Bab 2 Sendiri Dulu

 


Bab 2 Sendiri Dulu


Randi Killer itu adalah nama akun yang aneh. Liana langsung meng-klik profil dan

benar saja, ada tiga nomor telepon yang bisa dihubungi. Mungkin karena cowok jadi lebih

aman untuk membagikan nomor telepon dan resikonya lebih kecil. Handphone yang berada

tak jauh dari tempatnya sekarang diraih, untung saja tidak terjatuh, karena bersamaan dengan

terjulur tangannnya handphone itu bergetar.


“Halo, iya benar ini aku, Liana. Maaf ini dengan siapa?” Liana menjawab sapaan dari

suara dalam handphonenya. Sebentar … nomor dan logat bicaranya, suaranya mirip ..., ”ini

Randi?”


“Iya, aku sedang mencatat nomormu dan baru saja akan menelpon, tapi dapat

nomorku dari mana?”


“Oh, jadi aku kalah cepat, ya?”


“Boleh, hari ini?” Terdengar Liana menyetujui dan memastikan jika les akan dimulai

hari ini.


“Apa? Sudah di depan rumah? Kamu sedang butuh uang kah, kok serba kilat gini?”


“Aku? Gak apa-apa sih senang saja, kebetulan ada PR lumayan bikin kepalaku

jungkir-balik. Oke, aku sekarang turun.” Sambil beranjak dari tempatnya Liana dengan tetap

menempelkan handphone di telinganya keluar kamar, “ada nenekku, dia sedang merajut. Gak

apa-apa nanti aku yang perkenalkan.”


Sekarang Liana benar-benar sudah ada di depan pintu masuk. Dia memutar kepalanya

mencari di mana wujud Randi karena memang tidak terlihat di depan pagar rumahnya.


“Kamu di mana, Rand?”


“Ah, kibul nih, jelek! Iya kutunggu, kalau lima menit lagi gak datang, kubatalkan,

soalnya aku punya rencana sendiri.”


“Mau tahu? Rencanaku …nyalin di kelas sampai kamu akhirnya mau dengan tangan

terbuka ngelesin aku!” Sedikit terdengar berteriak, tetapi akhirnya pecah juga tawa Liana.

Gadis yang menyenangkan.


Tifa memandangi photo yang diberikan Randi. Tidak ada yang istimewa. Sedikit

mengeluh, mengapa dia kemarin-kemarin saat anak cowok itu bercerita gak meng-cut bahwa

dia gak ambil peduli dan gak nyambung dengan pembicaraan anak lelaki itu.


Dia itu ingat benar, saat Randi bicara ke sana ke mari, yang ada di kepalanya adalah

Tio, cowok yang diputuskan sepihak olehnya. Saat itu dia mengangguk-angguk saja

membuat Randi merasa pembicaraannya ditanggapi. Tifa hanya mendengar sekilas, yang

intinya jika Randi punya sahabat yang sering mendukungnya. Ikatan itu terjadi karena orang

tua mereka. Tapi gak jelas benar apa dan bagaimananya.


Tio tampan, tinggi, sopan dan …terkenal. Dia anak kelas lain, satu angkatan di atas

Tifa. Baginya Tio adalah kekasih yang dia cari. Sebenarnya dari satu sampai sepuluh, cowok

itu dapat nilai sembilan. Cuma … Tifa terlihat menarik napas, ada beban yangmembuat

dadanya seperti terhimpit batu besar. Tio terlalu ramah, dan kurang peka. Ada kalanya ketika

mereka berdua jalan ke mal atau bahkan ke kantin, dia merasa bahwa pengagumnya pantas

mendapat porsi perhatian yang sama. Acara makan berdua jadi berbanyak, dan menurut Tifa

terkadang seperti acara arisan saja. Kalau hanya sesekali, tapi jika hampir setiap kesempatan

berdua?




