Bab 34. Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku

 

34. Sebuah Janji Kecil


Istirahat jam ke dua. Dini menarik tanganku yang siap beranjak bangun. ‘’Laura, maafin aku. Aku cerita semuanya ke Def.’’

Aku mengangguk. ‘’Gak papa, udah kejadian. Aku juga tahu niatmu baik. Tapi …. Def jadi putus sama pacarnya. Itu hasil akhir yang aku gak suka. Aku sendiri udah punya pacar, terus Def mau di taruh di mana di hatiku kalau akhirnya alasan Def karena lebih milih aku? Itu yang kupikirin.’’

Dini mengangguk. Dari wajahnya aku melihat dia benar-benar menyesal, lebih ke menyesal karena membuat masalah untukku.



Def datang memberiku sekantung permen. Aku mengangguk. Gak mungkin aku menolak, saat ini pasti Def sedang terluka. ‘’Def, jangan temenin aku dulu. Aku mau ngomong sama Dini.’’ Def mengangguk dan menjauh pergi.

‘’Kamu lihat, kan, Laura, kalau Def lebih sayang sama kamu.’’

Aku mengangguk. ‘’Aku tahu, tapi kalau aku gak ada hati buat dia, bagaimana? Bukannya lebih baik dia sama adik kelas itu? Def jadi gak sendirian.’’

Dini diam saja. Aku tahu pilihan bahwa Def lebih baik dengan adik kelas sangat gak disetujin Dini. Terlebih karena adik kelas itu gak cukup baik untuk Def yang memang banyak yang mengakui kalau Def itu baik.



‘’Tapi, kalau kamu nyuruh Def stay sama pacarnya sementara hatinya lebih nyaman sama kamu, apa itu gak salah? Def yang salah? Apalagi ceweknya Def udah keterlaluan. Dia maki-maki kamu, dan bukan cuma kamu yang kesel sama dia. Tapi satu kels, mungkin satu angkatan. Apalagi dia nulisnya di grup sekolah kita. Masih bagus dia gak kita ulti dan laporin ke guru, meski guru-giru pasti udah tahu. Anak kurang ajar emang.’’

Aku menunduk, benar apa yang dikatakan Dini, pacar Def memang keterlaluan, selain dia memposting di grup sekolah yang isinya pengurus setiap kelas dan guru saja, dia juga memposting makiannya di hampir semua grup yang dia ikuti. Beberapa anak mengirimkan SS-annya kepadaku. Bahkan, dia memposting makiannya yang kasar di media sosial miliknya yang lain.

Aku gak memperkarakan semua itu karena aku memandang Def. Def sangat baik, aku gak tega menuding Def dengan alasan pacarnya. Aku memilih seolah gak tahu. Aku bukan gak berani dengan pacarnya Def.



‘’Ini makan!’’ kataku menyodokan permen yang Def beri kepada Dini.

‘’Gaklah, aku udah kenyang ditraktir Def tadi. Aku keluar dulu, ini Def nge-chat katanya dia mu duduk deket kamu.’’ Aku mengangguk. Ingin aku menolak, tapi Def butuh dukungan. Terlepas dari dia suka sama aku, aku adalah teman terdekatnya sesudah Nino.

Dini pergi, aku sibuk dengan handphoneku dan Def masuk. Dia duduk di bangku depanku. ‘’Permennya udah dimakan?’’ tanya Def kepadaku. Dia tersenyum, aku jadi ikut tersenyum.

‘’Hari Minggu kamu bisa datang ke kota ini?’’ tanya Def sambil mentapku.

‘’Kenapa?’’ tanyaku penasaran.



‘’Kita makan-makan bareng Nino. Tadinya mau ajak Dini, tapi kesannya kayak double date, nanti jadi masalah lagi. Aku datang ke rumahmu itu asing, kalau kamu ke kota ini, kan, kamu udah biasa. Takutnya aku datang ke rumahmu bakalan jadi masalah.’’

Aku mengangguk. Benar, pasti akan jadi masalah. Belum Yazi, terus Yaza, terus Dion, terus pasukannya Zee dan Eva. Aku ribet untuk mengklarifikasinya, aku malas jadi seleb dadakan.

‘’Kita ketemu di mana?’’ tanyaku kepada Def yang sibuk mengupas permen. Lalu memberikannya kepadaku. ‘’Aku jemput kamu di perhentian angkutan dari tempatmu, atau dari stasiun. Gimana?’’ Aku mengangguk.



‘’Oke, kalau begitu kita udah sepakat. Jadi, kamu mau, jamnya terserah kamu aja. Kalau kamu udah sampai calling aja aku.’’ Aku mengangguk.

 Tiba-tiba handphoneku bordering. Ada pesan masuk. Aku mengambil handphone dari saku depan bajuku. Aku memebaca pesan itu. Itu pesan dari Riana; Yazi minta ketemuan besok Minggu. Kamu gak ke mana-mana, kan?

