Namaku Bunga Ayahku Anjing Ibuku Serigala (Bab 3)

 







 

Namaku Bunga Ayahku Anjing Ibuku Serigala

Penulis; Nurlaeli Umar

Daftar isi:

1.      Kepada Temanku Air, Daun, dan Api         

2.      Bandit Bandit Kecil Beraksi                                 

3.      Senyumku Menyelamatkanku                     

4.      Malam yang Menyiksa                                 

5.      Teman yang Pengacau                                 

6.      Tamu yang Berbeda                                     

7.      Melawan Bosan                                             

8.      Aku Bisa Berjalan                                        

9.      Raporku Kebakaran                                    

10.  Aku Harus Bisa Membaca                           

11.  Aku Cantik                                                    

12.  Aku Bisa Berlari                                           

13.  Aku Berharga                                                

14.  Aku Ingin Mati Saja                                     

15.  Belajar Memahami                                        

16.  Aku Baik Baik Saja                                      


Namaku Bunga. Umurku lima tahun. Aku anak pertama. Aku hanyalah penakut yang keras kepala.  Aku masuk ke kelas satu dengan memaksa ayah dan ibuku mendaftarkannya, karena aku membenci kesepian.

Ayah dan ibuku selalu sibuk, orang dewasa yang harus bekerja. Kupikir sekolah dan berada di keramaian anak-anak lain adalah hal yang menyenangkan. Ternyata tidak seperti itu. Aku sangat ketakutan, dan sangat bingung. Semua karena aku yang aneh.

Aku bahkan tidak pandai berjalan, apalagi berlari. Aku adalah bahan tertawaan anak-anak lain. Aku tidak bisa menulis seperti anak lain, semua terasa sulit. Belum lagi ibu guru kelasku yang kerap berteriak.

Membaca dan berhitung, semua itu tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Kupikir bersekolah itu bersenang-senang dan bisa membunuh kesepian. Belum selesai dengan satu ketakutan aku mencoba ketakutan yang lain. Aku mengaji dan sama saja, aku selalu terlambat menjadi tidak aneh. Aku ingin mati saja, sayang nenekku tidak memberitahu bagaimana cara untuk mati,

Ayahku dan ibuku tidak membantu sama sekali. Mereka pikir aku normal seperti anak-anak yang lain saja. Kejadian-kejadian buruk menimpaku, dan aku belajar karenanya. Orang dewasa selalu berpikir menjadi anak kecil itu mudah, itu sebabnya mereka tidak peduli. Tapi, benarkah aku butuh mereka peduli? Entahlah.


Namaku Bunga Ayahku Anjing Ibuku Serigala

3. Senyumku Menyelamatkanku

Ini adalah hal yang paling menyenangkan untukku selama aku bersekolah di kelas satu dari awal aku masuk, bernyanyi setelah kereta api yang ke tiga lewat, setelah itu pulang. Aku menandainya begitu. Meski aku asing dengan nyanyiannya tetapi aku menyukainya. Wajah teman-temanku terlihat senang, ibu gukuku pun seramnya hilang. Kami semua bertepuk tangan, aku hanya mengikuti vokalnya saja, mereka a aku ikut a, ketika mereka o aku akan ikut o. Aku sudah berusaha mengikuti mereka, tetapi hasilnya belum sesempurna mereka. Aku selalu bersemangat, meski setelahnya aku akan duduk diam menunggu mereka yang tertawa, berteriak senang dan berdesak-desakan keluar kelas. Andai aku bisa aku juga ingin berada di antara mereka, tanpa harus menunggu.

Aku selalu keluar terakhir, dan aku akan menjadi olok-olokan anak yang masuk shift ke dua. Di sekolah ini anak kelas satu, dua, dan tiga, dibagi menjadi dua shift. Mereka anak-anak shift ke dua mengtaiku aneh. Aku diam saja. Aku keluar dari kelasku sambil menjaga agar aku tidak jatuh terduduk.

 Aku mulai melangkah menyusuri koridor kelas menuju pintu gerbang, Tentu saja langkahku satu satu. Agar aku tidak malu aku melihat kanan-kiri apa yang bisa kulihat. Terkadang bunga, terkadang tulisan di dinding luar kelas yang kulewati, terkadang aku menghitung ubin yang kulewati. Itu kulakukan agar ketika bertemu anak kelas lain yang sedang keluar kelas untuk satu keperluan aku tidak merasa malu.