Bukan tidak pernah protes atau Tifa gak berani, tapi percuma, cowok itu selalu saja

bilang jika mereka hanya fans dan tidak ada apa-apanya. dia gak bisa menerima jika dirinya

selalu dimadu dengan para fans Tio. Tapi bukan Tifa jika memaksa orang lain untuk mengerti

apa maunya. Satu dua kali protesnya berakhir dengan sia-sia—Tio tetap bersikap begitu gak

ada sedikit perubahan yang terlihat---akhirnya dia itu meyakinkan dirinya gagal, kemudian

memutuskan untuk menghindar sebisa mungkin.


Move on dari Tio susah sekali. Terlalu banyak kenangan bahkan sampai hari ini yang

bergeming di kepalanya cuma Tio, bahkan di depan selembar photo yang diberikan Randi.

Hati memang susah untuk dibohongi.


Sebentar … Tifa sekarang tengah memerhatikan photo itu dengan saksama. Ada yang

menarik perhatiannya. Dicermati dari kepala, kening, alis, mata, hidung, matanya dan

berhenti di bibir. Dia menarik nafas panjang. Oh,Tuhan. Aku sama sekali gak punya rasa apa

pun. Tapi aku merasa aku akan disakiti olehnya.

 

Ada yang terbaca menakutkan dari bentuk bibir cowok di photo itu. Entah kekauatan

dari mana atau semacam naluri. Tifa memejamkan mata, melawan perasaan yang tiba-tiba

itu. Mencoba membatalkan dengan meyakinkan bahwa semua itu gak akan terjadi. Firasat

yang harus dianulir sebelum terlambat. Gak bisa!


Telepon genggamnya berbunyi, sebuah pesan masuk. Dari Randi: Tif, besok gue ajak

dia ke kafetaria seberang sekolah. Tita mengetikkan sesuatu, dia menolak. Tapi jawaban

yang datang: Gak apa-apa kok, cuma kenalan, biar loe banyak tahu. Lalu masuk lagi pesan:

Pulang sekolah ya, kalau gue belum datang masuk aja! Namanya Haris.


Tifa mengetikkan sebuah pesan, tapi urung, akhirnya pesan itu dihapus. Anak

perempuan itu gak habis pikir, ketidakkonsentrasiannya karena gak bisa move on dari Tio,

akan membawanya ke cerita baru. Firasat yang benar-benar memulai pembuktiannya dengan

pesan balasan yang urung dikirim. Sebenarnya ingin sekali bicara kepada Randi lewat telepon

selepas pesan barusan, menegaskan bahwa dia gak tertarik bertemu Haris, tapi entahlah,

akhirnya Tifa hanya bisa meletakkan handphonenya di tempat semula, dan menarik napas

panjang.


Hari berikutnya. Pelajaran jam ke enam dan ke tujuh terasa panjang, Tifa gelisah.

Beberapa kali gestur tubuhnya terbaca Pak Rahmat. Biasanya kimia adalah pelajaran yang

memancing rasa ingin tahunya. Beberapa pertanyaan yang dilontarkan kepada gadis itu

dijawab dengan benar, untung saja gadis itu sudah membaca bab yang dipelajari hari ini.

Kutu buku seperti Tifa memang akan dengan mudah mengerti tapi ketidaktenangannya

adalah hal yang gak biasa.


Pak Rahmat sedikit terganggu. Dua jam yang membosankan berakhir tapi gak dengan

kegelisahan Tifa. Bel yang memberi tanda jam pelajaran habis dan membawa kaki Tifa ke

luar kelas gak dirayakan seperti biasanya. Lihat saja, dia bahkan berjalan sendirian dan

terdiam, beberapa ajakan untuk jalan bareng ditolak dengan senyum setengah dipaksakan.

Ingin berkata aku baik-baik saja, tapi ada dorongan dari dalam yang memberi peringatan

waspada. Ini indera ke enam?




Beberapa teman yang mendahului melambaikan tangan, Tifa menyeberang jalan, dan

Angga memerhatikannya dari pintu gerbang dari atas motornya. Gak, dia gak mau

menghalangi Tifa, itu bukan urusannya, tapi kegelisahan sahabatnya itu mengganggunya

 


Komentar