Namaku Bunga Ayahku Anjing Ibuku Serigala (Bab 5)

 

Namaku Bunga Ayahku Anjing Ibuku Serigala

Penulis; Nurlaeli Umar

Daftar isi:

1.      Kepada Temanku Air, Daun, dan Api         

2.      Bandit Bandit Kecil Beraksi                                 

3.      Senyumku Menyelamatkanku                     

4.      Malam yang Menyiksa                                 

5.      Teman yang Pengacau                                 

6.      Tamu yang Berbeda                                     

7.      Melawan Bosan                                             

8.      Aku Bisa Berjalan                                        

9.      Raporku Kebakaran                                    

10.  Aku Harus Bisa Membaca                           

11.  Aku Cantik                                                    

12.  Aku Bisa Berlari                                           

13.  Aku Berharga                                                

14.  Aku Ingin Mati Saja                                     

15.  Belajar Memahami                                        

16.  Aku Baik Baik Saja                                      


Namaku Bunga. Umurku lima tahun. Aku anak pertama. Aku hanyalah penakut yang keras kepala.  Aku masuk ke kelas satu dengan memaksa ayah dan ibuku mendaftarkannya, karena aku membenci kesepian.

Ayah dan ibuku selalu sibuk, orang dewasa yang harus bekerja. Kupikir sekolah dan berada di keramaian anak-anak lain adalah hal yang menyenangkan. Ternyata tidak seperti itu. Aku sangat ketakutan, dan sangat bingung. Semua karena aku yang aneh.

Aku bahkan tidak pandai berjalan, apalagi berlari. Aku adalah bahan tertawaan anak-anak lain. Aku tidak bisa menulis seperti anak lain, semua terasa sulit. Belum lagi ibu guru kelasku yang kerap berteriak.

Membaca dan berhitung, semua itu tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Kupikir bersekolah itu bersenang-senang dan bisa membunuh kesepian. Belum selesai dengan satu ketakutan aku mencoba ketakutan yang lain. Aku mengaji dan sama saja, aku selalu terlambat menjadi tidak aneh. Aku ingin mati saja, sayang nenekku tidak memberitahu bagaimana cara untuk mati,

Ayahku dan ibuku tidak membantu sama sekali. Mereka pikir aku normal seperti anak-anak yang lain saja. Kejadian-kejadian buruk menimpaku, dan aku belajar karenanya. Orang dewasa selalu berpikir menjadi anak kecil itu mudah, itu sebabnya mereka tidak peduli. Tapi, benarkah aku butuh mereka peduli? Entahlah.


 Namaku Bunga Ayahku Anjing Ibuku Serigala

5. Teman yang Pengacau

Malam berikutnya tidak ada lagi suara menggelegar dan benturan penggaris beradu meja. Aku memejamkan mata lebih awal. Padahal, malam-malam sebelumnya aku begitu membenci tidur sore. Aku akan tidur agak larut, lebih tepatnya sampai ayahku menyuruhku tidur dan ibuku bolak-balik mengatakan agar aku tidur agar tidak terlambat ke sekolah. Kudengar suara ayahku di depan pintu kamar, ‘’Sudah tidur saja!’’ Kalimat itu melegakanku, meski aku tahu itu adalah keluhan kegagalan. Setelahnya aku benar-benar tidur sampai pagi.

Pagi  yang berbeda, ada peraturan baru, sebelum masuk kelas harus berbaris rapi di luar dan masuk bergiliran. Aku sudah mendapat barisanku, tetapi teman yang terakhir meminjam uangku kemarin mendorongku ke belakang sehingga aku terjatuh. Aku menandai wajahnya, aku tidak akan meminjamkan uangkku nanti di jam istirahat, begitu keluhku dalam hati.

