, acungkan ke atas seperti teman-temanmu!’’ Suara bu guru kali ini sedikit berbeda, tidak melengking seperti ketika belajar membaca, menulis, dan berhitung. Aku mengacungkan tangan. Itulah pertama kali aku belajar berbohong.

Ternyata bu guru merasa senang. Aku mencatat dalam kepalaku bahwa berbohong bisa membuat orang lain senang. Tetapi, sesungguhnya itu menyiksaku, berbohong itu tidak mengenakan. Aku tidak mengatakan kalau anak-anak lain berbohong di waktu yang sama, aku yakin mereka bisa menyapu, karena berlari pun mereka mampu.

Hari ini hari Minggu, aku bangun di jam biasa aku bangun pagi untuk sekolah. Aku merengek minta diisikan bak mandi dengan air dari sumur. Ayahku menolaknya dengan mengtakan ‘nanti saja’ dan ibuku menolak dengan kata-kata yang sama. Tetapi, aku tetap merengek. Aku tidak menyukai banyak aturan di mana hari ini begini dan hari esoknya bergantu lagi. Otakku tidak mampu mencerna itu. Akan membuatku bingung.

Aku sekarang menyukai mandi karena merasa air adalah temanku, daun-daun di atas kamar mandi yang terbuka juga temanku. Itu adalah alasan agar aku bisa bertemu dan berbicara dengn teman-temanku. Mereka semua tidak akan mengeluarkan lengkingan dan membaca salahku dari A sampai Z. Kesalahan-kesalahan yang menurutku tidak salah.

Akhirnya ayahku mengisi bak mandi dari menimba air sumur. Ibuku datang ketika jari-jariku sudah keriput. Aku akan menolak jika belum keriput. Aku akan mengatakan kalau aku belum selesai. Dan, berulang begitu. Padahal, ketika ibuku masuk ke dalam rumah, aku hanya mengaduk-aduk air dan berbicara dengan dun-daun dari pohon yang ada di atas kamar mandi. Tentu saja tidak akan terdengar suaraku, aku berbicara dengan hati dan pikiranku saja. Aku mandi setelah tanganku keriput dan ibuku berteriak menanyakan apakah mandiku sudah selesai.

Aku mendapatkan pengalaman itu sebelumnya dan menyimpannya di kepalaku. Saat seluruh  tubuhku yang penuh koreng dan memaksaku berbaring sepanjang waktu setahun sebelum aku sekolah. Aku kerap direndam dalam air hangat di pagi hari yang membuat tubuhku seperti direbus. Di rendam dalam air yang sudah ditaburi jamu sampai telujuk dan jari-jri tanganku yang lain pucat dan berkeriput. Dari air yang seperti jarum panas sampai air menjadi seperti jarum es. Aku selalu berpikir orang lain pun akan sama, melakukan apa yang kulakukan, mereka mandi sampai jari-jari mereka mengeriput, meskipun tidak berendam dan bermain air sepertiku.

Kebiasaan menghangatkan badan pun berlanjut, ibuku selalu menegurku ketika aku mulai bicara dengan api. ‘’Jangan beriskap aneh, itu hanya api!’’ hardik ibuku yang tak paham kalau api itu bisa mengerti apa yang kukatakan dan kukeluhkan, meski tidak pernah bicara sepatah kata pun.

Hari ini hari Minggu. Tidak ada sesuatu yang membuatku bahagia selain sebentar lagi tukang jamu langganan datang. Dia tamu buku yang spesial buatku. Karena, dia tidak pernah menjilat ibuku seoerti yang lain. Mungkin lidahnya pendek. Dia juga selalu memberiku hadiah jamu dengan rasa mentol dan manis yang menjadi satu, setelah ibuku dan tukang jamu itu memaksaku meminum cekokan yang pahit. Kurasa itu lebih baik dari pada cekokan yang langsung diminumkan ibuku di hari pasaran yaitu Selasa dan Jumat. Aku lupa rasa pahitnya dan punya keberanian ketika dia mulai membujukku dengan kata-katanya yang santun. ‘’Nanti air mentol manisnya Ibu beri setengah gelas.’’ Setengah gelas yang bisa membuatku lupa rasa pahit. Mungkin, sebenarnya menurutku karena dialah satu-satunya orang yang bersikap baik padaku di dunia ini.

Aku menyukai hari Minggu. Aku juga menyukai hari Jumat, hari di mana sekolahku hanya sebentar saja, berbagi giliran dengan shift lain yang juga sebentar. Tetapi, tidak dengan satu tamu di antara tamu-tamu itu. Entah bagaimana mereka datang ke rumahku setiap hari Jumat setelah dhuhur, dan setelahnya para perempuan itu akan mendapatkan uang dan bahan makanan dari ibuku. Mereka itu perempuan-perempuan tua berkerudung dan berkain. Aku harus memanggilnya ‘mbah’, tidak boleh ‘ibu’.

Satu dari mereka sudah datang, perempuan berkerudung di mana dua sisi ekor kerudungnya dilipat ke atas. Dia cantik dan bersih, Dia akan berbicara dengan ibuku sementara aku bermain bersama mainanku. Setelahnya dia akan mendekat kepadaku dan meniup ubun-ubunku.

Setelah perempuan pertama datnag, datanglah perempuan ke dua dan seterusnya. Mungkin ada sekitar lima. Terkadang mereka datang satu-satu, kemudian pulang bersama-sama. Tetapi, terkadang mereka benar-benar satu-satu. Satu datang kemudian pergi dan datang yang lainnnya berganti.

