32. Tiga Alasan Ternyata
‘’Laura,
kamu kan anak IPA, kasih tahu aku kenapa di sini hujan di sana gak hujan!’’
tunjuk Zee ke arah jauh. Aku dan Zee sduah ada dalam kereta. Sudah satu stasiun
terlewati.
‘’Iya,
di sana panas terik. Kelihatan dari sini.’’
‘’Tapi,
ini kan termasuk deketan. Bukan beda desa, cuma di batasin rel kereta api
aja.’’
Kereta
sudah hampir melewati dinding tanah yang mungkin dulunya ini satu bukit tang
dibelah, sebentar lagi ada pemandangan yang sangat kusukai. Bukit di seberang
kurasa hanya dua ratus meteran dari rel kereta api ini, sebuah bukit penuh
pohon karet yang menghijau ketika musim hujan begini dan meranggas berganti
warana kuning dan sedikit memerah bercampur cokelat ketika musin kemarau.
‘’Lihat
ke langit sana! Itu ada awan yang bawa air hujan, itu awannya. Di sebelah sana
awannya hampir gak ada. Paham maksudku, kan?’’
‘’Oke,
paham. Yang bawa air hujan, airnya jatuh jadi hujan, yang gak bawa air hujan,
ya, gak nurunin hujan.Tapi, aku mau nanya, apa kamu pacaran sama adiknya Yaza?’’
Aku sedikit kaget dengan pertanyaan Zee. Ada apa ini?
Aku
tertawa, ‘’Kamu inget cewek yang waktu itu posesif banget sama adiknya Yaza pas
dia duduk di depanku?’’ tanyaku mencoba mencari tahu akar permasalahnnya kenapa
Zee tiba-tiba menanyakan itu.
‘’Iya.
Tapi aku punya tiga alasan makanya nanya gitu.’’
Aku
tertawa. ‘’Sok-sokan sampai tiga alasan, memang sekomplit itu?’’
Zee
mengangguk. Aku sekarang yang justru penasaran mengapa Zee sampai mempunyai
tiga alasan.
‘’Apa
tuh alasannya, Zee?’’ tnyaku akhirnya.
Baru
saja Zee ingin mengatakan tiga alasannya, mata Zee melihat ke arah lain. Aku
ikut menoleh ke arah di mana mata Zee melihat. Ada Yaza. Dia tersenyum, mau gak
mau aku ikut tersenyum karena Zee juga tersenyum.
Yaza
yang kakaknya Yazi itu duduk di depan Zee, mereka bicara sesuatu, aku tidak mau
terlibat karena aku juga tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Aku memilih
melihat ke luar jendela, di mana hujan masih lebat turun di luar kereta.
Sesekali aku menghapus embunnya, karena aku gak mau terlewatkan menikmati bukit
karet itu. Lumayan lama kereta melewati bukit karet itu. Aku sesekali ingin ke
sana entah untuk apa, aku merasa penasaran saja.
Sudah
lama aku gak melihat penampakan Yaza di stasiun dan kereta ini, kurasa dia
pergi dan pulang dengan Dion memakai motor, atau memilih naik mobil angkutan.
Kurasa hampir dua bulanan.
Yaza
bangun dan pergi. Aku masih menikmati bukit di kejauhan. Zee tiba-tiba mencolek
lenganku. ‘’Masih mau dengerin tiga alasanku, gak?’’ tawar Zee. Aku tersenyum
dan mengangguk.
‘’Pertama,’’
Zee mulai mengatakan alasannya, ‘’Kamu bener, alasan pertama karena cewek yang
posesif itu. Aku yang penasaran, mantau dia tahu, maksudku si cewek itu sama
adiknya Yaza waktu itu. Ternyata mereka gak barengan pas turun dari kereta.’’
‘’Hei,
sekepo itu ternyata kamu, Zee. Bisa-bisanya.’’
Zee
tertawa. ‘’Udah pasti, gila aja kamu mau diresein sama tuh cewek, terus aku
diem aja? Gak gitu cara mainku. Dia ngeresein kamu, biar aku sama Eva yang
bales. Soalnya nungguin kamu reaksi gak bakalan terjadi. Jadi, kesimpulanku itu
cewek emang terobsesi ngalahin kamu, atau gini dia itu suka sama adiknya Yaza,
tapi adiknya Yaza ngomong kalau dia udah pacaran sama kamu.’’
Aku
tertawa mendengar analisa Zee. ‘’Mau lanjut gak, nih? Jangan ketawa gitu,
Laura!’’
‘’Oke,
Kak Zee,’’ jawabku mantap.
‘’Nah,
gitu donk, panggil aku; kak, secara kamu kan adek tingkatan. Gak, cuma
bercanda.’’
Aku
tertawa lagi. ‘’Alasan yang kedua, please!’’
‘’Sopan
gini bikin aku semangat, nih!’’ Zee mengatakan itu sambil tertawa-tawa. Aku
mengangguk menyetujuinya. Zee makin geli tertawnya.
