Bab 36. Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku

 Bab 36.  Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku


BLOG NURLAELI UMAR- 36. Menemani Yazi



Aku sudah sampai di depan rumah Yazi.

‘’Masuk aja, Laura!’’ Rayan mendorong pintu pagar rumah Yazi.

‘’Tuan rumahnya sakit, mana bisa dia keluar dan nyambut kita.’’

Aku mengagguk dan memasukkan motorku setelahnya Rayan memasukkan motornya ke halaman rumah Yazi.

 Ada dua motor yang terparkir di halaman rumah Yazi. Aku mengenali salah satunya. Salah satu dari dua motor yang terparkir itu adalah milik Riana. Ternyata Riana datang lebih cepat dari rencananya. Mungkin Yazi yang memintanya cepat-cepat datang.



‘’Ada tamu sepertinya,’’ kataku kepada Rayan. Rayan mengangguk. Tapi, dia memberi tanda dengan kepalanya agar aku mengikuti langkahnya masuk ke rumah Yazi yang pintunya terbuka. Rayan juga mengulurkan tangan meminta barang bawaan dari tanganku.

Setelah mengucap salam Rayan masuk dan aku mengikuti langkahnya. Aku melewati ruang tamu menuju ke ruang tengah,  kurasa ruangan ini diperuntukkan untuk ruang keluarga. Rayan menghentikan langkahnya dan berdeham. Ternyata benar ada Riana dan teman yang dulu duduk di sebelah Riana ketika kami sama-sama kelas sembilan. Yazi terlihat bangun dari berbaringnya di kasur yang diletakkan di lantai. Sementara Riana yang tadi duduk bersisian dengan temannya langsung bangun dan memelukku.



‘’Aku kangen tahu,’’ kata Riana sambil memelukku. ‘’Aku nelpon kamu lagi, ngasih tahu kalau gak jadi jalan nanti sore, tapi kamu gak angkat.’’

‘’Oh, iya, aku lagi di jalan berarti. Soalnya aku tadi langsung jalan soalnya Rayan udah nunggu di depan pagar.’’

Rayan menghampiri Yazi. Sementara teman yang dulu duduk sebangku dengan Riana sepertinya memang tidak mendapat informasi dari Riana kalau aku akan datang ke sini.



‘’Laura!’’ panggilnya. Aku mengulurkan tanganku. Aku sengaja melakukan itu, aku gak mau dia memelukku. Aku sedikit enggan.

‘’Udah dari tadi?’’ tanyaku kepada teman yang sebangku dengan Riana di kelas sembilan itu.

‘’Gak, baru duduk, terus kamu datang.’’

Rayan datang mendekat. ‘’Laura, Yazi mau ditemenin kamu. Kalian berdua duduk dulu di ruang tamu. Yazi ada yang mau diomongin sama Laura.’’



Riana terlihat senang, Rayan juga demikian. Tetapi, teman yang dulu sebangku dengan Yazi terlihat kesal. Mau gak mau dia gak bisa protes, soalnya tuan rumah yang memerintahkan.

‘’Masuk aja, Laura!’’ Rayan mengatakan itu sambil menunggu teman yang sebangku dengan Riana menyusul Riana yang beranjak menuju ruang tamu dan duduk di sana. Karena setelah teman Riana pergi menyusul Riana, Rayan berjalan menuju ke ruang tamu.

Aku mendekati kasur di mana Yazi sekarang duduk dari berbaringnya. Wajah Yazi terlihat senang. ‘’Sakit apa?’’ tanyaku kepada Yazi.



‘’Aku pusing kemarin, terus semalam demam. Kurasa aku sakit rindu. Ini badanku udah lebih baik.’’

‘’Mana ada sakit rindu. Kurasa dokter gak pernah ada yang bilang begitu ke pasiennya,’’

‘’Tapi, aku ngerasa lebih baik. Aku senang kamu datang. Mungkin kalau aku gak sakit kamu gak bakalan mau datang ke sini, bukan?’’

‘’Gak diundang, aku gak datang. Takut salah.’’

‘’Semalam aku ke rumah Rayan. Apa Rayan udah bilang ke kamu?’’ Aku mengangguk membenarkan.



‘’Aku telepon kamu pagi tadi. Gak kamu angkat. Aku telepon Rayan, tapi, kata Rayan kamu sibuk gak sempat lihat handphone.’’ Aku mengangguk lagi.

‘’Aku gak suka teman Riana datang ke sini.’’ Yazi mengatakan itu terus terang kepadaku. ‘’Aku suka kamu datang.’’

Aku mengangguk.

‘’Apa kamu tahu kalau aku kangen banget? Iya, kangen ketemu kamu, kangen saat kita sekelas di kelas sembilan dulu. Apa kamu masih ingat semuanya?’’ tanya Yazi akhirnya. Aku mengangguk lagi.

‘’Kukira aku aja yang inget, maksudku aku inget sendirian. Ternyata kamu juga masih inget.’’