Aku terdiam. Aku bingung. Di sisi lain itu kesemoatanku untuk menyelesaiakan urusanku dengan Yazi, kita nyambung atau bahkan hanya teman saja, dan di sisi lain aku sudah berjanji dengan Def. ‘’Kenapa sama pesan yang masuk?’’ tanya Def penasaran melihat ekspresiku.



Def mengambil handphone dari tanganku. Dia membaca pesan dari Riana. ‘’Cewek ini temenmu?’’ tanya Def sambil menatapku. Dia masih memegang handphoenku. Aku mengangguk. ‘’Yazi itu pacar kamu?’’ Aku mau tidak mau juga mengangguk.

‘’Ada yang aneh, pacar kamu mau ketemu kamu lewat orang lain. Kamu baru mau pacaran sama Yazi ini atau kamu lagi break?’’

Tidak mungkin aku mengatakan kalau aku dan Yazi itu baru mau ada hubungan, karena selama ini aku mengaku kepada Def kalau Yazi pacarku. ‘’Kami break.’’ Def mengangguk-angguk.

Def masih menatap layar handphobeku ‘’Tapi, Laura, kamu udah janji ngeiyain kita bakal makan bareng sebelum pesan ini masuk,’’ protes Def.



Iya, benar. Aku tahu itu. Aku sudah terlanjur mengiyakan permintaan Def, gak mungkin aku menjadi gak bisa dipercaya dalam sekejap. ‘’Kita tetap makan. Santai aja.”

Def mengembalikan handphoneku. ‘’Jangan sampe lupa! Karena gak bakal aku biarin kamu lupa. Sabtu besok aku bakalan nyepam chat buat ngingetin kalau kita ada janji makan. Aku ngomong dari sekarang. Jadi, kamu gak ada kesempaatan buat lupa. Tapi, kamu ada janji sama pacarmu hari Minggu juga, apa aku majuin hari Sabtu aja?’’ Aku tertawa.

‘’Kenapa ketawa? Aku serius. Kalau Sabtu, kamu Minggunya bisa ketemuan sama pacarmu, tapi kalau kita pergi hari Minggu, kamu yakin aku gak di-PHP-in?’’



‘’Def. hari Minggu, jam sepuluh. Kamu jemput aku di stasiun. Kamu gak usah masuk, tapi tunggu di pintu keluar. Setuju?’’ Aku mengatakan itu agar Def berhenti meragu. Soal Yazi aku akan mengaturnya. Aku akan menunggu Yazi menghubungiku. Mungkin bisa Minggu sore selepas ashar.

Def mengangguk dan tersenyum. Itu lebih baik. Aku kurang suka melihat muka orang sedih atau marah. ‘’Oke.’’ Def mengatakan itu dan memberiku jempol. Setelahnya Def pergi ke bangkunya karena bel masuk setelah jam istirahat berbunyi.

Setelah jam pelajaran terakhir Def benar-benar menungguku agar bisa pulang bersama. Dia diam di tempat duduknya, dan bangun ketika aku bangun dari dudukku. Dia berjalan keluar ke;as, kukira dia akan pulang, dan kami akan bertemu lagi di hari Minggu. Tapi aku salah, dia menungguku di luar pintu kelas. ‘’Kita pulang bareng!’’ ajak Def, dan mau gak mau aku mengangguk menyetujuinya.



Aku dan Def berjalan bersisian menuju tempat parkir. ‘’Def, gimana pacarmu? Kamu pulang bareng aku gini semua anak lihat kita. Ini gak baik bua perasaan pacarmu.’’

‘’Dia mantanku.’’

‘’Iya, aku tahu. Gini Def, ada satu syarat yang mesti kamu penuhi, kalau kamu bisa penuhi itu syarat dariku, kita akan makan bareng di Minggu besok. Tapi kalau enggak, sebaiknya lupain aja.’’

‘’Kok, kamu berubah gitu? Yang mana yang bisa kupegang?’’



‘’Kamu tahu aku udah punya pacar. Aku tahu kamu habis putus, dan alasannya itu aku. Tapi, aku, kamu, sama mantanmu itu satu sekolah. Kamu paham, kan?’’

‘’Iya. Jadi, apa syaratmu?’’

Aku mengangguk-angguk. ‘’Hari-hari selanjutnya kamu gak boleh anterin aku pulang. Aku bisa pulang, kok. Aku mungkin bakalan balikan lagi sama Yazi, dan kamu maaf karena belain aku jadi sendirian.’’

‘’Gak masalah. Kalau cuma gak boleh bareng pas pulang. Santai saja.’’

Seketika aku seperti dimakan oleh mulutku sendiri. Versi aku dengan Def itu berbeda. Aku ingin Def menjauh demi menjaga perasaan mantannya, sementera versi Def sepertinya selain pulang bareng aku dan dia masih boleh berdekatan. Huft!



 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar