Bab 37. Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku

 Bab 37. Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku


BLOG NURLAELI UMAR- 37. Ini Sebenarnya Sakit Buatku



‘’Kenapa sama temannya Riana?’’ tanyaku ingin tahu, ‘’Bukannya kamu pacaran sama dia. Soalnya waktu itu kamu duduk di kereta, kamu pergi mengekor dia. Kalian putus? Kurasa begitu, karena dia gak nemenin kamu di sini, malah di suruh keluar.’’

‘’Kenapa waktu itu kamu gak nyegah? Aku pengen kamu bilang aku jangan pergi.’’

‘’Kenapa begitu?’’

‘’Aku besok bisa sekolah, kamu jangan lupa ini masih Sabtu. Kurasa kamu datang ke sini, aku merasa jauh lebih baik.’’



‘’Yaz ….’’

Aku menatap Yazi. Yazi menatap ke arah lain. Yaza muncul dan membawa sebuah baki besar berisi empat minuman, sepiring agar-agar dan setoples kacang kupas goreng, aku menyebutnya kacang bawang. Dia meletakkan satu gelas miunuman, piring berisi agar-agar dan toplesnya di dekat dudukku. Sedangkan tiga gelas lain dibawa ke ruang tamu.

‘’Silakan dinikmati! Terima kasih udah mau nengokin Yazi.’’ Aku mengangguk.

‘’Gimana sekolahmu, Laura?’’ tanya Yazi.



Aku membaca ada sesuatu yang aku tidak tahu tentang Yazi dan temannya Riana. Aku harus tahu. Entah mengapa aku merasa aku harus tahu.

‘’Sekolahku baik. Kamu juga kelihatan beda dibanding sama kelas sembilan dulu. Sejak kapan kamu putus sama temannya Riana itu?’’

Yazi langsung terdiam. Sekarang aku tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku sebenarnya ingin tahu kebenarannya dari mulut Yazi sendiri. Tapi, sepertinya Yazi takut aku pergi setelah tahu kebenarannya.

‘’Ya, sama seperti waktu di SMP dulu, aku sepertinya punya teman yang hampir mirip-mirip. Kayak di-template gitu. Ada yang kaya Eka, ada yang kayak Riana, ada yang kayak Ifu, ada yang kayak kamu.’’



‘’Kayak aku?’’ tanya Yazi sambil menunjuk dengan telunjuk ke dirinya.

‘’Ya. Hampir mirip.’’

‘’Wajahnya?’’

‘’Gak, aku bilang template, kan? Jadi, kamu paham, bukan? Baiknya, sayangnya, belanya, isengnya mirip sama kamu. Jadi, aku merasa baik-baik saja. Besok Minggu aku ada janji makan sama dia. Tadinya, rencananya gini, aku pagi jalan sama dia, terus sorenya aku mau nemuin kamu. Rayan bilang kamu mau ketemu aku. Tapi, ternyata kamu sakit, jadi lebih baik aku nemuin kamu dulu, baru besok jalan sama dia,’’

‘’Gak boleh!’’

‘’Apanya yang gak boleh? Aku udah izin ibuku, boleh.’’

‘’Kalian udah pacaran?’’ tanya Yazi terdengar nada cemburu di suaranya.



Aku menggeleng. ‘’Belum Yaz. Tapi, kurasa segera. Gak papa, kan? Kamu itu kan temen terbaikku. Kalau dulu aku kehilangan kamu pas lulus SMP, aku sekarang gak sedih lagi karena ada kamu yang lain yang nungguin aku. Mungkin karena kamu memang bukan buat aku. Di SMP aku gak bisa deket sama kamu, SMA jelas gak bisa, kita beda sekolah, lagian kamu udah ada yang nemenin. Satu sekolah, juga satu kos-kosan. Dan, sekarang, karena kalian marahan, aku dijadiin tameng, biar kalian bisa bener-benar putus, atau malah justru balikan lagi.’’



Eatah mengapa aku mengatakan itu lancar sekali. Mungkin karena tiba-tiba aku merasa sakit hati. Aku lupa seharusnya aku menangis, tapi kali ini selain lancar aku juga mengatakan itu semua dengan tenang sambil menatap Yazi.

Yazi menunduk dalam-dalam. Aku tahu, mungkin apa yang kukatakan itu benar adanya, tapi mungkin maksud Yazi adalah dia dan aku ingin kita jadian.

‘’Tetep di sini, ya.’’ Hanya itu yang keluar dari mulut Yazi ketika menganggkat wajahnya. Aku mengangguk.

‘’Kamu mau minum?’’ tanyaku kepada Yazi.



Dia mengangguk. Aku menuang air dari poci di dekat dudukku, kurasa memang disiapkan untuk Yazi. Yazi menerima gelas yang kuberikan dan meneguknya. Aku menerima gelas itu kembali dan meletakkannya di tempat semula.

‘’Aku yang salah. Saat itu aku merasa sedih gak ketemu kamu lagi. Dia sering bicara denganku karena kami satu kost-kostan. Aku dan dia tentu saja beda kamar. Ada sekitar dua puluh kamar dikost-kostan itu. Aku kerap menagis karena ajuh dari mamaku juga.’’



