Bab 35. Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku

 


35. Yazi Sakit

Rayan sudah ada di depan rumahku. Dia sedang bicara dengan ibuku. Aku tahu itu karena ibuku memanggilku yang sedang menggambar di kamar.

Aku keluar kamar menemui ibuku. ‘’Ya, Bu. Ada apa?’’ tanyaku.

 Aku memang melihat ada Rayan sedang bersama ibuku, tapi aku menanyakan ada apa itu karena aku sudah membantu ibu mencuci piring, aku juga sudah membantu ibuku menyapu dan mengepel. Masakan sudah matang dan rumah sudah rapi, hanya saja aku sedang malas makan. Kukira tadinya ibuku memerlukan bantuan yang lain lagi.


‘’Ini Raya ada perlu sama kamu katanya. Kalian ngobrol saja, sambil duduk di teras atau ruang tamu saja, atau terserah mau di mana.’’

‘’Di sini saja,’’ kata Rayan. Aku menyetujuinya. Aku duduk di tembok jembatan kecil saluran air depan rumah. Tembok ini kerap dipakai oleh orang-orang yang kebetulan bertemu ayahku tetapi enggan masuk karena mungkin hanya ingin bicara sedikit saja. Aku duduk di sisi kiri, dan Rayan di sisi satunya lagi. Sementara ibuku meninggalkan kami.

‘’Ada apa?’’ tanyaku langsung.

‘’Riana udah ngasih tahu kalau Yazi mau ketemu kamu?’’


Aku mengangguk. ‘’Ada apa? Yazi belum ngasih tahu kamu, maksudku semalam dia gak nelpon kamu?’’

‘’Ada apa emang?’’ Aku tidur dari setelah adzan isya, aku salat, habis itu tidur. Aku ngantuk banget. Pagi ini aku belum lihat hapeku. Aku senyapin karena tahu sendiri kan, hari Sabtu sama Minggu doank aku banyak di rumah buat bantuin mamaku. Habis itu kalau gak gambar, yaaa, aku tidur. Jadi, biasanya nyalain nanti habis dhuhur. Ini baru jam sebelas. Seriusan ada apa, Rayan?’’

‘’Semalam Yazi ke rumahku. Dia pengen ketemu kamu. Dia nelpon kamu, tapi kamu gak angkat. Dia pulang gak nginep di rumahku.’’

’’Biasanya nginep emang?’’

‘’Iya, dulu waktu SMP gitu. Kamu gak tahu, ya? Kamu pacaran sama buku terus, sih.’’

Aku tertawa. ‘’Ya, kalau mau main, main aja. Kan, kamu yang pemalu dulu. Tapi, sekarang kamu beda. Beda, tambah ganteng dan lebih terbuka. Ini mau nyapa ke rumahku. Seumur kita bertetangga dan berteman, kamu bisa dibilang gak pernah main ke sini. Aku yang kalau ada apa-apa ke rumahmu.’’

Rayan tertawa. ‘’Jangan bilang aku ganteng, nanti Yazi cemburu.’’

‘’Kamu sama Yazi pacaran?’’ ledekku. Aku tahu Rayan tadi sempat memerah mukanya Karena amalu kupuji. Tapi, memang Rayan berbeda sekarang.



‘’Gila! Aku normal kali. Yazi marah karena dia bakalan cemburu pacarnya muji-muji aku.’’

Aku tertawa, tapi dalam hatiku lebih ingin tertawa, bagaimana bisa Rayan menyebutku adalah pacarnya Yazi. Mungkin Yazi selama ini banyak bercerita tentang aku dan mengklaim kalau aku adalah pacarnya. Bisa jadi begitu.

Tapi, untuk menyangkal kalau aku bukan pacar Yazi, karena aku dan Yazi belum pernah meresmikan kalau kami pacaran, itu akan membuat harga diri Yazi hancur di depan sahabatnya. Sekarang aku tahu kalau Yazi, dan Rayan itu masih sahabatan sampai sekarang.



‘’Terus gimana?’’ tanyaku ingin tahu perihal Yazi.

‘’Tadi pagi dia nelpon kamu, juga gak bisa. Dia bilang ke aku, kamu kenapa, apa kamu sakit kayak dia?’’

‘’Yazi sakit?’’

Rayan mengangguk. ‘’Semalem dia ngeluh pusing. Dia katanya udah nyuruh Riana buat ngasih tahu kalau dia mau ketemu sama kamu hari Minggu. Mungkin karena gak enak body, jadi dia maksain semalaem datang. Mungkin besok dia pengen istiahat. Eh, malah sekarang dia sakit.’’



‘’Ya, udah.’’

‘’Ya udah, gimana?’’ tanya Rayan kurang paham dengan kalimatku.

‘’Ya, udah. Habis dhuhur temenin aku ke rumah Yazi. Tapi kamu gak usah bilang apa-apa dulu sama dia. Setuju?’’ Rayan terlihat senang, dia langsung setuju. Setelahnya dia pamit pulang. ‘’Jadi, kamu datang ke sini kalau disuruh Yazi aja, Tetangga?’’ tanyaku dan Rayan tergelak.

