31.
Atraksi Posesif
Pagi
ini aku datang sedikit terlambat. Aku bukan bangun kesiangan, akan tetapi aku
sengaja agar aku tidak berduaan dengan Def seperti hari sebelum aku tahu pacarnya
Def. Kalau Def gak bisa menjaga sikapnya, aku yang akan menjaga sikapku dua
kali lebih dari seharusnya.
Aku
sengaja mampir di warung sarapan seratus meteran dari pintu gerbang sekolahku,
sebab percuma juga kalau aku ke kantin untuk mencari sarapan. Selain pasti
terlihat oleh Def, aku juga gak menemukan apa-apa di kantin, kecuali minuman di
lemari pendingin dan roti yang dibungkus plastik hasil pabrikan. Kantin mulai
dipenuhi makanan kurasa di jam bel jam pertama masuk.
‘’Pagi,
Def!’’ Aku membalas sapaan Def dan langsung berlalu. Aku tahu kalau berangkat
agak siangan akan sesial ini, duduk di bangku urutan terdepan tepat di depan
meja guru. Tiba-tiba Def memegang lenganku dari arah belakang. Spontan aku
menoleh, ‘’Kamu ngikutin aku?’’ tanyaku sedikit kaget. Def mengangguk.
‘’Ada
apa?’’ tanyaku ingin tahu kenapa Def memegang tanganku seolah mencegah.
Aku
meletakkan tasku di meja depan meja guru. Tetapi, dengan cekatan Def
mengambilnya dan dia membawanya ke meja di mana dia nanti akan duduk sampai jam
terakhir. Kalau sudah begini, aku akhirnya pasti menyerah. Bukan aku gak berani
bersikukuh dengan keinginanku, tetapi yang akan terlihat itu akan lebih lucu
gara-gara tas saja ribut.
‘’Kamu
ngehindar dari aku gara-gara aku udah punya pacar?’’ tanya Def ketika aku
akhirnya duduk di bangku yang Def inginkan.
‘’Harus
gitu, kan, Def? Bakalan kelihatan aneh kalau aku tetep akrab sama kamu. Pasti
cewekmu cemburu berat nantinya.’’
Def
yang tadinya berdiri sekarang duduk di meja samping seberang barisan mejaku.
‘’Kalau gitu aku putusin aja tuh cewek. Beres, kan?’’
Aku
kaget sekali dengan jawaban Def, ‘’Eh, gak gitu cara mainnya, Def! Kamu gila,
Cuma gara-gara hal sepele dan bukan masalah di antara kalian, kamu harus
putusin dia.’’
‘’Ya,
udah, kamu jangan ngambek gitu.’’
‘’Lho,
kok, aku yang ngambek? Ini kamu salah alur cerita deh, aku itu bukan ngambek karena kamu pecaran sama
cewekmu, tapi aku ngejaga perasaan dia, karena aku juga cewek. Paham, kan,
maksudku?’’
‘’Udah,
sih. Berisik banget!’’ Def pergi ke luar kelas, kurasa dia bakalan bergabung
dengan anak-anak yang lain yang ada di
luar kelas.
Aku
bingung apa maunya Def. Aku mengambil hapeku, aku melihat foto Yazi. Yazi, kamu
juga sama kayak Def, bikin aku bingung. Kalian
berdua pergi yang jauh dari kisahku aja. Kalian mau deket sama aku, tapi kalian
juga gak mau deket. Kalian berdua bikin aku bingung, aku jadi sahabat sementara
kalian berdua punya pacar yang aku juga harus jaga hati mereka berdua biar gak
salah paham, batinku.
‘’Kamu
kelihatan sedih banget, gak biasanya, Laura. Kenapa?’’ Aku tahu itu suara Nino.
Aku menggelengkan kepalaku.
‘’Kamu
duduk di sini bareng sama Def?’’ tanya
Nino sambil tersenyum.
Nino
memang begitu selalu tersenyum dan peduli padaku. Nino itu konyol dan selalu
bikin aku tertawa, kali ini juga dia menghiburku dengan senyumnya. Def tadi
pagi juga tersenyum, tapi aku tiba-tiba menjadi sedikit takut dengan senyumnya
Def, padahal hari-hari sebelumnya aku sangat suka dengan senyum milik Def.
‘’Foto
siapa?’’ tanya Nino.
Aku
tersenyum. ‘’Kelihatan ya?’’ tanyaku.
Nino
mengangguk. Tentu saja terlihat ada foto yang sedang kuperhatikan, karena
posisi Nino berdiri di samping mejaku.