Tempo hari sebelum sekolah, aku selalu merengek untuk sekolah, sampai aku demam. Aku didaftarkan dengan alasan itu. Sekolah menerimanya dan sekarang aku menyesalinya. Tidak mungkin aku mengatakan aku ingin keluar sekolah, meski sebenarnya kakiku sangat membuatku menderita. Aku senang berada di keramaian meski aku tidak melakukan apa-apa. Aku merasa sangat kesepian di rumah sendirian, meski ibuku kerap membelikan aku mainan dan baju bagus. Aku tidak terbantu sama sekali.

Akhirnya, aku sampai di pintu gerbang sekolah, aku melirik ke arah warung . Sudah sepi dan penjualnya sedang membereskan sisa-sisa dagangannya. Sepi, aku melihat masih ada beberapa makanan di atas meja tetapi uangku hari ini sudah habis. Keping terakhir dipinjam dan tidak kembali lagi.

Seperti biasa aku akan melangkah satu-satu setelah melewati pintu gerbang, benar-benar satu langkah berjalan, kemudian berhenti. ‘’Bunga, cepat pulang, hari sudah panas! Nanti kamu dicari ibumu! Jalanlah cepat jangan main-main!’’ Seseorang yang mengenal aku dan ibuku mengatakan itu dan aku mengangguk sopan. ‘’Iya, Bu.’’

Di jalan besar tanah dengan sedikit berbatu yang kulalui, teman yang kutahu sekelas denganku sudah berganti baju dan bermain sepeda. Dia mendekatiku, ‘’Kamu habis mainan, ya? Pulang sekolah itu pulang. Kata bu guru kalau pulang sekolah ganti baju dulu, baru main.’’

Aku mengangguk dan tersenyum, aku melanjutkan jalanku lagi. Aku menarik napas dan mencoba melangkahkan kaki lebih cepat. Bisa! Tetapi di langkah kesebelas aku berdiri lebih lama, bahkan sampai membungkuk. Aku tidak boleh tumbang, kataku dalam hati. Aku takut kalau ibuku tahu, besok aku benar-benar tidak diperbolehkan sekolah. Aku benci mengeluh dan benci kesepian sekaligus.

Aku mulai berjalan lagi, kakiku terasa lemah dan sakit, tetapi aku tidak pernah menangis, meski ingin sekali menangis. Aku merasa akan malu dan mempermalukan diriku sendiri kalau aku menangis. Aku terus berjalan dan berjalan lagi, masih sama berdiri mematung lama setelahnya merasakan lelah yang teramat sangat di kakiku. Kakiku lemah, jangankan untuk berlari berjalan pun sudah sangat menderita begini.

Untung aku belum besar. Belum kelas empat di mana ada pelajaran berlari dan menagkap bola di lapangan. Aku selau menyenangi keberuntunganku, aku masih kelas satu SD. Apa aku merasa kecil? Tidak, tentu saja tidak, aku sudah besar, karena sekarang sudah sekolah. Aku juga merasa pintar, meski belum juga bisa merangkai huruf dengan huruf menjadi sebuah kalimat.

Sebentar lagi ada belokan masuk ke gang di mana di ujungnya sebelum jalan berbatu yang sepi ada rumahku di sana. Sebuah gang sepi di mana lebih banyak pohon dan kolam ikan yang besar. Tetanggaku hanya satu rumah saja. Itu pun aku tidak pernah melihat siapa yang tinggal di dalamnya. Aku terus berjalan, yang kupikirkan adalah tembok pak lurah. Gangku itu masuk dari tembok rumah pak lurah ke dalam. Tembok yang membantuku berdiri dan membuat tubuhku bisa bertenaga. Aku sudah menjaga tubuhku dari sekolah sampai di sini hanya untuk agar tidak jongkok di jalan besar berbatu di bawah matahari yang terik.

Akhirnya, tiga langkah lagi aku sampai di tembok pak lurah. Aku bahagia sekali. Aku sebenarnya hampir menyerah, tetapi tembok itu membuat semangatku menyala. Bruk! Tangan dan badanku kujatuhkan ke dinding. Lega rasanya ada yang menopang tubuhku. Setelah beberapa saat aku mulai berjalan lagi dengan berpegangan kepada dinding tembok itu menuju arah rumahku. Temboknya hanya sepertiga jalan gang saja panjangnya.

