Bab 33. Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku

 


33. Mencoba untuk Baik-Baik Saja

Waktu berlalu begitu cepat. Sudah kelas dua belas saja. Dua bulan lagi aku ada di semester genap, dan itu artinya aku akan semakin dekat dengan kelulusan. Hubunganku dengan Def itu teman rasa pacar. Karena Def nge-treat aku seperti seorang pacar betulan. Aku memang menolak diantar ke stasiun kelau pulang, tapi Def sesekali ikut menemaniku naik angkutan kota menuju stasiun. Dia mengantarku sampai depan pintu stasiun, maksudku aku turun dan Def tetap di dalam mobil.

Def akan ikut mobil kembali ke arah balik setelah berputar jauh, setelah itu dia akan berjalan sebentar untuk sampai ke rumahnya. Aku biasa saja, tapi tebakanku Def merasa mempunyai dua pacar. Satu aku dan satu lagi adik kelas.



Def juga tetap menemaniku makan di kantin, tetapi tentu saja bertiga dengan Nino. Nino sebagai tameng. Anehnya Nino juga tidak pernah memprotes. Makin hari aku andai disuruh memilih Def atau Nino, aku tidak memilih keduanya. Karena tidak memilih keduanya aku mendapatkan keduanya sekaligus. Jadi, lebih baik kita bertiga dekat sebagai teman saja, tidak lebih. Tapi entah dengan hati mereka berdua. Aku benar-benar malas untuk mencari tahu.

‘’Laura, kita ke kantin sekarang?’’ tanya Def. Aku melirik ke arah Def. Setelah itu aku sibuk dengan handphoneku lagi.

‘’Ada masalah apa? Ngambek? Emang kenapa?’’ tanya Def mencoba mencari tahu.



‘’Gak papa. Aku lagi mau baca novel aja bareng Dini, iya, kan, Din?’’ tanyaku kepada Dini yang duduk di bangku depan bangkuku. Sudah dua minggu aku duduk dengan anak lain, aku memberi alasan bosan kepada Def. Def sendiri duduk dengan Nino.

‘’Beneran, Din?’’ tanya Def kepada Dini. Dini malah tertawa. Aku tetap sibuk dengan men-scrool-scrool layar handphoneku.

‘’Berarti ada masalah. Kamu putus sama pacarmu, Laura? Terus kamu ngambeknya ke aku?’’ tanya Def merasa aku menyembunyikan sesuatu.



‘’Jadi, kamu sama Laura itu, maksudku kalian gak pacaran?’’ tanya Dini. Dia agak kaget mendengar Def menyebutkan aku mempunyai pacar.

‘’Pacaran. Laura yang ngeduain aku sama pacaranya,’’ jawab Def. Aku tetap bergeming dengan handphoneku.

‘’Emang kamu gak ngeduain namanya kalau kamu punya pacar adek kelas terus sama Laura juga?’’ tanya Dini merasa Def bersikap aneh.

‘’Gaklah. Aku mana bisa ngedua. Yang ahli mengduain itu Laura. Iya, kan, Laura?’’ tanya Def kepadaku.



‘’Terserah kamu ajalah. Kalian berdebat aja, aku mau makan baso.’’ Aku bangun dn benar-benar pergi meninggalkan Def dan Dini.

Aku berjalan sendirian keluar kelas. Gak lama kemudian Def sudah menjajari langkahku saja. Aku sudah terbisaa dengan tatapan mata penuh tanya tentang hubunganku dengan Def. Percuma aku menjelaskan kalau aku dan Def gak ada hubungan apa-apa, karena mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri sikap Def padaku bagaimana. Semua yang melihat pasti akan bilang kalau Def berpacaran denganku.

Begitu aku duduk, pacar Def masuk ke kantin baso. Aku bangun ingin memesan baso. Kali ini aku ingin baso saja tanpa mie atau bihun, dan basonya full dengan daging juga. Tentu harganya berbeda, dan mesti memesan langsung ke abangnya agar sesuai dengan keinginanku.



Melihat aku bangun dari dudukku dan ada Def, pacar Def sedikit terlihat masam mukanya. ‘’De!’’ panggilku sambil mendekat ke arah pacarnya Def. ‘’Kamu duduk di deket Def aja. Aku mau pindah, buat pesen sekaligus pindah meja.’’

Pacarnya Def menatapku, tapi aku meninggalkannya dan pergi ke penjualnya. Aku memesan sesuai keinginanku. Penjual baso mengangguk dan kemudian membuatkan pesananku. Aku dilayani lebih dulu, karena penjual baso itu mengenaliku di antara banyak anak yang kerap makan di sini. Aku juga mengatakan agar basonya diantar ke lapak sebelah, karena tempat duduk hampir penuh. Penjual baso mengangguk dan berbicara dengan asistennya.