‘’Kamu bawa apa itu banyak banget? Rayan bilang itu dari kamu. Coba buka, kayaknya aku lihat apel! BIsa tolong potongin? Mama sama bapakku lagi ada urusan. Adikku gak pulang, yang ada di rumah cuma aku sama kakakku.’’

Yazi memanggil Rayan, Rayan datang dari arah tuang tamu. ‘’Kenapa, Yaz?’’ tanya Rayan sambil menatapku. Aku tersenyum. ‘’Tenang, aku gak ngapa-ngapain Yazi, kok.’’ Mendengar aku mengatakan itu Yazi tertawa, Rayan senyum-seyum jadinya.

‘’Tolong cuciin apel sama ambilin peso di dapur.’’



Rayan sepertinya sering datang ke rumah Yazi, dia mengangguk dan membuka plastik bawaan kami. ‘’Dipotong sekalian, gak?’’ tanya Rayan setelah mendapat dua apel dari dalam kantung plastik yang kubawa.

‘’Laura yang mau motngin.’’ Yazi mengatakan itu dan Rayan mengangguk.

‘’Oke,’’ sahut Rayan tanpa bertanya apa-apa lagi setelahnya.

‘’Kamu di sini sampai temannya Riana pulang, ya!’’ pinta Yazi kepadaku.

‘’Kalau lima menit lagi temannya Riana pulang, berarti aku seouluh menit dari sekarang boleh pulang, ya?’’



‘’Bukan begitu.’’

‘’Kok, bukan’’

‘’Maksudku, kalau sampai sore temannya Riana gak mau pulang, kamu di sini sampai malam.’’

‘’Ibuku?’’ tanyaku kepada Yazi.

‘’Aku akan menelpon ibumu, izin minjemmu. Kan ada Rayan buat jaminan.’’



Aku tertawa mendengar Yazi mengatakan Rayan sebagai jaminan. Sudah pasti ibuku akan membolehkannya. Ibuku sangat percaya kepada Rayan dan keluarganya, hampir mirip seperti saudara. Tapi, aku berharap teman yang dulu sebangku dengan Riana akan oulang sebelum sore datang, jadi aku gak perlu ada di rumah Yazi samapi menjelang malam.

Rayan datang dengan plastik, piring, pisau dan dua apel yang sudah diacuci. ‘’Ini! Tissuenya ada di kotak dekat Yazi.”

Aku menerima semua yang ada tangan Rayan. Yazi mengambil kotak tissue dan memberikannya kepadaku.



Rayan pergi dari aku dan Yazi, ‘’Ke mana?’’ tanya Yazi kepada Rayan.

‘’Jagain mereka, yang satunya ngambek pengen ke sini mulu. Tapi, aku gak bolehin.’’

Aku menatap ke arah Yazi. ‘’Biarin, gak papa. Udah kubilang kamu di sini aja.’’

Rayan pergi ke ruang tamu lagi. Sepertinya ada seseorang yang lain di ruang tamu. Dia laki-laki terdengar dari suaranya. Aku fokus dengan dua apel  ayng kukupas.

‘’Itu kakakku. Dia dari rumah tetangga sepertinya. Kukira dia ada di dalam tadi.’’ Aku mengangguk.

‘’Gimana sekolahmu besok?’’ tanyaku masih dengan kupasan apel kedua.



Tidak ada jawaban. Aku mengangkat mukaku, aku tertawa meski dadaku tiba-tiba merasa berdebar tak jelas. ‘’Kok, diam?’’ tanyaku berpura-pura baik-baik saja.

‘’Kamu cantik sekali. Tambah cantik saja.’’

Aku tertawa. ‘’Jangan menggombal kalau kupasan apel ini ingin kuselesaikan. Tinggal sedikit lagi.’’

‘’Laura ….’’ Yazi menggantungkan kalimatnya. Aku mengangkat wajahku, lalu aku melihat ke arah mata Yazi tertuju. Ups! Ada Yaza.

Aku mengangguk ke arah Yaza. Yaza balas mengangguk. ‘’Kamu gak bilang ada temanmu di sini. Aku buatkan minum, di depan tiga di sini satu. Kamu mau minum apa, Yazi?’’

‘’Gak usah, Kak. Tolong mereka aja buatin minuman. Kayaknya ada syrup di kulkas, sama kue di lemari.’’



Aku diam saja. Yaza pergi ke dalam, sepertiya ke arah tadi Rayan masuk untuk mengambil pisau dan piring.

Apel sudah kukupas dan kuiris dua-duanya. Aku memberikan piringnyanya kepada Yazi. Yazi menerimanya. ‘’Temani aku makan. Kamu udah janji bakalan nemenin aku sampai teman Riana pulang.’’

‘’Aku gak janji, tapi kamu yang minta.’’

‘’Masa? Mungkin kamu lupa.’’ Aku tertawa, aku tahu Yazi mengajakku bercanda.



 

 


Komentar