‘’Udah,
Zee. Yang ke dua!’’
‘’Oke,
yang ke dua itu Yaza?’’
‘’Kenapa
dia?’’ tanyaku pura-pura tidak tahu. Aku tahu Yaza sepertinya tertarik padaku.
Tapi, mungkin karena Yazi juga mengatakan kepada kakaknya kalau aku itu
pacarnya. Siapa tahu begitu.
‘’Yaza
bersikap baik sekali sama kamu. Mungkin Yazi adiknya itu. Eh, bener, kan,
namanya Yazi?’’ tanya Zee memastikan. Aku mengangguk. ‘’Jarang sekali Yaza
bersikap ramah kepadaku, dan kepada Eva. Biasanya cuek aja. Tapi, akhir-akhir
ini Yaza suka kelihatan ngelihatin kamu, mungkin dia mikir gini; ini calon adik iparku.’’
Aku
tertawa sambil mengeleng-gelengkan kepala menanggapi analisa Zee. Zee tanpa
kuminta langsung men-spill yang ke tiga. ‘’Dan, yang ke tiga itu adalah, kamu
waktu itu ngelihatin foto seseorang. Mataku itu mata elang, sekilas lihat tahu
apa yang kamu lihat di hapemu. Kamu lagi merhatiin foto adiknya Yaza, bukan?’’
Aku
mengangguk. Aku gak bisa berbohong di depan Zee. Percuma juga kalau aku berbohong,
Zee sudah melihat apa yang kulihat. ‘’Iya, bener itu foto Yazi. Aku sama Yazi
deket sebagi temen. Selama ini masih temenan. Tapi, temenku ngasih tahu kalau
Yazi merasa diabaikan. Dia punya rasa sama aku.’’
Zee
mengangguk-angguk. ‘’Tapi, menurutku mendingan gak jadian sama adiknya Yaza,
deh, Laura.’’
‘’Lho,
kenapa emang? Tiga analisamu masuk akal dan aku gak ngebantah. Kok, sekarang
pas aku ngeiyain, malah disuruh jangan jadian. Kamu suka Yazi, adiknya Yaza,
Zee?’’ Aku bertanya terus terang kepada Zee. Zee tertawa.
‘’Dasar,
Laura! Aku memang belum pernah punya pacar. Tapi, itu bukan berarti aku gak
tahu mesti gimana kalau aku di posisimu. Adiknya Yaza itu laki-laki, dia yang
katanya suka sama kamu, harusnya dia berani nolak waktu cewek itu dulu ngajak
dia ke gerbong lain. Dia itu cowok! Harus punya prinsip. Kalau kamu ceweknya,
dia bakalan nge-skip cewek lain, apalagi diatur atur segala.’’
‘’Tapi,
posisi Yazi juga susah. Cewek itu temen satu kostan sama satu sekolah
sekarang.’’
‘’Terserah
kamu, sih. Tapi, kalau mau kusaraanin lebih baik kamu gak jadian sama dia. Dia
sampai kapan pun akan mau distir cewek lain. Kalau dia itu cowok dan kamu
ceweknya. Dia tetap stay di depan kamu, apa dan bagaimaan pun sikap cewek lainnya
dan alasannya. Gak banget deh, kalau aku jadi kamu. Aku gak bakal milih cowok
kayak gitu. Kamu itu cantik, pasti kamu bisa dapetin yang lebih baik.’’
Aku
mengangguk-angguk. Aku tahu dan harus mengakui saat itu, saat Yazi malah
mengekor teman yang dulu sebangku dengan Riana, hatiku sakit. Bukan hanya
cemburu, dan alasannya sama seperti yang Zee maksud. Tapi, di sisi lain, pesan
dari Riana membuatku merasa aku harus membuka hati dan memberi waktu sampai aku
dan Yazi bicara face to face.
Kereta
tinggal menuju statsiun dekat rumahku. Stasiun terakhir sebelum stasiun dekat
rumah sudah terlampaui. Sebuah pesan masuk. Aku mengambil handphoneku. Ada
pesan dari Def; aku nungguin di parkiran, kukira kamu mau dianter ke stasiun
lagi. Aku pengen tahu kamu butuh aku apa enggak. Ternyata kamu udah pulang. Apa
aku harus nawarin dulu kalau mau pulang bareng kamu?
Def
kenapa dia? Tiba-tiba aku merasa khawatir, aku langsung membalas pesan yang Def
kirimkan; Sekarang kamu di mana?’
Def
langsung membalas pesanku; Di rumah. Ada Nino di sini. Tadi aku nunggu kamu
bareng Nino.
Aku
sedikit merasa lega. Kukira Def masih menungguku di parkiran sendirian. Asataga! Def sudah punya pacar, Laura! Kamu
sadar diri. Aku memasukkan handphoneku ke dalam tas lagi. Sebentar lagi
kereta akan sampai dan aku mesti turun.











Komentar
Posting Komentar