Bagi orang lain bangun dari jatuh itu bisa dalam hitungan detik, tapi bagiku bangun dari jatuh berarti aku harus mengumpulkan banyak tenaga. Aku berusaha semampuku, dan terlihat aneh untuk teman-temanku. ‘’Dia lemah, bangun saja tidak bisa,’’ kata seorang temanku yang laki-laki yang berbaris di dekatku sambil menunjukku. Beberapa teman yang lain melihat ke arahku dan tertawa, aku hanya bisa diam dan berusaha bangun. Bu guru ada di depan barisan tepat di depan pintu masuk kelas dan mungkin tidak melihat kejadian aku jatuh, bu guru hanya mengatakan; jangan bercanda, saja.

Barisanku mendapatkan giliran terakhir masuk, setelahnya setiap hari barisanku tidak pernah mendapat urutan pertama untuk masuk. Awalnya, aku merasa aku adalah pembawa sial, tetapi semakin hari semakin aku merasa itulah keberuntunganku. Aku bisa berjalan masuk paling terakhir tanpa didorong teman yang berada di belakangku.

Kereta api sudah lewat, lonceng sudah dipukul tanda istirahat berbunyi. Benar saja, setelah aku berdiri di dinding, beberapa temanku meminjam uangku. Akhirnya sampai kepada anak yang menjatuhkanku tadi pagi. Aku mengatakan kepadanya tidak. Dia mulai mengancamku, ‘’Kamu sekarang bukan temanku lagi! Aku tidak mau berteman denganmu.’’ Aku menatap wajahnya, wajahnya tidak tertawa. Jadi, seperti itu wajah orang kecewa ternyata. Aku menyimpannya dalam memoriku.

Beberapa teman setelahnya ada yang meminjam dan kuberikan. Akhirnya sampai uangku tidak kembali. Bel berbunyi dan aku masuk dengan perut perih. Aku sangat lapar dan ingin makan. Aku berdoa sepanjang pelajaran agar aku cepat pulang.

Ternyata sekolah tidak menyenangkan, lagi-lagi aku berpikir seperti itu. Kukira sekolah hanya makan, bernyanyi, dan pulang. Sesi menulis kembali lagi, aku tidak tahu kenapa aku harus menulis kalau di buku sudah ada dan di papan tulis ibu guru sudah menyalinnya.

Semakin hari semakin aku membenci sekolah, tetapi tidak ada pilihan lain. Semakin hari semakin aku menyadari kalau sekolah itu yang menyenangkan adalah ketika berangkat dan pulang saja.

Bu guru menuliskan angka satu sampai sepuluh di papan tulis. ‘’Sekarang mencongkak! Ibu akan memberikan soal dan kalian mengisi jawabannya saja.’’ Aku tidak paham, aku baru di tahap menyalin tulisan dan itu setengah mati rasanya. Meski aku bisa berhitung, tetapi aku kurang pandai menuliskannya.

‘’Ibu mempunyai ayam sepuluh, dijual ke pasar dua, berapa sisa ayam ibu?’’ Aku menengok ke kanan dan ke kiri. Bu guru mulai memperingatkanku, ‘’Bunga, jangan menoleh ke kanan dan ke kiri, tulis saja jawabanmu. Hitung dulu!’’ Aku bingung setengah mati. Yang ada di kepalaku mengapa ibu itu menjual ayamnya, ibuku di rumah menjual kue. Sedangkan ayam yang tinggal di dekat tungku, kerjanya bertelur dan setelah menetas induknya kerap mengejarku karena aku ingin menangkap anaknya yang berbulu halus dan lucu. Tentu saja aku selalu kena patuk dari induknya, karena aku tak pandai berlari dan berjalan pun sangat pelan. Aku akan selalu memilih duduk di tanah di bawah pohon pisang. Aku betah duduk di sana sendirian, berteman dan bicara dengan pikiranku atau rumput yang ada di dekat situ, ketika ibu menyuruhku bermain di luar rumah. Sesekali induk ayam itu mendekati dudukku bersama anak-anaknya.

