Istirahat
jam ke dua. Dini menarik tanganku yang siap beranjak bangun. ‘’Laura, maafin
aku. Aku cerita semuanya ke Def.’’
Aku
mengangguk. ‘’Gak papa, udah kejadian. Aku juga tahu niatmu baik. Tapi …. Def
jadi putus sama pacarnya. Itu hasil akhir yang aku gak suka. Aku sendiri udah
punya pacar, terus Def mau di taruh di mana di hatiku kalau akhirnya alasan Def
karena lebih milih aku? Itu yang kupikirin.’’
Dini
mengangguk. Dari wajahnya aku melihat dia benar-benar menyesal, lebih ke
menyesal karena membuat masalah untukku.
Def
datang memberiku sekantung permen. Aku mengangguk. Gak mungkin aku menolak,
saat ini pasti Def sedang terluka. ‘’Def, jangan temenin aku dulu. Aku mau
ngomong sama Dini.’’ Def mengangguk dan menjauh pergi.
‘’Kamu
lihat, kan, Laura, kalau Def lebih sayang sama kamu.’’
Aku
mengangguk. ‘’Aku tahu, tapi kalau aku gak ada hati buat dia, bagaimana?
Bukannya lebih baik dia sama adik kelas itu? Def jadi gak sendirian.’’
Dini
diam saja. Aku tahu pilihan bahwa Def lebih baik dengan adik kelas sangat gak
disetujin Dini. Terlebih karena adik kelas itu gak cukup baik untuk Def yang
memang banyak yang mengakui kalau Def itu baik.
‘’Tapi,
kalau kamu nyuruh Def stay sama pacarnya sementara hatinya lebih nyaman sama
kamu, apa itu gak salah? Def yang salah? Apalagi ceweknya Def udah keterlaluan.
Dia maki-maki kamu, dan bukan cuma kamu yang kesel sama dia. Tapi satu kels,
mungkin satu angkatan. Apalagi dia nulisnya di grup sekolah kita. Masih bagus
dia gak kita ulti dan laporin ke guru, meski guru-giru pasti udah tahu. Anak
kurang ajar emang.’’
Aku
menunduk, benar apa yang dikatakan Dini, pacar Def memang keterlaluan, selain
dia memposting di grup sekolah yang isinya pengurus setiap kelas dan guru saja,
dia juga memposting makiannya di hampir semua grup yang dia ikuti. Beberapa
anak mengirimkan SS-annya kepadaku. Bahkan, dia memposting makiannya yang kasar
di media sosial miliknya yang lain.
Aku
gak memperkarakan semua itu karena aku memandang Def. Def sangat baik, aku gak
tega menuding Def dengan alasan pacarnya. Aku memilih seolah gak tahu. Aku
bukan gak berani dengan pacarnya Def.
‘’Ini
makan!’’ kataku menyodokan permen yang Def beri kepada Dini.
‘’Gaklah,
aku udah kenyang ditraktir Def tadi. Aku keluar dulu, ini Def nge-chat katanya
dia mu duduk deket kamu.’’ Aku mengangguk. Ingin aku menolak, tapi Def butuh
dukungan. Terlepas dari dia suka sama aku, aku adalah teman terdekatnya sesudah
Nino.
Dini
pergi, aku sibuk dengan handphoneku dan Def masuk. Dia duduk di bangku depanku.
‘’Permennya udah dimakan?’’ tanya Def kepadaku. Dia tersenyum, aku jadi ikut
tersenyum.
‘’Hari
Minggu kamu bisa datang ke kota ini?’’ tanya Def sambil mentapku.
‘’Kenapa?’’
tanyaku penasaran.
‘’Kita
makan-makan bareng Nino. Tadinya mau ajak Dini, tapi kesannya kayak double
date, nanti jadi masalah lagi. Aku datang ke rumahmu itu asing, kalau kamu ke
kota ini, kan, kamu udah biasa. Takutnya aku datang ke rumahmu bakalan jadi
masalah.’’
Aku
mengangguk. Benar, pasti akan jadi masalah. Belum Yazi, terus Yaza, terus Dion,
terus pasukannya Zee dan Eva. Aku ribet untuk mengklarifikasinya, aku malas
jadi seleb dadakan.
‘’Kita
ketemu di mana?’’ tanyaku kepada Def yang sibuk mengupas permen. Lalu
memberikannya kepadaku. ‘’Aku jemput kamu di perhentian angkutan dari tempatmu,
atau dari stasiun. Gimana?’’ Aku mengangguk.
‘’Oke,
kalau begitu kita udah sepakat. Jadi, kamu mau, jamnya terserah kamu aja. Kalau
kamu udah sampai calling aja aku.’’ Aku mengangguk.
Tiba-tiba handphoneku bordering. Ada pesan
masuk. Aku mengambil handphone dari saku depan bajuku. Aku memebaca pesan itu.
Itu pesan dari Riana; Yazi minta ketemuan besok Minggu. Kamu gak ke mana-mana,
kan?