‘’Dasar cengeng!’’ kataku dan Yazi tertawa.

‘’Lalu aku sama dia mulai pacaran. Itu karena dia yang minta. Tapi, ketika jadian aku semakin merasa kalau yang kusuka itu bukan dia, tapi kamu. Aku minta putus. Dan, dia gak mau putus dariku. Dia mulai dengan taring-taringnya. Bersikap seolah aku dan dia benar-benar pacaran. Padahal aku sama dia pacaran cuma seminggu. Habis itu putus sampai hari ini.’’

‘’Mungkin dia gak nahan pernah dapet ciuman dari kamu.’’



‘’Aku gak pernah nyium dia, Dia nyium aku sekali, tapi kudorong. Aku sadar dia bukan kamu.’’

‘’Jahat kamu, Yazi! Kalau gak mau sama dia kenapa harus dimulai?’’

‘’Kamu gak tahu gimana gencarnya dia pagi-siang-sore, juga malem. Mau pindah kost-kostan juga gak bisa karena cari yang teman-teman yang enak susah.’’

‘’Jadi, hari ini beneran aku cuma dijadiin alasan biar kamu bisa jauh dari dia, bukan? Kalau iya, aku mau bantu kamu. Taoi, kamu janji setelah hari ini kamu lupain aku. Setuju?’’



‘’Apa-apaan? Laura, kalau aku bisa ngatur perasaanku, udah kumatiin rasaku ke kamu. Aku bahkan gak bisa suka sama cewek lain, selain kamu. Kecuali kamu jadian sama orang dan aku udah gak ada kesempatan masuk ke hati kamu. Akubakalan mudur dan ngejauh.’’

‘’Berarti besok aku harus jadian. Begitu, kan?’’

‘’Jangan pergi, jangan jalan sama dia! Aku cemburu.’’



Aku tertawa. ‘’Kamu itu egois banget, Yazi. Waktu SMP aku tahu kamu udah suka sama aku. Tapi kamu gak bisa lepas dari adik kelas yang ngejar kamu. Kamu tetep nemuin dia. Dan, sekarang kamu gak bisa lepas dari temannya Riana, tapi kamu juga gak mau ngelepasin aku. Aku pengen marah banget ke kamu. Tapi, atas nama apa? Aku bukan pacarmu, dan kamu bukan pacarku. GIla, aja aku kalau aku marah, bukan? Kita cuma teman.’’

‘’Ya, udah kita pacaran sekarang.’’



Aku menggeleng. ‘’Terlambat, aku sudah ngasih harapan buat orang lain. Kalau aku cancel, apa bedanya aku sama kamu? Gak ada! Dan, aku gak mau itu.’’

‘’Tapi, aku bakalan nunggu sampai kapan pun.’’

“Sampai kapan? Tetep aja  aku gak akan jadi pacarmu, akan ada yang lain yang gak bisa kamu lepasin. Aku capek. Mungkin sampai kapan pun kita bakalan gini, aku suka kamu, kamu suka aku, kita gak pacaran, kita bukan sepasang kekasih, tapi kita saling sayang. Aku mau yang pasti-pasti, punya pacar, putus atau gak putus jelas. Kalau gak putus lanjut, kalau putus cari yang lain lagi. Tapi, bukan aku sama kamu.’’



‘’Tega sekali kamu! Aku udah bilang ke Rayan, kalau aku mau nemuin kamu biar kita jadian. Ya,aku ingin kita pacaran.’’

‘’Áku juga berharap begitu, tapi baguslah temannya Riana datang. Teman-temanku udah bilang kalau kamu sama temannya Riana ada apa-apanya, meski mereka bilang kamu itu sayangnya ke aku. Dan, aku yang bodoh itu juga masih percaya kalau hatimu cuma buat aku. Tapi, hari ini aku di sini berani bilang, kita lebih baik gak ketemu lagi.’’

‘’Kamu udah gak sayang sama aku?’’



‘’Siapa yang bilang gitu? Aku tetep sayang sama kamu sampai kapan pun, tapi enggak buat jadian.’’

‘’Kamu yakin?’’

‘’Iya. Apa aku harus nangis dulu sekarang ini buat buktiin kalau aku itu sayang sama kamu? Di saat yang sama aku sakit hati sama sedih sekaligus?’’

Yazi menunduk dalam-dalam.

‘’Maafin aku, Yazi.’’

‘’Aku yang harus minta maaf sama kamu. Aku udah nyakitin hati kamu dari kita kelas sembilan, meski kau harus tahu kalau aku suka sama kamu dari kelas tujuh sampai detik ini, dan mungkin selamanya.’’

 

 



 Untuk membaca bab yang diinginkan, ketik; Bab spasi nomor bab titik spasi judul novel di kolom pencarian kanan atas blog.atau Bab spasi nomor bab spasi judul

Contoh; 

Bab 1 : Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku

Bab 1 Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku

 

 

 

 

 

Komentar