Rumahku sudah terlihat, aku hanya tinggal harus melewati jalan yang berdekatan dengan kolam dan sampai, itu saja. Di lima langkahku aku terjatuh. Tenagaku habis. Aku benar-benar jatuh terduduk. Kakiku terasa lemas. Aku duduk dan menutupi kakiku dengan rok merahku.

Dalam keadaan jatuh aku tidak meakukan apa-apa, aku hanya menunggu sampai tenangaku pulih sambil melihat daun-daun dari pohon-pohon yang ditiup angin, atau terkadang malah bermain melempar batu-batu kecil yang ada di dekatku ke arah jauh.

Seseorang menegurku dari belakang, ‘’Kamu jatuh, Bunga? Ayo, bangun! Ada yang sakit?’’ Aku menggeleng, aku tidak merasa sedih, tetapi aku malu. Aku malu karena kakiku lemas. Aku mengalihkan perhatiannya, ‘’Ibu dari mana? Dari belanja?’’ tanyaku.

Orang itu bukan tetanggaku, tetapi aku familiar dengan wajahnya. Rumahnya jauh dari rumahku dan kurasa dia habis berbelanja saja, kebetulan dia lewat gang di samping  rumahku. Karena gang rumahku tembus ke jalan besar lain yang lebih sepi. Jalan besar yang dilalui mobil, tetapi hanya di hari Selasa dan Jumat saja ramai, selebihnya seperti jalan mati.

‘’Iya, ayo, kalau mau dibantu! Apa kamu terjatuh dan kakimu berdarah?’’ Ibu itu memandangi rokku di mana kakiku kusembunyikan, tetapi aku menggeleng dan memegangi rokku. ”Tidak, saya hanya jatuh dan lecet sedikit saja. Saya hanya ingin duduk sebentar lagi.’’Ibu itu ternyata benar-benar ingin membantuku, dia membungkuk, kemudian mengulurkan kedua tangannya. ‘’Bangunlah, nanti rokmu akan kotor!’’ Aku mengangguk, ‘’Ibu pergi saja, nanti saya akan bangun. Terima kasih.’’

Itulah aku, anak kecil yang semua orang memujiku setiap mereka datang ke rumahku. Aku anak kecil yang sopan dan pandai berterima kasih. Meski sebenarnya aku tidak suka mereka menggangguku dengan pertanyaan-pertanyaan, karena sebenarnya mereka hanya ingin mengambil perhatian ibuku saja, tidak pernah benar-benar ingin menemaniku.

Ibu itu akhirnya mengalah untuk membiarkan aku sendirian dan berlalu, tetapi tidak sampai di situ saja, setelah agak menjauh dia berteriak dari jalannya, ‘’Yu, itu Bunga duduk di jalan. Sepertinya jatuh.’’ Aku langsung bangun sekuat tenaga, aku tidak mau ibuku tahu aku terduduk di jalan gang dan mempermasalahkannya.

Aku bangun, entah mengapa tubuhku terasa bugar, aku berjalan normal dan pulang. Ibuku rupanya benar-benar akan keluar dan melihatku. ‘’Kamu sudah pulang?’’tanya ibuku sambil melihat seragamku, terutama rok yang kupakai. Aku mengangguk dan tersenyum, ‘’Sudah, Bu.’’

Ibuku tidak pelupa, ‘’Tadi katanya kamu jatuh, ada yang berdarah?’’ Suara ibu tadi memang sangat kencang, tentu saja ibuku mendengarnya dari dalam rumah. Apalagi, pintu dapur sedang dalam keadaan terbuka. Aku menggeleng dan tersenyum lagi, ‘’Tidak, Bu. Hanya tersandung batu saja. Orang tadi melihatku jatuh dan dia ingin membantuku bangun. Aku bisa sendiri, jadi aku menolaknya.’’

‘’Kalau begitu ganti bajumu, letakkan di bangku ruang depan, nanti Ibu akan membereskannya!’’ Aku mengiyakan. Aku merasa senang karena hari ini aku tidak mendapat omelan. Mungkin ibuku lupa dan merasa iba karena aku terjatuh. Biasanya ibuku akan memprotes karena kepang dua yang menyiksa kepalaku sudah kubuka ketika jatuh tadi. Setiap hari aku melakukan itu, karena setiap hari rutinitasku sama terjatuh atau menjatuhkan diri ketika sudah melewati tembok pak lurah. Di saat itu juga aku merayakan kebebasanku mencopot kepangan dan jepit yang menyiksa kepalaku. Meski hasilnya rambutku menjadi awut-awutan tak keruan.

 

Komentar