Namaku Bunga Ayahku Anjing Ibuku Serigala (Bab 7)

 

Namaku Bunga Ayahku Anjing Ibuku Serigala

Penulis; Nurlaeli Umar

Daftar isi:

1.      Kepada Temanku Air, Daun, dan Api         

2.      Bandit Bandit Kecil Beraksi                                 

3.      Senyumku Menyelamatkanku                     

4.      Malam yang Menyiksa                                 

5.      Teman yang Pengacau                                 

6.      Tamu yang Berbeda                                     

7.      Melawan Bosan                                             

8.      Aku Bisa Berjalan                                        

9.      Raporku Kebakaran                                    

10.  Aku Harus Bisa Membaca                           

11.  Aku Cantik                                                    

12.  Aku Bisa Berlari                                           

13.  Aku Berharga                                                

14.  Aku Ingin Mati Saja                                     

15.  Belajar Memahami                                        

16.  Aku Baik Baik Saja                                      


Namaku Bunga. Umurku lima tahun. Aku anak pertama. Aku hanyalah penakut yang keras kepala.  Aku masuk ke kelas satu dengan memaksa ayah dan ibuku mendaftarkannya, karena aku membenci kesepian.

Ayah dan ibuku selalu sibuk, orang dewasa yang harus bekerja. Kupikir sekolah dan berada di keramaian anak-anak lain adalah hal yang menyenangkan. Ternyata tidak seperti itu. Aku sangat ketakutan, dan sangat bingung. Semua karena aku yang aneh.

Aku bahkan tidak pandai berjalan, apalagi berlari. Aku adalah bahan tertawaan anak-anak lain. Aku tidak bisa menulis seperti anak lain, semua terasa sulit. Belum lagi ibu guru kelasku yang kerap berteriak.

Membaca dan berhitung, semua itu tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Kupikir bersekolah itu bersenang-senang dan bisa membunuh kesepian. Belum selesai dengan satu ketakutan aku mencoba ketakutan yang lain. Aku mengaji dan sama saja, aku selalu terlambat menjadi tidak aneh. Aku ingin mati saja, sayang nenekku tidak memberitahu bagaimana cara untuk mati,

Ayahku dan ibuku tidak membantu sama sekali. Mereka pikir aku normal seperti anak-anak yang lain saja. Kejadian-kejadian buruk menimpaku, dan aku belajar karenanya. Orang dewasa selalu berpikir menjadi anak kecil itu mudah, itu sebabnya mereka tidak peduli. Tapi, benarkah aku butuh mereka peduli? Entahlah.


7. Melawan Bosan

Ibuku tidak pernah tahu dengan nasib kakiku. Di rumah pergerakanku hanya dari dipan ke kursi meja yang berjarak tiga meter. Atau, ke kamarku yang berjarak sepuluh meter. Paling jauh ke kamar mandiku yang berada di luar rumah. Aku tidak pernah mengeluh capek dengan pergerakan kakiku, karena setelah pindah dari satu ke satu yang lain aku akan duduk sampai berjam-jam.

Tamu-tamu di rumahku kerap datang. Aku tidak tahu mereka datang dengan kemauan sendiri atau benar-benar ibuku yang mengundang. Aku bingung dengan mereka, mereka kerap datang ke rumahku dan berbeda-beda orang, seperti mempunyai jadwal kunjungan saja.. Mereka biasanya memujiku dengan mengatakan ‘anak pinter anteng sekali’. Setelahnya mereka bicara dengan ibuku. Sedangkan ibuku hampir tidak pernah berbicara baik-baik dengaku, kecuali menyuruhku makan, minum, dan mandi. Kalau aku mulai lamban dan tidak merespon barulah suara ibuku akan melengking. Dia akan merasa aku menyia-nyiakan waktunya percuma, apalagi ketika ibuku keberatan membersihkanku selepas aku membuah hajat atau sekedar membuang air kecil.

Tamu itu datang untuk ibuku setelah menegurku dan memujiku. Aku tidak terlalu tahu apa yang mereka bicarakan juga. ‘’Bunga pinter, ya, gak rewel. Main di dalam rumah saja sendirian, jangan ganggu ibu, ya!’’ Aku diam saja hanya melirik, kemudian sibuk lagi dengan bonekaku yang membosankan.

