29.
Def Berulah
‘’Kamu
tahu anak kelas satu yang jadi rebutan anak kelas kita?’’
Teman
yang tiga hari ini duduk dengan Nino menghampiri mejaku. Dia duduk di bangku
depanku dengan badan mengahadap ke belakang, ke arahku. Aku yang sedang
mengerjakan tugas fisika menggelengkan kepala. ‘’Mana kutahu, aku gak merhatiin
cewek-cewek soalnya,’’ jawbku pendek.
‘’Yah,
Laura. Kamu juga pasti gak tahu kabar yang beredar kalau kamu lagi deket sama
anak kelas sepuluh juga, kan?’’
Kali
ini ku agak sedikit kaget. ‘’Kabar apaan lagi?’’ tanyaku ingin tahu, ‘’Gossip dari
mana itu, jangan ngadi-ngadi!’’ kataku smbil meletakkan pulpenku. Ini apa lagi?
Siapa yang berni menggosssipkan aku tanpa sepengetahuanku. Bisa-bisanya ada
kabar dan aku gak tahu sama sekali.
‘’Tuh!’’
tunjuk teman yang sudah tiga hari duduk dengan Nino menunjuk dengan matanya ke
arah pintu di mana di saat yang sama Nino muncul. Aku dan teman yang sudah tiga
hari duduk bersama Nino melihat ke arah Nino.
‘’Apa? tanya Nino tanp merasa bersalah.
‘’Sini,
No!’’ panggilku sambil melambaikan tangan ke arah Nino. Nino masih memasang
senyum di bibirnya ketika dia mendekat.
‘’Kata dia kamu tahu kabar kalau aku digossipin
lagi deket sama anak kelas sepuluh? Beneran? Siapa dia? Masa aku yang
digossipin malah gak tahu menahu. Dia bilang kamu tahu. Aku jadi curiga.’’
Aku
menatap Nino. Sementara teman yang sudah tiga hari duduk dengn Nino bangun dari
duduknya dan pergi keluar, menghilang entah ke mana.
‘’Apaan,
sih, Laura? Jadi, gini, emang si Dini itu telinga kanan sama kirinya gak
sinkron. Kamu waktu itu keluar sama Def, bukan? Habis itu cewek yang lagi
banyak diomongin itu ngechat Def, mereka ngomong panjang lebar, kesimpulannya
mereka sekarang jadian. Gitu. Si Dini salah denger dia.’’
‘’Jadi
gitu? Kukira beneran ada gossip kalau aku lagi deket sama anak kelas sepuluh.
Baguslah kalau gitu.’’
Aku
melanjutkan mengerjakan tugas fisika lagi. Nino yang kutinggal mengerjakan
merasa diabaikan. ‘’Jadi gitu? Kamu manggil aku buat ini doank?’’ Aku
mengangguk.
Nino
gak pergi ke mana-mana, dia sekarang duduk di bangku tempat di mana Dini tadi
duduk. ‘’Kamu udahan tugasnya?’’ tanyaku tetap sibuk mengerjakan tanpa
mengangkat mukaku dari buku.
‘’Belumlah. Di kelas ini kan cuma kamu doank
yang ngerjain. Yang lain pasti ngerjain di rumahlah. Kerajinan kamu. Tapi, jam
istirahat kamu gak keluar bareng Def, apa kamu berantem?’’ selidik Nino.
‘’Apa
lagi, nih? Sekarang setelah kabar Def jadian, aku dikira ngambek sama Def. Gak,
Nino, temen sekelas kita itu banyak, gak harus keluar ke kantin bareng Def
juga, bukan? Def juga gak harus sama aku terus. Bosen. Apa lagi dia sekarang
udah punya pacar. Ngapain harus sama aku terus?’’
‘’Oh,
jadi gitu cara mainnya?’’
Aku
mengangkat wajahku dari buku. Kali ini Def sudah ada di belakang Nino. Dia
duduk di meja, sementra Nino di bangkunya. ‘’Eh, Def. Emang gitu, kan?’’
tanyaku merasa Def dan Nino sepakat mengerjaiku.
Def
tertawa. ‘’Kita ke kantin sekarang kalau gitu, ayo!’’ Def mengatakan itu sambil
mengangguk.
Aku
menggeleng. “Gaklah, jangan bikin acara sendiri. Sekarang kamu punya pacar
juga. Yang ada nanti aku dimusuhi sama semua cewek dikira aku bakal ngambil
pacar mereka nanti. Pokoknya harus ada jarak di antara kita. Oke, Def?’’
Def
gak menyerah, dia membujuk Nino. Dan, hasil akhirnya aku, Nino, dan Def
benar-benar jalan ke kantin. Lima langkah sebelum masuk ke kantin bel masuk
berbunyui.
‘’Tuh,
kan!” Protesku kepada mereka berdua. Yang terjadi adalah Nino menggamit
tanganku masuk ke kantin. Sementara Def terlihat tidak suka.