‘’Aku pulang dulu, nanti setengah satu kita jalan bareng. Tapi, aku gak mau boncengan sama kamu, Laura.’’

‘’Lho, kenapa?’’ tanyaku heran.



‘’Pertama kamu ada motor, kedua lihat kita datang boncengan sakit Yazi nanti tambah parah.’’ Kali ini aku yang tergelak dengan apa yang Rayan bilang.

‘’Jangan ngadi-ngadi! Kalau begitu kamu aja yang datang, aku titip buah sama bolu aja. Kan sama aja.’’

‘’Sama aja gimana? Aku gak paham.’’

‘’Ya, aku ke sana bawa buah sama bolu, aku gak ke sana juga buah sama bolunya sampai juga.’’

‘’Kamu yang ngadi-ngadi. Yazi gak pengen ketemu bolu sama buah-buahan, dia mau ketemu kamu.’’



‘’Beuh, bisa aja! Okelah kalau gitu. Aku mau beli buat bawaan ke sananya. Kamu mau ikut atau mau masuk ngobrol sama ibuku?’’

‘’Dasar, Laura! Aku ke sini tadi mau ketemu kamu, kebetulan ketemu sama ibumu. Bukan mau ngobrol sama ibumu. Aku pulang kalau gitu.’’ Rayan mengeluarkan uang dari saku bajunya. Dia memberikannya kepadaku.

‘’Ini duit apaan?’’ tanyaku. Aku memang mau membeli buah dan pisang, tapi aku gak mengajak Rayan patungan.

‘’Terserah kamu, mau kamu buang boleh, mau kamu beliin buah sama bolu boleh. Apa kurang banyak?’’ Rian menanyakan itu sambl tertawa.



‘’Aku ada uang. Pegang aja.’’

‘’Kamu kebanyakan ngurusin fans kayaknya di SMA, sampai gak paham kalimat sekarang. Itu aku patungan.’’ Rayan mengeluarkan selembar lagi, tapi aku menolaknya.

‘’Udah ini aja. Cukup. Nanti kalau kurang, gampang aku minta  kamu TF. Rumah kita kan jauh banget jaraknya dari Sabang ke Merauke.’’ Aku tertawa ketika mengatakan itu.

Rayan nyengir. ‘’Bukan, tapi dari dari Zimbabwe ke Antartika, jauh pake banget-banget. Seriusan, ya, jangan sampai kamu nombokin terlalu banyak!’’



Aku tertaw-tawa saja. Rayan berbeda jauh dengan ketika dia masih di kelas sembilan. Dia sekarang lebih santai dan mau menanggapi jokes dariku. Kalau dulu, dia pasti akan nunduk, malu. ‘’Iyaaa,’’ kataku menjawab kekhawatiran Rayan kalau aku akan mengeluarkan uang lebih banyak dari yang dia berikan.

Rayan pamitan pulang dan aku masuk setelahnya. Aku pergi sendiri ke tukang buah dan toko kue. Aku memilih yang pantas. Uang yang diberikan Rayan kutambahi uangku.

Riana menelponku. Lebih tepatnya sepuluh menitan sebelum aku keluar rumah setelah Rayan menelponku mengatakan dia sudah siap dan sedang memakai jaketnya. ‘’Halo! Iya, aku juga kangen. Riana ada apa? Kamu mau ke rumahku sekarang?’’


Riana menanyakan apakah aku ada waktu untuk datang ke rumah Yazi, dia mengatakan akan ke rumah Yazi sore nanti. Yazi memberitahu kalau dia sakit, dan ingin aku datang bersama Riana ke rumahnya. Aku mengatakan kepada Riana kalau aku akan pergi ke rumah Yazi searang bersama Rayan. Seketika suara Riana terdengar ringan. ‘’Ya, udah. Aku juga ke rumah Yazinya sebentar lagi. Kita ketemu di sana, ya.’’

Aku mengiyakan. Setelahnya aku pamit kepada ibuku. Aku mengatakan ke rumah teman dengan Rayan. Ibuku mengizinkan dan aku pergi keluar rumah dan ternyata Rayan sudah ada dengan motornya di depan pagar pintu trumahku.

‘’Kita boncengan?’’ ledekku kepada Rayan.



‘’Kita balapan.’’ Rayan benar-benar gak mau aku dan dia berboncengan, semua demi menjaga perasaan sahabatnya; Yazi.

‘’Oke, kalau gitu. Kita jalan bareng aja, aku di depan, kamu di belakang. Tugasnya teman cowok kan jagain pacar temannya. Iya, gak?’’ ledekku lagi.

Rayan tertawa-tawa. Dia benar-benar senang aku mau datang menengok Yazi yang sakit, setelah semalam Yazi ke rumah Rayan gagal bertemu denganku, dan menelponku pagi-pagi tadi dan tidak kuangkat.



 

 

 

 

 

 

 

Komentar