Aku
terdiam. Aku bingung. Di sisi lain itu kesemoatanku untuk menyelesaiakan
urusanku dengan Yazi, kita nyambung atau bahkan hanya teman saja, dan di sisi
lain aku sudah berjanji dengan Def. ‘’Kenapa sama pesan yang masuk?’’ tanya Def
penasaran melihat ekspresiku.
Def
mengambil handphone dari tanganku. Dia membaca pesan dari Riana. ‘’Cewek ini
temenmu?’’ tanya Def sambil menatapku. Dia masih memegang handphoenku. Aku
mengangguk. ‘’Yazi itu pacar kamu?’’ Aku mau tidak mau juga mengangguk.
‘’Ada
yang aneh, pacar kamu mau ketemu kamu lewat orang lain. Kamu baru mau pacaran
sama Yazi ini atau kamu lagi break?’’
Tidak
mungkin aku mengatakan kalau aku dan Yazi itu baru mau ada hubungan, karena
selama ini aku mengaku kepada Def kalau Yazi pacarku. ‘’Kami break.’’ Def
mengangguk-angguk.
Def
masih menatap layar handphobeku ‘’Tapi, Laura, kamu udah janji ngeiyain kita
bakal makan bareng sebelum pesan ini masuk,’’ protes Def.
Iya,
benar. Aku tahu itu. Aku sudah terlanjur mengiyakan permintaan Def, gak mungkin
aku menjadi gak bisa dipercaya dalam sekejap. ‘’Kita tetap makan. Santai aja.”
Def
mengembalikan handphoneku. ‘’Jangan sampe lupa! Karena gak bakal aku biarin
kamu lupa. Sabtu besok aku bakalan nyepam chat buat ngingetin kalau kita ada
janji makan. Aku ngomong dari sekarang. Jadi, kamu gak ada kesempaatan buat
lupa. Tapi, kamu ada janji sama pacarmu hari Minggu juga, apa aku majuin hari
Sabtu aja?’’ Aku tertawa.
‘’Kenapa
ketawa? Aku serius. Kalau Sabtu, kamu Minggunya bisa ketemuan sama pacarmu,
tapi kalau kita pergi hari Minggu, kamu yakin aku gak di-PHP-in?’’
‘’Def.
hari Minggu, jam sepuluh. Kamu jemput aku di stasiun. Kamu gak usah masuk, tapi
tunggu di pintu keluar. Setuju?’’ Aku mengatakan itu agar Def berhenti meragu.
Soal Yazi aku akan mengaturnya. Aku akan menunggu Yazi menghubungiku. Mungkin
bisa Minggu sore selepas ashar.
Def
mengangguk dan tersenyum. Itu lebih baik. Aku kurang suka melihat muka orang
sedih atau marah. ‘’Oke.’’ Def mengatakan itu dan memberiku jempol. Setelahnya
Def pergi ke bangkunya karena bel masuk setelah jam istirahat berbunyi.
Setelah
jam pelajaran terakhir Def benar-benar menungguku agar bisa pulang bersama. Dia
diam di tempat duduknya, dan bangun ketika aku bangun dari dudukku. Dia
berjalan keluar ke;as, kukira dia akan pulang, dan kami akan bertemu lagi di
hari Minggu. Tapi aku salah, dia menungguku di luar pintu kelas. ‘’Kita pulang
bareng!’’ ajak Def, dan mau gak mau aku mengangguk menyetujuinya.
Aku
dan Def berjalan bersisian menuju tempat parkir. ‘’Def, gimana pacarmu? Kamu
pulang bareng aku gini semua anak lihat kita. Ini gak baik bua perasaan
pacarmu.’’
‘’Dia
mantanku.’’
‘’Iya,
aku tahu. Gini Def, ada satu syarat yang mesti kamu penuhi, kalau kamu bisa
penuhi itu syarat dariku, kita akan makan bareng di Minggu besok. Tapi kalau
enggak, sebaiknya lupain aja.’’
‘’Kok,
kamu berubah gitu? Yang mana yang bisa kupegang?’’
‘’Kamu
tahu aku udah punya pacar. Aku tahu kamu habis putus, dan alasannya itu aku.
Tapi, aku, kamu, sama mantanmu itu satu sekolah. Kamu paham, kan?’’
‘’Iya.
Jadi, apa syaratmu?’’
Aku
mengangguk-angguk. ‘’Hari-hari selanjutnya kamu gak boleh anterin aku pulang.
Aku bisa pulang, kok. Aku mungkin bakalan balikan lagi sama Yazi, dan kamu maaf
karena belain aku jadi sendirian.’’
‘’Gak
masalah. Kalau cuma gak boleh bareng pas pulang. Santai saja.’’
Seketika
aku seperti dimakan oleh mulutku sendiri. Versi aku dengan Def itu berbeda. Aku
ingin Def menjauh demi menjaga perasaan mantannya, sementera versi Def
sepertinya selain pulang bareng aku dan dia masih boleh berdekatan. Huft!












Komentar
Posting Komentar