Hari berikutnya anak yang kemarin kutolak mendekatiku, dia ingin mendapatkan giliran meminjam uangku, aku kembali menolaknya. Aku menyukai mimik mukanya yang kecewa. ‘’Kamu pelit, aku gak boleh pinajm uangmu! Tapi, kenapa yang lain boleh?’’ Aku tidak mengatakan kemarin dia mendorongku jatuh dan membuat yang lain menertawkanku. Aku lebih memilih menghemat energiku untuk tidak tumbang. Sebab, lututku sudah mulai terasa lelah meski aku berdiri menyandar pada dinding.

Dia menjauh dariku sambil berlari ke arah teman-teman yang tidak pernah menggangguku. Mereka pergi dan kembali dengan makanan tanpa meminjam uangku. Mereka tidak pernah menggangguku. Mereka sibuk bermain sendiri. Tidak mempedulikanku, tetapi itu membuatku merasa aman.

Biasanya, ketika aku benar-benar lelah dengan rasa sakit di kakiku, aku memilih menjatuhkan badanku. Ada saja yang melihatku dan mengatakan aku aneh. Aku awalnya malu, tetapi aku tidak punya pilihan, setelah merasa lebih baik aku akan bengun dan bersandar lagi ke dinding sampai bel masuk tiba, Bel masuk yang kemudian akan disambung dengan sedikit pelajaran, kemudian bernyanyi, dan pulang.

Anak yang kemarin kutolak datang rupanya pantang menyerah, dia datang lagi tetapi kali ini dengan teman yang berbeda. Teman yang diaajak mengenal ibuku, karena kerap datang bersama ibunya ke rumahku untuk meminjam beras dan meminta sedikit uang. Ibuku kepada orang-orang itu sangat pemurah. ‘’Kamu kalau gak mau minjemin, aku bilangin ke ibumu!’’ gertaknya. Aku akhirnya memberikan uangku kepada anak yang kutolak. Aku sebenarnya sangat tidak rela. Karena, setelah hari itu dia selalu menggertakku dengan kata-kata ‘nanti aku bilangin ke ibumu’. Aku tidak suka dengan kalimat itu. Aku benar-benar takut hal itu akan diadukankepada ibuku. Alamat aku akan mendapat tambahan lengkingan marah ibuku.

Kalau hal itu terjadi, aku benar-benar tidak mempunyai zona aman lagi. Aku takut aku dipaksa tidak boleh bersekolah lagi. Di rumah ketika ibuku sibuk itu adalah waktu teraman, tetapi ketika ibuku sudah mulai tidak terlalu sibuk, maka aku adalah kesibukannya yang hakiki. Sibuk dengan membaca semua yang kulakukan, sibuk menanyai apa yang tidak kusukai, sibuk memaksaku makan, sibuk mengikat rambutku dan sibuk membuat aku bosan karena tidak boleh sendirian.

Aku membenci temanku yang kerap datang ke rumahku dengan ibunya yang pengemis itu. Aku tidak tahu apa yang dilakukan ibunya untukku dan ibuku, tetapi semakin hari semakin rutin datang. Aku juga membenci sikap temanku ketika dia datang ke rumahku, seolah aku dan dia teman baik. Dia akan mendekatiku menjamah mainanku dan mulai mengoceh. Lalu ibuku memuji anak itu dan mengatakan, ‘’Bunga selalu diam seperti itu. Kamu pasti suka bermain bersama Bunga di sekolah, ya? Iya ajak Bunga main. Kamu memang anak yang ceria.’’ Itu benar-benar bukan ceria, tapi menjajahku.

Saat itu aku belajar banyak tentang orang yang bermuka sepuluh. Temanku yang kerap datang bersama ibunya tersenyum dan mengangguk. Apalagi dia mendapat uang dari ibuku. Aku akan membalasnya? Bagaimana bisa? Kakiku saja lemah, sedang dia dengan lincah memainkan mainan milikku dan naik turun dipan tempatku duduk. Dia juga berjalan cepat, dan datang ke rumahku tidak digendong. Tidak sepertiku yang lamban dan memalukan.

 

 

 


Komentar