Orang-orang itu kemudian akan pergi, dan bagiku kedatangan orang itu dengan membawa entah itu oleh-oleh atau apa pun tidak membuatku senang. Tetapi, tidak dengan ibuku, setiap ada yang datang mukanya selalu bersinar, senyumnya mengembang, sebuah wajah yang tidak pernah diperlihatkan kepadaku. Itu sebabnya ketika ibuku tertawa bahagia bersama orang-orang yang datang dan mereka menatapku, aku bingung apa arti bahagia di wajah ibuku.

Ketika aku merasa bosan di dalam rumah, sementara aku sedang tidak bertenaga, aku berusaha bangun dan mencoba berjalan menggapai pintu dengan cara meraba dinding sebagai pegangan. Aku sering melakukan itu, dan akan menghentikan itu setiap kali ibuku muncul dari ruang tengah untuk ke kamar atau meletakkan makanan di meja. Aku akan pura-pura melihat laba-laba atau mengorek telur-telur yang disisakan pemakan kayu di dekat jendela kaca.

Kali ini ibuku masih sibuk di ruang tengah. Aku akhirnya sampai ke pintu dan membuka handlenya. ‘’Ke mana?’’ Terdengar suara ibuku di belakangku. Tentu saja aku kaget, secepat itu orang sehat bergerak, aku selalu kalah cepat bahkan untuk sekadar keluar rumah.

‘’Bosan di dalam. Apa boleh bermain di tanah saja?’’ tanyaku. Ibuku tidak menjawab, tetapi membuka pintu  dan mendahuluiku keluar. Aku diam saja di pintu memperhatikan bagaimana ibuku dengan gesit bergerak mengambil daun-daun pisang dan mengiris batang-batangnya. ‘’Ini sudah Ibu bikinkan mainan. Jangan ke mana-mana, di sini saja.’’ Aku mengangguk, ibuku pergi meninggalkan aku bersama batang-batang pelapah pisang dan daun-daunnya ke sumur, lalu aku mulai meraba dinding untuk keluar. Terasa sakit dan lemah sekali tulang-tulangku.

Aku berjalan selangkah demi selangkah, sedangkan ibuku masuk ke rumah melewati pintu belakang dekat sumur. Aku akhirnya sampai di daun-daun pisang yang ibuku siapkan. Aku tidak tahu aku mesti bermain apa dan bagaimana. Aku hanya menyobek daunnya kemudian takjub dengan daunnya yang bisa ditarik menjadi lebih kecil bentuknya. Ibuku tidak mengajariku cara bermainnya.

Tentu saja aku bermain sendirian. Aku menikmati itu dan mulai berbicara sendiri bersama teman khayalku, teman yang tidak pernah kulihat nyata tetapi kuanggap seolah-olah ada. Aku merasa ini mengasyikan. Mereka seolah-olah datang membersamaiku bermain. Aku bicara seperti teman-teman ibuku yang datang ke rumah. Tentu pembicaraanku hanya sebatas kosa kata yang kubisa saja.

Hari ini ada yang berbeda, benar, aku merasa tidak sendirian dan tidak kesepian lagi. Mereka baik. Ada anak kecil, anak besar, dan orang dewasa. Aku senang, karena mereka tidak memaksaku untuk makan dan minum. Aku membenci makan, karena untuk mengangkat makanan ke mulut lenganku terasa pegal, belum lagi untuk mengunyah gerakan gerahamku terasa sekali di telingaku. Membuatku lelah dan menakutkan sekaligus. Di sini mereka hanya membeli daganganku saja. Aku membungkusnya sebisaku, lalu menggeserkannya sedikit menjauh dari temat dudukku.

Ibuku membiarkanku di halaman depan rumah sendirian. Ibuku pasti sangat senang, karena aku tidak sebentar-bentar memanggilnya karena kesepian. Aku bermain sampai jam mandiku tiba. ‘’Bunga, bangun dan mandilah!’’ Ibuku sudah berada di depan pintu belakang menungguku.

Aku mengangguk. Aku mengumpulkan tenaga agar aku bisa bangun, tetapi tenagaku hampir habis setelah bermain pasar-pasaran. Mungkin aku terlalu senang. Aku berusaha bangun, dan akhirnya bisa, tetapi langkahku tetap satu-satu menuju ibuku. Itu juga setengah kupaksa. ‘’Sabunnya sama handuknya diletakan di tembok, kamu bisa mengambilnya, bukan?’’ tanya ibuku yang tidak sabar menungguku, akhirnya meletakkan semuanya di kamar mandi. Aku mengangguk.

