Bab 30 Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku

 Bab 30  Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku



30. Hari Ini Aku Merasa Sedih

‘’Kamu berubah, setelah tahu aku punya pacar. Itu masalahnya, Laura!’’

Aku mengangguk, padahal aku ingin sekali marah dan mengatakan hal buruk seperti; kamu itu tolol atau gimana? Kamu punya pacar dan kamu serakah, tapi yang bisa kulakukan hanya mengangguk-angguk.

Ada telepon masuk. Aneh sekali menurutku. Aku jarang menelpon seseorang, kecuali penting. Aku melihat siapa yang menelponku. Ternyata Riana. Ini kejutan.

‘’Iya, halo, Riana.’’ Riana menjawab dan mengatkan hanya ingin memberitahu kalau dia mendapat berita soal Yazi.


‘’Yazi kenapa?’’ Riana mengtakan Yazi baik-baik saja. ‘’Kita ngobrol lagi kapan-kapan. Aku lagi mau pulang. Atau kamu chat aku aja. Nanti kubaca dan kubalas kalau aku sampai di stasiun.’’

Pembicaraan dengan Riana selesai. Aku merasa sangat senang. Riana ternyata mendapat nomor baruku. Itu aneh memang, tapi aku gak ambil pusing dari mana dia mendapat nomorku.

‘’Yazi? Itu cewek atau cowok?’’ Aku lupa kalau ada Def dan dia mendengar aku menyebutkan kata Yazi.

Ada pesan masuk. Riana mengirim foto Yazi. Aku mengambil kesempatan. Aku harus memperlihatkan foto Yazi kepada Def, kurasa ini akan menyelesaikan masalahku dengan Def yang tiba-tiba menjadi aneh.


‘’Ini, dia pacarku. Dia Yazi. Pacarku dari SMP.’’

Def mengambil hape dari tanganku. Dia memperhatikan foto Yazi. Dia kemudian menatapku. ‘’Jadi, kamu juga udah punya pacar?’’

Aku mengangguk. ‘’Itu sebabnya aku menghindar dari semua cowok,’’ kataku menguatkan.

‘’Ya udah,’’ kata Def.

Aku mengangguk menerima kembali handphoneku.

‘’Aku duluan, Def,’’ kataku sambil siap pergi meninggalkan Def.

 ‘’Apanya yang duluan? Kamu itu gak pernah denger kalau aku ngomong. Maksudku, ya, udah, kamu aku anter ke statsiun. Dan, bilang sama pacarmu kita cuma temenan. Oke?”



‘’Konsepnya gimana?’’ tanyaku bingung.

 ‘’Ya, gak giman-gimana,’’ balas Def dan menyuruhku naik dengan matanya. Aku menggelengkan kepa;aku.

‘’Baso tadi kamu bayar sendiri, sekarang nolak kuboncengin. Kalau gitu aku anter kamu sampai rumah kamu, paling aku balik ke rumahku agak maleman. Tinggal pilih, aku anter sampai stasiun, atau sampai rumahmu? Atau gini, motor biarin kutitip sama Satpam, terus aku nemenin kamu ke stasiun naik angkutan.’’

Benar-benar keras kepala Def itu. Masalahnya Def sudah punya pacar, dan kenapa dia mesti pulang bareng aku. Tapi, dari tiga pilihan Def yang kurasa paling aman adalah aku dibonceng Def sampai ke stasiun.

 ‘’Oke, anterin aku ke stasiun.’’ Def mengangguk senang. Aku akhirnya naik di belakang Def.



Motor dinyalakan, aku dan Def keluar dari area parkir. Sekarang aku benar-benar sudah keluar dari lingkungan sekolah, Def tanpa kuduga meraih tanganku yang berpegangan dibesi  bawah jok. Di menarik tangaku ke depan kemudian dilingkarkan di perutnya. Mau tidak mau akhirnya satu tanganku yang lain memegangi perut Def agar aku seimbang. Def melajukan motornya sedang-sedang saja, sampai akhirnya aku tiba di depan statsiun aku turun. Jujur aku agak sedikit malu, terutama perihal tangaku.

‘’Makasih, Def.’’ Def mengangguk.

 ‘’Aku balik sekarang, Laura.’

’ Aku mengangguk. Suasana jadi sedikit kaku. Def pergi dengan motornya dan aku berjalan masuk ke stasiun. Aku tidak tahu bagaiman dengan besok, aku gak punya muka menghadapi Def.

Aku melihat sudah banyak yang naik ke kereta, hanya tinggal sedikit yang masih duduk-duduk dibangku tunggu. Aku memilih duduk menunggu di bawah saja, apalagi aku melihat circle teman sektaran rumahku masih ada dan berkumpul di depan ruang kepala stasiun.



‘’Tumben baru datang, Laura! Kukira kamu naik mobil,’’ kata Zee.

Aku tertawa. ‘’Gaklah, naik kereta aja, yang murah,’’ jawabku.

Aku melihat ke arah Eva. Eva sedang bicara dengan Yaza. Mereka bicara sambil tertaw-tawa.