Aku membiarkan Def dengan kekasihnya. Aku melihat sekilas Def juga sudah dilayani pesanananya. Aku berjalan ke kantin sebelah. Pesanan diantar menyusul sesudah aku duduk. Tentu saja aku boleh duduk di kantin ini, karena aku juga memesan es mangkuknya. Aku kurang tahu apa namanya, yang jelas ada bubur sumsumnya dan biji mutiara, plus es serut yang disiram syrup merah di atasnya.

Aku mulai makan dan menikmatinya. Aku sengaja menelpon Riana yang ternyata juga sedang istirahat di sekolahnya. Sebelumnya aku mengirim pesan kepada Dini dan Nino agar menyusul ke mejaku. Aku mengatakan kepada mereka aku akan mentraktir mereka berdua.

‘’Halo, Riana!’’

‘’Halo, Laura! Eh, ini seperti kejatuhan bintang dari langit tahu, kamu mau nelpon aku.” Suara Riana terdengar gembira.

‘’Lagi di mana?’’ tanyaku kepada Riana.

‘’Lagi di kantin.’’ Riana menjawab dan sebentar kemudian dia mengirim foto makanannya.

‘’Aku di sini lagi makan baso, sama es campur, kurasa namanya gitu, soalnya isinya campur-campur.’’

Aku dan Riana saling bertukar cerita tentang hari ini. Kami berdua tertawa. Begitu selesai berteleponan, aku mendapati Def ada di dekatku. Aku terlalu khusuk dengan Riana dan makanan sepertinya sampai aku gak menyadari kalau ada Def, dan dua orang yang kusuruh menyusul sudah duduk dan memesan makanan mereka.



‘’Eh, kalian bertiga udah di sini?’’ tanyaku tanpa merasa bersalah, krena aku memang tidak bersalah.

Aku mengeluarkan uang dari sakuku dan meletakkannya di meja. Aku mendorongnya ke arah Nino, tetapi terhalang Def, karena meja yang kupakai berhadapan dengan dinding. ‘’Tol;ong kasih ke Nino, aku udah bilang mau traktir mereka.’’

‘’Udah dibayarin sama Def, Laura. Dia maksa.’’ Aku mengangguk. ‘’Kalau begitu ini but beli makananyang lain aja,’’ kataku membujuk agar uangku terpakai.

‘’Gaklah, ini aja udah banyak banget. Es sama siomay. Gak ada tempat lagi di perutku sama perut Dini.’’ Dini yang tidak ditanya Nino mengiyakan.



Aku melanjutkan makanku. ‘’Kamu kenapa, Laura?’’ tanya Def yang juga mulai melanjutkan makannya.

‘’Eh, basomu masih banyak?’’ tanyaku kepada Def. Def mengangguk.

‘’Kenapa kamu pindah ke sini?’’ tanyaku heran.

‘’Kamu marah dan ada masalah kenapa dipendam sendiri?’’ tanya Def, ‘’Apa aku kurang pantas jadi temenmu jadi gak mau bagi-bagi?’’



‘’Gak ada, Def. Aku baik-baik aja. Kamu tadi lihat, kan aku baru aja teleponan sama teman SMP-ku.’’

Def terdiam, dia kembali makan. Dia menusuk baso dari mangkuknya, ‘’Coba cicipin ini!’’ Def mengatakan itu, sementara baso yang dia tusuk sudah dekat ke mulutku.

‘’Aku punya sendiri,’’ tolakku. Def malah mendekatkn baso itu tepat di depan mulutku.  Tanganya mau memegang daguku. Aku dengan cepat membuka mulutku. Aku menggigitnya, baso yang Def beri ukurannya terlalu besar. Def akhirnya menggigit baso yang sama. Sesudah dia menggigit baso di garpu itu dicelupkan ke kuah di mangkuknya dan didekatkan lagi ke mulutku. ‘’Tiga kali, tadi baru sekali.’


‘’Aku udah tahu masalahnya. Dan, semuanya sudah selesai. Kamu gak usah ngejauh gitu dari aku. Kita gak pacaran gak masalah. Atau kamu punya pacar juga gak masalah. Tapi, jangan nyuruh aku ngejauh dari kamu. Barusan aku sama pacarku putus.’’

Aku syok mendengar apa yang Def bilang barusan. ‘’Def, maksudku bukan begitu. Kamu gak harus putus sama dia. Aku nyuruh kalian duduk berdua, biar semua clear, bukan berakhir. Kalau gitu, aku yang aka bilang sama pacarmu, kalau aku sama kamu gak ada hubungan, kecuali teman.’’

Aku beranjak bangun, tetapi Def menahanku. ‘’Bukan karena kamu, Laura. Dari awal dia yang mengejarku, tapi semakin ke sini aku merasa aku gak nyaman sama dia. Apalagi Dini udah ngasih tahu semuanya. Tingkahnya memang keterlaluan. Dia udah ngefitnah kamu macam-macam.’’



 

 

 

Komentar