Ibuku tahu aku akan lama sekali bahkan untuk sekadar membuka baju. Dia membantuku, melepasnya, aku berjalan tertatih ke kamar mandi yang baknya sudah dipenuhi air. Aku tidak mandi, sekarang aku juga mengajak air, daun-daun, dan temanku yang tadi bermain pasar-pasaran main air bersamaku. Aku tidak mengangkat air itu tetapi menepuknya dan itu menggembirakan sekali. Air itu memercik dan aku melakukannya lagi dan lagi.

‘’Hei, kenapa kamu tetawa-tawa di kamar mandi? Ada apa?’’ tanya Ibuku dengan teriakannya dari dalam rumah, kemudian muncul dari pintu belakang. Ibuku menjadi tidak sabar, dia menjewer telingaku. ‘’Sejak kapan kamu menjadi nakal begini?’’ tanya ibuku padaku. Tentu saja itu bukan pertanyaan yang harus dijawab. Itu adalah kemarahan.

‘’Besok tidak boleh mandi sambil tertawa-tawa! Dan, mandi itu bukan ditepuk, tetapi memakai gayung.’’ Ibuku memberi penjelasan sambil mengguyur tubuhku dan menyabuniku dengan kasar. ‘’Tapi, capek pakai gayung,’’ kataku mencoba menjelaskan. Aku tidak mengatakan kalau aku sekarang punya teman, dan pasti ibuku akan menanyakan siapa dia dan bagaimana rupanya. Aku bingung menjelaskannya nanti, karena aku tidak melihat apa pun dan hanya membayangkan saja.

‘’Kamu harus belajar, kamu kan sudah sekolah!’’ kata ibuku. Aku tidak suka kalimat itu, kenapa dengan sekolah? Di sekolah tidak ada yang mengatakan harus mandi dengan gayung sendiri. Di sekolah bu guru hanya mengajariku membaca, menulis, dan menghitung. Selebihnya membuatku bingung dengan banyak kalimat yang keluar dari mulutnya dan teriakannya yang nyaring.

Aku membenci alasan karena aku sudah sekolah. Itu seolah-olah membuatku bersalah karena meminta bersekolah. Terkadang aku membenci sekolah seperti sekarang ini, tetapi aku suka melihat orang-orang ramai.

Aku tidak terlalu mempersoalkan bagaimana ibuku marah dan kadang gemas mencubitku sehingga aku memangis dan menyisakan bekas tanda biru di lengan atasku. Tapi, setidaknya aku sekarang mempunyai teman baru dan dunia sendiri. Dunia yang membuatku tidak kesepian dan bisa mereka-reka bagaimana temanku itu, bisa dua tiga, lima, atau bahkan satu saja, kalau mereka membosankan aku bisa menggantinya semauku, dan yang terpenting tidak ada yang mengancamku akan melaporkan aku kepada ibuku kalau tidak dipinjami uang ketika jam istrirahat datang,

Malam ini setelah akhirnya ibu menyuapiku makan dengan kata-kata yang menyuruhku agar aku cepat mengunyah, karena banyak pesanan, akhirnya aku selesai juga meski hanya tiga sendok yang berhasil kuhabiskan. Aku mengatakan tidak ada ketika ibuku menanyakan apakah ada pekerjaan rumah dari bu guru. Aku menolak sebisaku untuk diajari oleh ibu atau ayahku, dan kebetulan mereka berdua juga tidak punya waktu. Aku memilih bermain di depan kaca di ruang depan. Aku melihat ke arah kejauhan yang hanya terlihat gelap saja. Seolah memahami bahwa temanku juga malam ini mesti tidur disuruh ibu mereka.

Tentang tugas menyalin tulisan ke dalam buku tulis dari buku cetak, aku tidak pernah mengerjakannya. Aku tahu hukumannya adalah punggung tanganku terkena sentilan bu guru dan mesti berdiri. Aku sudah tahu, tetapi aku mengulanginya lagi dan lagi. Sebisa mungkin aku menghindari mengerjakannya di rumah agar kesusahanku tidak dobel, aku tidak mau di rumah aku mendapat lengkingan suara di sekolah aku mendapat hukuman.

Aku pergi ke tempat tidurku sendiri, tanpa disuruh ibuku lagi. Karena aku tidak merasa kesepian lagi. Aku merasa senang mempunyai teman baru, teman yang datang ketika aku bermaijn di halaman rumah atau ketika bermain air. Tetapi, aku tahu mereka tidak satu sekolah denganku, jadi aku tidak akan membawanya ke sekolah.

 

 

 

 

 

 


Komentar