Nino
akhirnya duduk menyamping di bangku depanku Aku memperlihatkan foto Yazi kepada
Nino dari dudukku.
‘’Coba
sini hapenya!’’’
Aku
memberikan handphoneku kepada Nino. Dia mengangguk-angguk.
‘’Ini
pacarmu?’’ tanya Nino sambil tetap memperhatikan foto Yazi.
‘’Sini
hapenya!’’ Aku meminta handphoneku dari Nino. Nino mengembalikannya padaku.
‘’Temen,’’
jawabku.
‘’Temen
apa demen?’’ ledek Nino sambil tertawa.
‘’Demen.’’
Nino
tergelak mendengar jawabanku.
‘’Tuh,
kaaan! Eh, gila aja, pantesan Def uring-uringan semalem. Kukira dia lagi war
sama pacarnya, biasa kan, dia lagi masa penyesuaian diri sama pacarnya. Gak
tahunya ini dia penyebabnya.’’
‘’Eh,
gak ada urusannya kali, aku sama Def yang sensi. Tadi aku dipaksa duduk di sini.
Kita tukeran gimana?’’ tawarku kepada Nino.
‘’Apaan,
semaleman aku begadang sampe jam dua gara-gara siapa? Deflah, dia bilang galau,
terus datang ke rumah, nyetel musik patah hati. Emang Def udah tahu foto
cowokmu?’’
Aku
menagngguk.
‘’Kemaren dia kukasih tahu. Harusnya woles
aja, donk. Secara dia punya pacar. Masa dia doank yang boleh punya pacar, aku
gak boleh. Itu namanya penjajahan. Iya, gak sih?’’
Baru saja Nino ingin memberitahu tahu pendapatnya, bel masuk berbunyi
dan Def sudah terlihat masuk ke kelas. Dia menatap ke arah aku dan Nino. Biasa
saja. Mungkin marahnya sudah reda.
Ketika Def sudah mendekat ke meja di mana aku dan dia duduk, dia
memberikan sekantung permen. ‘’Buat kamu. Kamu suak permen, kan?’’
Def kemudian duduk. ‘’Tapi, aku udah gak suka permen lagi, Def.
Langit-langit mulutku sariawan kalau makan permen. Ambil aja permennya ini,’’
kataku sambil menggeserkan sebungkus permen itu ke depan Def. ‘’Makasih banyak.
Maaf gak bisa terima.’’
Def menganggukan kepalanya. Dia memasukkan sebungkus permen itu ke dalam
tasnya. Guru yang harusnya mengisi jam pertama sepertinya terlambat. Di luar
hujan deras mengguyur. ‘’’Ngobrol apa sama Nino?’’ tanya Def.
‘’Foto yang kemarin kukasih tahu sama kamu.’’
Def mengangguk lagi.
‘’Dia pacarmu?’’ tanya Def sambil menopang dagunya dan wajahnya melihat
ke arahku.
‘’Iya.’’
‘’Tapi, kayaknya kamu sedih. Pacarmu resek?’’ tanya Def menginterogasi.
‘’Mana ada dia resek. Dia baik, sangat baik. Karena sangat baik, aku
yang ngerasa jadi gak baik.’’
‘’Putus aja kalau gitu!’’
Aku bersikap biasa saja. Aku hanya tertawa.
‘’Kalau bisa putus udah kuputusin dari awal sebelum jadian, Def.
Masalahnya itu bukan di dia yang bikin kacau, tapi hatiku. Dia sangat baik, aku
yang gak baik, aku kan udah bilang gitu. Aku juga gak bisa putus, karena hatiku
kayak udah diiket gitu.’’
‘’Terserah kamulah. Udah diiket, udah dibungkus, atau bahkan udah
diselimuti segala. Yang jelas kalau kamu gak bahagia, putus aja.’’
‘’Ide gila, gak bantu sama sekali. Kalau aku mau putus bisa banget.
Tapi, hatiku gak bisa.’’
‘’Sama. Aku juga.’’
‘’Sama gimana?’’ tanyaku heran.
‘’Sama ya sama. Gak usah kepo. Pantengin terus aja wajahnya, ke kantin,
pulang sekolah, di stasiun, bahkan pas mau tidur.’’
‘’Aku gak segila itu kali, meski aku cinta dia. Kamu kali yang mantengin
wajah pacarmu sampai-sampai fisika kena remed mulu.’’
Nino tertawa ditahan, aku melihat bahunya bergerak-gerak dan tangannya
menahan mulutnya. Dia pasti mendengar semua isi perdebatan aku dengan Def,
tanpa tertinggal satu kata pun.













Komentar
Posting Komentar