‘’Laura, sini!’’ panggil Eva, tetapi Zee memegangi tanganku.

Aku menunjuk ke arah Zee, ‘’Gak boleh sama dia!’’

 Akhirnya Yaza dan Eva yang mengalah pindah ke bangku tunggu di dekatku. Eva sepertinya masih membicarakan hal yang tadi dia bicarakan dengan Yaza, mereka bicara lagi dan mengajakku ikut di dalamnya.



‘’Jadi, tadi kamu ketawa-tawa ngomongin ini?’’ tanyaku kepada Eva. Eva dan Yaza membicarakan masalah Dion yang nyungsep di acara karya wisata ke kota lain.Eva mengangguk mengiyakan, sementara Yaza menatapku tidak berkedip sambil tersenyum.

Aku agak merasa aneh dengan Yaza, karena aku tidak terbiasa bicara dengannya. Beda dengan Zee dan Eva yang satu angkatan dan katanya mereka bertiga pernah satu kelas, berempat ditambah satu; Dion, yang sepupunya Eva.

‘’Gimana ceritanya sampaisatu becak lima orang?’’ tanyaku kepada Eva. Pertanyaan itu seharusnya untuk Yaza. Tapi, kurasa kepada Eva pun gak masalah, karena tadi Eva dan Yaza sudah bercerita, ditambah ada Dion yang sepupu Eva di cerita itu.



‘’Jadi gini, Laura.’’ Eva menjelaskan kisahnya, ‘’Kemarin Yaza, Dion sama tiga orang itu ngilang. Dan, si Yaza sama Dion sok tahu. Akhirnya dia nyewa becak buat keliling-keliling area situ, karena bukan ahlinya dan gak tahu peta, Yaza yang kebagian ngegowes ngebut dan hampir nabrak orang mengindar dan satu becak nyungsep semua.’’ Yaza, Eva, dan Zee, juga beberapa teman yang lain tertawa berjamaah. Mau gak mau aku ikut tertawa, karena mereka berlima itu konyol sekali.

‘’Satu becak berlima untung gak patah,’’ kataku setelah selesai tertawa. Yaza tertawa, yang lain ikut menyalahkan Yaza. ‘’Iya, emang Yaza sama Dion kalau udah bareng itu judulnya gila berdua.’’ Eva yang sepupunya Dion mengatakan itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

‘’Terus akhirnya gimana?’’ tanyaku menaggapi.

Yaza menjawab pertanyaanku, tetapi matanya memebuatku takut. ‘’Kami patungan lagi buat perbaikan. Abang becaknya gak minta, gak ada yang rusak parah, tapi dia pasti syok, secara itu alat buat dia nyari duit.’’


Aku mengangguk mennggapinya. ‘’Benar, kalau aku di posisi pemilik becak pasti akan syok dan marah pastinya. ‘’

‘’Jatuhnyanya nyungsep ke depan, sebenarnya yang rugi kita berlima. Badan secara patah tulang semua. Pulang-pulang manggil tukang urut.’’

Aku tertawa menaggapinya.

Handphoneku berbunyi, ada pesan masuk. Aku membacanya.

‘’Ternyata kamu bisa tertawa, Laura.’’ Tiba-tiba Yaza mengatakan itu.

Aku kaget, aku melihat ke arah Yaza. Yaza dengan santai nya menatapku.



‘’Cieee, Yaza ada hati sama Laura, nih.’’ Zee dan Eva mengatakan itu dengan jelas. Yaza tersenyum. Dia sepertinya senang yang lain tahu. Aku yang merasa malu.

Pesan masuk lagi, aku terbantu. Pesan masuk itu menyelamatkan mukaku.

Aku melihat siapa yang mengirim pesan itu. Ada dua orang. Yang pertama dari Def, dan yang ke dua dari Riana. Pesan dari Def; Tadi pacarmu sekolah di mana? Kamu yakin pacaran sama dia? Kamu ngakuin pacar orang biar bisa menghindari dari aku, kan, Laura?

Aku menjawab pesan itu; Dia pacarku, apa kamu ngerasa kamu kalah cakep dari dia? Ngaku aja! Aku juga santai kok, kamu jadian sama anak yang tadi keluar dari kantin itu.



Aku membaca pesan dari Riana; Kamu gak mau bukan hatimu buat Yazi, Laura? Kamu udah SMA, bukan anak SMP lagi. Kasihan Yazi, dia pengen banget kamu negur dia.

 Aku membalas pesan dari Riana; Udah urusin sekolahmu aja. Aku gak mau ganggu cowok yang udah punya pacar, kayak aku gak ada peminat aja.

Riana membalas pesanku; Emang yang kamu curigain pacar dia itu siapa? Kita clear-in deh. Anggap aku mak comblang kamu sama Yazi.

Aku malas menjawab pertanyaan itu, entah kenapa aku tiba-tiba sedih, dadaku perih. Aku membiarkan pesan dari Riana dan memasukkan hapeku ke dalam saku bajuku. Aku pamit kepada Zee, Eva, dan Yaza, kalau kau mau ke kereta sekarang. ‘’Aku duluan!’’



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Komentar