Nino
memesan baso tiga mangkuk plus es teh tiga gelas. Aku duduk, dan Def juga.
Tetapi, Nino kemudian duduk menyela aku dan Def.
‘’Apaan,
sih?’’ Def mengatakan itu kepada Nino karena merasa terganggu.
‘’Pacarmu tadi yang keluar dari kantin, kan?” tanya
Nino. Def mengangguk. Sekarang aku paham, jadi anak tadi yang keluar dari
kantin itu adalah pacar Def.
Aku
mulai menyendok kuah basonya. Asataga, panas sekali! Ini bisa membikin aku
terlambat masuk ke kelas, secara aku itu gak bisa makan panas. Apalagi sudah
panas plus pedas. Jadi, aku sama sekali gak menambahkan sambal, hanya sedikit
kecap. Aku gak mau menambah masalah anak kelas. Sudah sering kelasku dihukum,
terakhir yang kasus Nino. Bukan masalah sih, tapi jadi masalah juga.
‘’Apa-apaan
tuh?’’ tanya Nino kaget.
Aku
mengangguk. ‘’Ini cara terbaik agar baso cepat dingin,’’ kataku.
Aku
mengambil gelas kosong yang kuminta kepada tukang baso. Batu es dari es tehku
kupindahkan dan kujadikan pencelup baso.
Benar, aku menusuk basonya dan mencelupkan ke dalam es teh.
Def
tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. ‘’Memang Laura agak-agak,’’ kata
Def menanggapi tingkahku.
Aku
gak peduli. Tiga baso ukuran sedang sekarang sudah tandas. Sisa kuahnya,
aku menyendoknya kira-kira tiga sendok,
masih agak panas. Aku mengeluarkan uang dan kuletakkan di samping mangkuk. Aku
bangun dari dudukku.
‘’Laura!’’
panggil Nino, aku mengabaikannya dan berjalan menuju kelas sendirian.
Nino
dan Def menyusulku sekitar sepuluh menit setelah aku duduk. Untung saja, begitu
aku duduk, guru yang ada jadwal masuk ke kelasku sedikit terlambat dan baru
datang. Nino dan Def yang datang belakangan memberi alasan dari belakang.
Aku
gak tahu apa reaksi guru kalau ternyata aku ada di antara mereka berdua dengan
alasan yang sama, yang pasti ditolak kebenarannya. Maksudnya kami bertiga
janjian ke toilet? Ups!
Aku
menyelesaikan hari ini di sekolah dengan baik-baik saja, meski aku sedikit
menghindar setelah aku tahu wajah pacarnya Def. Hitungannya aku gagal. Aku
berusaha untuk menghindar sebisaku dengan tetap duduk di bangkuku dan sibuk
dengan handphoneku.
Tapi,
selama jam istirahat ke dua Def menungguiku bahkan sampai jam pulang. Teman
yang duduk denganku diusir Def untuk berpindah tempat duduk. Aku dan Def biasa
saja, hanya Def saja yang kurasa tidak biasa.
‘’Kamu
pulang ke mana, Laura?’’ tanya Def yang kukira sudah pulang bersama pacarnya.
‘’Kamu belum pulang? Nungguin pacarmu, dia
belum keluar apa?’’ tanyaku biasa.
Aku tahu gaya pacaran anak sekolahku memang
biasanya pulang bersama ‘ayang’ buat mereka yang punya pacar satu sekolah,
entah itu adik kelas atau seangkatan.
‘’Nungguin
kamu.’’ Ringan sekali dia menjawab itu seolah itu bukan kesalahan.
‘’Emang
ada janji apa? Kan aku juga gak pinjem alat tulismu, kan?’’ tanyaku heran.
Seingatku aku sama sekali gak meminjam alat tulis milik Def, pun dengan buku
cetak.
‘’Kamu
pulang ke mana?’’ tanya Def tidak menghiraukan apa yang kukatakan tadi.
‘’Aku sekarang pulang balik, gak kosrt lagi.
Aku duluan kalau gitu. Daa, Def!’’ Def yang duduk di bangku depan Ruang Guru bangun
dan berjalan menjajariku.
‘’Aku
anter ke terminal atau ke stasiunnya, ya?’’
Aku
menggeleng. ‘’Aku bisa sendiri, lagian aku banyak temen juga ke arah sana.’’
Def
meraih tanganku. Aku ngin melepaskannya, tetapi dia malah memegangiku erat. Dia
menarikku ke arah parkiran.
‘’Kamu
gila, Def! Pacarmu gimana? Kamu sadar gak, sih, kalau kamu nyakitin dia sama
aku sekaligus? Iya, karen kamu pacarnya dia dan gak pulang sama dia, tapi malah
sama aku. Terus kamu nyakitin aku karena pasti bakalan banyak omongan buruk.
Citraku jadi buruk, tahu?’’













Komentar
Posting Komentar