Aku sebenarnya terganggu. Tetapi, tradisi suwuk yang berarti mendoakan dan diakhiri dengan meniup ubun-ubunku sudah ada semenjak koreng-koreng sekujur tubuhku sembuh sama sekali. Seingatku begitu. Sewaktu aku sakit, aku disembunyikan seperti sesuatu yang memalukan. Ibuku selalu mengeluh setiap aku kesakitan dan akan merasa mual dengan bau koreng sekujur tubuhku. Dia akan cepat-cepat menghilang dengan alasan mesti membikin makanan untuk jualan atau akan mengerjakan pekerjaan lain.

Ibuku tidak tahu bagaimana aku selalu ketakutan setiap malam diasingkan di kamar depan sendirian. Dan, aku pun akan sendirian ketika siang hari. Sepanjang hari saat itu aku benar-benar selalu sendiri. Ibuku tidak pernah menemaniku dengan bercerita, atau senandung nina bobo. Ibuku hanya datang ketika aku mengeluh ingin buang air kecil dan buang air besar yang berarti mesti menemaniku keluar kamar. Atau, menyuapiku makan dan memberiku obat yang terasa sangat panas di tubuhku.

Setiap orang datang dan menanyakan kesehatanku, ibuku tidak pernah mengajak orang itu sekadar menampakkan muka di balik gordein kamar depan. Hanya suaranya saja yang terdengar dari tempatku berbaring. Saat itu sekujur tubuhku benar-benar berkoreng, bahkan sampai kulit kepalaku dan telapak kakiku.

Selesai direndam dalam air hangat yang diberi ramuan jamu, aku dikeringkan dengan cara berjongkok telanjang di depan tungku. Setelahnya aku akan tidur di kasur yang dialasi daun pisang. Aku sudah seperti akan dipepes saja. Kemudian, ibuku mulai meneteskan obat ke koreng-korengku sambil sesekali tampak seperti ingin muntah. Setiap aku mengeluh panas, ibuku dengan mudahnya akan menenangkanku, ‘’Itu obat, itu namanya reaksi, Kalau tidak panas berarti obatnya tidak bekerja.’’ Dan ketika aku mulai rewel ingin ditemani, dari matanya keluar api. Ayahku pun sama.

Tamu perempuan selanjuutnya yang datang wajahnya seram. Aku seperti melihat setan. Dia tidak cantik tentu saja. Aku pernah mendengar dia menjelekkan ayah dan ibuku di depan tamu yang lain. Mereka bergossip di rumahku sendiri, ketika ibuku masuk untuk mengambil beras di dapur.

Perempuan itu mendekat kepadaku. Aku menggeser dudukku menjauh. ‘’Kenapa setakut itu?’’ tanya ibuku. Aku menggeleng. Perempuan itu tetap maju mendekatiku, sebab kalau tidak dia tidak akan pulang dengan uang dan makanan.

Dia mendekat dan memaksaku yang berusaha menolak, wajahnya mendekat dan mulutnya mulai komat-kamit membaca entah apa. ‘’Tuh, kan, gak papa.’’ Dia mengatakan itu karena akhirnya berhasil melakukan tugasnya. Dia kemudian pulang, tidak berlama-lama menjilat ibuku, karen aku terus menatapnya dengan rasa benci yang jelas terlihat di mataku.

Ketika perempuan itu pergi, ibuku mulai mengambil ancang-ancang mengomeliku seperti biasanya. Dia menanyaiku. ‘’Sikap apa tadi? Kenapa kamu aneh sekali?’’ protes ibuku. Aku tetap dengan diamku, kembali sibuk bermain dengan boneka. Ibuku menarik tanganku, ‘’Lihat Ibu! Kau tahu sikapmu itu tidak sopan sama sekali. Dia itu orang tua. Dan, biasanya kamu baik-baik saja! Ada apa dengamu?’’

Aku meletakkan bonekaku, aku menatap ibuku mencari apa di matanya aku masih ada tempat, tidak hanya sebagai tempat dia menumpahkan kekesalan yang tidak kutahu kepada siapa dan untuk apa. Tidak kutemukan, aku menunduk. ‘’Ibu bertanya, kenapa kamu diam?’’ tanya ibuku mendesak. ‘’Orang itu kemarin mengatakan hal buruk tentang Ibu kepada tamu yang lain. Dia mengatakan Ibu pelit, uang yang diberikan semakin sedikit, dan ayah pemalas. Apa itu artinya? Mereka semua mengangguk setuju.’’

Ibuku tidak pernah mempercayaiku. Aku hanya anak kecil saja. ‘’Tapi, itu urusan orang dewasa. Seharusknya kamu tetap bersikap seperti biasa dan tidak berulah.’’ Ibuku tidak membelaku tidak mengapa, tetapi tidak mempercayai apa yang kukatakan itu sama seperti menghkinatiku.

‘’Lain kali tidak boleh bersikap begitu!’’ Ibuku masih dengan kekerasan hatinya. Aku menggelengkan kepalaku. ‘’Tidak mau!’’ Aku benar-benar tidak mau. ‘’Itu namanya nakal!’’ Aku tahu ibu selalu mengatakan ‘nakal’, satu kata yang aku tidak pahami benar apa maknanya, semuanya serba nakal, entah itu mandi terlalu lama, atau menolak disisir karena menyakiti kepalaku. Kali ini pun sama, ketika aku menolak untuk didoakan oleh perempuan yang datang ke rumahku aku disebut nakal.

‘’Kamu itu kenapa sebenarnya?’’ tanya ibuku dibuat kesal dengan gelengan kepalaku. ‘’Mulutnya bau busuk. Perempuan yang terakhir itu mulutnya bau busuk. Aku tidak mau lagi dan lagi dia mendoakanku!’’ Aku mengatakan itu sambil setengah berteriak.

Komentar